Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v

Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...

Minggu, 02 Mei 2010

Kitakah Yang Takut Mencintai, Takut Dicintai dan Takut Jatuh Cinta

Cinta adalah sebuah kata yang paling menghebohkan di abad ini. Coba saja tengok tema sinetron – sinetron sampai telenovela, ketoprak humor sampai film – film laga, lagu – lagu nasional sampai internasional dari campur sari, dangdut, pop sampai R & B, dan puisi – puisi kacangan khas pinggiran jalan. Tak luput pula slogan – slogan politik, dari Cinta produksi dalam negri, kami cinta indonesia, cinta tanah air dan bangsa, dan slogan – slogan lainnya.

Cinta mendapat muaranya sendiri dari anak balita, remaja, pemuda sampai dewasa. Seolah – olah adalah benar ungkapan “Live Without Love As a Sky without Star”, hidup tanpa cinta adalah bagaikan malam tanpa bintang. Duh betapa gelap dan suramnya malam itu.

Atau bagi pecinta makanan akan berkata hidup tanpa cinta adalah bagikan sayur asam tanpa garam. Walau sebenarnya yang namanya sayur asam kan yang penting asam bukan asin, kalau asin namanya asinan sayur, tul gak?

Jadi adalah lumrah – kata para pecinta – kalau ada muda mudi yang memadu cinta walau masih SMP kelas dua bahkan mungkin walau belum lulus Te Ka. Jalan kemana – mana berdua, mau makan ingat dia, atau SMS – an pakai Handphone papa (wah ketahuan dong).

Nah, gaswatnya. Eh, gawatnya. Fenomena ini mulai merambah kelompok yang dulu punya slogan “ Takut Mencintai, Takut Dicintai dan Takut Jatuh Cinta”. Mereka sudah mulai mencoba – coba (anggap oknum saja) untuk mengungkapkan apa yang menjadi isi hatinya. Ukhti atau Akhi, ana uhibbuka fillah.

Kalau lihat konteks kalimatnya dan riwayat haditsnya mungkin akan terkesan biasa – biasa saja. Karena ungkapan itu kan artinya kita mencintai saudara semuslim kita karena Allah. Tapi kalau ucapan itu didasari oleh niat agar ada hubungan lebih diantara dua insan yang berlainan jenis, dan ucapan itu hanya diungkapkan pada si dia, lewat SMS bersyair cinta atau lewat surat merah jambu bergambar bunga maka tentu akan lain maknanya.

Sehingga ketika fenomena penyebaran virus itu terlihat pada para anggota remaja masjid maka jadilah sebuah istilah baru “Masjid Biru”, atau ketika menyerang para aktivis Lembaga Dakwah Kampus maka jadilah ia “Kampus Biru” (mohon maaf buat kampus yang dikenal sebagai kampus biru), atau ketika virus itu menerpa para aktivis partai dakwah di DPRa dan DPC maka keluarlah istilah “Partai Biru”.

Apakah karena sekarang dakwah telah terbuka, dimana pertemuan – pertemuan yang berbaur walau terpisah maka jadi benarlah pepatah jawa “ Tresno Mergo Soko Kulino”, cinta bermuara karena sering bersama. Bersama dalam satu tempat kegiatan, bersama karena sering berinteraksi lewat SMS, atau bersama dalam alam hayalan ketika umur sudah selayaknya menikah sehingga seolah – olah mengkapling – kapling seseorang untuk kita bayangkan sebagai pendamping hidup. Dan akhirnya lama – lama mekarlah benih cinta yang disuburkan oleh “kebersamaan” tersebut.

Saudaraku yang telah berikrar di jalan dakwah, marilah kita mengkoreksi kembali niatan kita berada di jalan dakwah ini. Untuk mencari ridlo Allah kah atau untuk mencari pendamping hidup kitakah? Kalau awalnya kita ingin mencari ridlo Allah, terus kemudian melenceng. Maka mari kita luruskan niat kita kembali. Kalau dari awal niatan kita untuk mencari pendamping hidup. Ingatlah bahwa hidup kita sementara. Masih ada kampung akhirat yang lebih kekal menanti. Dekatkan diri kita pada Allah dan mintalah kepada-Nya yang terbaik.

Jika anda adalah akhwat, dan anda melakukan ini karena tuntutan umur dan tuntutan orang tua yang ingin cepat mendapatkan menantu. Dan anda melihat realita ummat lebih banyak aktivis dakwah dari kalangan akhwat dibanding ikhwan, dan anda takut tidak kebagian. Maka ingatlah bahwa Allah adalah pengatur hidup kita. Ingatlah bahwa tinta telah kering dan lembaran telah ditutup. Apa yang telah ditulis di Lauh Mahfudz tak akan berubah kecuali dengan Irodah-Nya. Maka dekatkan diri anda kepada Dzat yang memiliki dan menguasai Catatan Kehidupan itu. Dan jika anda ingin mendapatkan seorang suami seperti Sayidina Ali, maka tingkatkanlah kualitas anda untuk menyamai Fatimah Az Zahra.

Jika anda adalah ikhwan, yang melakukan ini karena tidak yakin akan mendapatkan seseorang pendamping yang sesuai harapan lewat Murobi anda. Mungkin kurang cantik, mungkin terlalu tua, mungkin kurang tinggi atau beribu kemungkinan lainnya. Maka mari kita renungi hadits Rosulullah tentang rambu – rambu mencari istri yaitu yang baik agamanya. Boleh saja anda mencari yang kaya, tapi kaya akan ilmu, kaya pengalaman, kaya kesabaran, kaya penerimaan, kaya pengertian, kaya perasaan dan kaya keikhlasan. Bisa saja anda mencari seorang yang bernasab baik, bukannya keturunan jendral, bukan keturunan bangsawan atau lainnya, tapi keturunan orang yang komit dengan islam. Bisa saja anda mencari seorang yang cantik, yaitu cantik ruhiyahnya, cantik hatinya, cantik perasaanya, dan cantik keimanannya.

Jadi, mari kita luruskan niat kita kembali karena “ Innamal amalu bin niyat … “

Kembalilah ke konsep ta’aruf

Saudaraku, para asatid telah merumuskan suatu konsep pencarian pendamping hidup yang telah diterapkan selama ini untuk tetap mengkokohkan dakwah dan memagari amal kita agar tetap lurus. Ada tiga konsep model ta’aruf yang dikenal luas ditengah para aktivis dakwah.

Pertama, tukar biodata lewat murobi atau ustadz. Seorang ikhwan yang siap menikah mengajukan biodatanya kepada ustadz. Kemudian dia diberi biodata akhwat yang minimal sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tentunya kriteria yang dia buat bisa ideal, tapi untuk mendapatkan yang ideal adalah susah, maka paling tidak yang mendekati ideal. Jika tidak sesuai maka biodata dikembalikan dan diganti dengan biodata yang lain. Disini perlunya para ikhwan tidak mematok kriteria yang susah diminta, misalnya umur baru 17 tahun, sudah tarbiyah, keibuan, dll yang memang bagai mencari jarum dalam jerami. Selanjutnya ketika ikhwannya setuju barulah biodata ikhwan tersebut diberikan kepada akhwat pilihan ikhwan tersebut. Jika akhwatnya setuju maka selanjutnya diadakan ta’aruf dirumah akhwat didampingi oleh murobi masing – masing. Selanjutnya, Sebelum memutuskan berlanjut ke khitbah baik ikhwan maupun akhwat dapat melakukan investigasi pada calon pasangannya masing – masing dan tidak dilupakan sholat istikhoroh – minta dipilihkan yang terbaik. Jika jalannya mulus maka berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu khitbah dan nikah.

Kedua, tukar biodata lewat rekan dakwah. Untuk proses yang satu ini peran murobi atau ustadz digantikan oleh rekan dakwah si ikhwan tersebut dengan proses tukar biodata yang sama dengan proses pertama.

Ketiga, mencari seorang lelaki yang hanif. Konsep ini hanya berlaku bagi akhwat. Hal ini didasari oleh jumlah akhwat yang lebih besar dari jumlah ikhwan. Dimana konsep poligami belum dipandang sebagai solusi karena banyak ikhwan maupun akhwat yang tidak mau atau tidak bisa berbagi dengan yang lain. Prosesnya adalah, jika ada seorang lelaki yang hanif disekitar kita, kemudian ada pula akhwat yang belum menikah kemudian terserah siapa yang dulu mengajukan apakah lelaki tersebut yang melakukan khitbah, atau ikhwan yang menawarkan biodata akhwat kepada lelaki tersebut.

Untuk menentukan seseorang itu hanif bukan hanya karena ia baru seminggu sholat jama’ah di masjid, atau kelihatan alim dan tingkahnya sopan. Sehingga diperlukan penyelidikan yang intensif dan wawancara yang dilakukan oleh aktivis dakwah atau bahkan oleh para murobi sendiri. Jika memang hanif dan bisa diajak untuk lebih giat berdakwah, maka proses diserahkan kepada lelaki dan akhwat tersebut untuk berlanjut ke tahap pernikahan atau tidak.

Saudaraku, pencarian pendamping hidup adalah satu tahapan penting dalam perjalanan hidup kita. Kehati – hatian adalah hal yang perlu kita miliki karena jangan sampai gara – gara salah memilih pendamping hidup, kita futur dari jalan dakwah. Dan berdasarkan pengalaman, banyak bagi mereka yang salah mengambil pendamping karena memilih sendiri didasari oleh virus merah jambu walapun tidak ketemu di mall tapi dalam aktivitas dakwah yang futur karena malu atau minder dengan rekan dakwah yang lain yang lebih “lurus” dalam proses pencarian pendamping hidupnya.

Akhirnya, kita kembalikan kepada Allah sebagai Dzat yang mengatur urusan kita. Semoga kita semua dikaruniai pendamping yang siap menjadi partner dakwah dalam suka dan duka, pendorong dikala lemah, pengingat dikala salah dan penceria dikala berhasil. Wallahu alam bish showab.

Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)

Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)

Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput.

Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.

“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya.

Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!

Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.

Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.

Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )

Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?

Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!

Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?

Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!

Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.

‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?

SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….

Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.

Bayangkan ……………..

Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.

Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.

Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.

Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.

Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.

Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.

Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!

Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!

Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.

Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!

Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti

Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!

Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!

ukhti uni
Eramuslim, 19/02/2004
posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤21:57 3 comments
Friday, January 11, 2008
1429 Hijriyah
Selamat Tahun Baru Islam 1429 H.
Sejauh mana langkah yang sudah kita ayun di tahun-tahun yang berlalu?

Seringkali perubahan adalah sesuatu yang begitu sulit dilakukan.
Ayyuhal ikhwah... mari kita saling mengingatkan...
posted by Edwards @ Permalink ¤15:51 0 comments
Monday, October 22, 2007
Kisah Ramadhan
"Ramadhan di kampus gimana,Mba?"aku memulai percakapan.
Kulihat ia terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaanku. "Ramadhan saya..."
***
Aku sudah melakukan antisipasi mengingat bahwa jadwal kuliahku tidak akan jadi lebih longgar walaupun sekarang bulan suci Ramadhan. Setiap waktu luang di sela-sela mata kuliah akan kuisi dengan tilawah,tahfidz. Toh, ritme tilawahku udah meningkat mulai Rajab kemarin.Tapi,tidak akan kuporsir terlalu banyak.Lagian aku tidak mau malah jadi menzhalimi diri sendiri, kalau aku memaksakan untuk melakukan hal yang 'dahsyat'.Aku sudah melihat jadwal perkuliahan, libur Ramadhan insyaAllah akan mulai seminggu sebelum Idul Fitri. Ya ,di minggu terakhir Ramadhan , yang di salah satu malamnya adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, aku bertekad untuk beribadah semaksimal mungkin.

Toh saat itu aku sudah tidak dipusingkan oleh jadwal UTS dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.Minggu pertama berlalu...Ibadahku alhamdulillah masih terjaga, ya itu tadi, karena targetannya tidak terlalu tinggi. Daripada menargetkan tinggi-tinggi,malah stress kalau tidak kesampaian.Minggu kedua juga lewat, aku baru menyelesaikan satu UTS. Ibadahku mulai keteteran, shalat tarawih terlewat gara-gara kecapean. Duh, baru satu UTS. Serem juga kalo begini terus. Aku memutar otak , gimana ya, supaya keteledoranku tidak berlanjut.Minggu ketiga, saat Allah memberiku jatah untuk istirahat. Sekalian introspeksi.

Tapi tetap saja, aku malah disibukkan dengan titipan-titipan yang harus kubawakan untuk orang rumah. Insya Allah, besok aku harus lebih baik, tekadku kuat.Minggu keempat, di rumahKulihat jadwal i'tikaf yang diberikan masjid dekat rumahku. Masih terngiang suara temanku di telepon tadi, menanyakan kesedianku untuk i'tikaf bersamanya. Ah, andai aku bisa. Sudah dua hari ini perutku tidak bisa diajak kompromi, aku muntah-muntah. Badanku lemas sekali. Aku sempat memaksa ibuku agar mengizinkanku beri'tikaf malam ini, tapi beliau tidak setuju.

Benar saja, malamnya perutku kambuh lagi. Tak terbayangkan kalau aku sedang beri'tikaf malam ini. Bukannya menambah kedekatan diri dengan Allah, bisa-bisa aku malah merepotkan jamaah lain yang sedang khusyu beri'tikaf.Aku sempat berpikir. Apa salahku, Ya Rabb. Sampai-sampai Engkau tidak mengizinkanku meraih pahala berlipat ganda di bulan penuh barokah ini.Ramadhanku yang ingin ku maksimalkan di akhirnya serasa kosong saja.Tapi,aku yakin , selalu ada hikmah dari tiap kejadian yang kualami.
***

Kulihat wajahnya jadi sedikit murung, tapi seketika berubah cerah. "Saya jadi tersadarkan, De.Sekalipun persiapan kita sudah optimal dari bulan Rajab, kita tetap saja tidak bisa melawan ke Mahakuasaannya Allah.Kalau semua yang kita rencanakan ternyata nggak sama dengan rencana Allah, kita bisa apa? Banyak orang merasa sudah siap menyambut Ramadhan, salah satunya saya. Tapi, nyatanya... Allah sangat baik, jadi Ia menegur saya lewat penyakit, alhamdulillah,saya bersyukur karena sakitnya saya saat itu.

Makanya,De, jangan pernah menunda suatu hal saat kita bisa melakukan hal itu secepatnya. Sudah dulu ya, saya harus pergi."ujarnya sambil menyalamiku.Sosoknya mulai menjauh dari tempat dudukku. Tapi, kata-katanya masih dan akan selalu melekat dalam hatiku. Rajab baru saja usai, berarti Ramadhan kurang dari sebulan lagi. Allahumma ballighna fii Ramadhan, sampaikan aku pada Ramadhan kali ini Ya Rabb, karena seluruh upayaku tak akan ada artinya dibandingkan kekuasaan mutlak-Mu, Ya Qadiir.

(diubah cara penyampaiannya, dari seorang teman)

Akhwat Mubazir

Akhwat Mubazir
Penulis : Syamsa Hawa


KotaSantri.com : "Kok disisain banyak gini, Lin?" Aku melotot melihat onggokan nasi dan capcay yang memenuhi piring.

"Udah kenyang! Nggak kuat lagi, Ra!" Meilin memegangi perutnya.

"Kenapa tadi dibeli? Porsi capcay sini kan emang banyak banget, harganya aja sebelas ribu," aku menatap Meilin gemas. Akhwat sipit itu cuek aja mengambil tisu dan mengelap mulutnya.

"Yaa.. Tadi kan aku laper, Ra"

"Kamu nggak sayang, Lin? Sebelas ribu cuma kamu habiskan seperempatnya doang?" tanyaku lagi.

"Aku mah lebih sayang sama badanku, Ra! Daripada makan berlebihan, badanku rusak, hayoo!"

Aku geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang. Pusing melihat kelakuan Meilin yang berulangkali seperti itu.

"Yah, terserahlah! " seruku akhirnya. Meilin tersenyum lebar sampai kelihatan kayak lagi merem, matanya yang kecil tambah nggak kelihatan.

"Mas, jus mangganya satu," Meilin memanggil seorang pelayan yang melintas.

"Sebenarnya kamu kenapa sih, Ra? Aku perhatiin, kayaknya kamu nggak pernah seneng nganterin aku makan di sini."

Aku menggeleng cepat.

"Bukan! Bukan kayak gitu, Lin! Aku Cuma ngerasa kamu boros aja kalau makan di sini."

"Boros?" Meilin mengernyitkan kening, "Boros gimana maksud kamu?" Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, minta penjelasan.

"Yah, kalo di tempat makan deket stasiun sana harga capcay kan cuma enam ribu, jus cuma tiga ribu, kamu malah makan di sini. Capcay sebelas ribu, jus enam ribu. Padahal, kalo menurutku, rasa di sini sama aja, cuma menang tempat doang."

Gantian Meilin yang geleng kepala, tersenyum sambil menyandarkan punggung ke belakang kursi.

"Kalau soal makan, aku nggak mau di sembarang tempat, Ra! Kamu tahu sendiri kan banyak makanan yang nggak sehat pengolahannya, pake pengawet lah, formalin, dan kawan-kawan. Nah, kalau di tempat ini, aku udah yakin halal dan bersih. Bukankah itu yang seharusnya lebih penting untuk diperhatikan? "

Aku terdiam. "Benar juga sih, tapi kalau gitu, lebih baik lain kali kita makan bareng aja, satu piring berdua, pt-pt, gimana? Daripada mubazir, temennya setan."

"Iih..., kamu gak risih apa makan satu piring berdua?" Meilin mengernyit.

"Memangnya kenapa?" aku ikutan mengernyit.

"Nanti dikira orang-orang kita gak mampu beli lho!"

Deg. Ada jarum beracun tertancap di hatiku.

"Lagi pula tenang aja, nggak bakal mubazir kali. Kan sisa-sisa makananku ini bisa dimakan kucing, tikus, bisa juga dijadikan pupuk alami. Mana ada yang nggak berguna?"

Pelayan menaruh segelas jus mangga ke atas meja. Meilin langsung mengambil uang dari dompetnya dan membayar lunas pesanannya. Kemudian ia menyedot jus mangganya, mengambil tisu lagi, mengelap mulutnya lagi, lalu mengajakku pulang.

"Yuk, cabut!"

Aku melotot melihat jus mangga yang masih tersisa lebih dari setengah gelas besar itu.

"Meiliiiiin! Habisin dulu! Ini enam ribu, tauuuk!" omelku. Meilin Cuma mengangkat bahu.

"Agak asem, aku nggak suka, buat pupuk aja, yuk ah!"

Seperti ada orang yang lagi menggoreng jantungku, panas banget.

***

Mungkin memang bukan Meilin yang boros atau mubazir.

Yah, mungkin bukan Meilin yang berlebihan, tapi akulah yang kekurangan! Sehingga melihat kelakuan seperti Meilin itu, aku tak bisa menerimanya.

Bagaimana bisa terima? Uang delapan belas ribu untuk sekali makan, itu pun terbuang percuma. Masih lumayan kalau habis, berguna buat tubuh dia. Lha ini, semuanya dikasih ke kucing, tikus, atau pohon. Keren amat! Aku aja nggak pernah makan begituan. Jangan-jangan tikus di sekitar tempat makan itu lebih makmur daripada aku. Huh!

"Bu, nasinya dibungkus, yang banyak ya! 1 porsi kuli!" seruku pada ibu tukang jual nasi langgananku.

"Lauknya apa, Nak?"

"Dipisah kayak biasa ya, Bu! Perkedel kentang 2, perkedel jagung 2, telur 1, sama sambalnya banyakin." Si ibu tersenyum melihatku sambil membungkus pesananku.

"Udah? Berapa semuanya, Bu?"

"Buat Neng mah empat ribu aja!"

"Hah? Cuma empat ribu? Serius, Bu? Nggak rugi nih? Ya udah!" langsung kuberi empat lembar uang seribuan, khawatir si Ibu berubah pikiran. Si Ibu hanya tertawa melihat kelakuanku yang ketahuan nggak punya duit gitu.

"Eh lupa, Bu! Minta air minum sama sendok bebeknya sekalian!" seruku cuek. Si Ibu senyumnya tambah makin lebar. Mungkin lucu ngeliat akhwat jilbab lebar kayak aku kok tumben ada yang kere kali ye!

Biarin aja, yang penting hidup mulia atau masuk syurga. Hehe..

Yap! Inilah makananku sehari-hari. Aku sengaja beli nasi yang banyak, terus dipisah sama lauknya supaya nggak cepat basi dan bisa kumakan sampai malam. Bukan apa-apa, tapi uang bulananku sedikit, sudah habis untuk bayar kost, beli pulsa, dan foto kopi makalah plus ngetik ini-itu. Syukur-syukur bisa makan tiga kali sehari dengan cara cerdas kayak gini. Makanya aku suka jantungan melihat pola makan Meilin. Yang paling menyakitkan adalah, dia seperti mengira semua orang tuh kayak dia, mampu beli makanan apa aja, minuman apa aja, trus dengan senyum lebar membuang itu semua untuk dijadikan pupuk.

"Alhamdulillah. .." aku membungkus kembali lauk dan nasi yang belum dimakan, untuk nanti sore dan malam di kost, kutaruh kembali ke dalam kresek hitam kecil. Kemudian kutinggalkan sebentar untuk mencuci tangan di tempat wudhu.

Saat balik, dengan shock kudapati Meilin sedang memandang geli kresek 'makan malamku' dan laksana pahlawan dia mengambil kresek hitam itu dengan sebelah tangan sambil bertanya, "Siapa nih yang udah nyampah di Mushala?"

Plukk!

Serta merta Meilin melempar 'makan malamku' semuanya, perkedel jagung, nasi, perkedel kentang, dan sambel ke dalam tong sampah di samping Mushala. Aku yang nggak ada penyakit dalam langsung jantungan.

"Meiliiiiiiiin. ..!"

Meilin memandangku dengan mata sipitnya kebingungan.

"Kenapa, Ra?"

"Plastik tadi bukan sampah, itu makan malamkuuuuu. ..!"

"Hah? Makan malam?" Meilin bertanya tak percaya. Aku mengangguk kencang.

"Ya udah, aku ganti deh! Yuk, sekalian antar aku lagi ke tempat makan biasa! Kamu pesan aja untuk dibungkus, nanti tinggal kubayarin. Oke?"

Aku masih melongo. Mungkinkah inilah yang dinamakan sengsara membawa nikmat?

***

Aku mencoba menjaga jarak dengan Meilin. Gaya hidupnya yang serba 'wah' membuatku tak tahan untuk memberi kritik. Dia jadi sering marah karena sering kukritik. Lebih baik aku mencari akhwat yang sederhana dan bersahaja untuk jadi teman jalan bareng, biar lebih enak. Dan sudah kutemukan orangnya, Sisi!

"Ra, mau antar aku ngisi pulsa lagi nggak? Habis itu kita jalan-jalan lihat baju."

"Nah lho? Ngisi pulsanya kan baru kemarin? Emang udah habis?" aku bingung, kayaknya kemarin Sisi ngisi pulsa seratus ribu deh.

"Idiiih, kan kemarin cuma ngisi seratus ribu, udah habis buat sekali nelpon lah!"

Aku ngorek kupingku di balik jilbab. Salah denger kali ya, seratus ribu satu kali nelpon? Sepuluh ribu kali ye?

"Aku biasa habis dua juta untuk pulsa sebulan, lumayan kan, irit juga. Bunda sih ngasih aku dua juta setengah, tapi yang setengah jutanya kutabung, kan harus hidup irit."

Mulutku menganga tanpa perlu kubuka, mataku tak berkedip memandang Sisi. Mencoba menerka, apakah dia tahu kalau sebulannya aku cuma beli pulsa dua puluh ribu perak.

***

Sisi mencomot beberapa baju dan meminta tolong aku untuk memeganginya.

"Ini mau dibeli semua, Si?" aku mengernyit. Lima potong baju yang harganya rata-rata di atas lima puluh ribu. Pantesan, walaupun kelihatan sederhana, tapi baju-baju yang dipakai Sisi memang kelihatan bersih dan kayak baru semua, ternyata emang baru beneran.

"Ya iyalah mau dibeli! Masak mau aku ambil, itu mencuri namanya, dosa!"

"Lho, ini ada baju yang menurutku agak kecil untuk ukuran kamu, coba dulu gih! Jangan-jangan nggak muat."

Sisi berhenti mencomot, dan memandangku dengan tatapan tak nyaman. Aku jadi salah tingkah.

"Maksud kamu badanku gembrot, jadi nggak muat pake baju itu, gitu?"

"Nah lho!" aku tertawa. Dasar Sisi! Paling sensitif kalau masalah badan. Padahal badannya nggak gendut-gendut amat.

"Tuh kan, kamu ketawain aku."

"Lho, habisnya kamu aneh banget, bajunya yang kecil kok malah ngerasa badan kamu yang gede!"

Aku terdiam, kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada Sisi.

"Si," panggilku pelan. Sisi menoleh dan menatapku.

"Hah, kenapa, Ra?"

Aku bingung deh, kok sekarang ini banyak banget akhwat tajir. Kamu deh contohnya, si Meilin juga. Aku jadi bingung, kalian sebenarnya tahu nggak sih kalau ada juga akhwat yang kurang mampu kayak aku. Jangankan beli baju lima potong dalam satu bulan, beli satu potong baju dalam satu semester saja baru hari ini.

"Kenapa, Ra?"

"Eh, nggak! Nggak pa-pa, cuma pengen manggil aja."

"Iih, Ira mah sering gitu."

Aku cuma senyum tipis. Nggak nyaman. Yang Sisi lakukan sebenarnya pemborosan bukan sih? Kok bagiku berlebihan ya? Sisi ternyata bukan cuma beli lima baju, tapi terus bertambah menjadi tujuh baju, tiga rok (ketiga tiganya berwarna hitam) dan tujuh jilbab.

Aku ngegubrak, Sisi ini akhwat apa artis sih? Belanja pulsa dua juta sebulan, beli jilbab koleksi satu warna sampai ada tujuh. Toloooong!

***

Lama-lama aku bisa jantungan beneran kalau terus-terusan berteman dekat dengan Meilin dan Sisi. Rasanya tak kuat melihat gaya hidup mereka yang selangit. Minggu lalu, aku menangkap basah Sisi menjadikan baju yang dibelinya bareng aku waktu itu dan sudah kuperingatkan kalau kekecilan, menjadi kain pel di rumahnya, padahal baju baru! Baju baru gitu loh! Terus sambil malu-malu, dia bilang ke aku, "Iya, Ra! Kamu bener, bajunya kekecilan."

"Sisiiii..., kok dijadiin kain pel? Kan bisa dikasih ke anak yatim atau orang-orang nggak mampu yang butuh baju layak pakai," jeritku.

Tidak disangka Sisi malah gantian jerit, "Jangannnnnn! Masak ngasih orang miskin baju yang nggak kita suka! Kan kita harus memberikan apa yang kita cintai. Kalau mau ngasih sumbangan baju, aku selalu beli yang lebih mahal dan lebih layak pakai."

Aku cuma melotot, menahan pusing yang tiba-tiba melanda saat itu. Gilaaaa!

***

Kali ini, aku pasti tidak salah pilih temen dekat. Aku sudah cek sendiri, rumahnya bahkan lebih kecil dari rumahku, kost-annya sama murah dengan kost-anku, makannya di kantin sastra yang terkenal murah dan banyak, sama kayak aku. Ini dia akhwat yang bisa kujadikan teman kepercayaan, dan aku tak perlu lagi pusing dengan gaya hidup konsumtif yang berlebihan dari dua temanku sebelumnya, meskipun aku tetap membina hubungan yang sangat baik dengan mereka. Namanya Mirna, akhwat sederhana, polos, dan suka tersenyum.

"Mirna, udah ngerjain tugas makalah belum?"

"Ooh, tugas buat besok kan? Sudah sih, tapi belum aku print."

"Sama dong. Kita print di deket stasiun yuk!"

"Kapan?" tanya Mirna.

"Kapan lagi? Ya sekarang!"

Seperti biasa, Mirna tersenyum ramah. "Oke!" serunya ceria.

Kami pun berjalan bareng ke rental komputer.

Sampai di salah satu rental komputer termurah di stasiun, Mirna memasukkan disketnya ke salah satu komputer yang ada di rental itu.

"Berapa lembar, Na?"

"Mmm, sepuluh."

"Itu udah kamu edit semua? Udah pasti bener?" tanyaku begitu melihat Mirna langsung meng-klik perintah 'print'.

"Belum," jawabnya polos.

Nah lho!

"Na, bapak dosennya kan teliti banget, salah atau kurang satu huruf aja poinnya akan dikurangi, satu huruf minus satu point."

Muka Mirna menunjukan ekspresi datar.

"Ya udah, gampang. Hasil print-nya langsung kubaca dan kuedit, terus kubenerin di komputer."

Lho?

"Kenapa nggak dari awal kamu perikasa dulu tadi?"

"Gampang kok. Aku emang malas edit langsung di komputer, enaknya edit hasil print, cuma Rp. 3000,- ini."

Tiga ribu? Cuma? Itu kan uang makanku sehari semalam kalau ditambah seribu lagi. Kalau nggak salah, uang makan Mirna juga segitu. Kan mubazir kalau terbuang percuma untuk nge-print yang tidak terpakai. Sayang kertasnya juga lagi!

Hasil print makalah Mirna sudah selesai. Sekarang Mirna sedang sibuk mencoret-coret huruf dan kata yang salah di lembaran hasil print itu. Sementara aku mengedit makalahku di komputer sebelum kuputuskan untuk di-print.

"Lho, Mirna, kamu sudah selesai editnya?"

"Baru benerin semua yang salah di lembar pertama."

"Kok udah nge-klik'print' lagi?"

"Kan mau lihat hasilnya lagi."

"Lha, tapi jangan klik gambar print itu! Jadinya ke-print sepuluh lembarnya semua! Klik aja ctrl P, atau klik file, terus klik print! Print yang halaman pertamanya aja! Sayang kan..." seruku gemas. Mirna cuma ber-ooh panjang.

"Ooo gitu, ngerti aku sekarang! Pantesan dari dulu kalau aku klik gambar printer ini, padahal cuma butuh cetak halaman satu, tapi malah kecetak semuanya terus."

"Dan kamu nggak pernah nanya untuk hal ini?"

Mirna menggelengkan kepalanya, polos banget tampangnya, senyumnya itu lho, lebar banget! Jadi pengen kujitak. Astaghfirullah. ..

"Na, kamu nggak nyesel udah habisin kertas dan uang untuk nyetak yang nggak terpakai begini?"

Mirna mengernyitkan kening, "Nggak pa-pa kok! Ini kan untuk kuliah, ada anggaran dananya untuk ngetik dan nge-print kayak gini. Lagian aku puas nge-print banyak-banyak, tapi tetep murah. Kalau di rumahku, satu lembarnya seribu perak. Di sini cuma tiga ratus. Kertas hasil print yang nggak kepakenya bisa aku jadiin note book."

Aku menepuk jidatku sendiri.

Ampun deh, Mirna ini akhwat apa tukang jualan note book sih? Kok nggak ada tampang menyesal sedikit pun, padahal sudah salah nge-print 20 lembar.

Apa dia nggak mikir, berapa banyak pohon yang sudah ditebang untuk membuat kertas-kertas ini? Berapa banyak tinta yang dihabiskan untuk mencetak lembaran-lembaran makalah yang masih banyak salah cetak ini? Kok terbersit perasaan menyesal pun tak ada.

Aku tak habis pikir dan mulai meragukan kehematanku. Sebenarnya, aku ini hemat atau pelit sih? Seharusnya akhwat itu harus kayak gimana dalam mengelola uang?

Belum lagi aku bernapas dengan lega karena kebanyakan mikir, tiba-tiba terdengar jeritan tertahan Mirna.

"Ya Allah, kayaknya aku salah pencet deh."

"Kenapa, Na?"

"Aku kan mau nge-print halaman dua."

"He-eh, terus?"

"Terus aku klik ctrl dan P berbarengan. "

"Bener kok. Terus apa yang salah?"

"Aku ketik angka duanya di number of copies ini, tapi kok ke-print dari nomor satu lagi?"

"Astaghfirullah! " aku langsung menepuk jidat.

"Number of copies ini maksudnya nge-print berapa rangkap. Kalau kamu klik dua di sini, ya dia akan nge-print halaman satu sampai halaman terakhir sebanyak dua kali," aku dengan panik menjelaskan.

"Afwan, Na! Aku lupa jelasin. Kamu jadi bayar dua belas ribu ya? Aduh, afwan banget! Lagian kamunya nggak juga nanya."

Aku kira Mirna bakalan nekuk muka dengan betenya dan marah padaku, ternyata, "Lho, kenapa, Ra?"

Mirna malah tertawa terpingkal-pingkal. "Lucu banget! Kamu sampai panik begitu karena cuma bayar dua belas ribu doang. Hihihi, geli aku!"

Mirna tertawa lebar seperti biasa. Tinggal aku yang bengong dan melongo karena kelakuannya yang aneh itu.

"Kamu serius nggak marah?"

"Nggak lah! Ngapain juga marah, ngabisin energi! Kita kan belajar justru dari kesalahan," Mirna tetap nyantai. Aku shock, ternyata dia begitu bijak!

Sekali lagi aku jadi penasaran. Sebenarnya, aku nih akhwat yang terlalu hemat alias pelit, atau mereka yang boros dan mubazir?!

Aku cuma bisa menghela napas karena tidak ada yang menjawab. Hanya suara printer yang berdecit dan tawa tertahan Mirna yang makin mengusikku.

Cinta di Sudut Hati

Aku berharap tidak bertemu dengannya hari ini. Demikianlah do’aku setiap hari. Setiap aku membuka mataku. Saat aku hendak memulai hari. Untuk alasan apa? Karena ia telah menggangguku, mengganggu lelapnya tidurku dengan memimpikannya. Dia telah berhasil menghancurkanku, memporak – porandakan hatiku yang lama kujaga kelestariannya. Dia berhasil membuat perasaanku menjadi aneh. Aku membencinya karena semua alasan itu. Benci? Benarkah.. cobalah jawab dengan jujur. Benci ataukah rasa cinta yang tercipta. Pfff.. Ya Allah,, mengapa Engkau titipkan rasa ini kepadaku? Jika rasa ini tidak halal bagiku, menyingkirlah!.

Ups.. melamun saja. Kulirik jam di Hp ku menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Sudah saatnya kembali mengadukan “ rasa ‘ ini kepada Pemilik rasa. Aku tak ada daya melawannya. Dadaku sesak dipenuhi lamunanku tentangnya. Sosok yang nyaris sempurna tanpa cela. Tipe laki-laki idaman yang didamba banyak wanita. Seorang aktivis dakwah dengan tatapan teduhnya, kata-kata nan lembut penuh makna, wajahnya yang simpatik dan memancarkan kesalehan, punya kepribadian yang menyenangkan, punya segudang prestasi dan pandai merangkai kata-kata puitis. Terlukislah dirinya dalam rangkaian kata, tercurah dalam tulisan diari. Mendarah daging di hati. Aku sendiri tak berani menatap, hanya sekilas pandangan dan segera tertunduk kalah. Dialah satu-satunya yang mengisi sudut hatiku. Sudut hati itu lama tak bertuan. Diam- diam dia telah menggetarkan sudut hatiku. Meskipun hanya di sudut hati, namun aku telah merasakan efeknya yang meluluhlantakkan jiwa dan pikiran. Luar biasa.. Maha Besar Allah yang telah menciptakan makhluk ini. Astaghfirullah.. kok melamun lagi. Seolah hati ini tak habis bercerita tentangnya. Aku mengeluh.. mengapa harus mengenalnya, hingga akhirnya hancur begini. Ah.. sudahlah.. yakinlah bahwa tak ada perasaan yang abadi. Seminggu atau dua minggu tanpa melihatnya pastilah akan terhapus dengan sendirinya dalam memoriku. Tapi kapan aku akan memulainya. Bahkan setiap haripun aku selalu bertemu. Kalaupun tidak, rasanya mata ini selalu menarik-narik untuk mengedarkan pandangan mencari sosok itu. Dan akhirnya dengan segala kepasrahan hati, kulabuhkan segala sesak yang ada kepada-Nya.

Inilah hari-hariku. Sunny morning.. here I am. Bismillahi tawakaltu Alallah. Sebelum meninggalkan rumah aku musti recheck dulu semua yang ku perlukan untuk aktivitasku satu hari ini. Karena biasanya aku tak akan pulang kerumah sampai ba’da isya nanti. Setelah dirasa lengkap barulah “ say goodbye to my little sweet home”. Perkuliahan baru sekitar 4 bulan dimulai. Kuliah sambil kerja menjadi pilihan yang menyenangkan demi melewati waktu yang ada. Menyenangkan karena tidak membebani orang tua dan yang terpenting aku bisa menghabiskan waktu untuk hal yang positif. Jangan seperti ramaja kebanyakan yang menghabiskan waktu untuk hura-hura. Aku tetaplah aku seorang gadis rumahan yang mungkin menurut logika zaman sekarang terbilang kuper. Teman- teman sering menggoda habis-habisan melihatku terperangkap dengan rutinitas yang itu-itu saja. Kemana- mana sendirian tanpa ‘teman special” yang mendampingi. “Ayo Diva, sekali-kali jalan dong! Cari pacar biar nggak sendirian terus” goda salah satu temanku. Aku hanya tertawa mendengarnya. Lalu ku jawab “ Walatakrobuzzina,, jangan mendekati zina, guys”. Cukuplah kata itu untuk membuatnya mengerti. Biasanya temanku langsung terdiam dan manyun. Namun naluriku segera menghardikku: “ Kamu munafik Diva, hatimu tak sebersih ucapanmu”. Yupp that’s true.. tahukah kalian akhir-akhir ini aku merasa diikuti bayangan yang selalu hadir menyapa. Aduh hati… bukan seperti ini seharusnya memulai hari. Meskipun waktuku habis ditelan aktivitas; pagi kerja lalu diteruskan dengan kuliah sampe malam tapi tetap saja tak mampu menghapusnya dalam sekejap. Apalagi disela-sela aktivitas terselip sms-smsnya yang membuatku terus tenggelam dalam arus yang entah harus aku sukai ataukah harus aku benci. Hp ku berbunyi. Sebuah sms diterima. “ Assalamualaikum adek, kaifa khaluk ya ukhti?. Udah makan belom? Udah sholat?”. Hhhh… Berulang kali ku bilang jangan panggil aku adek. Aku keberatan. Keberatannya dimana coba? Disini.. di hati ini.. beraaaattt sekaliii. Sms seperti itu cukuplah kujawab sekenanya “ w3. kabar baik. udah”. Cuma itu?? Ya.. memang Cuma itu. Itu saja sudah cukup. Sudah cukup membuatku marah. Marah pada dirinya yang seolah selalu bermain-bermain di hati ini. Marah pada diriku sendiri yang tidak tegas menolaknya. Seharusnya aku bisa menghentikan semua ini karena sebenarnya aku sadar akan kesalahan ini. Dosa yang diketahui keberadaannya namun dibiarkan melarut begitu saja. Begitulah hari-hariku bersamanya. Tanpa interaksi yang jelas. Tanpa pertemuan khusus. Kalaupun bertemu hanyalah sebuah senyum yang mampu terukir. Tanpa komunikasi panjang, tanpa obrolan khas sepasang muda-mudi zaman sekarang. Hanya saja aku selalu mengikutinya dari kejauhan, memperhatikan dan mendengarkan segala hal yang diceritakan teman tentangnya. Seolah dalam hati ini tak henti bersenandung :
Mungkin kumiliki
Seluruh cintamu
Kusadari semua itu anganku
Kuingin katakan hanyalah dirimu
Yang melukis warna mimpi hatiku
Ingin ku miliki dengan sepenuh hati
Walau ku harus setengah terluka
Mengharap cintamu
Ingin kusayangi tanpa terbagi lagi
Apakah mungkin menjalin kasih
Bila aku tak tahu bagaimana kau mencintai diriku
Kuingin katakan hanyalah dirimu
Yang melukis warna mimpi hatiku
( Ruth Sahanaya : Ingin Kumiliki )

ah.. melankolis..Diva!! tidakkah kau mendamba cinta pertama dan terakhirmu hanya dalam bingkai pernikahan yang halal. Berhentilah mengharu biru dengan perasaan yang tak seharusnya dirawat, suara hatiku kembali menyentakkan lamunan. Kurang jelas sejak kapan hal ini bermula. Yang aku ingat bahwa aku telah lama mengenalnya. Awalnya hanya tahu nama dan orangnya saja. Sering melihatnya disaat ospek karena dia masuk kepanitiaan. Sampai akhirnya kami dipertemukan dalam satu acara yang mengharuskan tampil bersama. karena itu, aku harus rajin mengontaknya. Belajar banyak hal darinya yang lebih senior tentu menyenangkan. Usai perhelatan acara itu teman-temanku selalu menggodaku ‘kalian serasi sekali, cocok deh”. Dari situlah kedekatan itu terjalin sampai sekarang. Kedekatan yang aneh. Kedekatan yang sulit diterjemahkan. Apakah itu berbentuk persahabatan, ataukah aku hanya menganggap figurnya sebagai kakak ataukah ini jenis kedekatan lain yang belum terdefinisi di dunia ini. Sebenarnya, dia hanya memberikan perhatian kecil via sms atau terkadang menelpon dengan durasi yang tak lama. Tak seharusnya aku ke-GeEr- an begini. I don’t know why he always be in my heart. Aku jadi lebih suka menceritakan semua keluh kesah kepadanya, membahas berbagai topik yang ada dan dihubungkan dengan syari’at agama. He’s absolutely smart. Ku akui sangat menyenangkan sekali. Dia telah mengajarkan banyak hal, mencerdaskanku, membuatku lebih dewasa dari umur sebenarnya. membuatku mampu terlihat bijaksana di depan teman-temanku jika dimintai pendapat atau menanggapi curhat-curhat teman.

Begitulah yang terjadi. Aku yakin setan sedang bertepuk tangan dan melompat-lompat gembira karena telah berhasil menyebarkan virus ke hatiku yang seharusnya ku jaga kebersihan dan kebeningannya. Aku tak pernah memulai dan nyaris tak pernah memberikan perhatianku sama sekali. Bagaimanapun aku mengerti bahwa aku ada dalam jalur yang salah dan harus segera meng-cut hubungan tanpa status ini. Namun, aku menikmatinya, menikmati setiap perhatiannya, menikmati setiap pujian dan rangkaian kata puitisnya. Kurasakan hari begitu berwarna. Namun tak selalu warna itu cerah ceria, terkadang juga kelabu dan biru jika dirasa lama tak memberi kabar atau bercerita tentang kegiatannya. Ya Allah.. inikah cinta ataukah aku hanya bermimpi tentang cerita sang putri raja dengan pangerannya. Disaat seperti ini keegoisan bertahta. Jika ini memang mimpi, biarlah tetap menjadi mimpi dan aku tak ingin terbangun. Dan sekali lagi setan pun tertawa girang mendengar keegoisanku itu.

Sampai akhirnya, tepat tiga bulan kedekatan itu, sebuah kabar aku terima darinya bahwa dia harus pergi keluar kota nun jauh disana, jauh dari jangkauanku, jauh dari pikiranku. Jantungku terasa berhenti berdetak. Ada perih yang tiba-tiba menyeruak di sudut hatiku. Yah.. di sudut hati dimana cinta itu berada. Mungkin inilah jawaban dari do’a – do’a ku selama ini. Saat itu, dia berjanji akan tetap rajin memberi kabar dan akan tetap sayang padaku. Kata- kata terakhir inilah yang membuatku membludak marah. Apa maksudnya dengan kata sayang? Apakah selama ini panggilan adek adalah ungkapan sayangnya untukku. Ya Allah.. terselip rasa bahagia namun kecewa dan tiba-tiba berubah menjadi rasa terhina. Apa persepsinya tentang hubungan kami selama ini. Tidakkah dia menhormati jilbab ini? Tak seharusnya dia mengatakan ‘kata’ itu padaku. Tak pantas pernyataan itu dilontarkan seorang aktivis sepertinya. Ku putar kembali setiap lembar memoriku. Kurasakan kepalaku berputar seiring ingatanku yang mengembara, menerawang menembus ruang waktuku selama tiga bulan terakhir. Ku biarkan saja dosenku ‘ mengoceh ‘ di depan sana, tak ada satu katapun yang tertangkap jelas. Yang jelas hanyalah keinginanku untuk cepat pulang dan melabuhkan diri di kamar.

Dan akhirnya,, tangis ini meledak juga. Aku maki diriku sendiri. Kenapa harus ada tangis? Seharusnya aku senang jika dia jauh dariku. Akulah yang salah… aku yang salah. Aku yang terlalu bodoh dan terlena dalam buaian semu. Aku membenci diriku sendiri. See me now,,! Akhwat yang tidak bisa menjaga hati. Percuma mengikuti berbagai kajian tapi aplikasinya NOL BESAR. Dan kuputuskan untuk mengakhiri semuanya. Biarlah.. jika hati ini harus hancur dan terluka. Bagiku tak ada bedanya. Inilah kenyataan wanita dan perasaannya. Sebuah e-Mail ku kirimkan :

Assalamualaikum wr.wb. ya Akhi…
Syukron atas segala perhatiannya dan banyak ilmu yang telah diberikan selama ini. Maaf jika selama ini telah membebani akhi dengan berbagai keluh kesah yang tak seharusnya. Terus terang saja, saya merasa ada yang salah dengan ‘ persahabatan ‘ kita. aku tidak yakin ini adalah ukhuwah fillah. Sesungguhnya mengenalmu adalah sebuah kesyukuran. Namun tak boleh diteruskan. Bukankah kita mengerti aturan pergaulan lawan jenis? Bukankah kita dilarang mendekati zina,apapun itu bentuknya. Jujur, aku sudah tak tahu lagi tentang apa yang aku rasakan. Afwan.. hubungan ini harus kita akhiri. Berhentilah menghubungiku. Lupakan bahwa kita pernah mempunyai ‘kedekatan’, aku takut setan lebih banyak bermain peran dalam ‘ persahabatan’ ini. Mulai saat ini biarlah kita menjalani kehidupan masing-masing. Tak perlu repot untuk memberi kabar karena aku tak memerlukan itu. Hapus juga rasa sayang dalam hatimu akhi.. tidak baik buat kesehatan hatimu. Harapanku semoga dirimu segera bertemu dengan akhwat yang soleha, akhwat impianmu yang bisa mewujudkan segala impianmu. Seorang isteri yang selalu menemanimu dalam perjuangan karena Allah. Mencintai dan dicintai karena Allah. Jazakallahu khairan.

Telah kuputuskan segalanya. Namun mengapa aliran air mata ini tak juga mereda. Beberapa hari ini aku terlihat jauh lebih pendiam dan kehilangan keceriaan. “ kamu kenapa Diva? Lg ada masalah?, salah seorang temanku bertanya. “ No, I’m fine but dead-tired”.jawabku singkat dan tanpa ekspresi. Yaa.. sepertinya aku hampir lupa cara tersenyum. Ada rasa sepi tanpa perhatiannya. Setiap kali ada sms aku masih berharap itu darinya. Tiap hari aku selalu mengecek inbox di e-mail ku, kalau saja ada balasan darinya. Aku berharap dia tetap akan memperhatikan ku selalu. Ya Allah.. aku harus yakin dengan keputusanku. Jika boleh aku meminta gantilah otak ini dengan otak yang lain agar memori tentangnya tak bersarang lagi.

Seminggu berlalu, ada sebuah surat ditujukan kepadaku. Benar-benar surat. Surat yang diantar oleh tukang pos. Di zaman modern seperti ini sudah lama sekali rasanya tidak menerima surat via pos. Ku baca pengirimnya : Oh God.. It’s from him. Cepat-cepat aku masuk kedalam kamarku. Dengan perasaan campur aduk kubuka surat itu dan ku baca.

Assalamualaikum wr.wb. Sang Diva yang Insya Allah Calon Bidadari Surga…
Sepertinya aku harus menelan pahit dari sebuah pengharapan. Aku mengerti dan menangkap maksud kata-katamu. Di saat aku berharap bahwa ukhti bisa menjadi labuhan terakhirku, ternyata perasaan kita tak sama. Ukhti nampak berbeda dalam pandanganku. Lembut, bersahaja, tak banyak omong dan truly very kind-hearted. Disaat banyak wanita yang berusaha dekat denganku dan mencari kesempatan untuk bersamaku. Dirimu tampak menjauh dan menghindar. Aku suka sifatmu yang pemalu. Cepat sekali menunduk jika tanpa sengaja bertemu mata. Ah.. dikau sungguh menggemaskan. Jika perasaan ini belum halal, mengapa tak mencoba menghalalkannya. Jika sekarang dirasa masih telalu dini. Tak boleh kah daku menunggu?. Tapi sudahlah.. sepertinya ukhti tak menyimpan perasaan apapun padaku. Sepertinya tak ada cinta untukku. Jika memang itu keinginan ukhti.. aku akan melupakan mu, mengahapus bayanganmu dalam memori ini. Meskipun itu dirasa berat, jangan khawatir aku tak akan mengganggumu lagi. Syukron. Wassalam..

Ya Allah.. dunia.. semua.. lihatlah diriku.. saat ini aku rasa tsunami tidak hanya terjadi di Aceh, tapi juga di sudut hatiku. Kembali rapuh, menangispun tak tertahan lagi. Wanita memang dianugerahi air mata oleh Allah untuk digunakan kapanpun dia mau. Jangan ragu Diva,, menangislah..!! jika memang engkau merasa perlu menangis,’kata hatiku seolah sedang memandangi dan menemani aku dalam keterpurukan. Oh..tidak akhi.. bukan tak ada cinta.. jika engkau melihat di sudut hati ini, masih ada cinta disana bahkan lebih dalam dari biasanya. Tapi aku ingin cinta yang halal. Cinta karena Allah hanya ada dalam pernikahan. Tapi aku hanyalah gadis 19 tahun. Masih terlalu dini. Jika diibaratkan puasa, maka waktu berbuka puasa itu masih lama. Aku harus sabar menunggu waktu itu tiba dengan terus menjaga hati agar tak bernoda. Seandainya aku gadis 21 tahun atau 22, maka akan aku terima tawaranmu. Sedangkan dirimu telah cukup umur untuk menikah. sudah mampu secara lahir dan bathin. Aku tak ingin menjadi penghalang dirimu untuk menyempurnakan separuh agamamu. Biarlah.. sepertinya inilah jalan terbaik buatku. Sakit.. sakit sekali keputusan ini. Sudut hatiku terasa berdarah, tersayat dan terluka parah. Inilah cerita seorang akhwat yang beranjak dewasa, mencari jati diri dan ingin menggapai ridho ALLAH. Tanpa disadari tanganku menorehkan puisi :

Kulepas dikau karena ku cinta
Kurelakan engkau menjauh
Menjauhlah tanpa berbalik arah
Kuingin engkau terbang tanpa batas
Tak perlu menoleh atau sekedar mengenang jalanmu

Di sini bukan tempatmu
Diriku bukan tempatmu berlabuh
Masih terlalu pagiku
Si burung pipit masih kecil
Untuk bisa terbang bersamamu
Biarkan ia belajar terbang
Ia masih butuh suapan
Dikau paksapun takkan merubah keadaan
Hingga pada saatnya nanti
Si burung kecil tumbuh besar
Menyusulmu.. suatu hari…

Diva.. kamu pasti bisa melewatinya…..

Tak terasa 3 tahun berselang setelah peristiwa itu. Kini aku telah bisa mandiri. Tetap sendiri dan berusaha istiqomah dengan pendirianku. Aku senang sebentar lagi aku akan menyelesaikan sekolahku. . Besar harapan aku akan segera bertemu jodoh yang dikirimkan Allah special untukku. Semoga dia adalah ikhwan yang soleh dan bijaksana. Mendung itu telah usai. Dunia nampak cerah sekali. Segala hal tentangnya telah aku buang jauh- jauh, aku musnahkan. Dan semuanya serba baru. E-mail baru, Id YM baru, No Hp. Baru dan semuanya aku ganti dengan yang baru agar ia tak bisa menghubungiku lagi ( ih.. ke geer an banget sih). Pagi itu menjelang subuh, saat aku sedang memainkan tuts keyboard menyelesaikan paper tugas kuliahku, sebuah sms kuterima. Dari siapa? Sepagi ini?. “Ass. Ukhti. Kaifa khaluk? afwan, ana dapat nomor anti dari temen. Denger2 bntr lg mo selesai ya kul- ny? Msh ad peluang?By akhi…. Masya Allah.. tak sanggup kubaca namanya. Apakah sesuatu akan dimulai lagi? Saat badai itu telah reda? Aku bingung bagaimana harus menjawab sms ini…. Pikiranku menerawang. Ya Rabb.. apa ini juga bagian dari jawaban do’aku? Bukankah sekarang aku gadis 21? Tiba-tiba ku ingat ta’aruf, khitbah, walimah…. Hah.. apa-apaan ini? ( Nia-dp.Llg.Apr.08 )

Agar Pernikahan Membawa Berkah

Di saat seseorang melaksanakan aqad pernikahan, maka ia akan mendapatkan
banyak ucapan do’a dari para undangan dengan do’a keberkahan sebagaimana
diajarkan oleh Rasulullah SAW; “Semoga Allah memberkahimu, dan
menetapkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam
kebaikan.” Do’a ini sarat dengan makna yang mendalam, bahwa pernikahan
seharusnya akan mendatangkan banyak keberkahan bagi pelakunya. Namun
kenyataannya, kita mendapati banyak fenomena yang menunjukkan tidak
adanya keberkahan hidup berumah tangga setelah pernikahan, baik di
kalangan masyarakat umum maupun di kalangan keluarga du’at (kader
dakwah). Wujud ketidakberkahan dalam pernikahan itu bisa dilihat dari
berbagai segi, baik yang bersifat materil ataupun non materil.

Munculnya berbagai konflik dalam keluarga tidak jarang berawal dari
permasalahan ekonomi. Boleh jadi ekonomi keluarga yang selalu dirasakan
kurang kemudian menyebabkan menurunnya semangat beramal/beribadah.
Sebaliknya mungkin juga secara materi sesungguhnya sangat mencukupi,
akan tetapi melimpahnya harta dan kemewahan tidak membawa kebahagiaan
dalam pernikahannya.

Seringkali kita juga menemui kenyataan bahwa seseorang tidak pernah
berkembang kapasitasnya walau pun sudah menikah. Padahal seharusnya
orang yang sudah menikah kepribadiannya makin sempurna; dari sisi
wawasan dan pemahaman makin luas dan mendalam, dari segi fisik makin
sehat dan kuat, secara emosi makin matang dan dewasa, trampil dalam
berusaha, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan teratur dalam aktifitas
kehidupannya sehingga dirasakan manfaat keberadaannya bagi keluarga dan
masyarakat di sekitarnya.

Realitas lain juga menunjukkan adanya ketidakharmonisan dalam kehidupan
keluarga, sering muncul konflik suami isteri yang berujung dengan
perceraian. Juga muncul anak-anak yang terlantar (broken home) tanpa
arahan sehingga terperangkap dalam pergaulan bebas dan narkoba. Semua
itu menunjukkan tidak adanya keberkahan dalam kehidupan berumah tangga.

Memperhatikan fenomena kegagalan dalam menempuh kehidupan rumah tangga
sebagaimana tersebut di atas, sepatutnya kita melakukan introspeksi
(muhasabah) terhadap diri kita, apakah kita masih konsisten (istiqomah)
dalam memegang teguh rambu-rambu berikut agar tetap mendapatkan
keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga ?

1. Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)

Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan
biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT
sebagaimana diungkap dalam Alqur’an (QS. Ar Rum:21), sehingga bernilai
sakral dan signifikan. Menikah juga merupakan perintah-Nya (QS.
An-Nur:32) yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan
merupakan Sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam
salah satu hadits : “Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah,
lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku”
(HR.At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Oleh karena nikah merupakan sunnah
Rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara (prosesi)
pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul.
Misalnya saat hendak menentukan pasangan hidup hendaknya lebih
mengutamakan kriteria ad Dien (agama/akhlaq) sebelum hal-hal lainnya
(kecantikan/ ketampanan, keturunan, dan harta); dalam prosesi pernikahan
(walimatul ‘urusy) hendaknya juga dihindari hal-hal yang berlebihan
(mubadzir), tradisi yang menyimpang (khurafat) dan kondisi bercampur
baur (ikhtilath). Kemudian dalam kehidupan berumah tangga pasca
pernikahan hendaknya berupaya membiasakan diri dengan adab dan akhlaq
seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.

Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya
seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina
dan mampu mengendalikan syahwatnya. Allah SWT akan memberikan
pertolong-an kepada mereka yang mengambil langkah ini; ” Tiga golongan
yang wajib Aku (Allah) menolongnya, salah satunya adalah orang yang
menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Tarmidzi)

Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim
(syahsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah, artinya menjadikan
keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim
teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktifitas
dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan
lil ‘alamin bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga
muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan
masyarakat yang sejahtera.

2. Sikap saling terbuka (Mushorohah)

Secara fisik suami isteri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling
terbuka saat jima’ (bersenggama) , padahal sebelum menikah hal itu adalah
sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus
diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), dan
sikap (mauqif) serta tingkah laku (suluk), sehingga masing-masing dapat
secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami/isteri- nya dan dapat
memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) di antara keduanya.

Hal itu dapat dicapai bila suami/isteri saling terbuka dalam segala hal
menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan
kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/isteri memendam
perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau
karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/isteri. Jika hal yang
demikian terjadi hal yang demikian, hendaknya suami/isteri segera
introspeksi (bermuhasabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas
dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk
penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka
dapat menyebabkan interaksi suami/isteri menjadi tidak sehat dan
potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.

3. Sikap toleran (Tasamuh)

Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan
pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan
terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu
permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian,
dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap
toleran (tasamuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan. Oleh karena
itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan
dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan
yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian (seperti
yang Allah sebutkan dalam QS. Albaqarah:187) , maka suami/isteri harus
mampu mem-percantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang
ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya
meminimalisir kelemahan/kekuranga n yang ada.

Prinsip “hunna libasullakum wa antum libasullahun (QS. 2:187) antara
suami dan isteri harus selalu dipegang, karena pada hakikatnya
suami/isteri telah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipandang
secara terpisah. Kebaikan apapun yang ada pada suami merupakan kebaikan
bagi isteri, begitu sebaliknya; dan kekurangan/ kelemahan apapun yang
ada pada suami merupakan kekurangan/kelemaha n bagi isteri, begitu
sebaliknya; sehingga muncul rasa tanggung jawab bersama untuk memupuk
kebaikan yang ada dan memperbaiki kelemahan yang ada.

Sikap toleran juga menuntut adanya sikap mema’afkan, yang meliputi 3
(tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al ‘Afwu yaitu mema’afkan orang jika memang
diminta, (2) As-Shofhu yaitu mema’afkan orang lain walaupun tidak
diminta, dan (3) Al-Maghfirah yaitu memintakan ampun pada Allah untuk
orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali sikap ini belum
menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil dari
pasangan suami/isteri kadangkala menjadi awal konflik yang
berlarut-larut. Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan”
kesalahan terus terjadi, tetapi mema’afkan berarti berusaha untuk
memberikan perbaikan dan peningkatan.

4. Komunikasi (Musyawarah)

Tersumbatnya saluran komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak dalam
kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang
tidak harmonis. Komunikasi sangat penting, disamping akan meningkatkan
jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman.

Kesibukan masing-masing jangan sampai membuat komunikasi suami-isteri
atau orang tua-anak menjadi terputus. Banyak saat/kesempatan yang bisa
dimanfaatkan, sehingga waktu pertemuan yang sedikit bisa memberikan
kesan yang baik dan mendalam yaitu dengan cara memberikan perhatian
(empati), kesediaan untuk mendengar, dan memberikan respon berupa
jawaban atau alternatif solusi. Misalnya saat bersama setelah menunaikan
shalat berjama’ah, saat bersama belajar, saat bersama makan malam, saat
bersama liburan (rihlah), dan saat-saat lain dalam interaksi keseharian,
baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan sarana
telekomunikasi berupa surat, telephone, email, dsb.

Alqur’an dengan indah menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu
berlangsung dalam keluarga Ibrahim As sebagaimana dikisahkan dalam
QS.As-Shaaffaat: 102, yaitu : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; Hai anakku,
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab; Hai Bapakku, kerjakanlah apa
yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar”.

Ibrah yang dapat diambil dalam kisah tersebut adalah adanya komunikasi
yang timbal balik antara orang tua-anak, Ibrahim mengutarakan dengan
bahasa dialog yaitu meminta pendapat pada Ismail bukan menetapkan
keputusan, adanya keyakinan kuat atas kekuasaan Allah, adanya sikap
tunduk/patuh atas perintah Allah, dan adanya sikap pasrah dan tawakkal
kepada Allah; sehingga perintah yang berat dan tidak logis tersebut
dapat terlaksana dengan kehendak Allah yang menggantikan Ismail dengan
seekor kibas yang sehat dan besar.

5. Sabar dan Syukur

Allah SWT mengingatkan kita dalam Alqur’an surat At Taghabun ayat 14:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu
terhadap mereka. Dan jika kamu mema’afkan dan tidak memarahi serta
mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”

Peringatan Allah tersebut nyata dalam kehidupan rumah tangga dimana
sikap dan tindak tanduk suami/istri dan anak-anak kadangkala menunjukkan
sikap seperti seorang musuh, misalnya dalam bentuk menghalangi- halangi
langkah dakwah walaupun tidak secara langsung, tuntutan uang belanja
yang nilainya di luar kemampuan, menuntut perhatian dan waktu yang
lebih, prasangka buruk terhadap suami/isteri, tidak merasa puas dengan
pelayanan/nafkah yang diberikan isteri/suami, anak-anak yang aktif dan
senang membuat keributan, permintaan anak yang berlebihan, pendidikan
dan pergaulan anak, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dihadapi
dengan kesabaran dan keteguhan hati, bukan tidak mungkin akan membawa
pada jurang kehancuran rumah tangga.

Dengan kesadaran awal bahwa isteri dan anak-anak dapat berpeluang
menjadi musuh, maka sepatutnya kita berbekal diri dengan kesabaran.
Merupakan bagian dari kesabaran adalah keridhaan kita menerima
kelemahan/kekuranga n pasangan suami/isteri yang memang diluar
kesang-gupannya. Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai
satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah
dia yang harus kita terima secara utuh, begitupun penerimaan kita kepada
anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Ibaratnya
kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental
(asasi) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan bijak
berikut:”Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas
Kehidupan”. Mereka yang lulus dari Fakultas Kesabaran akan meraih banyak
keberkahan.

Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan
berumah tangga. Rasulullah mensinyalir bahwa banyak di antara penghuni
neraka adalah kaum wanita, disebabkan mereka tidak bersyukur kepada
suaminya.

Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami
seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu
membanding-bandingk an dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam
meraih keberkahan; begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan
segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus
dipersiapkan.

Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan
semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan.
Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah, sebagaimana firmannya:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim:7).

Mensyukuri kehadiran keturunan sebagai karunia Allah, harus diwujudkan
dalam bentuk mendidik mereka dengan pendidikan Rabbani sehingga menjadi
keturunan yang menyejukkan hati. Keturunan yang mampu mengemban misi
risalah dien ini untuk masa mendatang, maka jangan pernah bosan untuk
selalu memanjatkan do’a:

Ya Rabb kami karuniakanlah kami isteri dan keturunan yang sedap
dipandang mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertaqwa.

Ya Rabb kami karuniakanlah kami anak-anak yang sholeh.

Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik.

Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang Engkau
Ridha-i.

Ya Rabb kami jadikanlah kami dan keturunan kami orang yang mendirikan
shalat.

Do’a diatas adalah ungkapan harapan para Nabi dan Rasul tentang
sifat-sifat (muwashshofat) ketuturunan (dzurriyaat) yang diinginkan,
sebagaimana diabadikan Allah dalam Alqur’an (QS. Al-Furqon:74; QS.
Ash-Shaafaat: 100 ; QS.Al-Imran: 38; QS. Maryam: 5-6; dan QS. Ibrahim:40).
Pada intinya keturun-an yang diharapkan adalah keturunan yang sedap
dipandang mata (Qurrota a’yun), yaitu keturunan yang memiliki sifat
penciptaan jasad yang sempurna (thoyyiba), ruhaniyah yang baik (sholih),
diridhai Allah karena misi risalah dien yang diperjuangkannya (wali
radhi), dan senantiasa dekat dan bersama Allah (muqiimash-sholat) .

Demikianlah hendaknya harapan kita terhadap anak, agar mereka memiliki
muwashofaat tersebut, disamping upaya (ikhtiar) kita memilihkan
guru/sekolah yang baik, lingkungan yang sehat, makanan yang halal dan
baik (thoyyib), fasilitas yang memadai, keteladanan dalam keseharian,
dsb; hendaknya kita selalu memanjatkan do’a tersebut.

6. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)

Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman,
maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan
indah, diantaranya dengan mu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw
menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang
paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang
paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi)

Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam
interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman
dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan
kejiwaan (maknawiyah) anak-anak dan pengkondisian suasana untuk betah
tinggal di rumah.

Ungkapan yang menyatakan “Baiti Jannati” (Rumahku Syurgaku) bukan semata
dapat diwujudkan dengan lengkapnya fasilitas dan luasnya rumah tinggal,
akan tetapi lebih disebabkan oleh suasana interaktif antara suami-isteri
dan orang tua-anak yang penuh santun dan bijaksana, sehingga tercipta
kondisi yang penuh keakraban, kedamain, dan cinta kasih.

Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang
mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia
akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab syetan akan sangat mudah
mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw mengingatkan secara
berulang-ulang agar jangan marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah
karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar
dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billah), bila masih merasa marah
hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena
sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah ma’af,
karena Allah menyukai orang yang suka mema’afkan. Ingatlah, bila karena
sesuatu hal kita telanjur marah kepada anak/isteri/ suami, segeralah
minta ma’af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah
bisa hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi
jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi.

7. Kuatnya hubungan dengan Allah (Quwwatu shilah billah)

Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati
(kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Ar-Ra’du:28.
“Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”.
Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh
keteguhan hati/ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja
(ta’alluq billah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah,
mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam
kehidupan rumah tangga. Rasulullah saw sendiri selalu memanjatkan do’a
agar mendapatkan keteguhan hati: “Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy
‘alaa diinika wa’ala thoo’atika” (wahai yang membolak-balikkan hati,
teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam
menta’ati-Mu) .

Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah
(taqarrub ila Allah), sehingga ia merasakan kebersamaan Allah dalam
segala aktifitasnya (ma’iyatullah) dan selalu merasa diawasi Allah dalam
segenap tindakannya (muraqobatullah) . Perasaan tersebut harus dilatih
dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga, melalui pembiasaan keluarga
untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap dan dimutaba’ah
bersama, seperti : tilawah, shalat tahajjud, shaum, infaq, do’a,
ma’tsurat, dll. Pembiasaan dalam aktifitas tersebut dapat menjadi sarana
menjalin keakraban dan persaudaraan (ukhuwah) seluruh anggota keluarga,
dan yang penting dapat menjadi sarana mencapai taqwa dimana Allah swt
menjamin orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS.
Ath-Thalaaq: 2-3.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-nya
jalan keluar (solusi) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupi (keperluan) nya.”

Wujud indahnya keberkahan keluarga

Keberkahan dari Allah akan muncul dalam bentuk kebahagiaan hidup berumah
tangga, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan di
dunia, boleh jadi tidak selalu identik dengan kehidupan yang mewah
dengan rumah dan perabotan yang serba lux. Hati yang selalu tenang
(muthma’innah) , fikiran dan perasaan yang selalu nyaman adalah bentuk
kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan materi/kemewahan.

Kebahagiaan hati akan semakin lengkap jika memang bisa kita sempurnakan
dengan 4 (empat) hal seperti dinyatakan oleh Rasulullah, yaitu : (1)
Isteri yang sholihah, (2) Rumah yang luas, (3) Kendaraan yang nyaman,
dan (4) Tetangga yang baik.

Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas rumah yang luas dan kendaraan yang
nyaman tanpa harus memiliki, misalnya di saat-saat rihlah, safar,
silaturahmi, atau menempati rumah dan kendaraan dinas. Paling tidak
keterbatasan ekonomi yang ada tidak sampai mengurangi kebahagiaan yang
dirasakan, karena pemilik hakiki adalah Allah swt yang telah menyediakan
syurga dengan segala kenikmatan yang tak terbatas bagi hamba-hamba- Nya
yang bertaqwa, dan menjadikan segala apa yang ada di dunia ini sebagai
cobaan.

Kebahagiaan yang lebih penting adalah kebahagiaan hidup di akhirat,
dalam wujud dijauhkannya kita dari api neraka dan dimasukkannya kita
dalam syurga. Itulah hakikat sukses hidup di dunia ini, sebagaimana
firman-Nya dalam QS. Al-Imran : 185

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan kedalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. “

Selanjutnya alangkah indahnya ketika Allah kemudian memanggil dan
memerintahkan kita bersama-sama isteri/suami dan anak-anak untuk masuk
kedalam syurga; sebagaimana dikhabarkan Allah dengan firman-Nya:

“Masuklah kamu ke dalam syurga, kamu dan isteri-isteri kamu
digembirakan” . (QS, Az-Zukhruf:70)

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka
dalam keimanan, kami hubungkan (pertemukan) anak cucu mereka dengan
mereka (di syurga), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala
amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(QS. Ath-Thuur:21) .

Inilah keberkahan yang hakiki.

Menunda Pernikahan Sebab dan Solusinya

Menunda Pernikahan Sebab dan Solusinya

Menikah merupakan sunnah (jalan hidup) para nabi dan rasul ‘alaihimus salam sebagaimana difir-mankan Allah Subhannahu wa Ta’ala ,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (Ar-Ra’d: 38)

Menikah juga merupakan nikmat Allah kepada hamba-hamba- Nya yang dengannya akan diperoleh maslahat dunia dan akhirat, pribadi dan masyarakat, sehingga Allah menjadikannya sebagai salah satu tuntutan syara’. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan kawinkan-lah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. 24:32)

Menunda nikah kalau kita perhatikan, kini telah menjadi sebuah fenomena di masyarakat yang cukup menarik perhatian berbagai kalangan. Penundaan tersebut memiliki beberapa sebab, di antaranya ada yang berkaitan dengan keluarga dan masya-rakat, ada pula yang terkait langsung dengan para pemuda dan pemudi sendiri. Di bawah ini di antara sebab-sebab yang menjadikan para pemuda dan pemudi menunda nikah:

1.. Lemahnya Pemahaman Syar’i Tentang Nikah. Seseorang jika tahu bahwa sesuatu itu adalah ibadah, maka segala apa yang dihadapinya akan tampak lebih ringan. Halangan dan rintangan yang ada, meskipun berat akan dihadapi dengan lapang dada dan penuh kesabaran, sehingga urusan menjadi terasa lebih mudah. Di dalam nikah, terdapat beberapa bentuk ibadah, di antaranya: Untuk menjaga para pemuda dan pemudi dari perbuatan negatif dan dosa dan untuk melahirkan generasi pilihan yang siap beribadah kepada Allah, mendirikan shalat, berpuasa dan berjuang di jalan-Nya.

2.. Biaya yang Berlebihan Angka rupiah yang melambung tinggi untuk biaya nikah terkadang menjadi momok tersendiri bagi para pemuda, sehingga hal itu menjadi beban bagi dirinya dan keluarganya. Masalah ini biasanya lebih dikarenakan alasan adat, ikut-ikutan, gengsi atau mengikuti trends. Ini semua menyalahi ajaran Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dan merupakan penghalang bagi pemuda-pemudi untuk menikah.

3.. Terikat dengan Studi Sebagian pemuda ada yang tidak memikirkan nikah sama sekali, kecuali setelah selesai studinya. Bahkan hingga tingkat pasca sarjana atau doktoral di luar negeri, hingga bertahun-tahun. Demikian pula dengan para pemudinya yang kuliah untuk dapat mengejar jenjang akademisnya, hingga mengabaikan masalah pernikahan.

4.. Kekeliruan Cara Pandang Terhadap Pemuda Pelamar Ketika ada seorang pemuda melamar gadis maka yang pertama ditanyakan adalah apa pekerjaannya dan berapa penghasilan atau gajinya. Dan karena penghasilan yang kurang besar, banyak para pemuda yang tidak diterima lamarannya, padahal tidak seharusnya demikian.

5.. Banyaknya Pengaruh dari Orang Lain. Baik itu dari tetangga, kerabat, teman atau sesama pemuda, padahal mereka bukanlah orang-orang yang faham ilmu syar’i. Orang-orang tersebut memberikan pertimbangan- pertimbangan yang kurang proporsional sehingga menjadikan lemah dan kendornya semangat untuk menikah.

6.. Belum Ketemu yang Didambakan. Ada sebagian pemuda yang menunda-nunda nikah karena mencari wanita yang betul-betul memenuhi kriteria impiannya, sempurna dari semua segi. Bahkan boleh jadi ada yang membatalkan lamaran karena si wanita tadi kurang tinggi beberapa senti saja. Demikian pula dengan pemudinya yang mendambakan laki-laki yang sempurna dari segala sisi, sehingga setiap ada pemuda yang melamar selalu ditolak karena tidak memenuhi kriteria yang didambakan.

7.. Kurang Adanya Kerja Sama di Masyarakat. Kerjasama di masyarakat untuk saling memberi informasi pemuda-pemudi yang siap menikah, dirasakan masih kurang.

8.. Merebaknya Media yang Merusak Seperti menampilkan acara-acara yang menggambarkan permasalahan- permasalahan rumah tangga, perteng-karan suami istri, antara istri dengan keluarga suami dan lain-lain. Hal ini berpengaruh, ketika seorang pemuda akan melamar, yaitu munculnya persangkaan negatif dan rasa curiga yang berlebihan.

9.. Kurangnya Rasa Tanggung Jawab di Kalangan Pemuda. Tidak adanya keseriusan seorang pemuda di dalam mengemban tang-gung jawab hidup, terkadang meru-pakan penghalang untuk menikah. Mereka merasa amat berat dan lemah menghadapi kehidupan, apalagi kehidupan rumah tangga. Karena mereka tumbuh dan terbiasa dalam kondisi santai, serba enak dan dimanja.

10.. Banyaknya Media dan Tempat Hiburan. Maraknya tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat yang merusak, ditambah dengan sarana transportasi dan telekomunikasi yang tidak dimanfaatkan dengan benar menjadikan fitnah tersebar di mana-mana. Maka tak jarang pemuda atau pemudi asyik dan terlena dengan semua itu, sehingga tidak ada perhatian sama sekali terhadap nikah.

11.. Budaya Hubungan Pranikah (pacaran) Jika seorang pemuda mengikat hubungan dengan pemudi sebelum menikah, maka pada dasarnya sama saja dengan menjerumuskan diri ke dalam bahaya dan kesulitan. Hal ini juga berdampak kepada si gadis, ketika akan dilamar, maka mungkin dia menolak dengan alasan telah ada hubungan dengan pemuda lain, padahal sebenarnya pemuda tersebut bukanlah apa-apanya.

12.. Keberatan Orang Tua terhadap Anak Gadisnya. Terutama jika si anak memiliki penghasilan yang lumayan besar atau ia seorang anak yang berbakti, biasanya si orang tua berat hati melepasnya karena masih ingin mendapat perha-tian atau pelayanan darinya.

SOLUSI Masalah menunda pernikahan bagi pemuda dan pemudi merupakan masalah yang cukup serius dan memiliki dampak negatif yang amat banyak.

Maka sebagai jalan keluarnya dalam kesempatan ini disampaikan beberapa saran kepada masyarakat umum dan lebih khusus para orang tua dan walinya. Diantaranya yaitu:
1.. Memberikan pengarahan secara intensif kepada masyarakat tentang tujuan menikah, kebaikan yang diperoleh, hukum dan adabnya. Hendaknya disampaikan secara sederhana dan dengan bahasa yang mudah. Tujuannya supaya dapat menghilangkan anggapan keliru seputar pernikahan masa muda.

2.. Menyebarluaskan pernikahan para pemuda/pemudi dan memberikan pujian kepada mereka serta orang tuanya.

3.. Senantiasa mengingatkan bahwa usia yang paling utama untuk menikah adalah di masa muda. Alangkah indah jawaban yang disampaikan oleh seseorang ketika ditanya, “Kapan usia yang tepat untuk menikah? Maka ia menjawab,
“Kapan selayaknya seseorang itu makan? Maka orang tentu akan menjawab “ketika ia lapar”. Demikian pula ketika seorang remaja telah melewati masa baligh, maka itulah waktu yang sangat pas untuk menikah karena tuntutan kebutuhan fithrah dan sebagai penjagaan dari berbagai perilaku negatif.

4.. Memberikan dorongan dan anjuran kepada para orang tua dan kerabat agar menikahkan putra-putrinya di usia muda serta memperingatkan akan bahaya dan dampak negatif dari menunda-nundanya.

5.. Membiasakan agar tidak bermewah-mewahan di dalam mengadakan walimah, sebab hal ini sering menjadi masalah bagi para pemuda yang ingin menikah. Nabi telah bersabda, “Adakan walimah meski hanya dengan seekor kambing!” Jelas sekali bahwa walimah tidak harus memaksakan diri dengan sesuatu yang serba mewah.

6.. Mengajak kepada masyarakat agar memberikan keringanan dalam mahar (maskawin).

7.. Senantiasa memberikan dorongan dan anjuran untuk menikah, karena ia merupakan salah satu sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam.

8.. Hendaknya bagi orang yang memiliki kelebihan dan keluasan harta supaya memberikan bantuan kepada saudara, teman atau kerabatnya yang membutuhkan biaya pernikahan demi untuk menjaga para pemuda dan pemudi dari hal-hal yang negatif. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin- semoga Allah merahmati beliau berdua memperbolehkan penyaluran dana zakat untuk membantu para fakir miskin yang membutuhkan biaya pernikahan khusus untuk membayar mahar dan biaya pernikahan saja.

9.. Menganjurkan para pemuda, baik melalui teman-temannya atau kera-batnya supaya memberikan dorongan untuk menikah. Juga menganjurkan para wali agar bersegera menikahkan putrinya atau para gadis yang berada dalam tanggungannya.

10.. Memberikan kabar gembira bahwa menikah merupakan salah satu sebab dibukanya pintu rizki, sebagai-mana disabdakan Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam ,”Tiga orang yang akan dijamin pertolongan dari Allah: Orang menikah karena ingin menjaga diri, mukatib (hamba sahaya yang ingin memerdekakan diri) yang menepati janjinya dan orang yang berperang di jalan Allah.”

11.. Memperingatkan para pemuda untuk tidak menyia-nyiakan harta dan agama, berfoya-foya dan senang-senang, suka melancong dan menghambur-hamburka n uang. Ingatkan pula bahwa menikah itu tidaklah membutuhkan biaya yang sangat besar, bahkan boleh jadi biaya yang digunakan sekali jalan dalam melancong adalah lebih besar daripada biaya pernikahan.

12.. Bagi yang telah lebih dahulu menikah hendaklah memberikan pengarahan yang logis dengan penuh hikmah kepada para pemuda. Jangan-lah terlalu idealis di dalam memilih pendamping hidup, cukuplah sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menjadi acuan di dalam hal memilih istri. Beliau mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat hal dan beliau menjadikan yang paling utama adalah yang baik agamanya.

13.. Memperingatkan keluarga dan kerabat agar jangan menunda-nunda pernikahan putri-putrinya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda kepada shahabat Ali Radhiallaahu anhu,
“Tiga perkara wahai Ali, janganlah engkau menunda-nunda, ” shalat jika telah masuk waktunya, jenazah bila telah siap dishalatkan, wanita sendirian jika telah ada jodoh-nya.” (HR. Ahmad)

14.. Membentuk keluarga dan ling-kungan yang baik dan islami yang mengerti dan bersungguh-sungguh dengan ajaran Islam. Sehingga dampak-nya adalah akan memberikan dukungan yang besar terhadap berkembangnya ajaran dan sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam termasuk salah satunya adalah menikah.

15.. Memperingatkan para ibu dan bapak agar bersegera menikahkan putra-putrinya jika telah siap. Karena menundanya terkadang akan memberi-kan dampak negatif berupa penyimpangan moral atau terjadinya hubungan yang diharamkan.

Dan sebagai orang tua tentu juga memperoleh dosa akibat kelalaian yang diperbuatnya. Sumber: Kutaib “Ya Abbi Zawwijni” Abdul Malik al-Qasim. Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya. Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita.

Ditulis dalam Tentang Pernikahan

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN WALIMAH

I

slam adalah agama yang universal dan paripurna. Ajaran Islam mencakup segala hal, termasuk penyelenggaraan walimah. Segala bentuk acara walimah yang menyelisihi syariat haruslah dijauhi dan ditinggalkan, walaupun telah menjadi kebiasaan dan kebudayaan masyarakat. Diantara kemungkaran-kemungkaran yang patut ditinggalkan adalah :

1. Ikhtilath (Bercampur baur) antara kaum lelaki dan wanita. Islam melarang percampurbauran antara kaum laki-laki dan wanita tanpa hijab, karena akan menimbulkan kerusakan bagi akhlak dan pribadi ummat.

2. Membuka aurat, terutama bagi kaum wanita. Kepada para wanita, hendaknya mereka mengingat firman Alloh :

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” (Al-Ahzab: 59).



Apabila terhadap isteri-isteri Nabi yang mana mereka adalah sebaik-baik wanita Alloh memerintahkan mereka untuk berjilbab dan menutup aurat, bagaimana lagi dengan wanita lainnya yang bukan termasuk isteri-isteri nabi?

3. Bertabarruj (berhias diri) sebagaimana berhiasnya kaum kafir, baik dengan cara mencabuti bulu alis, memanjang-kan kuku dan mengecatnya dan semisalnya. Ingatlah sabda Nabi e: “Barangsiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum tertentu maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR Abu Dawud)

4. Tukar cincin. Ini merupakan budaya orang kafir yang tidak dikenal oleh Islam. Budaya ini berasal dari tradisi orang nasrani ketika mempelai pria memasangkan cincin ke ibu jari mempelai wanita, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa”, kemudian dipindahkan lagi ke jari telunjuk sembari mengatakan, “Dengan nama Tuhan anak”, kemudian dipindah lagi ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus” dan terakhir kalinya dia pindahkan ke jari manis seraya mengucapkan, “Amien”.

5. Kedua mempelai duduk berdua di pelaminan. Ini juga bukanlah bagian dari Islam, bahkan Islam berlepas diri darinya. Karena pelaminan akan menjadikan kedua mempelai sebagai pusat perhatian, dimana seorang lelaki yang asing dapat memandangi wajah si mempelai wanita demikian pula sebaliknya, yang pada akhirnya dapat menyebabkan fitnah dan penyakit hati bagi para pelakunya.

6. Memperdengarkan musik-musik jahiliyah, apalagi musik-musik yang mengundang syahwat dan melalaikan. Demikian pula acara dansa-dansa dan joget ria, merupakan kemungkaran yang harus dihindari dan dijauhi.

7. Israaf (berlebih-lebihan) dan Tabdzir (menghambur-hamburkan harta dan makanan). Sesungguhnya walimah yang sederhana namun sesuai dengan sunnah lebih berbarakah dan lebih baik daripada walimah yang mewah namun menyelisihi sunnah.

Diambil dari, BAGAIMANA MERAJUT BENANG PERNIKAHAN SECARA ISLAMI

Oleh,

Moch. Rachdie Pratama, S.Si

Runinda Pradnyamita, S.Ked.

Istri Shalihah dan Sifat-sifatnya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:‎


فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ


‎“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada ‎dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)‎

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat ‎kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf6 lagi memelihara dirinya ‎ketika suaminya tidak berada di sampingnya.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Tugas seorang ‎istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena ‎itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat ‎kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia ‎menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir Al-Karimir ‎Rahman, hal.177)
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-‎istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا‎ ‎مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ‎ ‎سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا‎

‎“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,7 mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti ‎kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, ‎qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (At-Tahrim: 5)
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:
a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), tunduk ‎kepada perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.
b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu ‎wa Ta’ala
c. Qanitat: wanita-wanita yang taat
d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali ‎kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‎walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
e. ‘Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ‎Ta’ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada ‎Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas ‎radhiallahu ‘anhuma).
f. Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir ‎Ibnu Katsir, 8/132)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ‎ ‎فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ‎ ‎مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ ‏الْجَنَّةِ شِئْتِ‎

‎“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga ‎kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ‎ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, ‎dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)
Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri ‎yang shalihah adalah sebagai berikut:
‎1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan ibadah hanya ‎kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
‎2. Tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, terus menerus dalam ketaatan ‎kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan ‎selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
‎3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.
‎4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya sehingga ‎lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari ‎perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa dosa seperti dusta, ghibah, ‎namimah, dan lainnya.
‎5. Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.
‎6. Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari ‎tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang ‎hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.
Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang ‎disebutkan setelahnya:
‎1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ‎ ‎الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ‎ ‎حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ ‏زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ‎ ‎غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى‎

‎“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga ‎yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di ‎mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada ‎tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-‎Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al ‎Albani rahimahullah, no. 287)
‎2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, ‎tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.
‎3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim ‎antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah ‎berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita ‎sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang ‎suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan ‎intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya ‎bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) ‎pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-‎benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ‎

‎“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang ‎bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia ‎menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz ‎Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih ‎atau paling sedikit hasan)
‎4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila ‎suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‎bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ‎ ‎الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا‎ ‎أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ‎

‎“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, ‎yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan ‎mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. ‎‎1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ‎ini shahih di atas syarat Muslim.”)
‎5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak ‎menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi ‎suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila ‎suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ‎

‎“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang ‎bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
‎6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, ‎karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka ‎kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” ‎Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau ‎menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. ‎Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) ‎setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) ‎niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-‎Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ‎

‎“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya ‎padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits ‎Ash-Shahihah no. 289)
‎7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya ‎tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan ‎takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى‎ ‎فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ‎ ‎سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى ‏عَنْهَا‎

‎“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil ‎istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka ‎terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ‎

‎“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, ‎niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari ‎no. 5194 dan Muslim no. 1436)
Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah, mudah-‎mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi ‎wanita yang shalihah, amin.

‎1 Atau ia belajar agama namun tidak mengamalkannya
‎2 Tempat untuk bersenang-senang (Syarah Sunan An-Nasai oleh Al-Imam As-Sindi ‎rahimahullah, 6/69)
‎3 Karena keindahan dan kecantikannya secara dzahir atau karena bagusnya akhlaknya ‎secara batin atau karena dia senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa ‎kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ta‘liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul ‎Baqi, Kitabun Nikah, bab Afdhalun Nisa, 1/596, ‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
‎4 Dengan perkara syar‘i atau perkara biasa (‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
‎5 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya (‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
‎6 Bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada ketaatan ‎kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.
‎7 Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui bahwasanya Nabi-Nya tidak akan ‎menceraikan istri-istrinya (ummahatul mukminin), akan tetapi Allah Subhanahu wa ‎Ta’ala mengabarkan kepada ummahatul mukminin tentang kekuasaan-Nya, bila sampai ‎Nabi menceraikan mereka, Dia akan menggantikan untuk beliau istri-istri yang lebih baik ‎daripada mereka dalam rangka menakuti-nakuti mereka. Ini merupakan pengabaran ‎tentang qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ancaman untuk menakut-nakuti , bukan ‎berarti ada orang yang lebih baik daripadaistri-istri Nabi shahabat Nabi Shallallahu ‎‎’alaihi wa sallam (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126) dan bukan berarti istri-istri beliau ‎tidak baik bahkan mereka adalah sebaik-baik wanita. Al-Qurthubi rahimahullah berkata: ‎‎“Permasalahan ini dibawa kepada pendapat yang mengatakan bahwa penggantian istri ‎dalam ayat ini merupakan janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Nabi-Nya ‎Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya beliau menceraikan mereka di dunia Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkan beliau di akhirat dengan wanita-wanita yang ‎lebih baik daripada mereka.” (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/127)

Wallahu ta’ala a’lam‎

Asaku Asamu

Album : Kepasrahan
Munsyid : Starfive
http://liriknasyid.com


Sahabat...
Setelah sekian lama kita jalani bersama
Penuh suka penuh duka
Yang artinya ku temukan
Sebuah asa

Sahabat...
Di sepanjang malam yang hening
Ku coba untuk..
Merenung dan mengingati perjalanan kita
Ku dapati asaku asamu

Reef :
Ya Allah ya Tuhanku
Andai kau takdirkan dia untukku
Menjadi teman arungi hidup ini
Satukan hatiku hatinya
Amanahkan bahagia
Kemesraan selamanya..

Ya Allah yang Maha perkasa
Beri kuat lahir batin
Teguhkan akadku
Jauhkan dari kemungkaran
Maknai hidup di jalan yang Kau Ridhoi..

nikmat sakit

hari ini kembali melemah,,, setelah lama tertahan akhirnya jantung ini mulai protes,,, Ya Alloh skit yang kurasa ini bukan apa-apa di banding nikmat yang telah Engkau turunkan pada kami,,, Ya Alloh mataku membengkak,,,