Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v

Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...

Minggu, 04 Juli 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

بسم الله الرحمن الرحيم

Biar Cinta itu Bermuara Dengan Sendirinya

Kenapa tak pernah kau tambatkan
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau menerima
kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil, yang kemudian
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

(Judul Puisi " Pelabuhan " karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang)

Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan - kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama, aktif diorganisasi keislaman, dan masih banyak lagi hal - hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama. dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya "Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi?"

Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab " entahlah.."

Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang... Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya... Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki-laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..

Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati... Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini.... Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam... Dia berjanji untuk tidak mengisi hari-harinya dengan kesia-siaan.

"Lalu bagaimana dengan sosok laki-laki itu ??" Perlahan saya bertanya padanya.

"Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati.... Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati - hati dalam menata hati dan melabuhkan hati," ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar-benar menepati janjinya.

Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi, pijar bintang dimata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya.... Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya...cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan keluarganya... Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka... Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga.... saat seseorang itu pun hilang begitu saja... Masih ada setangkup harapan agar dia kembali....Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati.... akan selalu ada beribu kata maaf untuknya.... Masih ada beribu penantian walau tak pasti... Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??

Masih ada sejuta asa.... Masih ada sejuta makna.....Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama....

"Lalu... bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??" tanya saya suatu hari.

Perempuan itu berujar, " Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya... disaat yang tepat... dengan seseorang yang tepat.... dan pilihan yang tepat......hanya dari Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan pernikahan yang barokah.."

Semoga saja akan demikian adanya...

Untuk seorang sahabat.yang tengah meniti masa transisi
dini@mipp.ntt.net.id



sumber : eramuslim

Agar Surga Hadir Di Rumah Kita

Setelah bekerja seharian, keringat Fulan pun bercucuran. Hanya satu yang dia inginkan: segera tiba di rumah. Lalu bisa beristirahat, melepas penat. Saat pulang, baru sampai di pintu saja, rasa lelahnya sudah jauh berkurang. Istrinya yang setia, menyambutnya di pintu dengan senyum hangat. Anak-anaknya pun berteriak kegirangan, “Abi pulang… Abi pulang….” Begitu masuk rumah, segalanya sudah tertata rapi dan indah. Segelas teh hangat dan pisang goreng pun telah terhidang untuknya. Hem…nikmatnya….

Beruntunglah Fulan, memiliki rumah yang menyenangkan. Pantas saja dia selalu merindukan rumahnya, karena di situlah “surganya”.

Bersyukurlah, bila Anda seberuntung Fulan. Memiliki istri salehah, anak-anak yang lucu, dan rumah yang menyenangkan. Anda layak berkata, “ Baiti jannatii (rumahku surgaku).”

Sungguh, di zaman yang makin canggih seperti saat ini, sangat banyak orang yang tak seberuntung Fulan. Rumah hanya dijadikan tempat “numpang tidur”, karena aktivitas di luar rumah justru lebih banyak. Pergi subuh, pulang jam sembilan malam, sudah biasa. Konon, semua itu demi karir dan tuntutan kebutuhan.

Suami-istri sangat jarang memiliki waktu bersama di rumah. Anak-anak juga jarang bertemu dengan ayahnya. Saat ayahnya berangkat kerja, mereka belum bangun. Ketika ayahnya pulang, mereka sudah tidur. Istri pun mencari “kesenangan” sendiri dari orang lain, karena tidak mendapatkan kesenangan dan ketenangan dari suaminya. Hubungan antara suami dan istri menjadi renggang, dan pertengkaran pun tak terhindarkan. Semua saling menyalahkan. Masing-masing jadi tak betah di rumah. Bagi mereka, rumah ibarat neraka dunia. Na’udzubillaah min dzaalik.

Kalau kita disuruh memilih antara surga dan neraka, tentu semuanya menginginkan surga. Di dunia, juga di akhirat. Sebagaimana kita selalu berdoa, agar diberi kehidupan yang baik dan bahagia, di dunia maupun di akhirat, dan dijauhkan dari api neraka. Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar.

Di akhirat, surga menjadi hadiah bagi manusia yang beriman dan bertakwa semasa hidupnya. Beragam kenikmatan ada di sana. Allah l telah menciptakan dan melengkapi surga itu dengan berbagai hal untuk kesenangan manusia.

Bagaimana dengan surga dunia? Ia pun tidak akan tercipta dan kita rasakan secara otomatis, tanpa usaha. Kalau mau berusaha, kita bisa menghadirkannya di rumah kita. Betapa membahagiakan, bila baitii jannatii, bukan sekadar impian.

APA SAJA KIATNYA?

Berikut ini beberapa kiat yang bisa kita lakukan, untuk menghadirkan surga di rumah kita.

1. Milikilah sebaik-baik perhiasan dunia

Sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita shalihah. Dialah bidadari surga dunia. Dialah permaisuri di rumah kita. Siapa pun yang menginginkan rumahnya seindah surga, harus memilikinya.

Karena itu, kepada para lelaki, jangan pernah salah memilih calon permaisurimu. Kesalahan dalam memilih istri akan berakibat fatal bagi rumah tanggamu. Bisa jadi, bukan kebahagiaan yang akan kau dapat, tetapi neraka dunia. Nikahilah wanita yang salehah, agar bisa engkau jadikan partner setia untuk membangun surga dunia.

Rasulullah n bersabda, “Sebaik-baik wanita adalah jika kamu memandangnya dapat membuatmu senang, jika kamu menyuruhnya maka dia selalu taat, jika kamu memberinya (uang) maka dia akan menggunakannya untuk kebaikanmu, jika kamu pergi maka dia akan menjaga dirinya dan hartamu.” (Riwayat An-Nasa’i)

Wanita seperti itulah, yang akan bisa mendatangkan surga di rumahnya.

2. Perhatikan kebersihan, kerapian, dan keindahan rumah

Surga tak mungkin hadir, di rumah yang mirip kapal pecah. Kotor dan berantakan di sana-sini. Rumah seperti itu, juga tidak akan mendatangkan ketenteraman di hati penghuninya. Hanya akan membuat sumpek dan tak betah.

Untuk menciptakan rumah seindah surga, maka para penghuninya harus kompak dalam menjaga kebersihan, kerapian, dan keindahan rumah.

Bersihkan rumah setiap hari. Hilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sediakan tempat sampah di sudut dapur. Untuk interior dalam rumah, tatalah seapik dan serapi mungkin. Biar pun perabotan rumah kita sangat sederhana, namun bila ditata dengan rapi, tentu akan tampak lebih serasi dan indah.

Jangan pernah menunda membereskan segala sesuatu. Misalnya, sehabis makan, usahakan segera mencuci perabotnya agar tidak menumpuk. Kalau piring dan gelas kotor dibiarkan menumpuk, akan mengganggu pandangan, dan membuat kita semakin malas membereskannya. Selain itu, akan mengundang binatang-binatang seperti semut, tikus, atau kucing untuk mendekat.

3. Hiasi diri dan anak-anak dengan akhlakul karimah

Rumah mewah tidak akan membahagiakan bila para penghuninya tidak menghiasi diri dengan akhlakul karimah. Karena itu, suami-istri harus berusaha untuk memperbagus akhlaknya, serta mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik.

Seorang suami hendaknya membiasakan diri untuk bercakap-cakap dengan lemah lembut, tidak main bentak pada anak maupun istrinya. Demikian pula sebaliknya. Ingatlah sabda Rasulullah n bahwa sebaik-baik suami adalah yang paling baik terhadap keluarganya.

4. Jaga keluarga agar tidak kelaparan

Seorang anak akan mudah rewel dan marah-marah, bila sampai kelaparan. Juga seorang suami atau istri, emosinya akan mudah tersulut bila ia dalam keadaan lelah dan lapar. Karena itu, suami harus bisa memberikan nafkah yang mencukupi, agar keluarganya tidak sampai kelaparan.

Pun seorang istri, harus mampu menghidangkan masakan lezat bagi suami dan anak-anaknya. Masakan lezat, tidak harus diolah dari bahan yang mahal. Ubi rebus pun bisa jadi makanan lezat, bila dihidangkan bersama teh hangat, dan dinikmati bersama-sama. Kebersamaan itu akan menurunkan berkah dari langit, dan membuat makanan sederhana jadi lebih istimewa.

5. Bersikaplah qana`ah

Sikap qana`ah, adalah sikap menerima dan mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Allah l pada kita. Seberapa pun rezeki yang Allah berikan, harus selalu kita syukuri. Barangsiapa yang bersyukur maka Allah l akan menambah nikmat-Nya, dan barangsiapa kufur nikmat maka Allah akan mengazabnya.

Agar kita lebih mudah bersyukur, maka perhatikanlah sabda Rasulullah n, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia –ed), dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian (dalam urusan dunia –ed). Hal ini lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

6. Hindari konflik berkepanjangan

Bila suatu saat terjadi konflik di antara suami dan istri, maka Anda berdua harus berusaha untuk segera meredamnya. Jangan ragu atau malu untuk mengakui kesalahan, atau meminta maaf lebih dulu, demi keharmonisan rumah tangga.

Biasakanlah mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” dalam berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga.

7. Jauhkan setan dari rumah kita

Agar setan menjauh dari rumah kita, maka semarakkanlah rumah dengan zikir dan bacaan al-Quran. Jangan pernah lupa untuk membentengi diri dan keluarga dengan zikir pagi dan petang. Jangan pula menjadikan rumah kita seperti kuburan, yang sepi dari bacaan al-Quran. Rumah yang tak pernah dibacakan zikir dan kalamullah di dalamnya, akan sangat disukai oleh setan.

Selain itu, jauhkanlah rumah kita dari gambar-gambar makhluk bernyawa. Gambar-gambar itu sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan sangat disukai oleh setan.

Bagi yang memiliki televisi, gunakan hanya untuk melihat tayangan yang bermanfaat.

8. Hiaslah rumah atau halamannya dengan sesuatu yang menyejukkan

Tanamlah berbagai pohon perindang, atau bebungaan, yang akan menyegarkan dan menyejukkan. Suasana teduh, asri, dan indah akan tercipta, sehingga membuat kita makin betah tinggal di rumah.

Mudah-mudahan kita bisa menghadirkan surga di rumah kita…. (Ummunaziha)


http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest¬e_id=411645399769#!/?sk=messages&tid=1337608875852

mine

Cintaku Seujung Kuku

Ketika seseorang yang sudah lama menikah ditanya, sebesar apakah cintamu pada pasanganmu? Seringkali dia menjawab, “Tidak tahu.” Kadang-kadang malah ditambah, “Bahkan aku tak tahu apakah masih mencintainya atau tidak….” Padahal dulu, ketika masih pengantin baru, dia merasa sangat mencintai istri atau suaminya.

Memang, banyak orang yang saat awal menikah begitu mencintai pasangannya, namun seiring berjalannya waktu, cintanya kian surut, dan memudar. Rumah tangga jadi terasa hampa. Semuanya dilakukan hanya sebagai rutinitas, tak bermakna, dan hati pun jauh dari bahagia.

Kita tentu tak ingin, yang seperti itu terjadi dalam rumah tangga kita. Akan tetapi…jika rasa cinta kita pada pasangan benar-benar kian memudar, adakah resep mujarab yang bisa menumbuhkannya kembali? Tentu saja ada! Bukankah di antara pasangan yang sudah bercerai saja banyak yang masih bisa rujuk? Apalagi yang belum bercerai!

Resep itu bagaikan air yang disiramkan pada tanaman yang layu. Menjadikan tanaman itu tegak dan segar kembali. Resep itu begitu mudah dan sederhana. Semua orang bisa melakukannya. Hanya saja, tidak semua orang mau melakukannya. Karena, untuk melakukannya diperlukan ketulusan. Rasa ego dan gengsi yang bersemayam dalam hati pun harus dibuang. Apakah Anda siap dengan semua itu? Anda harus siap, bila ingin menyelamatkan istana cinta yang sudah Anda bangun dengan susah payah.

Menyegarkan Cinta yang Kian Pudar

Cinta itu seperti tanaman. Harus selalu disiram, dipupuk dan dirawat, agar tumbuh segar, bersemi, dan berbunga. Inilah beberapa resep yang bisa diandalkan untuk menumbuhkan kembali cinta Anda berdua.

1. Berhiaslah untuknya.

Kita semua tentu senang melihat suami atau istri yang selalu tampil menarik. Berhias, tidak selalu identik dengan make up. Tampillah di hadapan pasangan Anda dengan wajah yang ceria, rambut yang rapi, pakaian yang bersih dan sedikit parfum.

Untuk para suami, hendaknya ketika akan pulang dari bepergian memberi tahu istrinya lebih dulu, agar ia bisa bersiap-siap menyambut suaminya.

Dalam sebuah hadits, Jabir z berkisah, “Kami pernah bersama Nabi n dalam suatu peperangan. Ketika kami kembali ke Madinah, kami segera untuk masuk (ke rumah guna menemui keluarga). Maka beliau bersabda, ‘Bersabarlah sampai engkau memasuki pada waktu malam -yakni waktu isya’- agar wanita-wanita yang kusut dapat bersisir dan wanita-wanita yang ditinggal lama dapat berhias diri.’” (Muttafaq Alaihi). Menurut riwayat Bukhari: “Apabila salah seorang di antara kamu lama menghilang, janganlah ia mengetuk keluarganya pada waktu malam.”

2. Beri dia kejutan/hadiah

Sekali-kali, berikan hadiah atau kejutan pada pasangan Anda. Pilih barang yang sangat disukainya, atau memang dibutuhkannya. Dari pakaian dalam, kaos atau daster, baju koko atau jubah, atau apa saja, tergantung berapa yang Anda anggarkan. Hadiah adalah salah satu wujud perhatian Anda pada pasangan. Itu akan bisa menyenangkan hatinya, dan menyuburkan rasa cintanya pada Anda.

Bisa juga Anda membawakan oleh-oleh yang istimewa sepulang dari bepergian. Misalnya makanan atau barang yang khas dari daerah yang baru saja Anda kunjungi.

3. Ciptakan kemesraan bersamanya.

Belajarlah dari kemesraan Rasul n kepada istri-istrinya.

- Sering-seringlah mencium atau memeluknya.

Dari Aisyah x bahwa Nabi n mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudlu dahulu. (Riwayat Ahmad, dinilai lemah oleh Bukhari)

Dalam hadits lain, Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Salah seorang di antara kami apabila haid dan Nabi Muhammad n ingin memeluknya, beliau menyuruhnya untuk berkain pada saat haidnya, kemudian beliau memeluknya.” Aisyah berkata, “Siapakah di antaramu yang dapat mengendalikan syahwat nya sebagaimana Nabi Muhammad n mengendalikan syahwat beliau?” (Riwayat Bukhari)

Dari hadits di atas tentu kita tahu, sekadar peluk cium tidak mesti diakhiri dengan jima’. Semua itu dilakukan untuk menunjukkan cinta kasih beliau kepada istrinya. Seorang wanita yang diperlakukan seperti itu, akan semakin yakin kalau ia benar-benar dicintai oleh suaminya.

- Mengajak/mengundi istrinya bila bepergian.

Aisyah x berkata, Rasulullah n bila ingin bepergian, beliau mengundi antara istri-istrinya, maka siapa yang undiannya keluar, beliau keluar bersamanya. (Muttafaq Alaihi)

Mengajak istri untuk bepergian adalah sunnah. Karena dengan mengajak istri, suami akan lebih “terjaga” dalam perjalanannya. Bukankah akan ada bermacam fitnah dan godaan yang akan dia lihat selama dalam perjalanan? Dengan membawa istri, ia akan merasa lebih tenang. Istri pun akan senang, karena bepergian bersama suami bisa menjadi ajang refreshing baginya.

- Mandi bersama.

Ini juga bukan hal tabu bagi suami istri, karena bisa menambah kemesraan di antara keduanya. Rasulullah n juga pernah mandi bersama istrinya dengan satu bejana.

- Mengajak lomba.

Dalam sebuah hadits dari Aisyah dikisahkan, bahwa Rasulullah n pernah mengajak Aisyah berlomba lari. Ketika Aisyah masih kurus, istri tercinta Nabi itu memenangkannya. Saat Aisyah badannya gemuk, Nabilah yang menang. Lihatlah, betapa Nabi n bukanlah suami yang “selalu serius” terhadap istrinya. Beliau tidak hanya memberikan perintah dan larangan, tapi juga mengajaknya bersantai dan bermain-main.

- Rebahan di pangkuan istri.

Aisyah x berkata, “Nabi Muhammad n. bersandar di pangkuanku, padahal aku sedang haid, kemudian beliau membaca al-Quran.” (Riwayat Bukhari)

4. Ingat-ingat kebaikannya. Lupakan dan maafkan keburukan dan kesalahannya.

Allah l berfirman, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (istri-istri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)

Demikian juga para istri, hendaknya bersabar bila menemui hal-hal yang kurang disukainya dari suaminya.

5. Berpikirlah positif.

Berpikirlah bahwa dialah yang terbaik bagi Anda. Jangan membandingkan dirinya dengan orang lain. Bukankah Anda sendiri tidak suka dibanding-bandingkan?

Ingatlah firman Allah l, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

6. Ingat saat awal menikah.

Masa-masa bulan madu, saat awal menikah begitu mengesankan. Ingat-ingatlah masa itu, dan jangan biarkan berlalu tanpa bekas. Sekali tempo, ajaklah pasangan Anda napak tilas ke tempat-tempat romantis atau sekedar warteg yang pernah Anda kunjungi saat pengantin baru.

7. Jangan hanya menuntut hak, namun melalaikan kewajiban.

Hak dan kewajiban sebagai pasutri harus dilaksanakan secara seimbang. Tidak boleh masing-masing hanya menuntut haknya, sedangkan kewajibannya dilalaikan. Di antara hak suami atas istri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami dan memperlakukannya dengan benar dan jujur, mentaati perintahnya dan tidak keluar (meninggalkan) rumah kecuali dengan izin suaminya, tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang yang tidak disukai suaminya. Di antara kewajiban suami terhadap istrinya adalah memberinya nafkah, melindunginya dan mempergaulinya dengan baik.

8. Berdoa.

Lengkapilah usaha Anda dengan doa. Mohonlah kepada Allah l, agar menurunkan sakinah, mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga Anda. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Misalnya sepertiga malam terakhir, di waktu safar (bepergian), antara adzan dan iqomat, dan pada hari Jumat setelah asar.

Agar doa Anda segera dikabulkan, mungkin Anda perlu mengamalkan hadits berikut ini:

“Barangsiapa ingin agar doanya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi, hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan.” (Riwayat Ahmad)

Kini, kalau ditanya seberapa besar cinta Anda pada pasangan, Anda bisa menjawab, “Cintaku…seujung kuku.” Kecil sih, tapi terus tumbuh…meski sering dipotong dan dirapikan. Tentu saja, itu cuma bercanda!


http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=1526271202414#!/?sk=messages&tid=1526271202414

JAMBORE 1000 anak yatim @ Manisrenggo

[lirik] nasyid gondes.

Bangun pagi…dini hari
Buru-buru sampai lupa mandi
Ingat janji mau ketemu Murobbi
Dengan semangat tinggi…juga bawa data diri

Dandanan rapi…aromanya serba wangi
Sisiran gaya sepuluh jari
Menata hati…biar tidak tampak grogi
Terima tantangan dengan PeDe tinggi

Terkejutnya…tiada tara…
Saat Murobbi memberi data
Sekumtum bunganya serba mempesona
Hapalan Al-Qur’annya…(yuhu…)..Sungguh luar biasa

Visi jihadnya…mengurai indah Sastra
Visi da’wahnya…setara dengan S3

Sedangkan diri…cuma pemateri…
LDK atau sekolah pagi
Paling banternya hanya jadi MC
Juz ‘Ammanya pun bolong sana-sini…

Susahnya…mengukur…Potensi…di dalam hati…
Jujur mana tahan hidup sendiri…
Mudahkanlah segala pintu rizki…
Dengan Ma’isyah dan A’isyah…Percayalah hidup jadi serba indah…


http://princessdhyta.blogspot.com/2009/10/lirik-nasyid-gondes.html

Rabu, 30 Juni 2010

" JERITAN STAFF "

“ JERITAN STAFF ”

Setitik noda di jalan dakwah
Akan membuat jalan ini tidak berkah
Setitik ghibah diantara ikhwah
Berakibat fatal dalam berjuang

Ada kalanya aku tak rela
Ada kalanya aku tak ikhlas
Ada kalanya aku menjadi lemah
Hingga kefuturan ini meraja lela

Apakah kau juga merasakan?
Apakah kau mampu mengatakan?
Ataukah hanya akan kau pendam sendiri?
Hingga bom waktu itu akan meledak nanti!!!

Apakah kamu tega?
Apakah kamu ikhlas?

Ketika satu per satu dari kami mundur
Ketika satu per satu dari kamu jenuh

Kau hanya tertawa terbahak-bahak
Kau hanya mampu memicingkan muka
Hingga suatu saat nanti kamu akan sadar
Bahwa kamu tak mampu sendiri!!!

Kau fikir kamu sudah te-oo-pe-be-ge-te
Kau fikir kamu sudah benar sendiri

Tak ada yang sempurna di dunia ini
Sempurna hanya milik Nya!!!

Wahai yang merasa dirinya penyeru
Bukalah hati kalian!
Bukalah mata kalian!
Tengoklah disekeliling kalian!

Sudah rapikah barisanmu?
Sudah teraturkah jalan tempuhmu?
Sudah terorganisirkah organisasimu?
Sudah mengenai sasarankah yang kau lakukan selama ini?

Wahai mas’ul A, B, C
Turunkan jari telunjukmu!
Jangan hanya memerintah saja!
Langkahkan kakimu kalau kamu memang berani!
Majulah ke bargala depan, disana kau akan temui medan yang asli!

Wahai yang merasa dirinya kuat
Sudahkah kalian melihat saudara-saudara kalian?
Sudahkah kalian menyemangati mereka?
Menjaga mereka dengan hati, bukan dengan fisik saja

Lihatlah mereka!
Yang kini hanya mebicarakan cinta
Yang kini hanya mengobralkan kata
Yang kini hanya menggombalkan janji

Sebenarnya . . . .
Dakwah butuh apa?
Siapa yang butuh dakwah?

Aku?
Kamu?
Atau hanya orang-orang yang duduk di parlemen?

Kalian dimana hoyyyy
Jangan bersembunyi di balik jaket saja!
Ayo bergerak!!!

Insya Alloh jika kita MAU pasti kitaMAMPU, dan jika kita bersama kita pasti BISA
Yakinlah. . . jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu . . .TQS. Muhammad.7.


::: teruntuk ikhwah SKI PGSD, afwan jika tidak berkenan, semoga ini bisa menjadi sedikit renungan untuk kita. Teruntuk PHT 2010 keep fight, semoga “ JERITAN STAFF ” ini membangun dan memotivasi kit a untuk meningkatakn, mempererat serta menjaga ukhuwah ini :::

Afwan, afwan, afwan.
Ngapunten sanget geh.
d^^b

30062010

Pengangguran Haroki

“Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.” (Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah)

Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh

Di antara penyakit tersebut dan utamanya adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan),at-taqa’us ‘an ada’ al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham ad-da’awiyah(tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).

Semua tadi merupakan gejala satu penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:

  • Menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik.
  • Ada masalah pada unsur-unsur pemahaman
  • Tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah
  • Merespon berbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu
  • Melupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai darinya
  • Putus asa, frustasi dan memprediksi keburukan
  • Mengambang dan target yang tidak jelas
  • Tidak interaktif dengan proses tarbawi
  • Menghilangnya akhlaq yang menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah dan lainnya.
  • Melemahnya rasa tanggung jawab
  • Merasa panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh
  • Menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal
  • Rancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada posisi prioritas paling akhir
  • Berkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta rusaknya komitmen
  • Buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah fi sabilillah
  • Hilangnya citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan dakwah
  • Kehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.
  • Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnya
  • Melemahnya immunitas fikriyah, imaniyah dan tarbawiyah

Semua faktor, sebab ini mendorong seseorang untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan membikin-bikin alas an untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa depan yang luas

Jika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan banyak kebisingan.”

Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh, jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya, tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan kesungguhan.”

Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai. Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang terpulang kepada pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk, melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!”

Begitu juga dengan kita, tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton, sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan“siapa yang meminang wanita cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.” Dan sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Banna rahimahullah:

“Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu dipikirkan, memberi perhatian besar, selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut, paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan setiap gerakan adalah jihad.

Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah, perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilan

Adapun mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”

Umat yang berpandangan bahwa perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna, ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak mengenal keseriusan sama sekali.

Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan, sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan segudang pengorbanan. Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan kecuali jika ia telah membayar. Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai bentuk kebancian tekad. Beliau berkata:

“Wahai seseorang yang bertekad banci, di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal tidak berguna dan main-main??!!” (Terjemahan Artikel Jamal Zawari Ahmad, Sumber: http://www.islameiat.com/main/?c=54&a=3954)

http://www.dakwatuna.com/2009/pengangguran-haraki/

Bila Aktivis Dakwah Jatuh Cinta

Sobat muda muslim, ternyata cinta juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah penampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Hudzaifah.org – Di mana aja, kapan aja, dan siapa aja dijamin nggak akan bisa lolos dari serangan virus yang satu ini. Bukan DBD, Flu Bu-rung, atau Worm. Tapi virus yang kekuatannya bisa bikin sang pejuang mati-matian ngapalin lagu melankolis First Love-nya Nika Costa atau Shoulder to Cry On-nya Tommy Page. Meski nilai bahasa Inggris di raport-nya delapan ngakak alias 3! Pede banget kan?

Yup. Virus yang dikenal dengan julukan virus merah jambu (VMJ) pembangkit rasa cinta ini kagak ada matinya. Malah mungkin kita berharap nggak mati-mati. Coz, hidup kita bakal terasa garing bin monoton tanpa kehadiran cinta. Baik cinta kepada yang Maha Pencipta maupun kepada lawan jenis. Ali bin Abdah berkata, tak mungkin seseorang menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras, atau tidak mempunyai gairah. Maka berbahagialah orang-orang yang masih bisa mencintai dan dicintai. Ciee .Aa Gym banget neh!

Bener sobat, nggak lengkap rasanya jadi manusia kalo kita nggak bisa mencintai dan dicintai. Karena ini fitrah. Jadi wajar aja kalo virus ini merajalela mencari mangsa di setiap kesempatan. Maka di kalangan selebritis dikenal istilah cilok alias cinta lokasi. Sebutan untuk pasangan seleb yang terlibat jalinan asmara karena sering ketemu di lokasi syuting.

Ssttt .jangan bilang-bilang ya. Ternyata di kalangan aktivis dakwah juga ada cilok lho. Hah?! Masa sih? Beneran. Cuma di kalangan jilbaber en jenggot simpatik ini, cilok berubah menjadi CBSA. Mentang-mentang mayoritas pelajar. Do you know CBSA? Ini nih: Cinta Bersemi Saat Aktif. (ehm..ehm..KLBK euy!) Tapi jangan salah, meski Cilok dan CBSA sama-sama mengandung unsur cinta, tapi keduanya tetep beda. Kalo CBSA, lebih terjaga dari kontaminasi. Sementara cilok lebih kepada cinta yang ternodai. Ups!

So, kalo kamu pengen tahu lebih banyak tentang CBSA, kamu bisa tanya guru SD masing-masing. Tapi, kalo penasaran ama CBSA, kamu dah bener kalo baca Studia kali ini. Yuuuuk!

ROMANTIKA AKTIVIS DAKWAH
Sobat muda muslim, kalo mengamati pergaulan para aktivis dakwah mungkin ada beberapa pertanyaan yang mampir di benak kita. Apalagi keseharian mereka yang gaul ama sesamanya. Cewek ama cewek. Cowok ama cowok. Kesannya antilawan jenis banget. Apa mereka steril dari rasa cinta? Apa yang ada dalam benak mereka cuma dakwah doang? Apa menjadi aktivis dakwah kudu punya antivirus untuk menghadang VMJ? Apa-apanya dong eh, kok jadi lagu sih?

Nggak usah dibikin pusing, sampe nyanyiin lagu Nek Titik Puspa gitu. Para aktivis dakwah itu sama aja kayak kita. Sejenis manusia yang punya rasa cinta. Cuma bedanya, mereka nggak show of forces untuk urusan ini. Apalagi sampe deklarasi segala di acara reality show Katakan Cinta atau Playboy Kabel. Nggak lah yauw. Mereka punya prinsip yang bagi sebagian orang terdengar aneh dalam hal pengungkapan rasa cinta. Anti-pacaran en nggak phobi ama nikah dini. Catet ya!

Nah, masalahnya, kita sering bertanya-tanya, gimana mungkin bisa terjalin rasa cinta di antara mereka kalo mereka sendiri anti-gaul bebas. Bukankah gaul bebas itu terbukti menjadi media subur untuk memupuk rasa cinta kepada lawan jenis? Eit, jangan salah. Nggak gaul bebas bukan berarti nggak berinteraksi dengan lawan jenis. Emangnya penghuni dunia dakwah cuma satu jenis? Tetep, aktivitas dakwah juga mengharuskan mereka berhubungan dengan lawan jenis. Apalagi yang tergabung dalam sebuah organisasi. Kudu ada konsolidasi dakwah. Inget-inget tuh!

Sebagai aktivis dakwah, tentu konsolidasi itu mengharuskan pihak ikhwan (muslim) menjalin kerjasama dengan para anggota diva alias divisi akhwat (muslimah). Saling tukar informasi. Rapat bulanan untuk evaluasi kinerja dakwah sekaligus planning untuk masa mendatang. Sampe tergabung dalam kepanitiaan acara. Dan nggak mungkin kegiatan kayak di atas dilakukan tanpa adanya pertemuan. Walau mungkin rapat bisa aja pake fasilitas teleconference. Tapi itu pasti bakal menyedot banyak biaya. Bisa-bisa acaranya nggak jadi digelar gara-gara nggak ada biaya. Berabe kan?

Nah, dari seringnya pertemuan itulah bisa menyita perhatian khusus antar aktivis. Meski nggak terungkap, VMJ tengah mengamati mangsa yang hendak diburu. Satu sama lain saling menyimpan rasa kagum. Dari sinilah tumbuh perasaan simpati, empati, yang seterusnya bisa bikin jatuh hati. Walau hanya tersimpan rapi dalam diary atau menghiasi relung hati. Intinya, malu-malu tapi mau!

Proses tumbuh dan mewabahnya VMJ di kalangan aktivis, nggak jauh beda dengan cilok ala seleb. Cinta bersemi saat aktif dalam dakwah. Makanya kita nggak usah ragu bin worried untuk jadi seorang aktivis dakwah. Pergaulan mereka yang terkesan anti-lawan jenis, hanya salah satu cara buat nunjukkin kalo Islam juga punya aturan maen dalam pergaulan. Justru kita kudu bangga jadi aktivis. Karena untuk urusan jodoh, Allah bakal ngasih pasangan hidup yang qualified buat para aktivis pengemban dakwah yang istiqomah.

Firman Allah Swt:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang (baik) pula. (QS an-Nur [21]: 26)

MENGENDALIKAN RASA CINTA
Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Di antaranya sebagai berikut: Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah.

Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah penampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).

Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Quran, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?

Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor lingkungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, meminimalisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para macan (makhluk cantik) mau pun terhadap media syerem yang bisa memacu adrenalin kita.

Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah pacaran islami. Idiih malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)

MENENTUKAN PRIORITAS
Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target disamber duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)

Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi memperoleh nafkah.

Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!

Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat!

Kamis, 24 Juni 2010

Pedoman Umum Serial Ilmiah

Pedoman Umum Serial Ilmiah

PEDOMAN UMUM

SERIAL ILMIAH

STUDI ILMIAH MAHASISWA BEM UNS

Periode 2010

Pendahuluan

SERIAL ILMIAH SIM BEM UNS merupakan sebuah media publikasi yang disediakan oleh divisi Media Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) BEM UNS. Tujuan keberadaan SERIAL ILMIAH ini adalah untuk mempublikasikan karya ilmiah mahasiswa dalam bentuk jurnal. Jurnal dapat dibuat dari karya PKM yang sudah berjalan maupun penelitian lain yang telah dilakukan mahasiswa. Karya yang dipublikasikan akan dipilih sejumlah 6 karya dari total jumlah yang masuk, dengan klasifikasi 3 karya bertema socio dan 3 karya bertema science.

Batas Waktu Pengumpulan

28 Juni 2010

Persyaratan Peserta

1. Mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang tercatat aktif pada program S1 baik Reguler maupun Nonreguler dan Diploma.

2. Peserta adalah perseorangan atau tim yang terdiri maksimal 5 orang.

3. Peserta sanggup mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum SERIAL ILMIAH SIM BEM UNS 2010.

4. Setiap Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu karya.

Tema dan Topik

Disesuaikan dengan keilmuan fakultas masing-masing.

Sifat dan Isi Tulisan

1. Kritis, kreatif, dan objektif

2. Sistematis dan logis

3. Isi tulisan berdasarkan telaah pustaka dan atau hasil pengamatan atau interview, atau penelitian eksperimental (yaitu penelitian yang memberikan perlakuan pada objek yang diamati).

Format Penulisan Jurnal

1. Naskah ditulis minimal 10 halaman dan maksimal 15 halaman termasuk Abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penulisan, pembahasan, penutup dan daftar pustaka.

2. Bahasa Indonesia yang digunakan adalah bahasa baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan kalimat yang dapat menimbulkan persepsi ganda (ambigu), dan tidak menggunakan singkatan seperti : tdk, tsb, yg, dll, dgn.

3. Judul
a. Diketik dengan huruf kapital, ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis, dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda.

b. Letak tulisan judul proporsional.

4. Abstrak ditulis dalam bahasa inggris, spasi 1, times new roman, ukuran font 12

5. Artikel ditulis dalam bahasa indonesia (boleh bahasa inggris), spasi 1,5, times new roman, ukuran font 12.

6. Jenis Tulisan Jenis tulisan yang dapat dikirimkan ke SERIAL ILMIAH ialah:
a. Artikel hasil penelitian/hasil PKM

b. Artikel setara hasil penelitian/PKM

c. Telaah pustaka (referensi ilmiah)

7. Daftar acuan Hal-hal dalam daftar referensi disusun secara alfabetis, dituliskan langsung setelah akhir teks tubuh karangan (bukan dalam lembar tersendiri) dengan mengikuti urutan sebagai berikut:

a. Nama penulis dan atau penerjemah tanpa gelar.

b. Tahun terbit sumber (dalam tanda kurung)

c. Judul buku/ Judul artikel (huruf miring atau tanda petik untuk artikel)

d. Tempat dan nama penerbit (sertakan pula keterangan cetak ulang dan edisi perbaikan bila ada)

Penyerahan Naskah

Karya dibuat rangkap 3 dengan cover hijau disertai dalam bentuk softcopy dalam CD. Formulir peserta (terlampir), biodata (CV) dan fotokopi kartu mahasiswa dimasukkan dalam amplop coklat bertuliskan “SERIAL ILMIAH SIM BEM UNS 2010″.

Dialamatkan Ke :

Sekretariat Panitia SERIAL ILMIAH SIM BEM UNS 2010

Ged Porsima Universitas Sebelas Maret

Jl. Ir.Sutami no.36 A, Kentingan, Surakarta 57126

Hadiah

Masing-masing karya yang lolos untuk dipublikasikan akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 200.000,- dan sertifikat.



http://simuns.blog.uns.ac.id/

Minggu, 20 Juni 2010

DEKAPAN CINTA part 1

Kemilau senja diatas peraduan sang mawar
Kembali ia Berjaya demi keadilan
Saat hilang perih dalam ketermanguan dinda
Daku tetap menhampa dalam kebinasaan sesaat
Yang kutahu mawar indah
Wanginya menghantarkan raga dalam ketermanguan jiwa

Sesak erat dalam kehampaan ini
Diri nista dalam belenggu jiwa
Berharap kepastian dari seorang hamba
Mempukah ia berkelana menerjang samudra
Hanya ingkar berkelana asa
Aku tak mampu

Aku berdiri di tepian hati
Merah
Jingga
Kuning
Dalam keemasan jiwa
Nurani membuncah menginginkan asa
Tetap berkobar

Dalam naungan cinta
Aku berharap senantiasa
Antara aku dan gelapku
Ada pembatas dalam jiwa
Sebuah asa
Sebuah janji telah terucap
Aku inginkanku
Kuinginkanku ada

Jiwa
Sebuah cinta
Yang tak biasa

Dalam dekapan MU Illahi Robbi
Aku senantisa menanti

[ hanya sebatas mencintai dalam kediamanku, 20062010]

Kamis, 17 Juni 2010

::: menanti dekapan CINTA :::

Tergolek lemah sayup dalam kerinduan yang tak pasti
Hanya ingkar slalu membenahi
Ketika azzam ini telah gugur
Dan janji telah tersemaikan dalam kalbu
Aku hanya ingin lelah ini terganti

Dalam keputus asaan aku berharap
Diam dalam dekapan cakrawala menggelayut
Siraman kalbu tetap inginku
Ku ingin engkau damaikan jiwaku

Lelah atau Lillah yang kita cari ukhty?

Hanya tersenyum dalam belaian asa
Namun pekat kini telah tiada
Yang ada rasa bahagia
Dalam seteguk manis dekapan asa

“ tiada setetes peluh pun yang akan menjadi sia-sia ketika yang kita cari hanya ridhi NYA “

Kembali meluruskan niat
Kuatkan azzam
Rekatkan ukhuwah
Menjaga hijab

“ tingkatkan kuantitas amal yaumi, kurangi intensitas yang tak perlu, nyatakan visi, gapai ridho ILLAHI “

:::: antara semangat samaru PMDK ::::

*** IKHWAN IDAMAN SEJUTA AKHWAT***

Oleh : fhebie al-banna

Pagi itu udara, di kampus “UNMUL” Samarinda sangat
bersahaja. Antara mau sebentar lagi bumi
Kalimantan
akan mandi basah kuyub, atau hanya ingin menakut-nakuti penduduknya dengan
cuaca mendung nan tenang.
Tiba-tiba datang segerombolan “
genk
ijo lumut” sebutan
untuk para seleb kampuz yang terfamouse dan terpandang di kalangan mahasiswi
fekon. Chica, Raya, Villa dan Aura. Ke-3 cewek ini merupakan jebolan dari SMU terfavorit di
Jakarta, kecuali Aura, ia mahasiswi pindahan dari UNLAM Banjar masin. 4 bujang
dara ini sangat di kagumi dan di elu-elukan dikalangan para mahasiswa UNMUL
sendiri maupun universitas lainnya di Samarinda. Selain memiliki wajah yang
sangat menarik serta fostur tubuh yang ideal bak peragawati, Selain itu mereka juga mempunyai kemampuan intelektual
yang mengagumkan, dan terlahir sebagai anak-anak dari konglomerat dan para pejabat daerah kecuali
Aura. Tapi diantara semuanya Aura lah yang sangat menonjol dalam artian selalu
bertutur kata santun, ramah, dan tidak terkesan pilih kasih dalam pergaulan.
Sedangkan ke-3 lainnya selalu bersikap sombong, angkuh, pamer dan berakhlak
buruk. Mereka terkadang sama sekali tidak menunjukkan sikap para muslimah yang
baik. Ritual begonta-ganti pasangan, bermesraan di depan umum dengan yang bukan
muhrim seolah menjadi pemandangan yang udah biasa. Berpakaian yang berlebihan
dan seronok juga mereka tampilkan sebagai kebanggaan, gonta-ganti warna
rambut serta modelnya menjadi
pemandangan yang sudah lumrah untuk mereka ber-3. seminggu sekali warna rambut
mereka di cat ulang dengan warna yang berbeda-beda pula, model rambut yang
lucu-lucu juga tak kalah peran. Minggu ini model dora, minggu depan model
harajuku, minggunya lagi di keriting, minggu seterusnya di blessing (gitu ya
tulisannya??? Blessing = di sambung) dengan model poni yang kadang menyamping,
kadang jatuh ke tengah seperti anak kecil, kadang di selempangkan ke pinggir,
kadang di jepit ke atas seperti ikan lohan, dan sebagainya lah pokoknya, kecuali
Aura, model rambut biasa-biasa saja,
warna pirang rambutnya alami, panjang dan lurus seperti artis mandarin Kyoko
futada. Aura sangat manis, ayu, anggun, dan sangat sopan dalam berpakaian
biarpun belum berjilbab, belum
kan
bukan bukan berarti tidak sama sekali ucapnya sesekali di Tanya apa dia pengen
berjilbab oleh teman-teman kampusnya yang lain. Ia tetap menjaga keterbukaan
aurat yang mengundang syahwat.
Sebenarnya kadang Aura sendiri
sulit mengartikan jalan pikiran para teman-teman segenknya, yang hanya
mengandalkan harta, tapi meninggalkan norma ketimuran utamanya dalam
berpenampilan dan berprilaku.. Aura gadis yang sholehah sebenarnya, ia rajin solat,
ngaji, dan hanya ialah satu-satunya di antara yang ber-4 tadi mempunyai akhlak
mulia, tapi sayang tertutup oleh pergaulan. Sehingga banyak teman-teman
kuliahnya yang menganggap Aura sama saja dengan Teman-teman seGenknya. Aura
sering merenung untuk apa dia ikut-ikutan membentuk
genk
cewek macam itu, apa gunanya? Ingin
rasanya dia keluar dari
genk
itu dan memilih menjalani kehidupan kampuz seperti halnya mahasiswi yang lain
tapi sangat sulit melakukannya. Hal ini karna ke-3 temannya itu sangat baik
terhadapnya, tiba-tiba ia teringat bagaiman awalnya dia bisa berteman dengan
mereka. Waktu itu ia baru pindah ke Samarinda, begitu turun kuliah pada hari
pertama ia merasa menjadi sorotan para mahasiswa-mahasiswi kampuz. Tidak butuh
waktu yang lama akhirnya Aura dengan cepat namanya melunjak naik keatas
populeritas bak roket sebagai seleb kampuz. Padahal ia sendiri tidak merasakannya.
Dari situlah Chica, Raya dan Villa mendekati dan mengajak bergabung dengan
genknya. Awalnya Aura agak merasa canggung dan ragu karna dengar-dengar dari
teman-teman kampuznya mereka ini sangat lah sulit untuk di jadikan teman karena
mereka merasa tidak pantas sekali jika ada yang ingin menjalin persahabatan
dengan mereka dgn keadaan yang biasa tanpa adanya suatu keistimewaan.
Aura sudah sangat sering menolak
tawaran masuk
genk
ijo lumut secara halus tapi
tidak berhasil juga, malah mereka bilang kalo seharusnya Aura itu bersyukur mereka
yang mengajak bergabung sementara banyak sekali mahasiswi yang dengan gigih
berusaha ingin mencalonkan diri menjadi anggota
genk
tersebut tapi di tolak mentah2 oleh
mereka. Karena terus-terusan di paksa akhirnya Aura merasa tidak enak juga
menolaknya dan jadilah Ia berteman dengan para cewek jet-set tersebut.
Lamunan Aura segera menghilang
bak goresan di pasir yang di sapu gelombang ketika
Rio
si coverboy kampuz datang menghampiri mereka.
Alluw Aura…udah sarapan??
Sapanya.
Hmm..Oo..apa?Oiya sudah..sudah
kok, tadi dirumah.
Yee..Aura bo’ong tuh Bro!’,
orang dia aja tadi bangunnya kesiangan, katanya sih gara2 ikut tadarusan tadi
malam di tempat ustadzahnya. Sergah Villa.
Villa…jangan gitu donk,
kan
kalo Auranya bo’ong
berarti itu tandanya dia ga mau di ajak sarapan bareng elo yo’..udah lo
sana
aja, ntar biar kita2
sarapan sendiri aja. Kata Raya menengahi.
Ok lah kalo gitu, tatach Aura ku
sayang!!! ucap Rio dengan kedipan mata yang sangat mengesankan bagi siapa saja
yang memandang, terkecuali Aura, dia sangat tidak menyukai
Rio
karena banyaknya predikat buruk yang menempel di pundak cowok tersebut.
Elo kenapa sih Ra’ kok kayaknya
ketus banget sama
Rio
? Iya kenapa sih Ra’?
Padahal
kan
doski ok juga tuh, mobilnya bagus, tampangnya siip, gayanya kWeren, uangnya
banyak, idola cewek-cewek di Kampuz, nah..apa lagi yang elo pikirin? Udah
jelas2
kan
doi
suka sama elo?
Eh..katanya
Rio
udah sering nembak elo ya?? Tapi lo tolak
kan
? Kenapa sih Ra’? Tanya Chicha dengan
wajah serius.
Duh..Vil.Cha,Ya’ sorry banget
gue itu gak mau pacaran lagi, gue udah membuang jauh-jauh ritual jahily itu.gue
takut dengan azab Allah yang pedih, bukankah di dalam islam gak ada istilahnya
pacaran? Tetapi ta’aruf, karena pacaran itu adalah budaya jahiliyah, yang
mestinya kita jauhi, bukan malah kita pupuk?
Key O Key ,,stop..mulai lagi
ceramahnya ibu ustadzah, ya udah kita kekantin yuk? Gue aus nih..denger si Aura
ceramah. Ujar Chicha, dan di sambut langkah awal tanda setuju dari teman-temannya.
Di kantin mereka asyik ngobrolin
artis Cristian Bautista yang baru konser di crown
Club.
Eh..iya, lho guys, liat
kan
Tian narik gue dance
bareng tadi malam?uh…gue sih seneng banget. Kata Chicha dengan bangganya.
Yee..gue tambahan lagi kale’, orang
Tiannya ngajak gue dinner kok ntar malam??gue aja yang males..g etis ma orang
ga sebangsa, setanah air, seindonesia raya, hehehe…ucap Raya dengan centilnya.
Udah..udah, kalian ini gak
pernah akur, kalo’ gue sih gak kepincut tuh ma tuh orang, tapi gue itu gak bisa
nahan buat gak mendesah kagum kalo misalnya di minta no.handphone sama anak
Kedokteran si Rifky Dirga Satria yang
cool itu, .uuhh..tapi susah banget ya ngedeketin tuh anak, bawaannya santai
banget gak kaya’ cowok kebanyakan, bikin penasaran aja deh! Ucap Villa sambil
menerawang jauh.
Sementara Aura tetap menekuni
buku yang berjudul “Engkau Lebih Cantik Dengan Jilbab” karya Burhan Shadiq, SS.
Eh..elo Ra’..dari kemaren gue
liat elo bacaannya kok religi banget, gak kWeren ah..eh..gue punya lho..kaset
DVD baru, Bandung Lautan Asmara versi 2, gue dapet dari temen gue yang di
bandung
kemaren siang dia
ngirimnya. Nonton yuk??seru lho…soalnya yang jadi aktris & aktornya
teman-temen Smp gue dulu, ajak Chicha. Dan di sambut girang oleh ke-2 temannya
kecuali Aura.
Elo gak minat nih Ra’? Bener
nih…ntar nyesel lho..temen gue ini orangnya cute banget, menggairahkan bo! Goda
Chicha sambil melirik Aura.
Gak deh, gue gak mau lagi nonton
yang begituan, kan dosa dan di murkai Allah, selama 40 hari semua amal ibadah
kita gak di terima Allah & mendapat kemurkaan Allah selama itu juga. Gue
takut dengan azab Allah yang pedih. Jawab Aura
Hmm..mulai lagi…ibu ustadzah..ya
udah kalo’ lo gak mau ikutan, kita-kita aja ya
kan
.. cha, Ya’? Villa berujar.
Tak lama munculah sosok cowok
impian sejuta mahasiswi di kampuz. Dengan gaya jalannya yg santai, tenang,kalem
yang seolah-olah hampir tidak diketahui kedatangannya, namun baru juga dia
menunjukkan batang hidungnya di kampuz, seseantoro kampuz sudah penuh dengan
desahan kekaguman oleh para mahasiswi pada cowok cool tesebut, Rifky Dirga
Satria, mahasiswa Kedokteran angkatan 2006/2007. suku Kutai-manado.
Rifky orangnya cakep, cool and confident. Body
atletis tampang Mandarin. Mirip-mirip personel F4 malahan lebih kasepan doi
daripada Vic Zhou. Pokoknya Dimas Geralnimo masih kalah cool, Jonathan mulia
masih kalah kalemnya, Afhgan masih kurang Cutenya, Ustad ahmad Al-habsy juga
kalah karismatiknya, dan Bradpit pun jauh kalah gantengnya jika di banding Rifky.Apalagi
kalau dilihat dari lantai tiga GB III tempat Rifky kuliah. Sempurna memang
Tuhan menciptakannya, hampir tidak ada satu hal pun yang kurang darinya..
Pantas cewek-cewek seisi kelas semua pada nguber-nguber doi. Bukan cuma
teman-teman seangkatan, kakak-kakak tingkatnya pun pada ikut-ikutan nguber. Tiap
kali doi lewat depan kelas cewek-cewek semuanya klepek-klepek kaya cacing
kepanasan (berlebihan banget ya? Hehe) Tapi itulah kenyataannya.Semua mencoba pedekate
sama Rifky, porpose-nya tentu kalau bisa jadi pacarnya. Si Rio coverboynya
kampuz pun keki dengan Rifky seolah-olah mati
gaya
, karna masih kalah pamor di depan para
mahasiswi. Sempat Rio ingin membalas kekesalannya pada Rifky karna telah
menandingi kepopulerannya, tapi Rifky itu orangnya terlalu baik untuk di
musuhi, tidak pernah berbicara tidak sopan dan apalagi sampai merebut
pacar-pacar teman mahasiswanya. Hanya saja pacar-pacar mereka yang kayaknya
kegenitan ingin deket-deket dengan doi. Tapi sikap Rifky yang dingin itu
membuat para cewek menjadi putar haluan dan berputus asa. Namun tidak semua
menyerah begitu saja. Masih banyak yang terbilang nekad, dengan penuh
usaha mereka melancarkan aksi
pedekatenya dengan doi, mulai dari yang Cuma berani bercuri pandang ketika
berpapasan sampai ada yang berani meminta no.handphone doi seperti halnya yang
dilakukan salah satu personil dari “genk ijo lumut” Villa.dengan penuh percaya
diri Villa menawarkan no.handphone serta alamat rumahnya pada Rifky, tapi hanya
di balas dengan ucapan terimakasih dan senyum manis yang simpul dan segera berlalu
tanpa mendapatkan tanggapan yang memuaskan. Rifky memang sempurna untuk di
jadikan pacar, orangnya sopan, tidak sombong, suka menolong, dan terlihat
berwibawa, dalam artian bukan wi…bawa mobil,wi..bawa uang,wi..bawa handphone
ya..hehehe…
Namun sayang, bak nguber anak kelinci, Rifky
makin diuber makin lari. Dibilang jual mahal, nggak juga sih. Doi orangnya
ramah banget. Kalau ditegur selalu menjawab. Bahkan selalu pakai bonus senyum
manis, bikin cewek-cewek pada terbang jauh ke langit ke-7.
Tapi jangan berharap lebih banyak lagi, doi
biasanya nggak akan mau berlama-lama. Bak petir di musim banjir doi akan segera
berlalu cepat-cepat. Bukan pula lantaran doi angkuh, tapi ya..itu tadi cool
banget kata para cewek-cewek. (pemborosan kata , udah para, cewek2 lagi)
Ya, bisa dibilang gayanya Rifky itu jinak-jinak
merpati. Dikejar dia lari, di diemin makan hati. Habis cakep sih, sayang kalau
didiamin saja. Enaknya sih di manjain, di sayangin,ujar Chica ketika sedang
makan siang di kantin.
Anehnya, meski cakep Rifky belum punya pacar.
Begitulah kabar yang tersiar seantero kampus. Benar-benar aneh memang. Banyak
yang tidak percaya. Aneh tapi nyata ada mahluk sesempurna Rifky nganggur tanpa
pacar. Mestinya cowok cakep kayak Rifky itu pacarnya banyak. Bisa tiga atau
lima
,
bahkan lebih. Pokoknya enggak akan mungkin ikut tercatat di BPS sebagai sensus jomblo. Soalnya, tidak dicari pun
cewek-cewek pada datang sendiri.
Tapi dasar Rifky, orangnya memang aneh sih. Kalau
jalan aja bawaannya nunduuuk.. terus. Persis kayak orang lagi nyari duit
kececer. Atau jangan-jangan emang lagi nyari kalau-kalau ada puntung rokok
nganggur (He he he…, kayak pemulung aja).
Rifky tuh kalau ngomong sama cewek nggak pernah
mau lama-lama. Mana pas ngomong, matanya ke mana-mana lagi. Masa ngomong sama
orang lihatnya ke tanah. Emangnya yang lagi ngomong cacing tanah apa? protes
Raya yang juga pernah kesambet cintanya Rifky, hanya saja ia gengsi untuk
mengakuinya di depan teman-temannya.
Dengan santai Rifky menjawab “Ghadul bashar,
neng! Menahan pandangan.” begitu alasannya. Sambil tersenyum simpul dan
cepat-cepat berlalu. Tapi dasar Raya, mana ngerti dengan istilah-istilah nahan
pandangan, “buat apaan sih?” Tuhan itu ngasih kita mata ya buat ngeliat yang
enak-enak di liat.nah..kalo yang ga enak di liat ya gak usah di liat lah
ujarnya.
Kalo ngomongin masalah Rifky kayaknya gak akan
habis-habisnya tentang sikapnya terhadap para cewek-cewek yang terkesan langka
di antara sejuta laki-laki di dunia. Rifky kalau diajak jalan bareng sama cewek
nggak pernah mau. Selalu saja pengen duluan. Kalau deket-deket cewek lagunya
kayak takut kesetrum saja. Nggak mau deket-deket, takut banget kalau sampai
kesenggol. Mungkin ada bom atom yang melekat di badannya, sehingga takut
tersentuh dan meledak,( bukan alasan yang tepat,hehe)
Dan yang paling aneh lagi, doi nggak mau nyambut
salaman dari anak-anak cewek! Wuih…! Ini yang bikin heboh anak-anak sekelas.
Bahkan sekampuz.Udah banyak cewek yang kena batunya, terpaksa tarik mundur
tangan yang terlanjur terulur, soalnya doi santai saja merapatkan tangan di
depan dada, kayak orang mau semedi. Kontan bikin orang jadi confuse, hang kayak
komputer butut generasi pertama. Thinking hard. Bikin tengsin abiz para
cewek-cewek yang kepedean.
Tapi ya, namanya Rifky, bawaannya senyum aja
lagi. So innocent! “Kita
kan
bukan mahram.” katanya.
Kata orang doi jadi begitu gara-gara doi tuh
ikhwan. Nggak ada yang tahu apa maksudnya ikhwan itu. Mungkin sejenis bakwan
atau tekwan yang suka lewat malam-malam di depan rumah. Anak-anak pas mendengar
istilah itu langsung rame-rame menyerbu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semua
pada sibuk mencari arti kata ikh. Mereka fikir ikhwan itu barang kali berasal
dari kata dasar ikh- ditambah akhiran -wan. Seperti kata warta-wan, karya-wan,
rupa-wan dan sebagainya. Tapi, ya sampai lecek tuh kamus dibolak-balik, nggak
bakal ketemu juga. Ya ealah…masa ya ea
dunk? Samson aja dan Delilah, masa dan deli dunk…hehehe…182x
Pernah ada cewek yang nekat nanya langsung sama Rifky,
“Ikhwan itu apa sih, kie?”. Yang ditanya seperti biasanya, keep smile dan enteng saja menjawab, “Tanya aja sama
akhwat.”
Iihh…, dasar Rifky, bukannya ngejelasin malah
nambah istilah baru. Pusiiiing….!
***
Pagi itu kuliah belum mulai. Dosennya belum
datang. Anak-anak memanfaatkan waktu itu untuk membaca.
Ada
pula yang bertukar pikiran dengan teman
alias ngobrol.
Ada
juga yang cekikikan ngerumpi. Tapi semua kesibukan itu tiba-tiba terhenti
ketika seseorang berteriak di depan kelas.
“Woii…! Woii..! Perhatian… perhatian!
Ada
kabar heboh!” dany
membuka kedua telapak tangannya di depan mulut, membentuk corong mirip
megaphone. “Rifky hari ini potong rambut! Pangkas habis alias gundul pacul
kempelengan!!!”
“Haa???” orang-orang ternganga. “Gu-ndul?”
“ Ya Iyalah, masa’ ya iya dunk?? Mulan aja mulan jameelah,
masa’ mulan jamidunk???. Kalau tidak percaya, lihat aja tuh di bawah! Dia lagi
jalan ke sini!”
Tiba-tiba seisi kelas mendekat ke jendela. Semua
berebutan ingin melihat ke luar. Mereka terheran-heran melihat bola licin
bergerak-gerak, berkilau-kilau di terpa cahaya matahari di bawah
sana
. Alamaak! Itu kepala Rifky?!
Sumpeh loe???
***
Berita kegundulan Rifky dengan cepat menyebar ke
segala penjuru mata angin. Biang-biang gosip bergembira ria mendapatkan topik
hangat yang sangat menarik untuk di rumpiin. Banyak yang menyesalkan mengapa Rifky
mencukur habis rambutnya yang kWeren itu. Padahal rambutnya bagus sekali.
Dengan bernampilan gundul seperti itu, tentu saja seakan-akan ada yang hilang
dari Rifky. Rifky bukan yang dulu lagi. Ia sekarang kelihatan lebih CupLiz
alias Cupu abiez.
“Gue nggak habis fikir deh, kenapa ya Rifky
mencukur rambutnya?” Villa menggigit roti keringnya. Mereka ber-4, Villa,
Chicha, Aura, Raya, siang itu nongkrong di kantin. Dany yang tadinya duduk agak
jauh dari mereka pun segera bergabung dengan harapan akan di traktir makan
“Ya, gue juga. Padahal dulu rambutnya baguz
banget. Rifky keliatan keren biarpun sebenarnya dia tuh style-nya g keren
banget, celana kain, baju kemejanya bapak-bapak, jaket orang kerja, pake
janggut lagi, biarpun g banyak, hehehe… ” Chicha menimpali. Cewek itu kemudian
menyedot teh botol di depanya. Pipinya menggembung.
“Wah..elo Cha,,ternyata diem-diem juga suka
merhati’in Rifky ya…ampe tau jenggotnya doi segala, hehe..” templak Villa.
“Ih..Villa apaan sih? Rese’ tau nggak!!” Sergah
Chicha dengan cemberut.
“Ya elah…baru juga gitu, udah marah..iye..iye
..juzt kidd guyz…maafin gue ya…” kata Villa dengan suara memelaz.
“Ya udah…gue maafin, tapi lain kali ulangi lagi
ya…ckckck”, Chicha cekikikan melihat ekspresi sobatnya yang bingung, padahal
Chicha Cuma acting.
“Kalau gue sih, nggak heran-heran amat. Ya
iyalah..amatnya aja nggak heran. Soalnya sebelum potong rambut kemarin, Rifky
sempat kecewa gara-gara gue tolak cintanya. Jadi… mungkin dia frustasi,
begitu.” “Huuu…!!” Raya kerepotan mengelak jitakan teman-temannya.
“Gue fikir kita selamanya tetap akan jadi
penasaran, selama teka-teki penyebab Rifky jadi begitu belum terpecahkan.”
Villa kemudian menyelesaikan soft drink-nya. “Gue rasa hal ini perlu ada yang menyelidiki,
supaya kita bisa sama-sama tahu.”
“Iya, gue setuju. Soalnya gue nggak yakin Rifky
potong rambut tanpa sebab yang jelas. Jangan-jangan dia memang punya pacar di
belakang kita yang telah bikin dia frustasi.”
“Atau jangan-jangan… ini juga gara-gara dia…
apa itu namanya?” Chicha menggaruk-garuk kepalanya. Kesemua temannya melongo.
“Ikhwan!” jeritnya kemudian.
“Ya, ikhwan. Mungkin gundul itu gara-gara doi
ikhwan juga.”
“Itulah, kita perlu menyelidikinya.”
“Ya!” Villa mengangkat telunjuknya. “Biar gue aja
yang menyelidiki!”
“Jangaaan!!” semua membantah.
“Jangan elo Vil’,” lanjut Chicha . “Jelasnya
jangan cewek! Soalnya, lo tahu sendiri
kan
gimana sikap Rifky sama cewek. Nggak respect! Rencana kita pasti gagal.” Chicha
menjelaskan.
“Bener juga, ya…” Villa mengangguk-angguk.
“Jadi…”Semua saling berpandangan.
“Daaa—ny!” teriak mereka serempak.
Dany yang sedang asyik makan jadi terbatuk-batuk.
Satu biji bakso yang belum sempat ia kunyah tertelan bulat-bulat. Setelah
meneguk minuman berkali-kali Dany buru-buru protes.
“Kok gue sih? Gue
kan
nggak perlu. Lo tuh yang pada butuh!”
“Ya elah…Kita minta tolong, Dan. Please deh. Ntar
kita kasih elo imbalan. Tenang aja!”
“Imbalan…, emang gue orang suruhan apa?” Dany
tidak terima.
“Yee…bukan begitu Dan. Demi teman, berkorban
dikit dunk. Please deh, nanti kita bayar lo makan setiap hari di kantin ini,
selama satu bulan!”
“Ha? Satu bulan?” Dany mendelik. “ Mau! Mau!…”
***
Dan… Dany pun beraksi. Setelah mereka bubar hari
itu, Ia langsung memulai menjalankan aksi penyelidikannya. Langkah pertama yang
diambil, ya.. tentu saja mulai mendekati Rifky.
Genk
” ijo lumut” melepasnya dengan perasaan
was-was. Ceileh…, kayak melepas pejuang yg hendak pergi perang saja.
Swit..swit..
Hari-hari penyelidikan Dany pun berlalu. Setiap
hari, sesuai janji mereka, Villa dan teman-temannya terpaksa membandari Dany
untuk makan di kantin. Dany kelihatan menikmati sekali tugas
intelijennya. “Sering-sering aja gue disuruh begini, ya.” Katanya sambil
mengunyah Bakso.
Villa CeEz cemberut. “Elo jangan mentang-mentang
dibayari makan, ntar malah lo ulur-ulur terus ngasih tau kami.”
“Awas lo kalau sampai ngerjain kami. Gue tonjok baru
tau rasa lu!” Raya memamerkan tinju atlet beladirinya.
“Oke, oke fren. Pecaya deh ama Dany yang jenius
ini. Nggak bakal kecewa deh pokoknya, secara Dany gitu lho!!!” Dany pun
meneruskan makan dengan lahap. Villa cs saling berpandangan. Khawatir. Wah
parah ne anak.
“Kita kasih lo waktu satu minggu Dan, untuk
melaksanakan tugas lo.”
“Ha?? Satu minggu?” Dany terbelalak. “
Kan
janjinya sebulan?”
“Sebulan itu kita bayar elo makan. Satu minggu
waktu penyelidikan. Kalau berhasil kontrak dilanjutkan, kalau nggak…, sori
banget ya, kita nggak bisa!” Chicha mencibir.
“Jahat lo pade!” Dany mendelik.
“Terserah. Wahatever lah pokoknya, We don’t care, daripada kami bunting,
bangkrut! Gumam Raya dengan gagah.
***
Hari ini genap sudah satu minggu sudah
penyelidikan Dany
“Sudah saatnya Dany memberikan hasil
penyelidikannya.” Ingat Raya kepada gank-nya.
“Yo’a guyz!, ntar sore kita ke rumahnya.” Villa
ber-ide. Memang hari itu hari minggu sehingga mereka tidak bisa ketemu Dany di
kampus.
“Keey sist, gue sepokat!”ucap sisanya.
“Yupz, gue setuju.”
“Cucok bo! Go go go!” biar katro’ teteup letz
go..(lho..koq jadi nyambung ke Tarix jaBrix ya?)
***
Dan sore itu mereka pun bersama-sama pergi ke
rumah Dany. Setelah bolak-balik nanya sana-sini akhirnya mereka pun berhasil
menemukan rumah Dany yang cukup tersembunyi itu. Villa sempat ngedumel nggak
jelas karena mobilnya sempat menyerempet pagar rumah penduduk, karena
jalan yang sempit. “Ngapain Dany milih rumah di tempat pedalaman gang ginian?”
omelnya.
Sampai di rumah Dany mereka ber-4 segera mengetuk
pintu.Villa, Chicha, Raya dan Aura semuanya terbelalak melihat siapa yang
membukakan pintu untuk mereka. Seseorang dengan wajah super culun berdiri di
depan pintu. Dany! Dia… gundul! Wah..saraf ne anak.
“elo kenapa, Dan?? sakit jiwa ya?wah parah lo
kalo gak segera di bawa pada yang berwajib”(emangnya buronan?)tanya Raya seakan
tak percaya dengan pemandangan di depannya.
Dany kelihatan tenang-tenang saja. “Masuk!”
katanya mempersilahkan.
“Tunggu bentaran ya, gue ambilkan minum. Sorry di
rumah ini gak ada pembokat, jadi mesti ambil sendiri.”
Sambil bernyanyi-nyanyi Dany melenggang ke
belakang. “Prek keprek keprek…! Pre keprek keprek…!”
Villa cs tak luput mengiring langkahnya dengan
tatapan khawatir. Jangan-jangan….
“Ya ampun, Dany. Lo tahu nggak, elo tuh
bener-bener nggak enak dilihat gundul begitu.
Ada
rambut aja lo jelek, apalagi gundul?”
Chicha langsung menyerbu ketika Dany sudah datang dengan minuman di tangannya.
Dany tetap cuek. “Prek keprek keprek…! Pre keprek
keprek…!”
“Mana janji elo kemaren, ini sudah seminggu lho.
Sudah saatnya elo kasih tahu kami hasil penyelidikan elo terhadap Rifky.”
Buru
Villa.
Dany mengangkat kepalanya. “Oke… oke! Gue akan
jelasin ke elo-elo semuanya (yah..pemborosan kata lagi, udah elo, pake semuanya
lagi). Gini Cuy..tapi Sebelumnya gue mohon maaf jika apa yang gue sampaikan
nanti sedikit mengecewakan kalian.”
Dany batuk-batuk sedikit sebelum melanjutkan
pembicaraannya sementara Villa cs menunggu keterangan Dany dengan penuh
was-was.
“Begini, asal kalian tahu ya, gue cukur rambut
jadi gundul begini karena gue ingin seperti Rifky.”
“Idiihh, nggak mirip tau..! Tetap aja lo jauh
lebih jelek!” Villa memotong.
Sementara Aura dari tadi Cuma senyum-senyum
sendiri melihat tingkah teman-temannya.
“Sebentar, gue belum selesai. Maksud gue bukan
meniru
gaya
fisiknya. Gue cukur rambut murni dengan niat untuk mengurangi kemungkinan
cewek-cewek naksir gue.”
“Haaa??” ke-4 cewek di depan Dany sama-sama
melotot. Dan Aura sepertinya sudah bisa menangkap bayangan ending dari cerita
dany.
Emangnya ada apaan sih Dan??kok segitu PD-nya ? yang
bakalan naksir lo juga sapa? Ada-ada aja lo Dan! Chicha berucap ketus.
Santai friend, minum dulu gih…baru gw jelasin
kenapa gue gundul begini secara lebih terperinci!
Emangnya Rifky yang mempengaruhi elo buat
mencukur habis rambut jelek lo, maksudnya biar lo tambah jelek? Terus nggak
bakal ada yang kesambet setan sehingga naksir elo, gitu? Tanya Chicha sewot.
“Nggak gitu-gitu juga kale’…makanya dengerin gue
dulu, jangan di cut-cut dulu pembicaraan gue..Ok?” timpal Dany dengan mimic
seriuz.
“Ya..Udah…buruan jelazin apa, mengapa dan kenapa,
apa hubungannya elo sama Rifky ampe segitu pengennya jelek, mengapa Rifky
menggundul rambutnya, dan kenapa Rifky cool banget ma cewek, atau doi nggak
punya nafsu ma cewek alias mati rasa! Jawab Raya dengan lantang bak panglima
perang di antara genknya,
“Ok..Ok, Rifky itu bukannya mati rasa sama lawan
jeniz, kemaren gue nanya-nanya ke dia, katanya dia pengennya langsung nikah aja
ntar, nggak mau pake acara pacar-pacaran segala. Karena kata dia sih, pacaran
itu haram buat orang islam. Ya. karena alasan itulah Rifky mencukur rambutnya.
Demikian juga gue. Tapi Rifky nggak ada nyuruh atawa maksa gw buat ngebotakin
kepala gw juga kok, tapi gw yang mau sendiri, selama gw dekat sama Rifky
gara-gara misi elo-elo pade, gw jadi ngerasa adem banget bareng tuh anak..
Idih..jangan bilang kalo elo malahan homo, naksir
Rifky ya Dan! Semprot Raya.
Ya enggak lah..masa’ ya enggaK DUNK??apa-apaan
sih, homo? Itu
kan
jelas di laknat dalam agama, pada hari kiamat kelak, Allah nggak akan mau
menoleh pada orang-orang yang menyukai sesame jenis. Gue adem bareng dia
maksudnya, tiep ketemu atau gue nelpon dia pasti dapat siraman rohani. Apalagi
Rifky itu baek banget, tiap gue kerumahnya pasti banyak makanan yang di sediain
khusus buat gue.
Halah..itu emang hobby elo, kerumah temen Cuma
buat makan-makan. Ucap Raya dengan santainya dan di sambut ketawa ramai
anak-anak yang lain.
Dany Cuma cengengesan di bilang seperti itu,
abisnya emank bener sih…
Eh..tumben lo Dan, nggak ngejitak orang yang
semena-mena ngatain elo? Aura yang sedari tadi Cuma menjadi pendengar yang baik
mulai angkat bicara
Ehm…malez gue ngebalez, ntar malah nangis lagi,
lagian, gue udah wudlu, jadi g boleh kesentuh yang bukan muhrim.
Wuih..
gaya
lo Dan, orang ini baru jam setengah 3, wudlu buat apaan? Tanya Chicha
keheranan.
Ya…
kan
gue ikutin Rifky membiasakan diri selalu bersih dengan wudlu, siapa tau aja gue
meninggal dalam sebelom waktunya sholat.
Kan
lumayan, kalo kita meninggal dalam keadaan wudlu
kan
ntar nggak di hisab matinya. Papar dany
dengan berapi-api.
Ok…ok…udah ceramahnya?Terus? Kenapa elo sama
Rifky memperjelek diri dengan menggundul rambut? Tanya Villa dengan wajah
penasaran.
Kita nggak mau cewek-cewek ngejar-ngejar kita,
naksir sama kita, Kita nggak ingin
menempati tempat di hati cewek-cewek, di mana tempat itu seharusnya Allah-lah
yang menempatinya. Cewek-cewek semestinya lebih baik memikirkan pelajaran
daripada memikirkan kite-kite. yUppi nggak?”
Ketiga cewek itu saling berpandangan. Sedangkan
Aura tetap tenang.
“Dan elo-elo tahu nggak, Rifky nggak mau salaman
selama ini, itu karena dia mau mengikuti sunnah Rasul. Rasulullah nggak pernah
menjabat tangan wanita yang bukan mahramnya. “Rifky kalau bicara sama cewek
selalu menunduk, itu namanya gadhul bashar alias menjaga pandangan. Setan bisa
saja masuk lewat pandangan kita. Agar tidak tergoda sama cewek-cewek cantik,
kita harus menundukkan sebagian pandangan kita.”
“Dan gue sekarang udah ninggalin musik-musik
Jahily yang gue nikmatin selama ini. Yang Gothick, emo, apalagi music punk,
nggak banget deh pokoknya mah sekarang. Nggak ada faedahnya. Mending dengar
nasyid, selain mengandung hikmah, isyaAllah berpahala! Lagu yang gue nyanyiin
ini adalah salah satu contoh lagu nasyid. Lagu ini judulnya membaca,
penyanyinya grup nasyid “Snada”. Gue baru dapat pinjaman kasetnya dari Rifky. Kalau elo-elo mau, Rifky
punya banyak. Pasti dia mau kasih pinjam kalian. Prek keprek keprek…! prek
keprek keprek…!” Dany bernyanyi lagi.
“Lagu ini sebenarnya panjang dan nggak cuma prek
keprek keprek dUank. Tapi yang gue hafal emang baru itu. Jadi sementara waktu
itu aja yang gue nyanyiin. Insya Allah maksudnya sampai. Nggak apa-apa, toh?
Prek keprek-keprek. Prek keprek keprek.” Dany bernyanyi lagi.
Chicha, Raya, dan Villa mengerutkan alis mereka
pertanda ketidak mengertian terhadap apa yang barusan di omongkan oleh Dany.
Aura masih nampak tenang.
“Kalian bingung ya? Nggak pa-pa deh, silahkan
berbingung ria dulu. Nanti kalau mau lebih jelas silahkan tanya ama ustad-ustadzah,
ya? Prek ke prek keprek..! Prek keprek keprek…!”
Oiya.. Rifky juga gak mau pacaran dengan alasan, itu nggak ada dalam aturan Islam.
Itu haram hukumnya”karena pacaran itu budaya jahiliyah, yang mendekati
perzinaan, sedangkan di dalam surah Al-Israa ayat 32 di katakana”Janganlah kamu mendekati zina” mendekati
saja gak boleh apalagi sampai melakukan, bukankah orang pacaran itu
aktivitasnya selalu berkhalwat alias berdua-duaan dengan yang bukan muhrim?
Nah..kalo udah kayak gitu yang jadi orang ke-3 siapa dUnk?? Papar Dany panjang
lebar bak da’i kondang saja.
Yang jadi orang ke-3? Aura lalu menjawab, tentu
saja setan.. teman-teman! Setan itu musuh yang nyata bagi manusia, dia selalu
berusaha membuat manusia sejauh-jauhnya dari Allah dengan tujuan agar dia tidak
sendirian di siksa di Neraka yang sangat panas dan pedih siksanya itu nantinya.
Naudzubillahimindzalik..dan sudah 2 bulan terakhir gue berfikir dan berdoa agar
sanggup melaksanakannya, gue memutuskan besok akan berjilbab, menutup aurat
secara syar’i.itulah keputusan gue, terserah kalian mau keluarin gue dari
genk
kalian, it’s Ok, no
problem…gue terima dengan hati yang lapang, tulus dan ikhlas.
Ke-3 temannya saling berpandangan, dan tercenung
sejenak. Dan tiba-tiba Aura menangkap isyarat akan terjadi hujan di kala tidak
ada mendung sama sekali. Villa, Chicha, Raya menangis terharu sembari menyesali
segala perbuatan mereka, selama ini apa yang mereka dapatkan dari kesenangan
dunia, dari jalangnya kota metropolitan hingga ramahnya kota tepian, suatu
hijrah yang luar biasa di berikan Allah pada mereka agar mereka bisa
memperbaharui akhlak, berbenah diri, tapi nyatanya balasan apa yang mereka
berikan pada Allah?? Dengan bersikap angkuh, sombong, dan jauh dari syariat
keislaman…
“Gue mau bertobat juga Dan, gue mau berubah
menjadi lebih baik,masih adakah jalan maaf dari Allah untuk kami? Sekarang gak
ada lagi istialhnya
genk
ijo lumut, ijo tua, ijo karatan kek, tapi diantara kita harus ikut majlis
ta’lim yang di adakan kampuz agar kita bisa tau lebih banyak lagi tentang
agama. Kita jangan suka bolos-bolos lagi kalo ada pengajian di kampus. Ucap Chicha
di sela isak tangisnya dan di sambut perkataan serupa oleh Raya dan Villa.
Yah..tentu saja teman-teman, Allah itu Maha
pemaaf lagi Maha pengampun, jawab Aura sambil memeluk ke-3 temannya kecuali
Dany, sudah 1 bulan terakhir ini Aura sudah menjaga agar tidak bersentuhan
dengan yang bukan muhrim.
Gue besok juga mau berjilbab, kata Chicha.
Gue juga! Sambut Raya dan Villa bersamaan.
Alhamdulillah, kalo gitu nanti kita pulang dari
sini mampir dulu yuk nyari kerudung,
kan
kalo gak sanggup pakai jilbab langsung boleh kerudung, asal nantinya kita
berniat akan memakainya lebih secara syar’i, dengan jilbab lebar dan baju
longgar. Biar aja cupu’jelek, gak keren tapi itu adalah pakaian yang di sukai
Allah.ujar Aura menegaskan.
Iya..iya..gue juga mau nyari baju gamis sekalian,
Kata Villa.
Yuk..sekarang, ajaknya.
Eh..eh…mau kemana ? gue belum selesai menjelaskan
hal-hal tentang Rifky, Hadang Dany saat ke-4 temannya hendak melangkahkan kaki
keluar.
Gak perlu, maksih banyak deh ya…sampaikan aja
ucapan terima kasih kami untuk nya, karena gara-gara gundulnya itu kami sadar,
yah..tentunya dengan izin Allah juga lah, yuuk pren…cabut…ajak Villa,
Assalamualaikum…
Dany melongo melepas kepergian 4 gadis cantik nan
manis itu seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada mereka. Apa iya
mereka bertobat??
Maybe sajahlah…huznudzon bro!

http://fhebiecute.blog.friendster.com/2008/02/cerpen-ikhwan-idaman-sejuta-akhawat/

PAPUA, i'm coming. . .

PAPUA, i'm coming. . .

Pekerjaan
Adalah
Proses
Untuk
Aisyah atau ma'isyah ???

go PAPUA go, wujudkan impian menjadi BURUH profesional sebelum MENIKAH, tepat SASARAN. . .

Strategi
Amah
Selesaikan
Amanah
Revolusioner
Andalan
Nan manfaat

barokallohu fiik^^v

Kamis, 10 Juni 2010

Jika Hidup Tidak untuk Dakwah

Jika Hidup Tidak untuk Dakwah
By. Agus Sujarwo


Jika Hidup Tidak untuk Dakwah
Terus engkau mau ngapain?

Ente pergi pagi
Dengan semangat mencari duniawi
Jika angkot macet, langsung berganti sewa taksi
Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

Ente pulang malam
Dengan jasad yang kelelahan
Nyampe di rumah mendekam sampai pagi datang

Lupakah engkau
Rasulullah saw bagaikan rahib di malam hari
Dan menjadi singa di siang hari
Sementara kamu
Tak peduli siang tak peduli malam
Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat cobalah engkau renungkan
Apa sih yang ingin kugapai sampai harus membanting tulang
Apa sih yang ingin kubangun hingga pagi datang
Apa sih yang ingin kuraih hingga tubuh begitu letih

Jujur saja, untuk urusan perutmu bukan
Buat beli martabak atau nasi
Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat kau tinggal bukan
Buat beli keramik, AC ataupun busa
Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang kau rindukan bukan
Buat pakaian, mainan, ataupun poster-poster idaman
Dinikmati, menghilang dari pandangan

Jika engkau hidup hanya untuk itu semuanya
Maka harga dirimu
Nilainya sama dengan apa yang kamu makan
Nilainya sama dengan apa yang kamu keluarkan dari perut hitam
Nilainya sama dengan apa yang kamu rindukan

Karena jasadmu tak ubahnya tembolok karung
Tempat penyimpanan semua makan yang kamu makan
Karena jasadmu tak ubahnya perekat
Tempat semua kesenangan dunia melekat

Sepekan, setahun, sewindu kau bangun sejuta pundi uang
Engkau lupa bahwa kelak yang kau bangun itu pasti kau tinggalkan
Engkau lupa bahwa tempat tinggalmu sesudahnya adalah istana masa depan

Tapi sahabat
Jika engkau hidup untuk dakwah
Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan
Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan

Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang
Dan engkau harus yakin penuh akan janji Allah
Tapi di dalamnya tidak lekas kau dapatkan keindahan
Dan engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan

Sahabat
Janganlah terlena dengan kesenangan fana
Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia
Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia
Tiada usah kamu iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya
Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka
Dan mereka kekal di dalamnya

Sahabat
Jangan sia-siakan hidup di dunia
Bangun rumah dakwah
Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan waktu, hibahkan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan tenaga, berikan untuk lapangnya jalan dakwah
Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya
Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya

Jangan jadikan dakwah sebagai kegiatan sampingan
Jangan jadikan dakwah sebagai hiburan
Jangan jadikan dakwah sebagai ajang gaul sesama teman
Jangan jadikan dakwah sebagai pengisi waktu luang
Jangan jadikan dakwah sebagai sarana memburu uang
Karena kelak yang kau dapatkan adalah jahanam
Sebagai balasan atas kemusyrikan yang kau jalankan

Sahabat
Jadikan dakwah sebagai ruh kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai rumah tinggal kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai tugas utama kalian di dunia
Jadikan bahwa hanya dengan dakwah diri kalian begitu bahagia
Jadikan bahwa tanpa dakwah kalian begitu menderita

Sahabat
Jalan dakwah inilah yang membedakan kita
Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya
Dan jika engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya Itu
artinya engkau pun sama dengan mereka
Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga
Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan
Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhmu bakal dicabut dari badan

Jika hidup tidak untuk dakwah
Trus ente mo ngapain?

Mau jadi ayam?
Yang pergi pagi pulang petang
Kurang petang tambahin nyampe tengah malam

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia rutin bangun sebelum azan
Dan teriakkan lagu keindahan
Tapi kamu
Rutin subuh setengah delapan
Apalagi kalo akhir pekan
Bisa jadi subuh hengkang dari pikiran

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia berani pilih makanan yang ia inginkan
Tapi kamu
Elo embat semua yang ada di hadapan
Tidak peduli daging, tumbuhan, ataupun batu hitam
Sementara kamu dikaruniai pikiran

Palmerah Bumi Allah, Syaban 1423 H

http://www.dudung.net/artikel-islami/jika-hidup-tidak-untuk-dakwah.html

Minggu, 06 Juni 2010

Sekudus Pinangan

Udara nyaman dihela puas. Seharian terperuk di dalam teratak usang memang merimaskan. Rumah setingkat dari kombinasi binaan batu dan papan itu terletak jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, berdiri rendah di celah penempatan yang masih dara. Kondisi persekitarannya aman diselimuti kehijauan alam dan bisikan unggas. Cukup mendamaikan. Kelihatan beberapa lembaga berkerudung gigih membersih sekangkang kera halaman. Sebahagian lagi sibuk merapikan batas yang padat berjenis sayuran segar.

Rembesan peluh amat melekitkan kulit. Terik mentari seolah-olah menembus lapisan pakaian yang lencun. Nis mencapai tuala kecil separa terlilit di leher lalu mengusap lembut wajahnya, membuang sisa-sisa peluh sambil menapak perlahan-lahan menuju buaian di bawah wakaf untuk melepas lelah. Sudah hampir tiga jam sekumpulan perempuan itu bergotong-royong. Nis membuang pandang pada sekeliling kawasan. Mindanya terawang-awang dipuput kenangan lalu, melayang melewati hikayat si penjerat.

“Kenapa Nis diam? Ada problem ke?”

Bebola matanya menengok pada gelas yang masih bersisa, sambil tangan ligat bermain straw mengaduk ais. Zamri yang duduk bertentang langsung tidak dipedulikan.

“Nis…Saya tengah cakap dengan awak ni…” Zamri makin bosan bertanya. Lain sekali fiil Nis malam ini, tidak seperti selalu. “Period ke apa?” sangkanya sendiri.

“Saya tak sedap hatilah. Bukan ke tak elok kita makan semeja macam ni?” Suara Nis terserlah jengkel. Ekor matanya melirik kiri dan kanan. Alangkah bagus kalau dia tidak menumpang kereta Zamri sekembali dari majlis ilmu di masjid tadi…

Zamri tersengih sekilas. Pandangannya menjamah keserian paras buah hatinya. “Nis, kita tak buat apa-apa pun. Saya ajak awak makan je. Tempat ni ramai orang, bukannya kita berdua-duaan. Lagipun kita kan dah nak bertunang bulan depan…”

“Tapi…”

“Nis, takkan saya nak buat benda tak elok. Awak tak percaya saya ke? Awak rasa berdosa ke kita keluar makan macam ni? Niat saya baik… Nak belanja awak je…”

“Bukan…” Nis serba salah. “Tapi…”

Perbualan keduanya terhenti apabila pelayan membawa dua pinggan berisi nasi ayam garing untuk disajikan. Aromanya begitu memikat selera. Zamri mencapai sudu dan garfu dari dalam raga biru di tengah-tengah meja langsung dihulurkan kepada Nis.

“Sudahlah tu. Kita makan dulu, lepas tu saya hantar awak balik. Tak baik tau gaduh depan rezeki, nanti nasi nangis. Lagipun, takkan la awak nak tengok saya kelaparan.” Zamri menggedik. Ah, perempuan lurus ini terlalu mudah untuk dikalahkan!

Nis tersipu-sipu. Demi kau Zamri, apa sahaja. Butir bicara kau benar belaka!

“Ok. Tapi Zamri jangan merajuk dengan saya pasal tadi ye…” Lirihnya manja.

Zamri mengukir senyum, menampakkan lekuk di pipi kiri.

Tampan sungguh lesung pipitmu wahai satriaku! Siapa pun pasti terpesona melihat rupamu nan rupawan. Kau penakluk idaman yang bisa merajai naluriah. Susuk gagah dan kekar. Sekali pandang persis hero yang ghairah beraksi di layar perak, dan akulah heroinmu!

Memandang pada lahiriah Zamri, padan sudah bagi Nis untuk berbangga-bangga kerana berjaya memenangi hatinya. Tapi bukan itu yang menggoda batin Nis untuk menerima cinta lelaki itu. Nis sebenarnya terpaut pada keluhuran pekerti Zamri. Amat berbudi bahasa. Apalagi mersik suara Zamri acapkali didengar melalui corong bunyi menjelang solat fardu datang menjengah. Zamri bertugas sebagai muazzin dan kadangkala mengimamkan sembahyang di masjid kampus tempat Nis menekuni ilmu. Usai solat, Zamri lazimnya menyampai tazkirah yang sarat inti sari ilmiah juga maklumat terkini.

Bapa Zamri, Dr. Ridhuan ialah pensyarah yang berpengalaman mengajar Nis selama dua semester. Dr. Ridhuan tertawan dengan peribadi sopan Nis, lebih-lebih lagi dengan kecenderungan Nis untuk mendalami pelbagai cabang ilmu Islam. Iltizam yang ditonjolkan membuka hasrat Dr. Ridhuan untuk bermenantukan pelajarnya itu, lalu anak bujangnya diperkenalkan dengan Nis.

Pertemuan pertama di banglo Dr. Ridhuan cukup menggamit memori. Suasana kekeluargaan yang tampak kaya dengan nilai-nilai tarbiah menarik minat Nis untuk setia memanjangkan silaturrahim, apatah lagi Nis berazam untuk menyubur sanubari dengan kefahaman yang sahih tentang agama, lantaran ketandusan peluang untuk menyemainya suatu masa dahulu. Hubungan merpati dua sejoli ini akhirnya direstui orang tua Nis juga, dengan harapan keduanya bakal bersatu menyambung sunnah.

Sehinggalah malam durjana itu…

Zamri hakikatnya musang berbulu ayam! Alim-alim kucing. Penuh kepura-puraan di depan darah daging sendiri. Tanpa pengetahuan Nis, binatang itu secara senyap-senyap membubuh pil tidur ke dalam minumannya. Rasa pening menerjah Nis dan kesudahannya dia tewas di dalam pelukan syahwat Zamri. Gadis yang terlelap itu diangkut ke hotel di ibu kota, lalu tubuhnya diratah sewenang-wenangnya tanpa rela.

Dia menangis semahunya. Zamri dengan niat memujuk kononnya sedia untuk bertanggungjawab jika terdapat zuriat yang tertempel di rahim Nis, kemudian berjanji akan menikahinya sesegera mungkin. Langsung pasangan muda itu berzina lagi dan seterusnya beberapa kali sehinggalah Zamri curang lalu meninggalkannya sendiri terpinga-pinga. Tindakan jahil itu mencoret sejarah hina apabila Nis mengandungkan anak hasil hubungan seks haram bersama jantan laknat itu.

Nis terasa bahunya ditepuk dari belakang. Tepukan yang perlahan, namun sudah cukup kuat untuk mengejutkannya dari lamunan kenangan.

“Nisa’ termenung apa tadi? Sampai Ummi bagi salam pun Nisa’ tak perasan.” Ummi Ros tersenyum mesra. Dia melabuhkan punggungnya di sebelah Nisa’.

Ummi Ros rupanya…

“Hmm, takde ape-apelah Ummi. Nisa’ rindu ibu di kampung….” Nisa’ pantas mengesat air mata yang terburai dengan hujung tudung, cuba untuk menyembunyi tangis.

“Rindukan mak rupanya. Agaknya apa khabar mak Nisa’ ye? Mesti dia pun tengah rindu Nisa’.” Bicara wanita penyayang itu, sengaja bermain dengan emosi Nisa’. Ummi Ros kenal benar dengan dia yang amat sensitif apabila ditanyakan tentang ibunya.

Titisan mutiara jernih berguguran tanpa dapat diseka, terasa hangat menampar pipinya yang gebu. Apakah kecintaanmu terhadapku masih mekar seperti dahulu?

“Nis mengandungkan anak haram Zamri!” Teriak Nis sambil meraung, bersujud di kaki kedua orang tuanya. Ibunya terlongo lalu mencucurkan tangis. Ayahnya turut terkesima langsung bungkam. Dengan mendadak ayah rebah sambil memegang kuat dadanya menahan sakit. Sesak nafasnya begitu menyeksakan. Lelaki yang berusia lewat separuh abad itu menderitai sakit jantung di tahap kronik dan kini nazak menanti mati. Perkhabaran buruk mengejut dari anak tunggalnya itu benar-benar merentap jiwa.

“Abang!” Sa’adah memangku Mokhtar yang terkulai layu. Tangannya tanpa henti mengurut dada suaminya. Air mata tambah melaju, dibiarkan tanpa diseka lagi.

Nis lantas bersila di sisi kanan ayahnya langsung mencapai jemari kasar milik ayahnya. “Ayah… Ampunkan Nis, ayah! Ampunkan Nis, ayah…” Nis mengucup tangan ayahnya berkali-kali. Kemudian tapak tangan itu diletak erat di pipinya. “Jangan ayah… Jangan tinggalkan kami… Ayah!” Nis merintih dan memekik sepenuh perasaan.

Mokhtar semakin nazak, namun di penghujung nafas masih tegar berpesan…

“A…Adah jaga… Nis… Nis… ja…ga m…mak…” Bicaranya tersekat-sekat. Sa’adah dan Nis serentak memeluk kejap tubuh Mokhtar. Detik perpisahan nampaknya kian menghampiri. Mata Mokhtar terkebil-kebil, mengalun syahadatain. “As…sy…hadu al…alla…i…ilaha…ilallah…” diteruskan hingga ke akhir kalimah sedaya mampu. Lalu mata dipejam lena selama-lamanya.

Sa’adah terpaksa menempuh dua ujian yang maha berat. Dia terlalu teguh mendepani bentangan onak dan duri. Wanita tua itu tinggal sebatang kara, sedangkan Nis pula berhempas-pulas meneruskan kehidupan sebagai siswi, biarpun diri dibebani episod lalu. Tekad dipacak sedaya mungkin demi membela ibu. Walaupun begitu, langit tidak kekal terang. Ketenteraman hidup ibu dan anak itu akhirnya diragut hasil caci maki dan celaan orang kampung. Masyarakat senang sekali untuk tidak berlaku adil, terus-menerus menghukum mengalahkan Tuhan.

Sa’adah tetap cekal mendukung umpatan dan hinaan yang menujah anak tersayang. Si celopar menuduh Sa’adah tidak reti mendidik anak, ada yang bercabul menuduh Mokhtar lelaki dayus. Hukuman demi hukuman yang dijatuhkan ke atas keluarganya meluluhkan perasaan Nis. Ibu dan arwah ayah tidak bersalah. Nis nekad mengubah hala, asalkan nama Mokhtar dan Sa’adah murni dari tercemar.

“Jom masuk dalam. Dah nak masuk Zohor ni.” Ummi Ros menyentuh lembut bahu Nisa’. Nisa’ tersedar dari menung langsung bangkit menggeliat. Dia mengorak langkah berkecil-kecil, lalu berpapasan dengan Hana dan Intan.

“Kenapa Kak Nisa’ nampak sedih je?” Hana menegur manja. “Ada masalah ke?” Sengaja dia menduga. Intan pula sekadar mengangguk seraya menggaru kepala.

Nisa’ senyum, berusaha untuk membuang muram.

“Takde la, akak rasa macam nak buat satu benda…”

“Apa dia?” Hana dan Intan bertanya serentak.

Nisa’ tunduk menengok tanah. “Hmm, ada la…Rahsia…”

Hana kian galak bertanya. “Ala, cakaplah kak. Kot-kot kami boleh tolong…”

“Betul ke Hana nak tolong akak?” Nada Nisa’ sedikit gembira.

“InsyaAllah… Kami ok je. Kalau benda tak salah kami sanggup tolong. Kan Intan?” Hana menyiku Intan. Intan menyengguk lagi sambil tersengih lebar.

“Salah tak kalau akak nak cubit perut korang!” Jari Nisa’ hinggap mencubit lembut perut kedua-dua gadis itu lalu melarikan diri. Hana dan Intan tergelak geli kemudian berkejar-kejaran di padang menghijau Raudhatus Sakinah. Ummi Ros sekadar memerhati gembira. Persaudaraan yang membunga di Raudhatus Sakinah lestari mewangi, malah lebih akrab dari hubungan sedarah. Nisa’ menganggap Hana dan Intan seperti adiknya sendiri. Ummi Ros pula berperanan sebagai ibu buat gadis-gadis malang itu. Gadis-gadis yang didatangkan mehnah dunia, lalu ingin kembali ke pangkuan Tuhan.

Raudhatus Sakinah menempatkan sekitar 20 orang pelatih, terdiri dari remaja puteri yang dirundung musibah lantaran nyalaan nafsu membakari maruah diri. Mungkin juga angkara manusia iblis berjantina lelaki. Penzina, ibu mengandung luar nikah, perempuan simpanan, wanita yang nyaris murtad, mangsa rogol dan sumbang mahram – pelbagai wajah disatukan di bawah bumbung, sebantal nyenyak dan setalam hidang. Lindungan sepenuhnya ditebarkan, naungan kasih dicurahkan demi mempertahankan tunjang akidah gadis-gadis yang tergugat anutannya.

Wanita-wanita ini dididik dalam suasana yang tenang, diperkaya dengan unsur famili bahagia demi mencetus keharmonian dalam kehidupan saban hari. Mereka diajar dan dilatih mengurus rumah tangga dengan teratur. Sepaling istimewa, hidangan tarbiah peneguh rohani. Setiap detik tidak sunyi dengan suapan ilmu-ilmu ukhrawi demi mendekat diri dengan syariat Islam. Amal ibadah digiatkan semata-mata kepatuhan hakiki di sisi Ilahi. Sembahyang berjemaah, solat nawafil, tadarus Al-Quran, puasa sunat, qiyamullail, berzikir menjadi rutin yang payah untuk diabaikan.

Sehabis sembahyang berjemaah, semuanya sibuk mengerjakan solat sunat baada Isyak. Selepas itu Ummi Ros yang masih bertelekung mara bagi mengumumkan informasi penting. Dia berdehem beberapa kali sebelum mula berbicara.

“Anak-anak… Pagi ni kita akan qiyamullail macam biasa. Tapi kali ni kita ada imam jemputan…” Ummi Ros membelek kertas yang tercatit maklumat itu.

Masing-masing diam menadah telinga. “Ustaz tu dijemput khas dari UKM Bangi. Lepas qiyam dan solat Subuh kita ada kuliah Subuh.” Ummi Ros menyambung.

Keadaan hingar-bingar. Ingatkan Ustazah, rupanya Ustaz!

Terdengar suara sumbang diiring hilai tawa. “Hensem tak Ummi?”

Ummi Ros mencebik. “Ish, tak serik-serik! Bila cakap pasal lelaki je bukan main syok. Yang selalu ngantuk masa qiyam pun terus semangat.” Fuh, sindiran Ummi Ros memang pedas! Bagi yang terkena, muka merah padam jadinya. Membisu serta-merta, manakala setengah lagi tergelak girang.

“Ummi gurau je…” Ummi Ros ingin memupus rajuk. “Kalau tanya Ummi, memang tak hensem la…” Cakap Ummi Ros tergantung. Masing-masing terlopong.

“Sebab yang hensem suami Ummi je la, Haji Rahim”

Ketawa berderai lagi, melenyapkan kelengangan malam.

“Dah dah…Lepas bertadarus, Ummi nak semua tidur. Esok bangun awal, pukul 4.00 pagi semua dah siap bertelekung dan bentang sejadah. Boleh tak anak-anak?”

“Baik Ummi!” Mereka membalas beramai-ramai. Sayang benar gadis-gadis itu kepada Ummi Ros. Masakan, terlalu besar bakti wanita bertudung labuh itu. Tika gadis-gadis itu dibuang saudara dan dicela umat setempat, Ummi Ros mendepa tangan seluas-luasnya menyambut mesra kehadiran mereka. Engkau memang altruistik!

Nisa’ bangkit mencapai mushaf Al-Quran dari rak di pojok bilik. Halaman dibelek satu persatu, lantas dia memilih untuk mengalunkan Surah An-Nuur. Bacaan meluncur lancar dari bibir yang mungil, sampai ke ayat suci yang ketiga.

“Lelaki yang berzina tidak mengahwini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak tidak dikahwini melainkan lelaki yang berzina atau lelaki musyrik…” (Maksud ayat 3, surah An-Nur)

Air mata Nisa’ meleleh bertalu-talu membasahi Al-Quran. Kalbunya ditusuk sembilu duka. Dia berkira-kira, apakah benar penzina hanya layak dinikahi penzina? Jika itu satu kenyataan, aku rela membujang sampai ke akhir hayat! Masihkah ada ruang bagiku untuk dilamar lelaki yang mentaati Tuhannya? Aku terlalu menginginkan suami penyejuk pandang. Teman setia yang mampu menggarap agar terbinanya bait Muslim. Mungkinkah?

Nisa’ menyudahkan bacaannya di situ. Mushaf ditutup. Dia berdiri mencapai sejadah, solat taubat ditunaikan. Pasrahnya disandarkan kukuh di riba Maha Penentu. Lenanya malam itu dalam tangisan sambil berteman Al-Quran di tangan.

“Bangunlah Nisa’… Imam dah sampai. Dah nak mula qiyam pun ni.” Nisa’ membuka mata. Bergaung suara imam nyaring mengalun Al-Fatihah. Nisa’ bingkas bangkit menuju bilik air untuk berwuduk. Sesudah bertelekung, dia bersigap menyertai makmum di saf paling belakang. Imam tidak berkeputusan melagui kalamullah. Bacaan Ar-Rahman terdengar melayut-layut, berselang seli dengan esak tangis.

Usai solat Subuh berjemaah, imam berpaling ke belakang.

Astaghfirullah! Jantung berdetak deras. “Itu…”

Matanya berkerdip dua tiga kali. “Itu… Ikram!”

Ikram melempar senyum. Penglihatan keduanya bertaut sejeda lantas terlerai. Nyaris-nyaris tawanya terhambur melihat Nisa’ tercengang, namun ditahannya untuk menghindar wasangka. Ikram terbatuk kecil sebelum mula berceramah berdegar-degar. Lega dan syukur terlindung di hati. “Betullah Nisa’ ada di sini.”

Nisa’ masih enggan percaya. Dia menampar pipinya kuat. Aduh, sakit! Dia tidak bermimpi juga bukan di alam fantasi. Itulah Ikram yang dahulu pernah tergila-gilakannya. Ikram yang dibencinya dulu. Ikram yang pernah diherdiknya sesuka hati.
Kad Aidilfitri berwarna merah kesumba itu disiat-siat langsung dibaling ke parit.

“Aku cakap aku tak suka kau! Kau tak faham bahasa ke?” Nisa’ membengis. Mahu sahaja dia membaham Ikram.

“Laa… Aku bagi kau kad raya je pun…” Ikram longlai melindung diri.
Kemarahan Nisa’ membuak-buak. “Jangan banyak alasan la! Jantan miang… Apasal kau suka kacau aku?”

“Aku ikhlas nak kawan dengan kau…”

“Boleh blah la kau! Perangai buruk. Sembahyang pun malas, puasa pun tak… Kurang ajar pulak tu… Jangan berangan la!”

Ikram menunduk. Lidah kau jauh lebih tajam dari belati! “Tapi aku pun nak insaf… Kalau kau couple dengan aku, boleh kau ajar aku agama.” Balas Ikram perlahan.

“Hei! Kau tak malu ke? Apahal aku pulak yang nak ajar kau agama… Pergi la belajar sendiri! Jangan kacau aku lagi!” Jeritan Nisa’ bagai halilintar, menyambar emosinya sampai hangus rentung. Sekumpulan siswa dan siswi yang sedang menjamah juadah petang di kafetaria tersentak. Berpuluh pasang mata kini sedang tertumpu ke arah mereka yang benar-benar mencuri perhatian awam.

Ikram akur lantas mengayunkan langkah. Rentetan dari keaiban itu, Ikram membawa dirinya yang terluka jauh dari institusi itu. Dengar-dengar dia berpindah ke universiti lain. Ah! Peduli apa aku. Lamarannya sudah aku tolak tepi. Apa guna memadu asmara dengan lelaki yang jahil murakab.

Tapi… Kenapa Ikram nampak lain sekarang? Sangat berlainan…

Kuliah Subuh tamat. Ikram yang berjubah putih safa menutup majlis dengan tasbih kafarah lalu berangkat keluar dari rumah itu. Penemannya turut berdiri lalu ikut membuntutinya. Barangkali pergi berehat seketika di pangkin di kawasan laman.

Soksek-soksek mula bertimbulan. ”Hensemlah ustaz tu…”

”Dah. Jangan nak menggatal! Tu aku punya ha…”

”Sorang tu macho, sorang lagi comel la…”

Tolonglah… Ikram pernah gagal dalam merebut cintaku. Nisa’ tersengih sendirian. Ikram yang dilihat sebentar tadi memang mengagumkan, tetapi apakan daya. Jangan-jangan sudah berpunya. Argh! Melepas… Usah berangan lagi.

Nisa’ melupuskan mimpian yang ligat berlegar di benak. Dia menapak lembab menuju dapur. Hari ini tiba gilirannya untuk menyiapkan makan pagi bagi segenap ahli rumah. Ummi Ros muncul di dapur dengan mendadak. Kelihatan dia tercungap-cungap.

“Nisa’, tolong masak sedap-sedap ye. Lepas tu tolong hidang pada ustaz dua orang kat luar tu…”

Gulp! Aku yang kena hidang? Matilah aku…

“Tapi Ummi, saya sibuk ni. Takpe… Biar saya masak, lepas tu nanti Maria tolong hidang.” Nisa’ beralasan tidak konkrit. Janganlah aku yang kena hidang…

“Takde tapi tapi…Cepat sikit ye….” Ummi Ros meninggalkan Nisa’ terpinga-pinga.

Adusss… Macam mana ni… Nisa’ mencari saran serata minda. Mundar-mandir sambil memegang sudip. Tiba-tiba sahaja timbul dalam fikiran – Pinjam purdah Rohana!

Dari jauhan terdengar ketiga-tiga sakan berborak. Nisa’ berjalan lambat-lambat sambil menatang dulang keluli dengan penuh hati-hati.

”Hai, cantiknya purdah Nisa’…” Ummi Ros terseringai penuh sinis.

Ikram menjeling Nisa’. Fadlan di sebelah ikut memandang. Terketar-ketar Nisa’ semasa menyaji sarapan buat kedua tetamu yang berkopiah itu. Hampir sahaja dia menangis! Ikram yang menyedari kerisauan Nisa’ geli hati langsung mengalih pandang.

Selesai menghidang, Nisa’ ingin bergegas pulang ke dapur. Hajatnya tersekat apabila lengannya disentak. Nisa’ beristighfar berkali-kali.

”Nisa’ nak pergi mana tu. Duduk sini dulu… Teman Ummi ye… Kejap je…”

Nisa’ menghadam hasrat Ummi Ros tanpa sekelumit soal. Dia duduk perlahan-lahan, tepat membelakangkan Ikram. Sekadar pegun memerhati sandal yang tersarung di kaki. Beberapa ketika, telefon selular milik Fadlan menjerit-jerit minta diangkat. Dia memohon izin untuk menerima panggilan lantas bangun dan berjalan menuju ke tanah lapang. Dua yang lain meneruskan santapan manakala Nisa masih bisu menghadap tiang berkarat di sisi kanannya.

Sekonyong-konyong bunyi nada dering kedengaran lagi. Ummi Ros menggeledah tas tangannya lalu mencapai telefon bimbit. Punat dipicit lalu bertali-tali borak dan sembang. Ummi Ros yang pada asalnya duduk terburu-buru bangun lalu seraya menapak menghala ke kereta miliknya di parkiran.

Nisa’ bangkit berundur dari duduknya, langsung Ikram menyapa Nisa’.

”Nisa’… Tunggu kejap…” Ikram menyeru agak kuat.

Nisa’ menoleh bertentang Ikram. Tidak duduk, tidak pula pergi.

Ikram mendeham, berikhtiar menggenggam kekuatan. ”Apa khabar Nisa’?”

”Alhamdulillah, sihat…” Reaksinya tidak acuh.

”Alhamdulillah…Moga kekal sihat…” Ikram kekontangan idea.

Kedua-duanya buntu sesaat. Nisa’ mula berlangkah. Ikram yang kecuakan, gelisah ditolak mentah-mentah buat kali yang ketiga spontan berdiri tegas. Perawan itu lantas beralih hala di hadapannya. Kedua-duanya saling berpandangan.

”Nisa, saya nak kahwini awak…”

Nisa’ ternganga di sebalik purdah berona hijau bemban. Apa?

”Saya ikhlas… Saya nak memperisterikan awak.” Ikram mengulang dalam suara optimis. ”Saya berjanji akan jadi suami soleh yang mendidik isteri dan anak-anak…”
Nisa’ seakan tidak percaya. Dia menggetil lengannya kuat. Aduh, sakit! Dia tidak berkhayal juga bukan mabuk cinta. Ikram yang dahulu pernah diusir jauh-jauh meminangnya sementelahan waktu ini dia asyik mengharap kasih kudus yang halal.

”Tolonglah Nisa’… Saya ikhlas ni…” Rayunya tulus.

Tubir mata Nisa’ mula sarat langsung merekah. Tangisan berhamburan. Kalamnya kelu namun masih berdaya upaya untuk berbalas kata.

”Nisa’…Dah pernah berzina…” Ujarnya tersedan-sedan. Nada terengah-engah lalu dia diam sejeda mengela nafas. Ikram tenang menanti butir perkataan.

“Ikram sanggup ke… Nisa’ kotor…” Sedunya kian ketara. “Nisa’ berdosa! Nisa’ perempuan kotor…” Nisa’ separa menjerit menahan sebal. Emosinya makin menggila menatap takdir yang menghiris pedih. Hampir sahaja dia berteriak panjang.

Ikram meraup mukanya yang semakin berminyak. Ketayap di kepala ditanggalkan seketika lalu dirapikan kedudukannya. Dia berkeluh-kesah. Sayu menerjah kalbu. Wajah menyayukan itu ditenung sejenak sebelum bicaranya dilanjutkan.

“Khairunnisa’…”

Nisa’ yang tertunduk mengangkat muka perlahan-lahan. Matanya berair.

“Pernah tak Nisa’ dengar ayat ni…” Basmallah dilafazkan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mahu bertaubat dan orang orang yang mahu membersihkan dirinya sendiri.” (Maksud ayat 222, surah Al-Baqarah)

Nisa’ mafhum benar dengan kalimatullah agung itu. Tidak mungkin dia melupai dalil naqli yang seringkali diperdengarkan sepanjang menghuni pusat perlindungan itu. Bahkan, dia sendiri mengekhatkan untaian hikmah itu cantik berseni lalu digantung di bahagian dewan solat Raudhatus Sakinah. Sebagai pemupuk taubat nasuha, telahnya.

”Allah Maha Penerima Taubat…” Ikram mula bertazkirah.

”Tidak ada dosa yang tidak diampunkan selain syirik…”

Butir bicara Kau benar belaka! Hujah Ikram berlandaskan nas yang jelas terang diterima pakai. Janji Allah Ta’ala mustahil sekali dimungkiri.

”Khairunnisa’ ialah sebaik-baik perempuan…”

Nisa’ laju menyelang sambil menyeluruti wajah mulus Ikram. Wujud ketenteraman di balik kulitnya yang putih bersih.

”Itu antara Nisa’ dengan Allah. Sudi ke Ikram menerima diri Nisa’…” Dia berniat menguji sukma Ikram, biarpun sebenarnya dia begitu teruja dilamar Ikram yang jadi idam-idaman. Dadanya penuh debaran menunggu jawapan yang mungkin keramat.

Ikram melempar pandang ke teratak tua itu.

”Pernikahan adalah keterikatan antara dua nurani yang saling mengasihi lantaran mendamba rahmat Allah Azzawajalla semata-mata. Kedua-dua jiwa murni ini amat berperanan sebagai suami dan isteri, melengkapi satu sama yang lain. Kalbu keduanya saling menyampai dan menerima. Andai ada apa-apa kelemahan, ditelan dengan penuh rela. Sebarang kekuatan dikongsi erat. Dua-duanya halus dan tulus mengukuhkan bait Muslim yang dicipta, asalkan nantiasa bertoleransi dan saling memaafkan. Tiap mehnah dikira tarbiah pengukuh cinta…” Ikram bersyarah lembut.

Aku terpaut dengan keindahan bahasamu. Bukan, dengan keikhlasanmu.

”Jadi… Ikram maafkan Nisa’?”

”Masakan tidak! Nisa’ menjadi asbab Ikram mengenal diri. Nisa’ jadi penggalak untuk Ikram menuntut ilmu agama… Dengan hidayah Allah, Ikram dapat sambung pengajian agama. Terima kasih Nisa’.” Ikram terseringai.

Nisa’ tersenyum. Aku heroinmu dan engkau heroku. Ikram, aku sudi untuk dimandat sebagai ratu hatimu!

”Nisa’…Izinkan Ikram menikahi Nisa’…”

Itu sudah pasti. Aku merelakannya. Aku tidak sanggup kehilangan teman hidup yang mithali. Dia ikhwah yang aku yakini mampu memimpinku bahu ke bahu menuju gerbang kebahagiaan di dunia jua akhirat. Engkau calon pilihan Ilahi, Ikram!

”Kalau nak pinang Nisa’, kena tanya ibu Nisa’ dulu.” Nisa’ berseloroh.

Ikram yang kaget serta-merta mengeluarkan telefon seluar dari poketnya lantas mendail sembilan angka nombor untuk menghubungi Sa’adah. Nisa’ tertawa kecil.

Angin berhembus lunak mengelus-elus, menyuasanai romantis. Burung-burung berterbangan merata-rata sambil berkicauan riang. Petala langit tampak nilakandi menyaksikan puspa hati meminang mestika. Sebening tarian cinta. Lebih romantik dari epik Romeo dan Juliet, namun tidak sebanding riwayat cinta Ummahatul Mukminin di sisi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam.

Nukilan: Mohd Dhany Mohd Sarip
Karya pertama beliau ini telah tersiar dalam akhbar Wasilah Edisi 13-20 Disember 2008. Alf Mubarak daripada saya untuknya.