PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN TEORI PEMBELAJARAN
A. Pengertian, pengajaran dan pembelajaran
Menurut paham konvensional, pendidikan dalam arti sempit diartikan sebagai bantuan kepada anak didik terutama pada aspek moral atau budi pekerti, sedangkan pengajaran diartikan sebagai bantuan kepada anak didik dibatasi pada aspek intelektual dan ketrampilan. Bila dilihat dari sejarah perkembangan ilmu pendidikan di Indonesia, kita mengenal paedagogiek, didaktik dan metodik. Ketiga istilah tersebut sangat erat hubungannya,paedagogiek = ilmu pendidikan. Bagaimana pendidikan dilakukan disekolah, orang memerlukan didaktik, baik bersifat umum maupun yang bersifat khusus atau disebut metodik. Dengan demikian konsep pembelajaran dan pengajaran adalah tergolong dalam ilmu didaktik biarpun mempunyai orientasi yang berbeda. Paedagogiek, didaktik dan metodik memuat prinsip-prinsip, kaidah-kaidah yang mengikat pendidik/guru dalam memberi bantuan secara normatif maupun teknis kepada anak didik. Tetapi dewasa ini para ahli cenderung tidak membedakan antara arti pendidikan (education) dan pengajaran/pembelajaran (instruction). Bahkan menurut Crow and Crow pendidikan diartikan sebagai proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. Disini digambarkan bahwa dalam proses pendidikan itu titik berat terletak pada pihak anak didik yaitu dalam pendidikan akan terjadi proses belajar yang merupakan interaksi dengan pengalaman-pengalamannya.
Pendidikan, pengajaran dan pembelajaran mempunyai hubungan konseptual yang tidak berbeda, kalaupun dicari perbedaannya pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas yaitu mencakup baik pengajaran maupun pembelajaran, dan pengajaran merupakan bagian dari pembelajaran.
B. Hubungan teori belajar dan pembelajaran
Teori belajar adalah konsep-konsep dan prinsip-prinsip belajar yang bersifat teoritis dan telah teruji kebenarannya melalui eksperimen. Teori belajar itu berasal dari teori psikologi dan terutama menyangkut masalah situasi belajar. Sebagai salah satu cabang ilmu deskriptif, maka teori belajar berfungsi menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana proses belajar terjadi pada si belajar. Karena para pakar psikologi mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda dalam menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana belajar itu terjadi, maka menimbulkan beberapa teori belajar seperti teori behavioristik, kognitif, humanistik, sibernetik dan sebagianya.
Teori pembelajaran tidak menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi, tetapi lebih merupakan implementasi prinsip-prinsip teori belajar dan berfungsi untuk memecahkan masalah praktis dalam pembelajaran. Oleh karena itu teori pembelajaran selalu akan mempersoalkan bagaimana prosedur pembelajaran yang efektif, maka bersifat preskriptif dan normatif. Teori pembelajaran akan menjelaskan bagaimana menimbulkan pengalaman belajar dan bagaimana pula menilai dan memperbaiki metode dan teknik yang tepat. Teori pembelajaran yang demikian itu memungkinkan guru untuk :
(1) Mengusahakan lingkungan yang optimal untuk belajar
(2) Menyusun bahan ajar dan megurutkannya
(3) Memilih strategi mengajar yang optimal dan apa alasannya
(4) Membedakan antara jenis alat AVA yang sifatnya pilihan dan AVA lain yang sifatnya esensial untuk membelajarkan para siswa.
Demikian halnya teori belajar yang bersifat deskriptif itu, akan mampu menjelaskan, memprediksi dan mengontrol peristiwa belajar. Sehingga prinsip-prinsip dan hukum belajar akan dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Maka teori belajar tertentu dengan sendirinya akan berimplikasi pada pembelajaran tertentu pula atau tergantung dari sudut pandang mana proses belajar itu terjadi. Dengan demikian jelaslah bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara teori belajar dengan teori pembelajaran.
C. Pengertian dan prinsip-prinsip pembelajaran
Pembelajaran terjemahan dari kata “instruction” yang berarti self instruction (dari internal) dan external instruction (dari eksternal). Pembelajaran yang bersifat eksternal antara lain datang dari guru yang disebut teaching atau pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifat eksternal prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya akan menjadi prinsip-prinsip pembelajaran. Sesuatu yang dikatakan prinsip biasanya berupa aturan atau ketentuan dasar yang bila dilakukan secara konsisten, sesuatu yang ditentukan itu akan efektif atau sebaliknya. Prinsip pembelajaran merupakan aturan/ketentuan dasar dengan sasaran utama adalah perilaku guru. Pembelajaran yang berorientasi bagaimana perilaku guru yang efektif, beberapa teori belajar mendeskripsikan pembelajaran sebagai berikut:
(1) Usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku si belajar. (Behavioristik)
(2) Cara guru memberikan kesempatan kepada si belajar untuk berpikir agar memahami apa yang dipelajari. (Kognitif)
(3) Memberikan kebebasan kepada si belajar untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. (Humanistik)
Sumber prinsip-prinsip pembelajaran :
1. Prinsip pembelajaran bersumber dari teori behavioristik
Pembelajaran yang dapat menimbulkan proses belajar dengan baik bila:
a. Si belajar berpartisipasi secara aktif
b. Materi disusun dalam bentuk unit-unit kecil dan diorganisir secara sistematis dan logis
c. Tiap respon si belajar diberi balikan dan disertai penguatan (Hartley&Davies, 1978)
2. Prinsip pembelajaran bersumber dari teori kognitif
Reilley & Lewis (1983) menjelaskan 8 prinsip pembelajaran yang digali dari teori kognitif Brunner dan Ausuble, pembelajaran akan lebih bermakna (meaningfull learning) apabila:
a. Menekankan akan makna dan pemahaman
b. Mempelajari materi tidak hanya proses pengulangan tetapi perlu disertai proses transfer.
c. Menekankan adanya pola hubungan
d. Menekankan pembelejaran prinsip dan konsep
e. Menekankan struktur disiplin ilmu dan struktur kognitif
f. Obyek pembelajaran seperti apa adanya dan tidak disederhanakan dalam bentuk eksperimen dalam situasi laboratoris.
g. Menekankan pentingnya bahasa sebagai dasar pemikiran dan komunikasi
h. Perlunya memanfaatkan pengajaran perbaikan yang lebih bermakna.
3. Prinsip pembelajaran dari teori humanisme
Belajar adalah bertujuan memanusiakan manusia. Anak yang berhasil dalam belajar, jika ia dapat mengaktualisasi dirinya dengan lingkungan maka pengalaman dan aktivitas belajar merupakan prinsip penting dalam pembelajaran humanistik.
4. Prinsip pembelajaran dalam rangka pencapaian ranah tujuan
a. Prinsip pengaturan kegiatan kognitif
Pembelajaran hendaknya memperhatikan bagaimana mengatur kegiatan kognitif yang efisien.
b. Prinsip pengaturan kegiatan Afektif
Pembelajaran pengaturan kegiatan afektif perlu memperhatikan dan mengaplikasikan 3 pengaturan kegiatan afektif, yaitu faktor ”conditioning”, behavior modification dan human model.
c. Prinsip pengaturan kegiatan psikomotorik
Pembelajaran pengaturan kegiatan psikomotorik mementingkan faktor latihan, penguasaan prosedur gerak-gerik dan prosedur koordinasi anggota badan untuk itu diperlukan pembelajaran fase kognitif.
5. Prinsip pembelajaran konstruktivisme (Teori kontemporer)
Belajar adalah proses aktif si belajar dalam mengonstruksi arti, wacana, dialog, pengalaman fisik dalam proses belajar tersebut terjadi proses asimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang sudah dipelajari. Prinsip yang nampak dalam pembelajaran konstruktivisme adalah:
a. Pertanyaan dan konstruksi jawaban siswa adalah penting
b. Berlandaskan beragam sumber informasi materi dapat dimanipulasi para siswa
c. Guru lebih bersikap interaktif dan berperan sebagai fasilitator dan mediator bagi siswa dalam proses belajar-mengajar.
d. Program pembelajaran dibuat bersama si belajar agar mereka benar-benar terlibat dan bertanggung jawab (konstrak pembelajaran)
e. Strategi pembelajaran, student-centered learning, dilakukan dengan belajar aktif, belajar mandiri, koperatif dan kolaboratif.
6. Prinsip pembelajaran bersumber dari azas mengajar (Didaktik)
Azas-azas mengajar yang dikemukakan dua ahli pendidikan yang berasal dari Belanda dan Amerika Serikat yaitu Mandingers dan Mursell.
a. Mandingers
(1) Prinsip aktivitas mental
Belajar adalah aktivitas mental, oleh karena itu pembelajaran hendaknya dapat menimbulkan aktivitas mental. Tidak hanya mendengar, mencamkan dan sebagainya tetapi lebih menyeluruh baik aspek kognitif, efektif maupun psikomotorik. Pendekatan CBSA dikatakan sangat sesuai dengan prinsip aktivitas mental.
(2) Prinsip menarik perhatian
Bila dalam belajar mengajar para siswa penuh perhatian kepada bahan yang dipelajari, maka hasil belajar akan lebih meningkat sebab dengan perhatian, ada konsentrasi, pada gilirannya hasil belajar itu akan lebih berhasil dan tidak lekas lupa.
(3) Prinsip penyesuaian perkembangan anak
Anak akan lebih tertarik perhatiannya bila bahan pelajaran disesuaikan dengan perkembangan subyek belajar, prinsip ini juga sudah dikemukakan oleh John Amos Comenius.
(4) Prinsip Appersepsi
Prinsip ini memberikan petunjuk bahwa kalau mengajar guru hendaknya mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan apa yang sudah diketahui. Dengan cara tersebut subyek belajar akan lebih tertarik sehingga bahan pelajaran mudah diserap.
(5) Prinsip peragaan
Prinsip peragaan memberikan pedoman bahwa dalam mengajar hendaknya digunakan alat peraga. Dengan alat peraga proses belajar mengajar tidak verbalistis.
(6) Prinsip aktivitas motoris
Mengajar hendaknya dapat menimbulkan aktivitas motorik pada subyek belajar. Belajar yang dapat menimbulkan aktivitas motorik seperti, menulis, menggambar, melakukan percobaan, mengerjakan tugas latihan, akan menimbulkan kesan dan hasil belajar yang lebih mendalam.
(7) Prinsip motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Makin kuat motivasi seseorang dalam belajar makin optimal dalam melakukan aktivitas belajar. Dengan kata lain intensitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh motivasi. Dalam mengimplikasikan prinsip ini guru dapat melakukan:
a. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan anak
b. Menghubungkan pelajaran dengan pengalaman anak
c. Memilih berbagai metode mengajar yang tepat.
Prinsip-prinsip tersebut diatas dalam pelaksanaannya hendaknya dilakukan secara integral. Hal itu dapat dijelaskan bahwa belajar yang berhasil adalah bila anak dalam melakukan belajar berlangsung secara intensif dan optimal sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang lebih bersifat permanent.
b. Menurut JL Marsell
(1) Prinsip Konteks
Guru menciptakan bermacam-macam hubungan dengan bahan pelajaran. Caranya dengan mengaitkan materi bahan pelajaran dengan konteksnya dalam arti hubungan sesama konsep, hubungan konsep dengan fakta, konsep dengan guna/fungsi dan sebagainya.
(2) Prinsip Fokus
Guru dalam membahas dan menjelaskan materi suatu pokok bahasan tertentu perlu ada materi poko bahasan sebagai pusat pembahasan.
(3) Prinsip Sekuens
Materi pengajaran hendaknya disusun secara urut sistematis dan logis sehingga mudah dipelajari. Urutan bahan pelajaran itu sendiri hendaknya memberikan kemudahan siswa dalam kegiatan belajar.
(4) Prinsip Evaluasi
Prinsip evaluasi menekankan guru dalam mengajar tidak boleh meninggalkan kegiatan evaluasi. Evaluasi merupakan kegiatan terintegrasi dalam pelajaran. Kegiatan evaluasi berfungsi mempertinggi efektivitas belajar, karena dapat mendorong siswa belajar dan memungkinkan guru untuk memperbaiki cara mengajarnya. Evaluasi itu dapat dilakukan secara tertulis, lisan maupun dalam bentuk “assessment”.
(5) Prinsip Individualisasi
Guru dalam mengajar memperhatikan adanya perbedaan individu para siswa. Siswa sebagai individu adalah berbeda-beda dilihat dari segi mental, seperti intelegensi, bakat, minat dan sebagainya. Berbeda dengan kecenderungan misalnya ada siswa cenderung lebih baik pada bidang estetika tetapi mungkin kurang baik pada matematika dan sebagainya. Perbedaan individu tersebut berimplikasi dalam pemberian pelayanan belajar, seperti bimbingan belajar, tugas-tugas dan sebagainya.
(6) Prinsip Sosialisasi
Prinsip sosialisasi menekankan guru dalam mengajar hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang menimbulkan adanya saling kerja sama antar siswa, kerja sama dalam mengatasi masalah belajar, seperti menyelesaikan tugas, belajar kelompok dan sebagainya. Cara belajar seperti ini akan memperoleh dua keuntungan, yaitu:
a. Dapat membina dan mengembangkan kepribadian terutama sikap demokrasi
b. Pengetahuan anak akan bertambah kokoh sebab dalam proses belajar akan terjadi saling menerima dan memberi.
D. Perkembangan teori pembelajaran
Keberadaan pembelajaran dalam arti pengajaran sebenarnya bersamaan dengan keberadaan profesi guru, yaitu sejak kedua konsep tersebut diakui keberadaannya oleh masyarakat. Pada waktu itu ilmu pendidikan masih bernaung dalam ilmu filsafat. Pada waktu itu yang dikembangkan oleh para filosof adalah pengetahuan tentang peranan guru, fungsi pikiran dan hakekat pengetahuan. Pengembangan yang mereka lakukan dengan mengajukan pertanyaan, apa pengetahuan itu, bagaimana adal mulanya? Jawaban pertanyaan itu akan menggiring secara sistematis mengenai pengetahuan belajar. Salah satu pandangan tentang belajar dikemukakan oleh Plato (427-327 SM), ia (faham idealisme) melukiskan bahwa pikiran dan jiwa sebagai hal yang sifatnya dasar bagi segala sesuatu yang ada. Maka belajar dilukiskan sebagai pengembangan oleh pikiran berupa idea yang bersifat keturunan. Dari pandangan itu Plato mengenalkan konsep pembelajaran: “disiplin mental” melalui studi matematika dan bahasa.
Bagaimana perilaku guru dalam melakuakan pembelajaran, pada waktu itu belum mendapat dukungan psikologi empiris, tetapi lebih dukungan dari pemikiran filsafat. Filosof Sokrates, mengenalkan teori pembelajaran metode “mencari tahu” dengan tanya jawab.
Seiring dengan perkembangan filsafat empirisme (realisme), yang mendewakan pengalaman, mempengaruhi munculnya psikologi empirisme. Psikologi empirisme menyatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan indera bukan dari berpikir seperti yang dinyatakan oleh kaum rasionalisme. Tokoh filsafat empirisme ini antara lain Francis Bacon, John Locke dan sebagainya. Karena pengaruh kaum empirisme, John Amos Comenius (1592-1671), mengembangkan prinsip pembelajarn berupa. Pembelajaran berupa merupakan reaksi dari pembelajaran verbalisme. Prinsip pembelajaran berupa akhirnya melahirnya azas-azas didaktik yang pada tahun 60-an, di Indonesia sangat terkenal dengan azas keperagaan.
Dengan psikologi empiris memunculkan teori psikologi unsur, teori daya, teori gestald dan sebagainya. Seiring dengan berkembangnya aliran empirisme para pengikut psikologi empirisme aktif melakukan eksperimen guna menguji dan mempertahankan teori-teorinya. Akhirnya teori-teori tersebut juga diterapkan dalam pendidikan sebagai prinsip pembelajaran. Sebagai contoh Herbart (1776-1841) berpendapat bahwa perasaan, keinginan, keputusan kemauan adalah keadaan istimewa yang terjadi karena bertemunya tanggapan sebagai unsur terkecil dari jiwa (kesadaran) seseorang. Bertemunya tanggapan-tanggapan menurut hukum-hukum asosiasi. Maka untuk membentuk kemauan susila (kepribadian) perlu mengingat tanggapan-tanggapan dan menghubungkannya melalui hukum asosiasi. Teori pembelajaran yang demikian itu disebut pendidikan intelektalisme Herbart. Dalam pengembangan psikologi modern khususnya dibidang psikologi belajar muncul teori belajar behavioristik dengan tokoh Thorndike, Watson, Guthrie, Skinner dan lain-lain. Teori belajar behavioristik (Skinner) menimbulkan teori pembelajaran Pengajaran berprogram, Mastery learning. Pengembangan psikologi Gestald melahirkan teori belajar kognitif dengan tokoh Piaget, Brunner, Ausable dan lain-lain. Teori kognitif pun, menimbulkan teori pembelajaran seperti Pembelajaran konsep, Advance Organizer dan sebagainya. Perkembangan teori belajar pada abad 21, ditandai munculnya teori konstrukivisme, yang menimbulkan teori pembelajaran baru seperti pembelajaran strategi kognitif, konstruktivisme dan belajar mandiri. Secara garis besar kejadian dibidang perkembangan teori belajar menunjukkan bahwa perkembangan teori pembelajaran berkaitan dengan perkembangan teori belajar.
sumber : anandasatriamawan
Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v
Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...
Rabu, 29 September 2010
MODEL METODE PEMBELAJARAN
A. Pengertian Metode Pembelajaran.
Secara umum metode di artikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus metode pembelajaran dapat di artikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajaran. Prinsip dasar pendidikan yang dimaksud di antaranya prinsip psikologis pendidikan dan prinsip pedagogis.
B. Prinsip, Teknik, dan Menejemen Pembelajaran.
1. Prinsip Psikologis pendidikan.
Prinsip Psikologis dalam pembelajaran digunakan untuk memahamkan berbagai aspek psikologis pembelajaran yang meliputi: perkembangan intelektual, belajar dilihat sebagai perubahan perilaku, tingkat kecerdasan, tingkat intelektual dan motifasi dalam belajar.
2. Prinsip Pedagogis Dalam Pendidikan.
Prinsip pedagogis atau prinsip pembelajaran yang dimaksudkan meliputi berbagai teori dan pendekatan dalam belajar.
3. Teknik Komunikasi Dalam Pembelajaran.
Teknik komunikasi pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan pesan atau materi pembelajaran serta bagaimana mengembangkan dialogis guru dan murid atau sesama murid efektif.
4. Menejemen Pembelajaran.
Teknik pengelola atau menejemen pembelajaran terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian dalam pembelajaran.
C. Berbagai Metode Pembelajaran.
Banyak metode pembelajaran yang digunkan, tetapi ada sejumlah metode pembelajaran yang mendasar, sedangkan selebihnya adalah kombinasi atau modifikasi dari metode tersebut.
1. Metode Ceramah.
Dalam metode ceramah guru menyampaikan materi secara moral atau lisan dan siswa atau pembelajar mendengarkan, mencatat, mengajukan pertanyaan, menjawab, dan dimengevaluasi.
Keunggulan Metode Ceramah.
b. Kelemahannya.
Rumusan tujuan instruksional yang sesuai hanya sampai dengan tingkat comprehension.
Hanya cocok untuk kemampuan kognitif.
Komunikasi cendrung satu arah (one way).
Sangat bergantung pada kemampuan komunikasi verbal penyaji.
Kurang inspirasif akan menurunkan antusias belajar peserta didik.
Dapat digunakan untuk mengajar siswa dalam jumlah banyak secara bersamaan.
Tujuan pembelajaran dapat didefinisikan dengan mudah.
Pengajar dapat mengendalikan isi, arah, dan kecepatan pembelajaran karena inisiatif terletak padanya.
Ceramah yang inspiratif dapat menstimulasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri.
2. Metode Tanya Jawab.
Materi ajar disampaikan melalui proses tanya-jawab antara guru dengan siswa, dan sesama siswa. Metode Tanya-jawab diadobsi dari metode yang digunakan oleh Socrates seorang filsuf Yunani terkenal yang hidup pada masa sebelum masehi.
Keunggulan Metode Tanya Jawab.
Memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri dan dan mengikuti pembelajaran secara efektif.
Mendorong siswa untuk berfikir kritis dan memperkaya pemahaman terhadap materi yang diajarkan.
Dapat digunakan untuk menguji pengetahuan factual siswa untuk berbagai tingkat kemampuan.
Dapat digunakan sebagai alat motivasi ektrinsik yang akan meningkatkan semangat belajar.
Dapat digunakan untuk mengarahkan hasil belajar.
3. Metode Diskusi.
Dalam metode diskusi proses pembelajaran berlangsung melalui kegiatan berbagi atau “sharing” informasi atau pengetahuan di antara sesama siswa. Dalam metode ini guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan masalah atau topic yang akan dibahas dan beberapa aturan dasar dalam diskusi.
Keunggulan Metode Diskusi.
Menumbuhkan sikap ilmiah dan jiwa demokratis.
Tergalinya gagasan baru yang memperkaya dan memperluas pemahaman siswa terhadap materi yang dibahas.
Menciptakan suasana belajar yang berpartisipasi dan interaktif.
Kelemahannya.
Pembicaraan dalam diskusi bisa keluar dari jalur atau batasan topic yang sedang dibahas.
Pengajuan pendapat di dominasi oleh siswa yang lebih siap, lebih menguasai materi, dan atau oleh siswa yang memiliki kebiasaan mendominasi pembicaraan.
Peserta yang tidak siap dan tidak percaya diri akan pasif dan tidak berpartisipasi dan berkonstribusi dalam pembicaraan.
4. Metode Peragaan atau Demonstrasi.
Metode peragaan dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran teori maupun praktik. Pada kata peragaan dalam bahasa inggris adalah demonstrate. Sekalipun kedua kata tersebut secara umum dapat diartikan sebagai memperlihatkan, tetapi konteks pembelajaran peragaan atau demonstrasi tidak berarti sekedar memperlihatkan tetapi lebih dari itu peragaan diartikan sebagai membingbing dengan cara memperlihatkan langkah-langkah atau menguraikan.
Keunggulan Metode Peragaan.
Beberapa keunggulan metode peragaan jika digunakan dalam pembelajaran teori atau prakti adalah sebagai berikut :
1. Peragaan akan memberikan pemahaman yang lebih kongkrit tentang bagian suatu obyek atau langkah-langkah suatu proses.
2. Peragaan atau demontrasi akan menuntut siswa menguasai keterampilan tertentu secara lebih mudah dan sistematis termasuk mengingat area proses kunci Key Process Area atau langkah-langkah kunci yang harus dikuasai oleh siswa.
Kelemahan Metode Peragaan.
Kelemahan utama yang sering dialami pengajar dalam menerapkan metode peragaan yaitu :
1. Memerlukan waktu persiapan dan pelaksanaan yang lebih banyak
2. Membutuhkan peralatan yang kadangkala mahal dan atau tidak dimiliki oleh sekolah.
3. Agar efektif, peragaan harus dilakukan secara berulang-ulang.
5. Metode Bermain Peran.
Pengalaman sebagai guru dan penatar menunjukkan bahwa metode pembelajaran bermain peran atau “role play” adalah metode yang sangat efektif digunakan untuk mensimulasi keadaan nyata. Contoh dari metode ini adalah kegiatan yang dapat diajarkan dengan PAKEM jika menggunakan metode bermain peran.
Keunggulan dari Metode Peran.
1. Mampu melatih kompetensi siswa dalam melaksanakan kegiatan praktis yang mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Metode bermain peran yang dirancang secara cermat dan mendekati kegiatan yang sebenarnya.
3. Jika suasana pembelajaran dilakukan secara serius dan mampu menghadirkan suasana yang mendekati sebenarnya.
Kelemahan Metode Bermain Peran.
1. Tidak semua guru menguasai kompetensi yang akan disimulasikan sehingga jika dipaksa menerapkan metode bermain peran, maka simulasi tidak mewakili kondisi nyata.
2. Tidak semua guru memiliki kompetensi merancang kegiatan simulasi.
3. Memerlukan persiapan dan penyiapan yang matang serta membutuhkan banyak waktu dan sumberdaya lainnya.
4. Bisa terjadi demotivasi dalam diri siswa yang kurang berperan dalam kegiatan tersebut atau memainkan peran yang kurang disukainya.
6. Metode Pembelajaran Praktik.
Gambaran umum dari metode ini adalah pendidikan kejujuran, pendidikan profesi, dan diklat (pendidikan dan pelatihan) keterampilan perlu dilakukan pengajaran praktik. Pengajaran peraktik ditinjau dari lokasi pembelajarannya dapat dibedakan atas : Pengajaran praktik di bengkel atau labolatorium, dan Pengajaran praktik di lapangan atau lokasi pekerjaan.
Keunggulan Metode Pembelajaran Praktik.
1. Diperolehnya perubahan perilaku ranah psokomotor dalam bentuk keterampilan melakukan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesinya.
2. Mempermudah dan memperdalam pemahaman tentang berbagai teori yang terkait dengan praktik yang sedang dikerjakannya.
3. Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena pekerjaan yang dilakukan memberikan tantangan baru baginya.
4. Meningkatkan kepercayaan diri siswa tentang profesionalisme yang dimilikinya.
Kelemaham Metode Pembelajaran praktik.
1. Memerlukan persiapan yang matang meliputi kegiatan dan peralatan yang diperlukan.
2. Siswa membutuhkan waktu yang relative lama untuk mencapai kompetensi standar.
3. Memerlukan biaya yang tinggi untuk pengadaan bahan dan peralatan praktik.
4. Membutuhkan biaya yang tinggi untuk pengoprasian serta pemeliharaan peralatan praktik.
7. Metode Kunjungan Lapangan.
Kegiatan kunjungan lapangan diselenggarakan terutama untuk memberikan kesempatan kepada siswa atau mahasiswa atau peserta diklat melakukan pengamatan kegiatan yang berkaitan dengan dunia profesinya dalam situasi nyata di lapangan.
Keunggulan Metode Kunjungan Lapangan.
1. Sangat efektif dalam memperluas wawasan siswa sebagai perubahan perilaku ranah kognitif tentang bidang pekerjaan sesuai dengan profesinya kelak.
2. Memperkuan dan memperdalam pemahaman tentang aplikasi berbagai teori dan praktik yang dipelajari siswa di sekolah.
3. Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena memperolah gambaran nyata tentang lapangan pekerjaan.
4. Memberikan masukan praktis dan baru bagi guru serta sekolah guna meningkatkan program pembelajaran.
5. Menjadi sarana hubungan kerjasama yang lebih luas dan saling menguntungkan antara sekolah dan lembaga.
6. Menjadi sarana promosi sekolah dan tamatan kepada lembaga atau perusahaan yang bersangkutan.
Kelemahan Metode Kunjungan Lapangan.
1. Memerlukan biaya relative tinggi untuk transportasi, akomodasi, dan konsumsi peserta kunjungan lapangan.
2. Kegiatan di lembaga atau perusahaan sasaran kunjungan lapangan tidak selalu sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
3. Lokasi lembaga atau perusahaan sasaran kunjuungan lapangan yang kurang matang justru akan mengalihkan tujuan kunjungan lapangan menjadi sekedar wisata tanpa manfaat yang memadai dari sudut pandang pendidikan.
8. Metode Proyek.
Dengan metode proyek siswa secara individual atau secara kelompok ditugaskan mengerjakan sebuah proyek dengan menerapkan berbagai kompetensi yang terkait secara terpadu untuk menghasilkan sebuah produk atau hasil karya yang nyata dan tuntas.
Keunggulan Metode Proyek.
1. Sangat efektif dalam memfasilitasi aplikasi berbagai kompetensi secara terpadu dalam kegiatan nyata dan produktif.
2. Sangat dalam membangkitkan motivasi belajar dan rasa tanggung jawab dalam diri siswa.
3. Jika dikerjakan secara kelompok maka siswa akan belajar dan berlatih pekerjaan dalam sebuah tim dengan mana mereka berlatih dalam mengembangkan sikap.
Kelemahan Metode Proyek.
1. Membutuhkan persiapan dan rancangan yang matang.
2. Membutuhkan keahlian yang memadai dari guru untuk memilih pryek yang sesuai dengan isi kurikulum.
3. Dalam beberapa hal metode proyek menuntut konsekuensi biaya yang cukup besar.
9. Metode Tutorial.
Sejatinya metode tutorial adalah metode pembelajaran dengan mana guru memberikan bimbingan belajar kepada siswa secara individual. Oleh sebab itu metode ini sangat cocok diterapkan dalam model pembelajaran mandiri seperti pada pembelajaran jarak jauh dengan mana siswa terlebih dahulu diberi modul untuk dipelajari.
Keunggulam Metode Tutorial.
1. Siswa memperoleh pelayanan pembelajaran secara individual sehingga permasalahan spesifik yang dihadapinya dapat dilayani secara spesifik pula.
2. Seorang siswa dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan lemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh kecepatan bel;ajar siswa yang lain atau lebih dikenal dengan istilah “Slef Paced Learning”.
Kelemahan Metode Tutorial.
1. Sulit dilaksanakan pembelajaran klasikal karena guru harus melayani siswa dalam jumlah yang banyak.
2. Jika tetap dilaksanakan, diperlukan teknik mengajar dalam tim atau “team teaching” dengan pembagian tugas di antara anggota tim.
3. Apabila tutorial ini dilaksanakan, untuk melayani siswa dalam jumlah yang banyak, diperlukan kesabaran dan keluasan pemahamann guru tentang materi.
Secara umum metode di artikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus metode pembelajaran dapat di artikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajaran. Prinsip dasar pendidikan yang dimaksud di antaranya prinsip psikologis pendidikan dan prinsip pedagogis.
B. Prinsip, Teknik, dan Menejemen Pembelajaran.
1. Prinsip Psikologis pendidikan.
Prinsip Psikologis dalam pembelajaran digunakan untuk memahamkan berbagai aspek psikologis pembelajaran yang meliputi: perkembangan intelektual, belajar dilihat sebagai perubahan perilaku, tingkat kecerdasan, tingkat intelektual dan motifasi dalam belajar.
2. Prinsip Pedagogis Dalam Pendidikan.
Prinsip pedagogis atau prinsip pembelajaran yang dimaksudkan meliputi berbagai teori dan pendekatan dalam belajar.
3. Teknik Komunikasi Dalam Pembelajaran.
Teknik komunikasi pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan pesan atau materi pembelajaran serta bagaimana mengembangkan dialogis guru dan murid atau sesama murid efektif.
4. Menejemen Pembelajaran.
Teknik pengelola atau menejemen pembelajaran terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian dalam pembelajaran.
C. Berbagai Metode Pembelajaran.
Banyak metode pembelajaran yang digunkan, tetapi ada sejumlah metode pembelajaran yang mendasar, sedangkan selebihnya adalah kombinasi atau modifikasi dari metode tersebut.
1. Metode Ceramah.
Dalam metode ceramah guru menyampaikan materi secara moral atau lisan dan siswa atau pembelajar mendengarkan, mencatat, mengajukan pertanyaan, menjawab, dan dimengevaluasi.
Keunggulan Metode Ceramah.
b. Kelemahannya.
Rumusan tujuan instruksional yang sesuai hanya sampai dengan tingkat comprehension.
Hanya cocok untuk kemampuan kognitif.
Komunikasi cendrung satu arah (one way).
Sangat bergantung pada kemampuan komunikasi verbal penyaji.
Kurang inspirasif akan menurunkan antusias belajar peserta didik.
Dapat digunakan untuk mengajar siswa dalam jumlah banyak secara bersamaan.
Tujuan pembelajaran dapat didefinisikan dengan mudah.
Pengajar dapat mengendalikan isi, arah, dan kecepatan pembelajaran karena inisiatif terletak padanya.
Ceramah yang inspiratif dapat menstimulasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri.
2. Metode Tanya Jawab.
Materi ajar disampaikan melalui proses tanya-jawab antara guru dengan siswa, dan sesama siswa. Metode Tanya-jawab diadobsi dari metode yang digunakan oleh Socrates seorang filsuf Yunani terkenal yang hidup pada masa sebelum masehi.
Keunggulan Metode Tanya Jawab.
Memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri dan dan mengikuti pembelajaran secara efektif.
Mendorong siswa untuk berfikir kritis dan memperkaya pemahaman terhadap materi yang diajarkan.
Dapat digunakan untuk menguji pengetahuan factual siswa untuk berbagai tingkat kemampuan.
Dapat digunakan sebagai alat motivasi ektrinsik yang akan meningkatkan semangat belajar.
Dapat digunakan untuk mengarahkan hasil belajar.
3. Metode Diskusi.
Dalam metode diskusi proses pembelajaran berlangsung melalui kegiatan berbagi atau “sharing” informasi atau pengetahuan di antara sesama siswa. Dalam metode ini guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan masalah atau topic yang akan dibahas dan beberapa aturan dasar dalam diskusi.
Keunggulan Metode Diskusi.
Menumbuhkan sikap ilmiah dan jiwa demokratis.
Tergalinya gagasan baru yang memperkaya dan memperluas pemahaman siswa terhadap materi yang dibahas.
Menciptakan suasana belajar yang berpartisipasi dan interaktif.
Kelemahannya.
Pembicaraan dalam diskusi bisa keluar dari jalur atau batasan topic yang sedang dibahas.
Pengajuan pendapat di dominasi oleh siswa yang lebih siap, lebih menguasai materi, dan atau oleh siswa yang memiliki kebiasaan mendominasi pembicaraan.
Peserta yang tidak siap dan tidak percaya diri akan pasif dan tidak berpartisipasi dan berkonstribusi dalam pembicaraan.
4. Metode Peragaan atau Demonstrasi.
Metode peragaan dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran teori maupun praktik. Pada kata peragaan dalam bahasa inggris adalah demonstrate. Sekalipun kedua kata tersebut secara umum dapat diartikan sebagai memperlihatkan, tetapi konteks pembelajaran peragaan atau demonstrasi tidak berarti sekedar memperlihatkan tetapi lebih dari itu peragaan diartikan sebagai membingbing dengan cara memperlihatkan langkah-langkah atau menguraikan.
Keunggulan Metode Peragaan.
Beberapa keunggulan metode peragaan jika digunakan dalam pembelajaran teori atau prakti adalah sebagai berikut :
1. Peragaan akan memberikan pemahaman yang lebih kongkrit tentang bagian suatu obyek atau langkah-langkah suatu proses.
2. Peragaan atau demontrasi akan menuntut siswa menguasai keterampilan tertentu secara lebih mudah dan sistematis termasuk mengingat area proses kunci Key Process Area atau langkah-langkah kunci yang harus dikuasai oleh siswa.
Kelemahan Metode Peragaan.
Kelemahan utama yang sering dialami pengajar dalam menerapkan metode peragaan yaitu :
1. Memerlukan waktu persiapan dan pelaksanaan yang lebih banyak
2. Membutuhkan peralatan yang kadangkala mahal dan atau tidak dimiliki oleh sekolah.
3. Agar efektif, peragaan harus dilakukan secara berulang-ulang.
5. Metode Bermain Peran.
Pengalaman sebagai guru dan penatar menunjukkan bahwa metode pembelajaran bermain peran atau “role play” adalah metode yang sangat efektif digunakan untuk mensimulasi keadaan nyata. Contoh dari metode ini adalah kegiatan yang dapat diajarkan dengan PAKEM jika menggunakan metode bermain peran.
Keunggulan dari Metode Peran.
1. Mampu melatih kompetensi siswa dalam melaksanakan kegiatan praktis yang mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Metode bermain peran yang dirancang secara cermat dan mendekati kegiatan yang sebenarnya.
3. Jika suasana pembelajaran dilakukan secara serius dan mampu menghadirkan suasana yang mendekati sebenarnya.
Kelemahan Metode Bermain Peran.
1. Tidak semua guru menguasai kompetensi yang akan disimulasikan sehingga jika dipaksa menerapkan metode bermain peran, maka simulasi tidak mewakili kondisi nyata.
2. Tidak semua guru memiliki kompetensi merancang kegiatan simulasi.
3. Memerlukan persiapan dan penyiapan yang matang serta membutuhkan banyak waktu dan sumberdaya lainnya.
4. Bisa terjadi demotivasi dalam diri siswa yang kurang berperan dalam kegiatan tersebut atau memainkan peran yang kurang disukainya.
6. Metode Pembelajaran Praktik.
Gambaran umum dari metode ini adalah pendidikan kejujuran, pendidikan profesi, dan diklat (pendidikan dan pelatihan) keterampilan perlu dilakukan pengajaran praktik. Pengajaran peraktik ditinjau dari lokasi pembelajarannya dapat dibedakan atas : Pengajaran praktik di bengkel atau labolatorium, dan Pengajaran praktik di lapangan atau lokasi pekerjaan.
Keunggulan Metode Pembelajaran Praktik.
1. Diperolehnya perubahan perilaku ranah psokomotor dalam bentuk keterampilan melakukan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesinya.
2. Mempermudah dan memperdalam pemahaman tentang berbagai teori yang terkait dengan praktik yang sedang dikerjakannya.
3. Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena pekerjaan yang dilakukan memberikan tantangan baru baginya.
4. Meningkatkan kepercayaan diri siswa tentang profesionalisme yang dimilikinya.
Kelemaham Metode Pembelajaran praktik.
1. Memerlukan persiapan yang matang meliputi kegiatan dan peralatan yang diperlukan.
2. Siswa membutuhkan waktu yang relative lama untuk mencapai kompetensi standar.
3. Memerlukan biaya yang tinggi untuk pengadaan bahan dan peralatan praktik.
4. Membutuhkan biaya yang tinggi untuk pengoprasian serta pemeliharaan peralatan praktik.
7. Metode Kunjungan Lapangan.
Kegiatan kunjungan lapangan diselenggarakan terutama untuk memberikan kesempatan kepada siswa atau mahasiswa atau peserta diklat melakukan pengamatan kegiatan yang berkaitan dengan dunia profesinya dalam situasi nyata di lapangan.
Keunggulan Metode Kunjungan Lapangan.
1. Sangat efektif dalam memperluas wawasan siswa sebagai perubahan perilaku ranah kognitif tentang bidang pekerjaan sesuai dengan profesinya kelak.
2. Memperkuan dan memperdalam pemahaman tentang aplikasi berbagai teori dan praktik yang dipelajari siswa di sekolah.
3. Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena memperolah gambaran nyata tentang lapangan pekerjaan.
4. Memberikan masukan praktis dan baru bagi guru serta sekolah guna meningkatkan program pembelajaran.
5. Menjadi sarana hubungan kerjasama yang lebih luas dan saling menguntungkan antara sekolah dan lembaga.
6. Menjadi sarana promosi sekolah dan tamatan kepada lembaga atau perusahaan yang bersangkutan.
Kelemahan Metode Kunjungan Lapangan.
1. Memerlukan biaya relative tinggi untuk transportasi, akomodasi, dan konsumsi peserta kunjungan lapangan.
2. Kegiatan di lembaga atau perusahaan sasaran kunjungan lapangan tidak selalu sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
3. Lokasi lembaga atau perusahaan sasaran kunjuungan lapangan yang kurang matang justru akan mengalihkan tujuan kunjungan lapangan menjadi sekedar wisata tanpa manfaat yang memadai dari sudut pandang pendidikan.
8. Metode Proyek.
Dengan metode proyek siswa secara individual atau secara kelompok ditugaskan mengerjakan sebuah proyek dengan menerapkan berbagai kompetensi yang terkait secara terpadu untuk menghasilkan sebuah produk atau hasil karya yang nyata dan tuntas.
Keunggulan Metode Proyek.
1. Sangat efektif dalam memfasilitasi aplikasi berbagai kompetensi secara terpadu dalam kegiatan nyata dan produktif.
2. Sangat dalam membangkitkan motivasi belajar dan rasa tanggung jawab dalam diri siswa.
3. Jika dikerjakan secara kelompok maka siswa akan belajar dan berlatih pekerjaan dalam sebuah tim dengan mana mereka berlatih dalam mengembangkan sikap.
Kelemahan Metode Proyek.
1. Membutuhkan persiapan dan rancangan yang matang.
2. Membutuhkan keahlian yang memadai dari guru untuk memilih pryek yang sesuai dengan isi kurikulum.
3. Dalam beberapa hal metode proyek menuntut konsekuensi biaya yang cukup besar.
9. Metode Tutorial.
Sejatinya metode tutorial adalah metode pembelajaran dengan mana guru memberikan bimbingan belajar kepada siswa secara individual. Oleh sebab itu metode ini sangat cocok diterapkan dalam model pembelajaran mandiri seperti pada pembelajaran jarak jauh dengan mana siswa terlebih dahulu diberi modul untuk dipelajari.
Keunggulam Metode Tutorial.
1. Siswa memperoleh pelayanan pembelajaran secara individual sehingga permasalahan spesifik yang dihadapinya dapat dilayani secara spesifik pula.
2. Seorang siswa dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan lemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh kecepatan bel;ajar siswa yang lain atau lebih dikenal dengan istilah “Slef Paced Learning”.
Kelemahan Metode Tutorial.
1. Sulit dilaksanakan pembelajaran klasikal karena guru harus melayani siswa dalam jumlah yang banyak.
2. Jika tetap dilaksanakan, diperlukan teknik mengajar dalam tim atau “team teaching” dengan pembagian tugas di antara anggota tim.
3. Apabila tutorial ini dilaksanakan, untuk melayani siswa dalam jumlah yang banyak, diperlukan kesabaran dan keluasan pemahamann guru tentang materi.
Teori Belajar, Program Dan Prinsip Pembelajaran
1. Teori Disiplin Mental
Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.
2. Teori Behaviorisme
Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu:
a. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
b. Bersifat mekanistis
c. Menekankan peranan lingkungan
d. Mementingkan pembentukan reaksi atau respons
e. Menekankan pentingnya latihan
Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun behaviorisme ini, antara lain:
a. Teori Koneksionisme
Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama.
Selanjutnya, dalam teori koneksionisme dikemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut:
1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dimana hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Implikasi praktis dari hukum ini adalah, bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidak adanya kesiapan.
2) Hukum Latihan (Law of Exercise)
Hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan semakin dikuasainya pelajaran itu.
3) Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorang dapat mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar menyenangkan dirinya,
b. Teori Pengkondisian (Conditioning)
Teori pengkondisian (conditioning) merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov (1849-1936). Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari Rusia.
c. Teori Penguatan (Reinforcement)
Kalau pada teori pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah perangsangnya (stimulus), maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak yang belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian, maka guru memberikan penghargaan pada anak itu dengan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat lagi. Hadiah itu me-reinforce hubungan antara stimulus dan respons.
d. Teori Operant Conditioning
Psikologi penguatan atau “operant conditioning” merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan “conditioning”. Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses “conditioning” yang pada prinsipnya memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dengan respons.
3. Teori Cognitive Gestalt-Filed
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. Rumpun psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.
Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.
c. Belajar berkat insight
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
d. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.
C. Prinsip-Prinsip Pengajaran
Tugas guru mengelola pengajaran dengan lebih baik, efektif, dinamis, efisien, ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara aktif, mengalami, serta memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Ada beberapa prinsip pengajaran diantaranya adalah:
Prinsip Aktivitas
Pengalaman belajar yang baik hanya bisa didapat bila peserta didik mau mengaktifkan dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap lingkungan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota badan. Dalam prinsip ini, maka tugas guru dalam mengajar antara lain:
Prinsip Motivasi
Motivasi berasal kata motive–motivation yang berarti dorongan atau keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik) maupun dorongan dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa, yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan. Beberapa cara untuk menumbuhkankembangkan motivasi pada siswa adalah:
Prinsip Individualitas (Perbedaan Individu)
Setiap manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian dan kejiwaan yang khas. Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas sangat penting diperhatikan karena:
a. Setiap anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang berbeda
b. Setiap individu berbeda cara belajarnya
c. Setiap individu mempunyai minat khusus yang berbeda
d. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda
e. Setiap individu membutuhkan bimbingan khusus dalam menerima pelajaran yang diajarkan guru sesuai dengan perbedaan individual
f. Setiap individu mempunyai irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda
Maksud dari irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda adalah bahwa siswa belajar dalam kelas dalam usia perkembangan. Masing-masing siswa tidak sama perkembangannya, ada yang cepat ada yang lambat maka guru harus bersabar dalam tugas pelayanan belajar pada anak didiknya.
Prinsip Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu hal yang berada di luar diri individu. Lingkungan pengajaran adalah segala hal yang mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pengajaran atau sumber belajar. Diantaranya; guru, buku, dan bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar.
Prinsip Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan secara penuh terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan atau berlangsungnya suatu peristiwa. Konsentrasi sangat penting dalam segala aktivitas, terutama aktivitas belajar mengajar.
Prinsip Kebebasan
Prinsip kebebasan dalam pengajaran yang dimaksud adalah kebebasan yang demokratis, yaitu kebebasan yang diberikan kepada peserta didik dalam aturan dan disiplin tertentu. Dan disiplin merupakan suatu dimensi kebebasan dalam proses penciptaan situasi pengajaran. Seorang guru dituntut berusaha bagaimana menerapkan suatu metode mengajar yang dapat mengembangkan dimensi-dimensi kebebasan self direction, self discipline,dan self control.
Prinsip Peragaan
Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Peragaan adalah menggunakan alat indera untuk mengamati, meneliti, dan memahami sesuatu. Pemahaman yang mendalam akan lahir dari analisa yang komprehensif sehingga menghasilkan gambaran yang lengkap tentang sesuatu.
Agar siswa dapat mengingat, menceritakan, dan melaksanakan suatu pelajaran yang pernah diamati, diterima, atau dialami di kelas, maka perlu didukung dengan peragaan-peragaan (media pengajaran) yang bisa mengkonkritkan yang abstrak.
Prinsip Kerjasama Dan Persaingan
Kerjasama dan persaingan adalah dua hal berbeda. Namun dalam dunia pendidikan (prinsip pengajaran) keduanya bisa bernilai positif selama dikelola dengan baik. Persaingan yang dimaksud bukan persaingan untuk saling menjatuhkan dan yang lain direndahkan, tetapi persaingan yang dimaksud adalah persaingan dalam kelompok belajar agar mencapai hasil yang lebih tinggi tanpa menjatuhkan orang atau siswa lain.
Prinsip Apersepsi
Apersepsi berasal dari kata ”Apperception” berarti menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki. Atau kesadaran seseorang untuk berasosiasi dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi.
Apersepsi dalam pengajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru.
Prinsip Korelasi
Korelasi yaitu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan anak atau dengan pelajaran lain sehingga pelajaran itu bermakna baginya. Korelasi akan melahirkan asosiasi dan apersepsi sehingga dapat membangkitkan minat siswa pada pelajaran yang disampaikan.
Prinsip Efisiensi dan Efektifitas
Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya. Jadi semua aspek pengajaran (guru dan peserta didik) menyadari bahwa pengajaran yang ada dalam kurikulum mempunyai manfaat bagi siswa pada masa mendatang.
Prinsip Globalitas
Prinsip global atau integritas adalah keseluruhan yang menjadi titik awal pengajaran. Memulai materi pelajaran dari umum ke yang khusus. Dari pengenalan sistem kepada elemen-elemen sistem. Pendapat ini terkenal dengan Psikologi Gestalt bahwa totalitas lebih memberikan sumbangan berharga dalam pengajaran.
Prinsip Permainan dan Hiburan
Setiap individu atau peserta didik sangat membutuhkan permainan dan hiburan apalagi setelah terjadi proses belajar mengajar. Bila selama dalam kelas siswa diliputi suasana hening, sepi, dan serius, akan membuat peserta didik cepat lelah, bosan, butuh istirahat, rekreasi, dan semacamnya. Maka guru disarankan agar memberikan kesempatan kepada anak didik bermain, menghibur diri, bergerak, berlari-lari, dan sejenisnya untuk mengendorkan otaknya.
Beberapa Hal Pokok Dalam Proses Belajar Mengajar
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh guru, sedangkan siswa belajar. Menurut Saiful sagala pembelajaran ialah membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang kesemua menjadi penentu dalam keberhasilan pendidikan. Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia ikut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilakn respon terhadap situasi tertentu. Menurut Omar Hamalik pembelajaran adalah
1. upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
2. pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang baik.
3. pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi masyarakat sehari-hari.
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan
mengakibatkan hasil yang tidak optimal.
Unsur-Unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :
1) Subjek yang dibimbing (peserta didik).
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya
2) Orang yang membimbing (pendidik).
Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/organisasi.
3) Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
4) Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.
5) Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya mengembangkan kebhinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.
6) Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).
Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.
7) Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).
Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar
Kegiatan Proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana, suvervisor, motivator, penanya, evaluator dan konselor.
Tugas Guru
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.
Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.
Peran Seorang Guru
a. Dalam Proses Belajar Mengajar
Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:
1) Demonstrator
2) Manajer/pengelola kelas
3) Mediator/fasilitator
4) Evaluator
b. Dalam Pengadministrasian
Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:
1) Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan
2) Wakil masyarakat
3) Ahli dalam bidang mata pelajaran
4) Penegak disiplin
5) Pelaksana administrasi pendidikan
c. Sebagai Pribadi
Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:
1) Petugas sosial
2) Pelajar dan ilmuwan
3) Orang tua
4) Teladan
5) Pengaman
d. Secara Psikologis
Peran guru secara psikologis adalah:
1) Ahli psikologi pendidikan
2) Relationship
3) Catalytic/pembaharu
4) Ahli psikologi perkembangan
Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar
Peran guru dalam proses belajar-mengajar , guru tidak hanya tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor) dan manager belajar (learning manager). Hal ini sudah sesuai dengan fungsi dari peran guru masa depan.
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan Iain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.
Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:
1) Demonstrator
2) Manajer/pengelola kelas
3) Mediator/fasilitator
4) Evaluator
Guru sebagai demonstrator
Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menetukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Guru Sebagai Pengelola Kelas
Mengajar dengan sukses berarti harus ada keterlibatan siswa secara aktif untuk belajar. Keduanya berjalan seiring, tidak ada yang mendahului antara mengajar dan belajar karena masing-masing memiliki peran yang memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya. Keberhasilan/kesuksesan guru mengajar ditentukan oleh aktivitas siswa dalam belajar, demikian juga keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan pula oleh peran guru dalam mengajar.
Guru sebagai mediator dan fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar.
Guru sebagai evaluator
Dalam dunia pendidikan, setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan akan diadakan evaluasi, artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan tadi orang selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.
Rencana Program Pembelajaran
Penyusunan program memberikan arah pada suatu program itu sendiri. Penyusunan program pembelajaran akan berujung pada persiapan mengajar sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.
Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode, teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar, dan daya dukung lainnya.
Dalam mengembangkan persiapan mengajar terlebih dahulu harus diketahui arti dan tujuannya, serta menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar.
Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang harsu dimiliki oleh peserta didik, apa yang harsu dilakukan, apa yang dipelajari,bagaimana mempelajari, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu.
Fungsi persiapan pembelajaran adalag sebagai fungsi perencanaan, dan fungsi pelaksanaan.
Prinsip-prinsip pengembangan persiapan mengajar:
1. kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas.
2. persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaknasanakan dalam kegiatan pembelajaran.
3. kegiatan-kegiatan yang disusun harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar.
4. persiapan mengajar harsu utuh dan menyeluruh.
5. harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.
Rumusan Tujuan Pembelajaran
A. Konsep, Fungsi dan Sumber Tujuan Pendidikan
1. Konsep Tujuan Pendidikan
Tujuan adalah merupakan komponen utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. Zais (1976:297) menegaskan bahwa sebagai komponen dalam kurikulum, tujuan merupakan bagian yang paling sensitif, sebab tujuan bukan hanya akan mempengaruhi bentuk kurikulum tetapi juga secara langsung merupakan fokus dari suatu program pendidikan.
Tujuan pendidikan ini sangat luas. Biasanya merupakan pernyataan tujuan pendidikan umum, yang dapat dipakai sebagai petunjuk pendidikan seluruh negara tersebut.
Beberapa istilah tujuan yang menggambarkan pada tingkat yang berbeda-beda, seperti: Aims yang menunjukkan arah umum pendidikan. Secara ideal, aims merefleksikan suatu tingkat tujuan pendidikan berdasarkan pemikiran filosofis dan psikologis masyarakat. Menurut Zais, (1976:298) aims untuk tujuan pendidikan jangka panjang yang digali dari nilai-nilai filsafat suatu Bangsa.
Di Indonesia kita kenal tingkatan/hirarkis tujuan itu dalam beberapa istilah seperti Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler, dan Tujuan Instruksional Umum dan Khusus. (Depdikbud, 1984/1985:5)
2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan institusional/goal dan tujuan kurikuler dijabarkan lagi dalam tujuan pembelajaran, tujuan ini lebih konkret dan lebih operasional yang pencapaiannya dibebankan kepada tiap pokok bahasan yang terdapat dalam tiap bidang studi. Pada saat ini tujuan pembelajaran umum dikenal dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
3. Fungsi Tujuan
Rumusan tujuan pendidikan yang tepat dapat berfungsi dan bermanfaat dalam kegiatan pengembangan kurikulum, minimal sebagai berikut:
1) Tujuan akan menjadi pedoman bagi disainer untuk menyusun kurikulum yang efektif, (Davies: 1976: 73, Pratt, 1980: 145) dengan demikian memberikan arah kepada para disainer kurikulum dalam pemilihan bahan pelajaran, yaitu bahan pelajaran yang menopang tercapainya tujuan pendidikan.
2) Tujuan merupakan pedoman bagi guru dalam menciptakan pengalaman belajar (Pratt, 1980: 145)
3) Tujuan memberikan informasi kepada siswa apa yang harus dipelajari (Pratt: 145, Davies: 73)
4) Tujuan merupakan patokan evaluasi mengenai keberhasilan program (proses belajar mengajar) (Pratt: 145, Daveis: 74)
5) Tujuan menyatakan kepada masyarakat tentang apa yang dikehendaki sekolah, apa yang hendak dicapai (Pratt: 145 – 146)
Dari uraian di atas jelas bahwa tujuan pendidikan merupakan patokan, pedoman orientasi bagi para pelaksana/pendesain pendidikan.
4. Sumber Tujuan
Kriteria yang yang hampir sama diajukan oleh Tyler (1949) yakni studi tentang pelajar, studi tentang kehidupan masyarakat di luar sekolah, dan saran-saran dari ahli mata pelajaran. Lebih jauh Tyler menekankan pendapatnya bahwa filsafat dan psikologi belajar merupakan “saringan” atau kriteria bagi penetapan lebih lanjut tujuan-tujuan pendidikan tersebut.
Menurut Zais (1976:301) sumber-sumber tujuan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yakni sumber empirik, sumber filosofi, dan sumber bidang kajian atau subject matter.
Smith, Stanley dan Shores (1957) mengajukan juga kriteria lain bagi penetapan tujuan yaitu keterwakilan, kejelasan, keterpertahankan, konsistensi dan fisibilitas.
Perumusan Tujuan Pendidikan
1. Klasifikasi Tujuan Pendidikan
Schubert (1986, 202-206) mengajukan empat tujuan pendidikan yaitu; (1)sosialisasi, (2)pencapaian, (3) pertumbuhan, dan (4)perubahan sosial. Sosialisasi merupakan tujuan yang harus dicapai anak didik agar mereka dapat hidup dengan baik dimasyarakat, dan dengan kebudayaannya.
Tujuan pendidikan pertumbuhan personal memerlukan penyesuai kurikulum yang mengakomodir kebutuhan pribadi, bakat, minat, dan kemapuan anak yang berbeda-beda. Perubahan sosial, menurut aliran ini sekolah dapat dan harus mengusahakan perbaikan sosial (Muhammad Ansyar, 1989:102).
2. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran
Oleh karena sukar menetapkan tingkat suatu tujuan yaitu, apakah itu pada tingkat tujuan pendidikan nasional (aims), atau pada tingkat sekolah, atau ruang kelas, maka Zais (1976: 308-309) mengajukan tiga kategore (fakta, keterampilan, dan sikap) biasa dipakai sebagai cara utama untuk menyusun tujuan kurikulum (goals) dan tujuan pembelajaran (objectives).
Klasifikasi tujuan yang lebih sistematis telah dikemukakan Bloom (1956) dan Krathwohl, Bloom dan Masia (1964) seperti tertera dalam Zais (1976: 304-310) Tanner dan Tanner (1975:121-131). Tujuan pendidikan diklasifikasikan pada tiga ranah besar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Proses kognitif diklasifikasikan ke dalam suatu urutan hirarkis, dari tingkat berpikir yang sederhana ke tingkat intelektual yang lebih kompleks:
1) Pengetahuan
2) Pemahaman
3) Aplikasi
4) Analisis
5) Sintesis
6) Evaluasi
Ranah afektif mencakup tujuan-tujuan yang berkaitan dengan demensi perasaan, tingkah laku, atau nilai, seperti apresiasi terhadap karya seni, berbudi pekerti luhur, dan lain-lain.
Ranah afektif dibagi menjadi lima tingkatan yang bergerak dari kesadaran yang sederhana menuju kekondisi di mana perasaan memegang peranan penting dalam mengontrol tingkah laku:
1) Menerima
2) Responsif
3) Menghargai
4) Organisasi
5) Karakteristik
Ranah psikomotor dibagi empat tingkatan, dari yang paling sederhana kepada tingkat yang paling kompleks, yaitu:
1) Observasi
2) Meniru
3) Praktek
4) Adaptasi.
3. Kriteria Perumusan Tujuan Pembelajaran
Dalam pendahuluan telah dikemukakan betapa pentingnya tujuan pendidikan dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum dan pengajaran. Tujuan merupakan dasar orientasi sekaligus sesuatu yang akan dicapai dalam semua program kegiatan pendidikan. Seperti dikatakan Hilda Taba dalam (Davies, 1976: 56)
Merumuskan tujuan seperti dijelaskan sebelumnya harus runtun yaitu tujuan umum dijabarkan pada tujuan khusus. Selanjut tujuan khusus diteliti jenis-jenisnya, dinilai kepentingannya dan dicek berdasarkan kriteria, syarat-syarat tujuan lebih formal dan terinci, sehinga setiap komponen yang ada tidak terlampaui.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan yang merupakan kriteria tujuan yang baik seperti berikut ini:
1. Tujuan harus selalu kosisten dengan tujuan tingkat di atasnya (Pratt, 1980:185). Tujuan-tujuan yang bersifat penjabaran dari suatu tujuan yang lebih tinggi jenjangnya harus sesuai atau tidak bertentangan dengan hal-hal yang diisayaratkan oleh tujuan tersebut. Misalnya tujuan instruksional yang dijabarkan langsung dari tujuan kurikuler harus mencerminkan tujuan kurikuler itu.
2. Tujuan harus tepat seksama dan teliti. Tujuan hanya berguna jika ia dirumuskan secara teliti dan tepat sehingga memungkinkan orang mempunyai kesamaan pengertian terhadapnya. Perumusan tujuan yang cermat akan memungkinkan kita untuk melaksanakannya dengan penuh kepastian.
3. Tujuan harus diidentifikasikan secara spesifik yang menggambarkan keluaran belajar yang dimaksudkan. Tujuan yang dirumuskan harus menunjuk pada pengertian keluaran dari pada kegiatan. Tujuan yang menunjukkan tingkat kemampuan atau pengetahuan siswa merupakan maksud utama kurikulum. Akan tetapi jika ia tidak pernah mengidentifikasi keluarannya, ia bukanlah tujuan kurikulum yang kualifait (Pratt, 1980:184).
4. Tujuan bersifat relevan (Davies, 1976:17) dan berfungsi (Pratt,1980:186). Masalah kerelevansian berhubungan dengan persoalan personal dan sosial, atau masalah praktis yang dihadapi individu dan masyarakat. Memang harus diakui bahwa terdapat perbedaan pengertian tentang kerelevansian itu karena adanya perbedaan masalah dan kepentingan antara tiap individu dan masyarakat. Jadi kerelevansian itu berkaitan dengan pengertian untuk siapa dan kapan. Di samping relevan, tujuan pun harus berfungsi personal maupun sosial. Suatu tujuan dikatakan berfungsi personal jika ia memberi manfaat bagi individu yang belajar untuk masa kini dan masa akan datang, dan berfungsi sosial jika ia memberi mafaat bagi masyarakat di samping pelajar.
5. Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dicapai. Tujuan yang dirumuskan harus memungkinkan orang, pelaksana kurikulum untuk mencapainya sesuai kemampuan yang ada. Masalah kemampuan itu berkaitan dengan masalah tenaga, tingkat sekolah, waktu, dana, skope materi, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya. Perumusan tujuan yang terlalu muluk (karena terasa lebih ideal) dan melupakan faktor kemampuan atau realitas hanya akan berakibat tujuan itu tak tercapai. Suatu program kegiatan dikatakan efektif jika hasil yang dicapai dapat sesuai atau paling tidak, tidak terlalu jauh berbeda dengan perencanaan.
6. Tujuan harus memenuhi kriteria kepantasan worthwhilness (Davies, 1976:18). Pengertian “pantas” mengarah pada kegiatan memilih tujuan yang dianggap lebih memiliki potensi, bersifat mendidik, dan lebih bernilai. Memang agak sulit menentukan tujuan yang lebih pantas karena dalam hal ini orang bisa mengalami perbedaan kesepakatan pengertian. Secara umum kita boleh mengatakan bahwa kriteria kepantasan harus didasarkan pada pertimbangan objektif, dengan argumentasi yang objektif. Dalam hal ini Profesor Peter dalam (Davies, 1976:18) menyarankan tiga kriteria (a) aktivitas harus berfungsi dari waktu ke waktu, (b) aktivitas harus bersifat selaras dan seimbang dari pada bersaing, mengarah ke keharomonisan secara keseluruhan, dan (c) aktivitas harus bernilai dan sungguh-sungguh khususnya yang menunjang dan memajukan keseluruhan kualitas hidup.
Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.
2. Teori Behaviorisme
Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu:
a. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
b. Bersifat mekanistis
c. Menekankan peranan lingkungan
d. Mementingkan pembentukan reaksi atau respons
e. Menekankan pentingnya latihan
Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun behaviorisme ini, antara lain:
a. Teori Koneksionisme
Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama.
Selanjutnya, dalam teori koneksionisme dikemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut:
1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dimana hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Implikasi praktis dari hukum ini adalah, bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidak adanya kesiapan.
2) Hukum Latihan (Law of Exercise)
Hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan semakin dikuasainya pelajaran itu.
3) Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorang dapat mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar menyenangkan dirinya,
b. Teori Pengkondisian (Conditioning)
Teori pengkondisian (conditioning) merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov (1849-1936). Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari Rusia.
c. Teori Penguatan (Reinforcement)
Kalau pada teori pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah perangsangnya (stimulus), maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak yang belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian, maka guru memberikan penghargaan pada anak itu dengan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat lagi. Hadiah itu me-reinforce hubungan antara stimulus dan respons.
d. Teori Operant Conditioning
Psikologi penguatan atau “operant conditioning” merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan “conditioning”. Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses “conditioning” yang pada prinsipnya memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dengan respons.
3. Teori Cognitive Gestalt-Filed
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. Rumpun psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.
Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.
c. Belajar berkat insight
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
d. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.
C. Prinsip-Prinsip Pengajaran
Tugas guru mengelola pengajaran dengan lebih baik, efektif, dinamis, efisien, ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara aktif, mengalami, serta memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Ada beberapa prinsip pengajaran diantaranya adalah:
Prinsip Aktivitas
Pengalaman belajar yang baik hanya bisa didapat bila peserta didik mau mengaktifkan dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap lingkungan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota badan. Dalam prinsip ini, maka tugas guru dalam mengajar antara lain:
Prinsip Motivasi
Motivasi berasal kata motive–motivation yang berarti dorongan atau keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik) maupun dorongan dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa, yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan. Beberapa cara untuk menumbuhkankembangkan motivasi pada siswa adalah:
Prinsip Individualitas (Perbedaan Individu)
Setiap manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian dan kejiwaan yang khas. Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas sangat penting diperhatikan karena:
a. Setiap anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang berbeda
b. Setiap individu berbeda cara belajarnya
c. Setiap individu mempunyai minat khusus yang berbeda
d. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda
e. Setiap individu membutuhkan bimbingan khusus dalam menerima pelajaran yang diajarkan guru sesuai dengan perbedaan individual
f. Setiap individu mempunyai irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda
Maksud dari irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda adalah bahwa siswa belajar dalam kelas dalam usia perkembangan. Masing-masing siswa tidak sama perkembangannya, ada yang cepat ada yang lambat maka guru harus bersabar dalam tugas pelayanan belajar pada anak didiknya.
Prinsip Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu hal yang berada di luar diri individu. Lingkungan pengajaran adalah segala hal yang mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pengajaran atau sumber belajar. Diantaranya; guru, buku, dan bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar.
Prinsip Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan secara penuh terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan atau berlangsungnya suatu peristiwa. Konsentrasi sangat penting dalam segala aktivitas, terutama aktivitas belajar mengajar.
Prinsip Kebebasan
Prinsip kebebasan dalam pengajaran yang dimaksud adalah kebebasan yang demokratis, yaitu kebebasan yang diberikan kepada peserta didik dalam aturan dan disiplin tertentu. Dan disiplin merupakan suatu dimensi kebebasan dalam proses penciptaan situasi pengajaran. Seorang guru dituntut berusaha bagaimana menerapkan suatu metode mengajar yang dapat mengembangkan dimensi-dimensi kebebasan self direction, self discipline,dan self control.
Prinsip Peragaan
Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Peragaan adalah menggunakan alat indera untuk mengamati, meneliti, dan memahami sesuatu. Pemahaman yang mendalam akan lahir dari analisa yang komprehensif sehingga menghasilkan gambaran yang lengkap tentang sesuatu.
Agar siswa dapat mengingat, menceritakan, dan melaksanakan suatu pelajaran yang pernah diamati, diterima, atau dialami di kelas, maka perlu didukung dengan peragaan-peragaan (media pengajaran) yang bisa mengkonkritkan yang abstrak.
Prinsip Kerjasama Dan Persaingan
Kerjasama dan persaingan adalah dua hal berbeda. Namun dalam dunia pendidikan (prinsip pengajaran) keduanya bisa bernilai positif selama dikelola dengan baik. Persaingan yang dimaksud bukan persaingan untuk saling menjatuhkan dan yang lain direndahkan, tetapi persaingan yang dimaksud adalah persaingan dalam kelompok belajar agar mencapai hasil yang lebih tinggi tanpa menjatuhkan orang atau siswa lain.
Prinsip Apersepsi
Apersepsi berasal dari kata ”Apperception” berarti menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki. Atau kesadaran seseorang untuk berasosiasi dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi.
Apersepsi dalam pengajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru.
Prinsip Korelasi
Korelasi yaitu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan anak atau dengan pelajaran lain sehingga pelajaran itu bermakna baginya. Korelasi akan melahirkan asosiasi dan apersepsi sehingga dapat membangkitkan minat siswa pada pelajaran yang disampaikan.
Prinsip Efisiensi dan Efektifitas
Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya. Jadi semua aspek pengajaran (guru dan peserta didik) menyadari bahwa pengajaran yang ada dalam kurikulum mempunyai manfaat bagi siswa pada masa mendatang.
Prinsip Globalitas
Prinsip global atau integritas adalah keseluruhan yang menjadi titik awal pengajaran. Memulai materi pelajaran dari umum ke yang khusus. Dari pengenalan sistem kepada elemen-elemen sistem. Pendapat ini terkenal dengan Psikologi Gestalt bahwa totalitas lebih memberikan sumbangan berharga dalam pengajaran.
Prinsip Permainan dan Hiburan
Setiap individu atau peserta didik sangat membutuhkan permainan dan hiburan apalagi setelah terjadi proses belajar mengajar. Bila selama dalam kelas siswa diliputi suasana hening, sepi, dan serius, akan membuat peserta didik cepat lelah, bosan, butuh istirahat, rekreasi, dan semacamnya. Maka guru disarankan agar memberikan kesempatan kepada anak didik bermain, menghibur diri, bergerak, berlari-lari, dan sejenisnya untuk mengendorkan otaknya.
Beberapa Hal Pokok Dalam Proses Belajar Mengajar
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh guru, sedangkan siswa belajar. Menurut Saiful sagala pembelajaran ialah membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang kesemua menjadi penentu dalam keberhasilan pendidikan. Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia ikut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilakn respon terhadap situasi tertentu. Menurut Omar Hamalik pembelajaran adalah
1. upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
2. pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang baik.
3. pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi masyarakat sehari-hari.
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan
mengakibatkan hasil yang tidak optimal.
Unsur-Unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :
1) Subjek yang dibimbing (peserta didik).
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya
2) Orang yang membimbing (pendidik).
Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/organisasi.
3) Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
4) Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.
5) Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya mengembangkan kebhinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.
6) Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).
Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.
7) Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).
Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar
Kegiatan Proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana, suvervisor, motivator, penanya, evaluator dan konselor.
Tugas Guru
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.
Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.
Peran Seorang Guru
a. Dalam Proses Belajar Mengajar
Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:
1) Demonstrator
2) Manajer/pengelola kelas
3) Mediator/fasilitator
4) Evaluator
b. Dalam Pengadministrasian
Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:
1) Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan
2) Wakil masyarakat
3) Ahli dalam bidang mata pelajaran
4) Penegak disiplin
5) Pelaksana administrasi pendidikan
c. Sebagai Pribadi
Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:
1) Petugas sosial
2) Pelajar dan ilmuwan
3) Orang tua
4) Teladan
5) Pengaman
d. Secara Psikologis
Peran guru secara psikologis adalah:
1) Ahli psikologi pendidikan
2) Relationship
3) Catalytic/pembaharu
4) Ahli psikologi perkembangan
Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar
Peran guru dalam proses belajar-mengajar , guru tidak hanya tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor) dan manager belajar (learning manager). Hal ini sudah sesuai dengan fungsi dari peran guru masa depan.
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan Iain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.
Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:
1) Demonstrator
2) Manajer/pengelola kelas
3) Mediator/fasilitator
4) Evaluator
Guru sebagai demonstrator
Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menetukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Guru Sebagai Pengelola Kelas
Mengajar dengan sukses berarti harus ada keterlibatan siswa secara aktif untuk belajar. Keduanya berjalan seiring, tidak ada yang mendahului antara mengajar dan belajar karena masing-masing memiliki peran yang memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya. Keberhasilan/kesuksesan guru mengajar ditentukan oleh aktivitas siswa dalam belajar, demikian juga keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan pula oleh peran guru dalam mengajar.
Guru sebagai mediator dan fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar.
Guru sebagai evaluator
Dalam dunia pendidikan, setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan akan diadakan evaluasi, artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan tadi orang selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.
Rencana Program Pembelajaran
Penyusunan program memberikan arah pada suatu program itu sendiri. Penyusunan program pembelajaran akan berujung pada persiapan mengajar sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.
Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode, teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar, dan daya dukung lainnya.
Dalam mengembangkan persiapan mengajar terlebih dahulu harus diketahui arti dan tujuannya, serta menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar.
Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang harsu dimiliki oleh peserta didik, apa yang harsu dilakukan, apa yang dipelajari,bagaimana mempelajari, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu.
Fungsi persiapan pembelajaran adalag sebagai fungsi perencanaan, dan fungsi pelaksanaan.
Prinsip-prinsip pengembangan persiapan mengajar:
1. kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas.
2. persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaknasanakan dalam kegiatan pembelajaran.
3. kegiatan-kegiatan yang disusun harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar.
4. persiapan mengajar harsu utuh dan menyeluruh.
5. harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.
Rumusan Tujuan Pembelajaran
A. Konsep, Fungsi dan Sumber Tujuan Pendidikan
1. Konsep Tujuan Pendidikan
Tujuan adalah merupakan komponen utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. Zais (1976:297) menegaskan bahwa sebagai komponen dalam kurikulum, tujuan merupakan bagian yang paling sensitif, sebab tujuan bukan hanya akan mempengaruhi bentuk kurikulum tetapi juga secara langsung merupakan fokus dari suatu program pendidikan.
Tujuan pendidikan ini sangat luas. Biasanya merupakan pernyataan tujuan pendidikan umum, yang dapat dipakai sebagai petunjuk pendidikan seluruh negara tersebut.
Beberapa istilah tujuan yang menggambarkan pada tingkat yang berbeda-beda, seperti: Aims yang menunjukkan arah umum pendidikan. Secara ideal, aims merefleksikan suatu tingkat tujuan pendidikan berdasarkan pemikiran filosofis dan psikologis masyarakat. Menurut Zais, (1976:298) aims untuk tujuan pendidikan jangka panjang yang digali dari nilai-nilai filsafat suatu Bangsa.
Di Indonesia kita kenal tingkatan/hirarkis tujuan itu dalam beberapa istilah seperti Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler, dan Tujuan Instruksional Umum dan Khusus. (Depdikbud, 1984/1985:5)
2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan institusional/goal dan tujuan kurikuler dijabarkan lagi dalam tujuan pembelajaran, tujuan ini lebih konkret dan lebih operasional yang pencapaiannya dibebankan kepada tiap pokok bahasan yang terdapat dalam tiap bidang studi. Pada saat ini tujuan pembelajaran umum dikenal dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
3. Fungsi Tujuan
Rumusan tujuan pendidikan yang tepat dapat berfungsi dan bermanfaat dalam kegiatan pengembangan kurikulum, minimal sebagai berikut:
1) Tujuan akan menjadi pedoman bagi disainer untuk menyusun kurikulum yang efektif, (Davies: 1976: 73, Pratt, 1980: 145) dengan demikian memberikan arah kepada para disainer kurikulum dalam pemilihan bahan pelajaran, yaitu bahan pelajaran yang menopang tercapainya tujuan pendidikan.
2) Tujuan merupakan pedoman bagi guru dalam menciptakan pengalaman belajar (Pratt, 1980: 145)
3) Tujuan memberikan informasi kepada siswa apa yang harus dipelajari (Pratt: 145, Davies: 73)
4) Tujuan merupakan patokan evaluasi mengenai keberhasilan program (proses belajar mengajar) (Pratt: 145, Daveis: 74)
5) Tujuan menyatakan kepada masyarakat tentang apa yang dikehendaki sekolah, apa yang hendak dicapai (Pratt: 145 – 146)
Dari uraian di atas jelas bahwa tujuan pendidikan merupakan patokan, pedoman orientasi bagi para pelaksana/pendesain pendidikan.
4. Sumber Tujuan
Kriteria yang yang hampir sama diajukan oleh Tyler (1949) yakni studi tentang pelajar, studi tentang kehidupan masyarakat di luar sekolah, dan saran-saran dari ahli mata pelajaran. Lebih jauh Tyler menekankan pendapatnya bahwa filsafat dan psikologi belajar merupakan “saringan” atau kriteria bagi penetapan lebih lanjut tujuan-tujuan pendidikan tersebut.
Menurut Zais (1976:301) sumber-sumber tujuan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yakni sumber empirik, sumber filosofi, dan sumber bidang kajian atau subject matter.
Smith, Stanley dan Shores (1957) mengajukan juga kriteria lain bagi penetapan tujuan yaitu keterwakilan, kejelasan, keterpertahankan, konsistensi dan fisibilitas.
Perumusan Tujuan Pendidikan
1. Klasifikasi Tujuan Pendidikan
Schubert (1986, 202-206) mengajukan empat tujuan pendidikan yaitu; (1)sosialisasi, (2)pencapaian, (3) pertumbuhan, dan (4)perubahan sosial. Sosialisasi merupakan tujuan yang harus dicapai anak didik agar mereka dapat hidup dengan baik dimasyarakat, dan dengan kebudayaannya.
Tujuan pendidikan pertumbuhan personal memerlukan penyesuai kurikulum yang mengakomodir kebutuhan pribadi, bakat, minat, dan kemapuan anak yang berbeda-beda. Perubahan sosial, menurut aliran ini sekolah dapat dan harus mengusahakan perbaikan sosial (Muhammad Ansyar, 1989:102).
2. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran
Oleh karena sukar menetapkan tingkat suatu tujuan yaitu, apakah itu pada tingkat tujuan pendidikan nasional (aims), atau pada tingkat sekolah, atau ruang kelas, maka Zais (1976: 308-309) mengajukan tiga kategore (fakta, keterampilan, dan sikap) biasa dipakai sebagai cara utama untuk menyusun tujuan kurikulum (goals) dan tujuan pembelajaran (objectives).
Klasifikasi tujuan yang lebih sistematis telah dikemukakan Bloom (1956) dan Krathwohl, Bloom dan Masia (1964) seperti tertera dalam Zais (1976: 304-310) Tanner dan Tanner (1975:121-131). Tujuan pendidikan diklasifikasikan pada tiga ranah besar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Proses kognitif diklasifikasikan ke dalam suatu urutan hirarkis, dari tingkat berpikir yang sederhana ke tingkat intelektual yang lebih kompleks:
1) Pengetahuan
2) Pemahaman
3) Aplikasi
4) Analisis
5) Sintesis
6) Evaluasi
Ranah afektif mencakup tujuan-tujuan yang berkaitan dengan demensi perasaan, tingkah laku, atau nilai, seperti apresiasi terhadap karya seni, berbudi pekerti luhur, dan lain-lain.
Ranah afektif dibagi menjadi lima tingkatan yang bergerak dari kesadaran yang sederhana menuju kekondisi di mana perasaan memegang peranan penting dalam mengontrol tingkah laku:
1) Menerima
2) Responsif
3) Menghargai
4) Organisasi
5) Karakteristik
Ranah psikomotor dibagi empat tingkatan, dari yang paling sederhana kepada tingkat yang paling kompleks, yaitu:
1) Observasi
2) Meniru
3) Praktek
4) Adaptasi.
3. Kriteria Perumusan Tujuan Pembelajaran
Dalam pendahuluan telah dikemukakan betapa pentingnya tujuan pendidikan dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum dan pengajaran. Tujuan merupakan dasar orientasi sekaligus sesuatu yang akan dicapai dalam semua program kegiatan pendidikan. Seperti dikatakan Hilda Taba dalam (Davies, 1976: 56)
Merumuskan tujuan seperti dijelaskan sebelumnya harus runtun yaitu tujuan umum dijabarkan pada tujuan khusus. Selanjut tujuan khusus diteliti jenis-jenisnya, dinilai kepentingannya dan dicek berdasarkan kriteria, syarat-syarat tujuan lebih formal dan terinci, sehinga setiap komponen yang ada tidak terlampaui.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan yang merupakan kriteria tujuan yang baik seperti berikut ini:
1. Tujuan harus selalu kosisten dengan tujuan tingkat di atasnya (Pratt, 1980:185). Tujuan-tujuan yang bersifat penjabaran dari suatu tujuan yang lebih tinggi jenjangnya harus sesuai atau tidak bertentangan dengan hal-hal yang diisayaratkan oleh tujuan tersebut. Misalnya tujuan instruksional yang dijabarkan langsung dari tujuan kurikuler harus mencerminkan tujuan kurikuler itu.
2. Tujuan harus tepat seksama dan teliti. Tujuan hanya berguna jika ia dirumuskan secara teliti dan tepat sehingga memungkinkan orang mempunyai kesamaan pengertian terhadapnya. Perumusan tujuan yang cermat akan memungkinkan kita untuk melaksanakannya dengan penuh kepastian.
3. Tujuan harus diidentifikasikan secara spesifik yang menggambarkan keluaran belajar yang dimaksudkan. Tujuan yang dirumuskan harus menunjuk pada pengertian keluaran dari pada kegiatan. Tujuan yang menunjukkan tingkat kemampuan atau pengetahuan siswa merupakan maksud utama kurikulum. Akan tetapi jika ia tidak pernah mengidentifikasi keluarannya, ia bukanlah tujuan kurikulum yang kualifait (Pratt, 1980:184).
4. Tujuan bersifat relevan (Davies, 1976:17) dan berfungsi (Pratt,1980:186). Masalah kerelevansian berhubungan dengan persoalan personal dan sosial, atau masalah praktis yang dihadapi individu dan masyarakat. Memang harus diakui bahwa terdapat perbedaan pengertian tentang kerelevansian itu karena adanya perbedaan masalah dan kepentingan antara tiap individu dan masyarakat. Jadi kerelevansian itu berkaitan dengan pengertian untuk siapa dan kapan. Di samping relevan, tujuan pun harus berfungsi personal maupun sosial. Suatu tujuan dikatakan berfungsi personal jika ia memberi manfaat bagi individu yang belajar untuk masa kini dan masa akan datang, dan berfungsi sosial jika ia memberi mafaat bagi masyarakat di samping pelajar.
5. Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dicapai. Tujuan yang dirumuskan harus memungkinkan orang, pelaksana kurikulum untuk mencapainya sesuai kemampuan yang ada. Masalah kemampuan itu berkaitan dengan masalah tenaga, tingkat sekolah, waktu, dana, skope materi, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya. Perumusan tujuan yang terlalu muluk (karena terasa lebih ideal) dan melupakan faktor kemampuan atau realitas hanya akan berakibat tujuan itu tak tercapai. Suatu program kegiatan dikatakan efektif jika hasil yang dicapai dapat sesuai atau paling tidak, tidak terlalu jauh berbeda dengan perencanaan.
6. Tujuan harus memenuhi kriteria kepantasan worthwhilness (Davies, 1976:18). Pengertian “pantas” mengarah pada kegiatan memilih tujuan yang dianggap lebih memiliki potensi, bersifat mendidik, dan lebih bernilai. Memang agak sulit menentukan tujuan yang lebih pantas karena dalam hal ini orang bisa mengalami perbedaan kesepakatan pengertian. Secara umum kita boleh mengatakan bahwa kriteria kepantasan harus didasarkan pada pertimbangan objektif, dengan argumentasi yang objektif. Dalam hal ini Profesor Peter dalam (Davies, 1976:18) menyarankan tiga kriteria (a) aktivitas harus berfungsi dari waktu ke waktu, (b) aktivitas harus bersifat selaras dan seimbang dari pada bersaing, mengarah ke keharomonisan secara keseluruhan, dan (c) aktivitas harus bernilai dan sungguh-sungguh khususnya yang menunjang dan memajukan keseluruhan kualitas hidup.
PP
1. Landasan Filsafat dan Landasan Teoritik
A. Landasan Filsafat
Berdasarkan tinjauan filsafat ilmu, setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang didukungnya, termasuk Teknologi Pembelajaran sebagai disiplin ilmu. Ketiga tiang penyangga dimaksud yaitu landasan ontologi (apa), landasan epitimologi (bagaimana) dan landasan aksiologi (siapa). Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut. Epistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka yang menjadi ruang lingkup objek penelaahan (azas ontologi) teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu adalah masalah “BELAJAR” pada manusia, karena : belajar merupakan hak semua orang dan berlangsung sepanjang hayat, mengenai apa, dari siapa, bagaimana saja belajar tersebut. Akan tetapi kesempatan belajar yang ada masih terbatas, sumber tradisional juga semakin terbatas, serta sumber yang ada dan potensial belum didayagunakan. Oleh karena itu, perlu adanya usaha khusus untuk mewujudkan kesempatan belajar dengan mengoptimalkan sumber dan potensial yang ada, perlu adanya pengelolaan yang inovatif, dan reformatif tentang belajar pada manusia. Alasan lain, kenapa masalah belajar menjadi objek formal kajian (azas ontologi) teknologi pembelajaran adalah tidak lepas dari pemikiran tentang pendidikan itu sendiri. Dimana, agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapi pada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Sedangkan Dasar epistemologis dari teknologi pembelajaran adalah berangkat dari sebuah konsesi dasar filsafati bahwa dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Demikianpun dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian (bidang ilmu). Dalam kaitan dengan ini, pendekatan dalam menyusun dan membangun pengetahuan (azas pistemologis) yang dikembangkan dalam teknologi pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut: (1) keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah; (2) unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinali dan dikelola sebagai suatu kesatuan dan ditujukan untuk memecahkan masalah; (3) penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. Kemudian, azas aksiologi teknologi pembelajaran di sini berkenaan dengan kegunaan dan pemanfaatan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang meliputi 5 kawasan teknologi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, berikut kegunaan potensial teknologi pembelajaran: (1) meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan memperlaju penahapan belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belaar anak; (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya; (3) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistemik, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi dengan penelitian tentang perilaku; (4) lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih kongkrit; (5) memungkinkan belajar secara lebih akrab karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah, memberikan pengetahuan tangan pertama; (6) memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas, penyajian informasi menembus batas geografi. Disamping itu, manfaat lain yang dapat diambil dengan adanya bidang teknologi pembelajaran ialah antara lain: Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan), penyempurnaan system pendidikan, meluas dan meratanya kesempatan serta akses pendidikan, penyesuaian dengan kondisi pembelajaran, penyelarasan dengan perkembangan lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.
B. Landasan Teoritis
Landasan Teori dari Ilmu Perilaku
Lumsdaine menyatakan bahwa teori belajar behavioristik memiliki andil besar dalam perkembangan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknolgi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistemik guna keperluan pembelajaran. Selanjutnya, Saetler melalui stdi penelusurannya terhadap sejarah perkembangan teknologi pembelajaran kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa pemikiran Thorndike dengan teori psikologi perkembangannya yang beraliran behavioristik merupakan landasan pertama kearah teknologi pembelajaran. Tiga hukum utama yang diajukan oleh thorndike yaitu: (1). Law of exercise (hukum latihan). Prinsip yang melekat pada hukum ini yaitu bahwa makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan. Terkait dengan hukum ini, Thorndike memperkenalkan dua prinsip yaitu prinsip law of use dan prinsip law of disuse. Law of use atau hukum penggunaan ialah koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai. Dengan kata lain, melatih koneksi (hubungan) antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons akan memperkuat koneksi diantara keduanya. Sementara Law of disuse atau hukum ketidakgunaan ialah koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan, atau jika ikatan neural tidak dipakai; (2) Law of Effect (hukum efek). Prinsip mendasar dari hukum effek ini adalah bahwa suatu respon akan semakin diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang; (3) Law of Readiness (hukum kesiapan). Hukum kesiapan ini dikemukakan oleh Thorndike dalam bukunya yang berjudul The Original Nature of Man, (Thorndike 1913a,p.125), dapat dijelaskan disini antara lain adalah; (1) apabila suatu konduksi siap menyalurkan (to conduct), maka penyaluran dengannya akan memuaskan, (2) apabila suatu konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan, (3) apabila suatu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan. Selanjutnya, pemikiran inilah yang menjadi landasan awal perkembangan teknologi pembelajaran. Disamping itu, rumusannya tentang prinsip-prinsip aktivitas diri, minat/motivasi, kesiapan mental, individualisasi dan sosialisasi pada fase berikutnya “menurut Saettler” menjadi entri point dalam perkembangan teknologi pembelajaran selanjutnya. Untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun tetap dengan memperhatikan minat dan respons anak terhadap stimulus yang diberikan. Stimulus yang diberikan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak serta perbedaan karakteristik masing-masing individu. Oleh karena itu situasi dan lingkungan belajar perlu dirancang sedemikian rupa serta dalam praksis pembelajarannya sedapat mungkin menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru. Kemudian, teori berikutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori penguatan (reinforcement) yang dikemukakan oleh Skiner. Skiner menyaatakan bahwa belajar dengan memperoleh jawaban yang tepat menjadi suatu hal yang tidak penting dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa fokus nyata pada pendidikan haruslah pada pemberian penguatan yang konsisten, segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkannya. Lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa dari hasil-hasil percobaannya menunjukkan bahwa siswa akan lebih mudah menjawabnya apabila dilengkapi dengan suatu pengalaman belajar. Pelajaran diawali dengan tugas-tugas yang relatif mudah dan sudah dikenal kemudian meningkat secara perlahan-lahan melalui tugas-tugas dan bahan baru. Berangkat dari pandangannya inilah kemudian Skiner mengembangkan Mesin Pengajaran yang disebut dengan Theaching Machine sebagai media untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Prinsip kerja mesin ini, yaitu jika jawaban siswa salah maka mesin tidak akan memberikan reaksi namun sebaliknya jika jawaban siswa benar mesin akan memberikan reaksi dalam bentuk menghadirkan pertanyaan baru. Reaksi pemberian pertanyaan baru ini lah yang kemudian disebut dengan proses reinforcement. Dalam kaitannya dengan penguatan ini, Skiner mengemukakan tiga variabel penting yaitu: (1) peristiwa dimana perilaku berlangsung; (2) perilaku itu sendiri; (3) akibat dari perilaku itu. Kalau semula mengajar hanya memperhatikan bagaimana mengatur stimulus atau pesan yang disampaikan kepada siswa, maka dengan pendapat ini yang lebih diperhatikan adalah respons dari siswa serta tanggapan kepada siswa atas responsnya itu. Kemudian beberapa prinsip yang dijabarkan dari teori penguatan ini, diantaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung untuk lebih bertahan; penguatan positif lebih berarti dari yang negatif; penguatan langsung lebih efektif dari penguatan tertunda; penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari pada yang jarang. Berangkat dari paradigma Skiner inilah kemudian menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Teori selanjutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori kurikulum dan pembelajaran. Teori ini mulai muncul pada sekitar akhir tahun 1950-an bersamaan dengan gerakan pembaharuan kurikulum. Pada saat itu dirasakan perlunya landasan yang lebih ilmiah dan sistematik untuk penyusunan kurikulum. Brunner (1966) mengemukakan teori penyusunan dan pelaksanaan kurikulum dengan suatu paradigma di mana suatu tim besar yang terdiri dari ahli bidang studi, guru, dan ahli psikologi mulai menyusun kurikulum yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat buku, media atau bahan lain dan saran kegiatan di kelas. Keseluruhan bahan ini lebih lanjut oleh tim lokal (wilayah) untuk penyempurnaan dan penentuan cara penyajian, yaitu melalui pembelajaran di kelas atau pembelajaran bermedia, yang keduanya saling berkaitan. Bruner, mendasarkan pandangannya ini pada dua premis dasar yaitu; (1) guru kelas tidak mungkin dapat mengikuti perkembangan bidang studi sambil mengajar dengan penuh; dan (2) guru kelas tidak mempunyai keterampilan metodologi yang cukup untuk melaksanakan pendekatan pemecahan masalah. Keterampilan ini akan diperoleh dengan melaksanakan suatu model yang disajikan melalui pembelajaran bermedia.
Landasan Teori dari Ilmu Komunikasi
Sebagaimana telah dipahami bahwa teknologi pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Edgar Dale yang terkenal dengan “kerucut pengalamannya” (cone of exsperience) menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual. Pemikiran Edgar Dale ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dan komunikasi audiovisual. Kerucut pengalaman Edgar Dale dengan rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, dari yang bersifat kongkrit ke yang abstrak telah menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi. Selanjutnya, teori komunikasi lainnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai bidang studi adalah teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver. Teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver bersifat linear dengan arah tertentu dan tetap yaitu dari sumber (komunikator) kepada penerima (komunikan). Satu unsur yang perlu diperhatikan menurut teori ini bahwa dalam proses komunikasi pasti terdapat gangguan (noise), yang senantiasa ada dalam setiap situasi komunikasi. Teori Shannon dan Weaver ini kemudian disempurnakan oleh Schramm dengan menambahkan dua unsur baru yaitu adanya lingkup pengalaman (field of experience) dan umpan balik. Dengan adanya dua unsur baru ini Schramm menekankan pada adanya kesaaan interpretasi akan arti lambang yang dipakai. Kemudian, teori komunikasi berikutnya yang melandasi perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo dan teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid. Teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo membawa implikasi dalam perkembangan teknologi pembelajaran, dimana dimasukkannya orang dan bahan sebagai sumber yang merupakan bagian integral dari teknologi pembelajaran. Isi pesan beserta struktur dan penggarapannya juga merupakan bagian dari teknologi pembelajaran. Segala bentuk pesan (lambang, verbal, taktil, serta ujud nyata) merupakan bagian dari keseluruhan proses komunikasi, dan dengan demikian juga menjadi bagian dari teknologi pembelajaran. Sedangkan dalam teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid mendasarkan pada sebuah prinsip bahwa komunikasi itu berlangsung tanpa awal dan akhir, sepanjang manusia sadar akan diri dan lingkungannya. Proses komunikasi tidak berlangsung antar individu saja melainkan dalam suatu realitas sosial. Pengaruh teori ini dalam pendidikan adalah: (1) pendidikan seumur hidup yang berlangsung sepanjang orang sadar akan diri dan lingkungannya; (2) pendidikan gerak cepat dan tepat yang lebih mengacu pada kemampuan untuk hidup di masyarakat; (3) pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi; (4) pendidikan yang menarik perhatian dengan cara penyajian yang bervariasi dan merangsang sebanyak mungkin indera; (5) pendidikan yang menyebar, baik pelayanannya maupun peranannya; dan (6) pendidikan yang mustari (tepat saat) menyusup tanpa niat sebelumnya, yaitu pada saat ada kekosongan pikiran. Kesemunya itu, merupakan landasan strategis dalam perkembangan teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang kajian. Pada bagian lain, teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang profesi sekaligus sebagai sebuah bidang kajian, tentunya mengalami proses pengkajian jati diri kearah yang lebih baik. Proses ini, tentunya melalui tahapan-tahapan pengkajian yang sistematis dan terencana dengan hasil yang terukur. Proses dimaksud dilakukan melalui kegiatan penelitian untuk menopang perkembangan ke lima kawasan teknologi pembelajaran.
2. Kedudukan penelitian pada domain teknologi pembelajaran.
Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2) yaitu Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pembelajaran baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pembelajaran. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut . Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pembelajaran, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pembelajaran, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya. Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pembelajaran. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
3. Implementasi teori preskriptif dalam pembelajaran
pembelajaran harus dikelola secara kompetitif dan inovatif. Sebab, lewat pembelajaran yang kompetitif, diyakini akan dapat melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan kompetisi pula. Pribadi yang kompetitif disini bukan berarti pribadi yang egoistik (Tilaar, 2000: 15). Pribadi yang kompetitif disini adalah pribadi yang inovatif melalui pembudayaan sikap kerja sama. Dengan kerja sama, dapat dikembangkan kompetisi yang sehat sehingga produk IPTEK yang dihasilkan berkualitas. Pembelajaran harus menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Artinya, pembelajaran memiliki relevansi dengan kehidupan keseharian. Oleh karena itu, materi yang diberikan harus terintegrasi satu sama lain. Contoh, misalnya ketika seorang anak belajar tentang hukum dan demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harusnya disamping dia belajar tentang teori “namun” dia seharusnya mengalami proses hukum dan demokratisasi dalam bentuk miniatur kehidupan yang dilandaskan oleh hukum dan demokrasi di kelas. Hal ini dapat diwujudkan melalui praktek “Role Playing” dan atau “demonstrasi” yang berkaitan dengan isu-isu hukum dan demokrasi. Di sisi lain, anak didik dapat dihadapkan dengan situasi nyata, melalui metode penugasan kepada anak didik untuk mereview proses hukum yang terjadi dilembaga-lembaga hukum yang ada seperti lembaga peradilan dan kepolisian. Dengan proses pembelajaran seperti tersebut, anak didik akan memiliki kekayaan teori dan praktek yang terkait dengan hukum dan demokrasi yang selanjutnya menjadi informasi penting bagi pembentukan pribadi yang sadar hukum dan demokratis. Implikasinya adalah dalam praktek pendidikan lewat praksis pembelajaran dikelas harus dikelola dan diselenggarakan dengan pendekatan pendidikan “andragogy”. Knowlis sebagaimana dikutip oleh Wiliam F. O’neil (2002: xviii) menjelaskan bahwa andragogy atau pendekatan pendidikan orang dewasa merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa. Di balik pengertian ini, Knowles ingin menempatkan murid sebagai subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyipulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai fasilitator dan bukan menggurui. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid bersifat “multicomunication” (Knowles, 1970). Dengan pendekatan ini, maka anak didik deberikan ruang untuk mengkontruk pengetahuan berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Peran guru dalam pembelajaran hanya sebatas menyiapkan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat membelajarkan dirinya dari sumber-sumber belajar yang ada dan media belajar yang disediakan guru.
4. Desain Pembelajaran berdasarkan aspek perkembangan teknologi informasi.
Sebagaimana diketahui bahwa kawasan desain adalah suatu proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Terkait dengan hal ini, maka guru sebagai pengelola pembelajaran pada era teknologi informasi saat sekarang dalam mendesain pembelajaran harus mampu menghadirkan materi dari berbagai sumber informasi yang bervariasi. Langkah ini tentunya dilandasi pada sebuah prisnsip bahwa semakin banyak informasi yang diperoleh siswa tentang sebuah masalah, maka semakin mudah lah bagi siswa untuk memecahkan masalah tersebut Prinsip ini mensyaratkan bahwa belajar adalah suatu proses pengolahan, pemanfaatan dan penggunaan informasi. Dalam konteks ini, maka semakin beragamnya informasi yang diterima oleh siswa dari berbagai sumber belajar tentunya akan semakin memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa itu sendiri tentang suatu objek yang sedang dibahas. Untuk kepentingan itu, maka guru harus mampu memanfaatkan dan mengembangakan berbagai teknologi informasi baik dalam bentuk CD Pemebelajaran maupun lewat WEB pembelajaran yang sedang trend saat ini. Dengan meningkatnya daya muat untuk mengumpulan, menyimpan, memanipulasikan dan meyajikan informasi pada era saat ini maka seyogyanya guru harus mampu mendayagunakan kelebihan tersebut dalam penyampaian materi pembelajaran kepada siswa. Misalnya desain pembelajaran berbasis internet. Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah, internet mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Poin penting lainnya, desain pembelajaran dengan pendekatan teknologi informasi adalah bahwa guru harus mampu mendesain materi sebaik mungkin, materi yang mudah dicerna oleh siswa, materi yang dapat ditangkap oleh berbagai indera yang dimiliki oleh siswa mulai indera pendengaran sampai indera penglihatan, materi yang dianggap penting dan relevan dengan kebutuhan belajar siswa. Dengan cara itu, maka informasi yang diperoleh siswa dalam bentuk materi tersebut akan tersimpan lama dalam long term memory, yang pada gilirannya nanti akan dapat dimanfaatkan oleh siswa secara tekstual.
5. Cara menjembatani perkembangan teknologi informasi yang bergitu cepat yang tidak didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah.
Satu hal yang harus menjadi catatan penting bahwa esensi dari pembelajaran adalah bagaimana terjadinya interaksi komunikatif antara beragai unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran, baik interaksi antara siswa dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru. Lewat interaksi yang terbangun itu kemudian, siswa akan memperoleh berbagai pengalaman belajar yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahamannya terhadap sebuah persoalan atau materi tertentu. Meski trend saat ini, pembelajaran lebih bersifat online namun tidak serta merta trend ini menjadi sesuatu yang harus diterapkan pada seluruh situasi pembelajaran. Sebab, bagaimanapun juga sarana dan prasara menjadi faktor kunci bagi kelancaran kegiatan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang bergitu canggih saat ini. Untuk itu, dalam menjembatani hal ini tiada jalan lain, selain dengan memaksimalkan dan mendayagunakan berbagai sumber belajar yang tersedia disekitar lingkungan peserta didik. Proses memaksimalkan ini dapat dilakukan baik dengan cara memanipulasi atau merekayasa media dan sumber belajar yang tersedia ke arah yang lebih baik dan representatif sehingga kaya akan berbagai informasi yang berimplikasi positif bagi kegiatan pembelajaran. Di samping itu, harus dipahami pula bahwa teknologi informasi baik berupa internet, email dan lain sebagainya hanya merupakan alat dan sarana pendukung kelancaran kegiatan pembelajaran, yang terpenting adalah bagaimana dalam proses pembelajaran terbangun proses yang kompleks dan terpadu. Kompleks dan terpadu disini tentunya terkait dengan pelibatan orang, prosedur, gagasan, peralatan meski seadanya namun telah dimanipulasi sehingga kaya akan informasi-informasi yang relevan dengan kegiatan pembelajaran, dan organisasi dalam menganalisis masalah, mencari jalan pemecahannya, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar siswa. Inilah inti dari teknologi pembelajaran, bukan hanya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk peralatan namun yang lebih penting bagaimana proses tersebut di atas dapat diwujudkan sehingga keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi kendala yang berarti dalam membelajarkan peserta didik.
6. Implementasi aspek budaya dalam pembelajaran di era global yang sarat dengan perkembangan TIK
Dalam era global seperti saat ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, maka proses ini tentunya akan berimplikasi pada pembentukan budaya baru dalam pembelajaran. Kalau selama ini, siswa tidak melek pada perkembangan TIK maka seiring dengan semakin menguatnya arus TIK, anak didik harus dibiasakan untuk bersentuhan dengan berbagai produk teknologi khususnya yang memiliki relevansi dengan kegiatan pembelajaran. Pembudayaan nilai kerjasama menjadi catatan penting dalam penerapan pembelajaran berbasis TIK. Hal ini dapat dilakukan dengan menugaskan kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang terkait dengan materi tertentu dalam pembelajaran, selanjutnya meminta masing-masing siswa untuk memverifikasi dan saling bertukar informasi satu sama lain. Dengan proses tersebut, maka kerjasama antar siswa dapat terbangun dan dikembangkan secara sistematis. Pada bagian lain, pembudayaa budaya saling ketergantungan dan membutuhkan dapat dilakukan dalam pembelajaran berbasis TIK. Siswa akan terhubung dengan berbagai orang di dunia maya misalnya, saling bertukar informasi, berbagi materi dan lain sebagainya. Proses ini kemudian lambat laun akan memunculkan budaya ketergantungan dikalangan siswa dengan berbagai orang yang tergabung dalam dunia maya, pada akhirnya proses ini pula akan memunculkan budaya menghargai dan menghormati sesama bangsa.
http://ftaman.wordpress.com/2010/01/02/landasan-dan-pemikiran-teknologi-pembelajaran/
A. Landasan Filsafat
Berdasarkan tinjauan filsafat ilmu, setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang didukungnya, termasuk Teknologi Pembelajaran sebagai disiplin ilmu. Ketiga tiang penyangga dimaksud yaitu landasan ontologi (apa), landasan epitimologi (bagaimana) dan landasan aksiologi (siapa). Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut. Epistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka yang menjadi ruang lingkup objek penelaahan (azas ontologi) teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu adalah masalah “BELAJAR” pada manusia, karena : belajar merupakan hak semua orang dan berlangsung sepanjang hayat, mengenai apa, dari siapa, bagaimana saja belajar tersebut. Akan tetapi kesempatan belajar yang ada masih terbatas, sumber tradisional juga semakin terbatas, serta sumber yang ada dan potensial belum didayagunakan. Oleh karena itu, perlu adanya usaha khusus untuk mewujudkan kesempatan belajar dengan mengoptimalkan sumber dan potensial yang ada, perlu adanya pengelolaan yang inovatif, dan reformatif tentang belajar pada manusia. Alasan lain, kenapa masalah belajar menjadi objek formal kajian (azas ontologi) teknologi pembelajaran adalah tidak lepas dari pemikiran tentang pendidikan itu sendiri. Dimana, agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapi pada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Sedangkan Dasar epistemologis dari teknologi pembelajaran adalah berangkat dari sebuah konsesi dasar filsafati bahwa dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Demikianpun dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian (bidang ilmu). Dalam kaitan dengan ini, pendekatan dalam menyusun dan membangun pengetahuan (azas pistemologis) yang dikembangkan dalam teknologi pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut: (1) keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah; (2) unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinali dan dikelola sebagai suatu kesatuan dan ditujukan untuk memecahkan masalah; (3) penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. Kemudian, azas aksiologi teknologi pembelajaran di sini berkenaan dengan kegunaan dan pemanfaatan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang meliputi 5 kawasan teknologi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, berikut kegunaan potensial teknologi pembelajaran: (1) meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan memperlaju penahapan belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belaar anak; (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya; (3) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistemik, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi dengan penelitian tentang perilaku; (4) lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih kongkrit; (5) memungkinkan belajar secara lebih akrab karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah, memberikan pengetahuan tangan pertama; (6) memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas, penyajian informasi menembus batas geografi. Disamping itu, manfaat lain yang dapat diambil dengan adanya bidang teknologi pembelajaran ialah antara lain: Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan), penyempurnaan system pendidikan, meluas dan meratanya kesempatan serta akses pendidikan, penyesuaian dengan kondisi pembelajaran, penyelarasan dengan perkembangan lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.
B. Landasan Teoritis
Landasan Teori dari Ilmu Perilaku
Lumsdaine menyatakan bahwa teori belajar behavioristik memiliki andil besar dalam perkembangan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknolgi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistemik guna keperluan pembelajaran. Selanjutnya, Saetler melalui stdi penelusurannya terhadap sejarah perkembangan teknologi pembelajaran kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa pemikiran Thorndike dengan teori psikologi perkembangannya yang beraliran behavioristik merupakan landasan pertama kearah teknologi pembelajaran. Tiga hukum utama yang diajukan oleh thorndike yaitu: (1). Law of exercise (hukum latihan). Prinsip yang melekat pada hukum ini yaitu bahwa makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan. Terkait dengan hukum ini, Thorndike memperkenalkan dua prinsip yaitu prinsip law of use dan prinsip law of disuse. Law of use atau hukum penggunaan ialah koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai. Dengan kata lain, melatih koneksi (hubungan) antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons akan memperkuat koneksi diantara keduanya. Sementara Law of disuse atau hukum ketidakgunaan ialah koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan, atau jika ikatan neural tidak dipakai; (2) Law of Effect (hukum efek). Prinsip mendasar dari hukum effek ini adalah bahwa suatu respon akan semakin diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang; (3) Law of Readiness (hukum kesiapan). Hukum kesiapan ini dikemukakan oleh Thorndike dalam bukunya yang berjudul The Original Nature of Man, (Thorndike 1913a,p.125), dapat dijelaskan disini antara lain adalah; (1) apabila suatu konduksi siap menyalurkan (to conduct), maka penyaluran dengannya akan memuaskan, (2) apabila suatu konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan, (3) apabila suatu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan. Selanjutnya, pemikiran inilah yang menjadi landasan awal perkembangan teknologi pembelajaran. Disamping itu, rumusannya tentang prinsip-prinsip aktivitas diri, minat/motivasi, kesiapan mental, individualisasi dan sosialisasi pada fase berikutnya “menurut Saettler” menjadi entri point dalam perkembangan teknologi pembelajaran selanjutnya. Untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun tetap dengan memperhatikan minat dan respons anak terhadap stimulus yang diberikan. Stimulus yang diberikan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak serta perbedaan karakteristik masing-masing individu. Oleh karena itu situasi dan lingkungan belajar perlu dirancang sedemikian rupa serta dalam praksis pembelajarannya sedapat mungkin menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru. Kemudian, teori berikutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori penguatan (reinforcement) yang dikemukakan oleh Skiner. Skiner menyaatakan bahwa belajar dengan memperoleh jawaban yang tepat menjadi suatu hal yang tidak penting dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa fokus nyata pada pendidikan haruslah pada pemberian penguatan yang konsisten, segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkannya. Lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa dari hasil-hasil percobaannya menunjukkan bahwa siswa akan lebih mudah menjawabnya apabila dilengkapi dengan suatu pengalaman belajar. Pelajaran diawali dengan tugas-tugas yang relatif mudah dan sudah dikenal kemudian meningkat secara perlahan-lahan melalui tugas-tugas dan bahan baru. Berangkat dari pandangannya inilah kemudian Skiner mengembangkan Mesin Pengajaran yang disebut dengan Theaching Machine sebagai media untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Prinsip kerja mesin ini, yaitu jika jawaban siswa salah maka mesin tidak akan memberikan reaksi namun sebaliknya jika jawaban siswa benar mesin akan memberikan reaksi dalam bentuk menghadirkan pertanyaan baru. Reaksi pemberian pertanyaan baru ini lah yang kemudian disebut dengan proses reinforcement. Dalam kaitannya dengan penguatan ini, Skiner mengemukakan tiga variabel penting yaitu: (1) peristiwa dimana perilaku berlangsung; (2) perilaku itu sendiri; (3) akibat dari perilaku itu. Kalau semula mengajar hanya memperhatikan bagaimana mengatur stimulus atau pesan yang disampaikan kepada siswa, maka dengan pendapat ini yang lebih diperhatikan adalah respons dari siswa serta tanggapan kepada siswa atas responsnya itu. Kemudian beberapa prinsip yang dijabarkan dari teori penguatan ini, diantaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung untuk lebih bertahan; penguatan positif lebih berarti dari yang negatif; penguatan langsung lebih efektif dari penguatan tertunda; penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari pada yang jarang. Berangkat dari paradigma Skiner inilah kemudian menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Teori selanjutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori kurikulum dan pembelajaran. Teori ini mulai muncul pada sekitar akhir tahun 1950-an bersamaan dengan gerakan pembaharuan kurikulum. Pada saat itu dirasakan perlunya landasan yang lebih ilmiah dan sistematik untuk penyusunan kurikulum. Brunner (1966) mengemukakan teori penyusunan dan pelaksanaan kurikulum dengan suatu paradigma di mana suatu tim besar yang terdiri dari ahli bidang studi, guru, dan ahli psikologi mulai menyusun kurikulum yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat buku, media atau bahan lain dan saran kegiatan di kelas. Keseluruhan bahan ini lebih lanjut oleh tim lokal (wilayah) untuk penyempurnaan dan penentuan cara penyajian, yaitu melalui pembelajaran di kelas atau pembelajaran bermedia, yang keduanya saling berkaitan. Bruner, mendasarkan pandangannya ini pada dua premis dasar yaitu; (1) guru kelas tidak mungkin dapat mengikuti perkembangan bidang studi sambil mengajar dengan penuh; dan (2) guru kelas tidak mempunyai keterampilan metodologi yang cukup untuk melaksanakan pendekatan pemecahan masalah. Keterampilan ini akan diperoleh dengan melaksanakan suatu model yang disajikan melalui pembelajaran bermedia.
Landasan Teori dari Ilmu Komunikasi
Sebagaimana telah dipahami bahwa teknologi pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Edgar Dale yang terkenal dengan “kerucut pengalamannya” (cone of exsperience) menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual. Pemikiran Edgar Dale ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dan komunikasi audiovisual. Kerucut pengalaman Edgar Dale dengan rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, dari yang bersifat kongkrit ke yang abstrak telah menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi. Selanjutnya, teori komunikasi lainnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai bidang studi adalah teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver. Teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver bersifat linear dengan arah tertentu dan tetap yaitu dari sumber (komunikator) kepada penerima (komunikan). Satu unsur yang perlu diperhatikan menurut teori ini bahwa dalam proses komunikasi pasti terdapat gangguan (noise), yang senantiasa ada dalam setiap situasi komunikasi. Teori Shannon dan Weaver ini kemudian disempurnakan oleh Schramm dengan menambahkan dua unsur baru yaitu adanya lingkup pengalaman (field of experience) dan umpan balik. Dengan adanya dua unsur baru ini Schramm menekankan pada adanya kesaaan interpretasi akan arti lambang yang dipakai. Kemudian, teori komunikasi berikutnya yang melandasi perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo dan teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid. Teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo membawa implikasi dalam perkembangan teknologi pembelajaran, dimana dimasukkannya orang dan bahan sebagai sumber yang merupakan bagian integral dari teknologi pembelajaran. Isi pesan beserta struktur dan penggarapannya juga merupakan bagian dari teknologi pembelajaran. Segala bentuk pesan (lambang, verbal, taktil, serta ujud nyata) merupakan bagian dari keseluruhan proses komunikasi, dan dengan demikian juga menjadi bagian dari teknologi pembelajaran. Sedangkan dalam teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid mendasarkan pada sebuah prinsip bahwa komunikasi itu berlangsung tanpa awal dan akhir, sepanjang manusia sadar akan diri dan lingkungannya. Proses komunikasi tidak berlangsung antar individu saja melainkan dalam suatu realitas sosial. Pengaruh teori ini dalam pendidikan adalah: (1) pendidikan seumur hidup yang berlangsung sepanjang orang sadar akan diri dan lingkungannya; (2) pendidikan gerak cepat dan tepat yang lebih mengacu pada kemampuan untuk hidup di masyarakat; (3) pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi; (4) pendidikan yang menarik perhatian dengan cara penyajian yang bervariasi dan merangsang sebanyak mungkin indera; (5) pendidikan yang menyebar, baik pelayanannya maupun peranannya; dan (6) pendidikan yang mustari (tepat saat) menyusup tanpa niat sebelumnya, yaitu pada saat ada kekosongan pikiran. Kesemunya itu, merupakan landasan strategis dalam perkembangan teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang kajian. Pada bagian lain, teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang profesi sekaligus sebagai sebuah bidang kajian, tentunya mengalami proses pengkajian jati diri kearah yang lebih baik. Proses ini, tentunya melalui tahapan-tahapan pengkajian yang sistematis dan terencana dengan hasil yang terukur. Proses dimaksud dilakukan melalui kegiatan penelitian untuk menopang perkembangan ke lima kawasan teknologi pembelajaran.
2. Kedudukan penelitian pada domain teknologi pembelajaran.
Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2) yaitu Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pembelajaran baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pembelajaran. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut . Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pembelajaran, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pembelajaran, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya. Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pembelajaran. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
3. Implementasi teori preskriptif dalam pembelajaran
pembelajaran harus dikelola secara kompetitif dan inovatif. Sebab, lewat pembelajaran yang kompetitif, diyakini akan dapat melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan kompetisi pula. Pribadi yang kompetitif disini bukan berarti pribadi yang egoistik (Tilaar, 2000: 15). Pribadi yang kompetitif disini adalah pribadi yang inovatif melalui pembudayaan sikap kerja sama. Dengan kerja sama, dapat dikembangkan kompetisi yang sehat sehingga produk IPTEK yang dihasilkan berkualitas. Pembelajaran harus menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Artinya, pembelajaran memiliki relevansi dengan kehidupan keseharian. Oleh karena itu, materi yang diberikan harus terintegrasi satu sama lain. Contoh, misalnya ketika seorang anak belajar tentang hukum dan demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harusnya disamping dia belajar tentang teori “namun” dia seharusnya mengalami proses hukum dan demokratisasi dalam bentuk miniatur kehidupan yang dilandaskan oleh hukum dan demokrasi di kelas. Hal ini dapat diwujudkan melalui praktek “Role Playing” dan atau “demonstrasi” yang berkaitan dengan isu-isu hukum dan demokrasi. Di sisi lain, anak didik dapat dihadapkan dengan situasi nyata, melalui metode penugasan kepada anak didik untuk mereview proses hukum yang terjadi dilembaga-lembaga hukum yang ada seperti lembaga peradilan dan kepolisian. Dengan proses pembelajaran seperti tersebut, anak didik akan memiliki kekayaan teori dan praktek yang terkait dengan hukum dan demokrasi yang selanjutnya menjadi informasi penting bagi pembentukan pribadi yang sadar hukum dan demokratis. Implikasinya adalah dalam praktek pendidikan lewat praksis pembelajaran dikelas harus dikelola dan diselenggarakan dengan pendekatan pendidikan “andragogy”. Knowlis sebagaimana dikutip oleh Wiliam F. O’neil (2002: xviii) menjelaskan bahwa andragogy atau pendekatan pendidikan orang dewasa merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa. Di balik pengertian ini, Knowles ingin menempatkan murid sebagai subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyipulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai fasilitator dan bukan menggurui. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid bersifat “multicomunication” (Knowles, 1970). Dengan pendekatan ini, maka anak didik deberikan ruang untuk mengkontruk pengetahuan berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Peran guru dalam pembelajaran hanya sebatas menyiapkan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat membelajarkan dirinya dari sumber-sumber belajar yang ada dan media belajar yang disediakan guru.
4. Desain Pembelajaran berdasarkan aspek perkembangan teknologi informasi.
Sebagaimana diketahui bahwa kawasan desain adalah suatu proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Terkait dengan hal ini, maka guru sebagai pengelola pembelajaran pada era teknologi informasi saat sekarang dalam mendesain pembelajaran harus mampu menghadirkan materi dari berbagai sumber informasi yang bervariasi. Langkah ini tentunya dilandasi pada sebuah prisnsip bahwa semakin banyak informasi yang diperoleh siswa tentang sebuah masalah, maka semakin mudah lah bagi siswa untuk memecahkan masalah tersebut Prinsip ini mensyaratkan bahwa belajar adalah suatu proses pengolahan, pemanfaatan dan penggunaan informasi. Dalam konteks ini, maka semakin beragamnya informasi yang diterima oleh siswa dari berbagai sumber belajar tentunya akan semakin memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa itu sendiri tentang suatu objek yang sedang dibahas. Untuk kepentingan itu, maka guru harus mampu memanfaatkan dan mengembangakan berbagai teknologi informasi baik dalam bentuk CD Pemebelajaran maupun lewat WEB pembelajaran yang sedang trend saat ini. Dengan meningkatnya daya muat untuk mengumpulan, menyimpan, memanipulasikan dan meyajikan informasi pada era saat ini maka seyogyanya guru harus mampu mendayagunakan kelebihan tersebut dalam penyampaian materi pembelajaran kepada siswa. Misalnya desain pembelajaran berbasis internet. Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah, internet mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Poin penting lainnya, desain pembelajaran dengan pendekatan teknologi informasi adalah bahwa guru harus mampu mendesain materi sebaik mungkin, materi yang mudah dicerna oleh siswa, materi yang dapat ditangkap oleh berbagai indera yang dimiliki oleh siswa mulai indera pendengaran sampai indera penglihatan, materi yang dianggap penting dan relevan dengan kebutuhan belajar siswa. Dengan cara itu, maka informasi yang diperoleh siswa dalam bentuk materi tersebut akan tersimpan lama dalam long term memory, yang pada gilirannya nanti akan dapat dimanfaatkan oleh siswa secara tekstual.
5. Cara menjembatani perkembangan teknologi informasi yang bergitu cepat yang tidak didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah.
Satu hal yang harus menjadi catatan penting bahwa esensi dari pembelajaran adalah bagaimana terjadinya interaksi komunikatif antara beragai unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran, baik interaksi antara siswa dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru. Lewat interaksi yang terbangun itu kemudian, siswa akan memperoleh berbagai pengalaman belajar yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahamannya terhadap sebuah persoalan atau materi tertentu. Meski trend saat ini, pembelajaran lebih bersifat online namun tidak serta merta trend ini menjadi sesuatu yang harus diterapkan pada seluruh situasi pembelajaran. Sebab, bagaimanapun juga sarana dan prasara menjadi faktor kunci bagi kelancaran kegiatan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang bergitu canggih saat ini. Untuk itu, dalam menjembatani hal ini tiada jalan lain, selain dengan memaksimalkan dan mendayagunakan berbagai sumber belajar yang tersedia disekitar lingkungan peserta didik. Proses memaksimalkan ini dapat dilakukan baik dengan cara memanipulasi atau merekayasa media dan sumber belajar yang tersedia ke arah yang lebih baik dan representatif sehingga kaya akan berbagai informasi yang berimplikasi positif bagi kegiatan pembelajaran. Di samping itu, harus dipahami pula bahwa teknologi informasi baik berupa internet, email dan lain sebagainya hanya merupakan alat dan sarana pendukung kelancaran kegiatan pembelajaran, yang terpenting adalah bagaimana dalam proses pembelajaran terbangun proses yang kompleks dan terpadu. Kompleks dan terpadu disini tentunya terkait dengan pelibatan orang, prosedur, gagasan, peralatan meski seadanya namun telah dimanipulasi sehingga kaya akan informasi-informasi yang relevan dengan kegiatan pembelajaran, dan organisasi dalam menganalisis masalah, mencari jalan pemecahannya, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar siswa. Inilah inti dari teknologi pembelajaran, bukan hanya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk peralatan namun yang lebih penting bagaimana proses tersebut di atas dapat diwujudkan sehingga keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi kendala yang berarti dalam membelajarkan peserta didik.
6. Implementasi aspek budaya dalam pembelajaran di era global yang sarat dengan perkembangan TIK
Dalam era global seperti saat ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, maka proses ini tentunya akan berimplikasi pada pembentukan budaya baru dalam pembelajaran. Kalau selama ini, siswa tidak melek pada perkembangan TIK maka seiring dengan semakin menguatnya arus TIK, anak didik harus dibiasakan untuk bersentuhan dengan berbagai produk teknologi khususnya yang memiliki relevansi dengan kegiatan pembelajaran. Pembudayaan nilai kerjasama menjadi catatan penting dalam penerapan pembelajaran berbasis TIK. Hal ini dapat dilakukan dengan menugaskan kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang terkait dengan materi tertentu dalam pembelajaran, selanjutnya meminta masing-masing siswa untuk memverifikasi dan saling bertukar informasi satu sama lain. Dengan proses tersebut, maka kerjasama antar siswa dapat terbangun dan dikembangkan secara sistematis. Pada bagian lain, pembudayaa budaya saling ketergantungan dan membutuhkan dapat dilakukan dalam pembelajaran berbasis TIK. Siswa akan terhubung dengan berbagai orang di dunia maya misalnya, saling bertukar informasi, berbagi materi dan lain sebagainya. Proses ini kemudian lambat laun akan memunculkan budaya ketergantungan dikalangan siswa dengan berbagai orang yang tergabung dalam dunia maya, pada akhirnya proses ini pula akan memunculkan budaya menghargai dan menghormati sesama bangsa.
http://ftaman.wordpress.com/2010/01/02/landasan-dan-pemikiran-teknologi-pembelajaran/
LANDASAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
1. Landasan Filsafat dan Landasan Teoritik
A. Landasan Filsafat
Berdasarkan tinjauan filsafat ilmu, setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang didukungnya, termasuk Teknologi Pembelajaran sebagai disiplin ilmu. Ketiga tiang penyangga dimaksud yaitu landasan ontologi (apa), landasan epitimologi (bagaimana) dan landasan aksiologi (siapa). Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut. Epistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka yang menjadi ruang lingkup objek penelaahan (azas ontologi) teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu adalah masalah “BELAJAR” pada manusia, karena : belajar merupakan hak semua orang dan berlangsung sepanjang hayat, mengenai apa, dari siapa, bagaimana saja belajar tersebut. Akan tetapi kesempatan belajar yang ada masih terbatas, sumber tradisional juga semakin terbatas, serta sumber yang ada dan potensial belum didayagunakan. Oleh karena itu, perlu adanya usaha khusus untuk mewujudkan kesempatan belajar dengan mengoptimalkan sumber dan potensial yang ada, perlu adanya pengelolaan yang inovatif, dan reformatif tentang belajar pada manusia. Alasan lain, kenapa masalah belajar menjadi objek formal kajian (azas ontologi) teknologi pembelajaran adalah tidak lepas dari pemikiran tentang pendidikan itu sendiri. Dimana, agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapi pada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Sedangkan Dasar epistemologis dari teknologi pembelajaran adalah berangkat dari sebuah konsesi dasar filsafati bahwa dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Demikianpun dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian (bidang ilmu). Dalam kaitan dengan ini, pendekatan dalam menyusun dan membangun pengetahuan (azas pistemologis) yang dikembangkan dalam teknologi pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut: (1) keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah; (2) unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinali dan dikelola sebagai suatu kesatuan dan ditujukan untuk memecahkan masalah; (3) penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. Kemudian, azas aksiologi teknologi pembelajaran di sini berkenaan dengan kegunaan dan pemanfaatan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang meliputi 5 kawasan teknologi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, berikut kegunaan potensial teknologi pembelajaran: (1) meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan memperlaju penahapan belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belaar anak; (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya; (3) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistemik, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi dengan penelitian tentang perilaku; (4) lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih kongkrit; (5) memungkinkan belajar secara lebih akrab karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah, memberikan pengetahuan tangan pertama; (6) memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas, penyajian informasi menembus batas geografi. Disamping itu, manfaat lain yang dapat diambil dengan adanya bidang teknologi pembelajaran ialah antara lain: Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan), penyempurnaan system pendidikan, meluas dan meratanya kesempatan serta akses pendidikan, penyesuaian dengan kondisi pembelajaran, penyelarasan dengan perkembangan lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.
B. Landasan Teoritis
Landasan Teori dari Ilmu Perilaku
Lumsdaine menyatakan bahwa teori belajar behavioristik memiliki andil besar dalam perkembangan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknolgi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistemik guna keperluan pembelajaran. Selanjutnya, Saetler melalui stdi penelusurannya terhadap sejarah perkembangan teknologi pembelajaran kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa pemikiran Thorndike dengan teori psikologi perkembangannya yang beraliran behavioristik merupakan landasan pertama kearah teknologi pembelajaran. Tiga hukum utama yang diajukan oleh thorndike yaitu: (1). Law of exercise (hukum latihan). Prinsip yang melekat pada hukum ini yaitu bahwa makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan. Terkait dengan hukum ini, Thorndike memperkenalkan dua prinsip yaitu prinsip law of use dan prinsip law of disuse. Law of use atau hukum penggunaan ialah koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai. Dengan kata lain, melatih koneksi (hubungan) antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons akan memperkuat koneksi diantara keduanya. Sementara Law of disuse atau hukum ketidakgunaan ialah koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan, atau jika ikatan neural tidak dipakai; (2) Law of Effect (hukum efek). Prinsip mendasar dari hukum effek ini adalah bahwa suatu respon akan semakin diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang; (3) Law of Readiness (hukum kesiapan). Hukum kesiapan ini dikemukakan oleh Thorndike dalam bukunya yang berjudul The Original Nature of Man, (Thorndike 1913a,p.125), dapat dijelaskan disini antara lain adalah; (1) apabila suatu konduksi siap menyalurkan (to conduct), maka penyaluran dengannya akan memuaskan, (2) apabila suatu konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan, (3) apabila suatu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan. Selanjutnya, pemikiran inilah yang menjadi landasan awal perkembangan teknologi pembelajaran. Disamping itu, rumusannya tentang prinsip-prinsip aktivitas diri, minat/motivasi, kesiapan mental, individualisasi dan sosialisasi pada fase berikutnya “menurut Saettler” menjadi entri point dalam perkembangan teknologi pembelajaran selanjutnya. Untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun tetap dengan memperhatikan minat dan respons anak terhadap stimulus yang diberikan. Stimulus yang diberikan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak serta perbedaan karakteristik masing-masing individu. Oleh karena itu situasi dan lingkungan belajar perlu dirancang sedemikian rupa serta dalam praksis pembelajarannya sedapat mungkin menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru. Kemudian, teori berikutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori penguatan (reinforcement) yang dikemukakan oleh Skiner. Skiner menyaatakan bahwa belajar dengan memperoleh jawaban yang tepat menjadi suatu hal yang tidak penting dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa fokus nyata pada pendidikan haruslah pada pemberian penguatan yang konsisten, segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkannya. Lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa dari hasil-hasil percobaannya menunjukkan bahwa siswa akan lebih mudah menjawabnya apabila dilengkapi dengan suatu pengalaman belajar. Pelajaran diawali dengan tugas-tugas yang relatif mudah dan sudah dikenal kemudian meningkat secara perlahan-lahan melalui tugas-tugas dan bahan baru. Berangkat dari pandangannya inilah kemudian Skiner mengembangkan Mesin Pengajaran yang disebut dengan Theaching Machine sebagai media untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Prinsip kerja mesin ini, yaitu jika jawaban siswa salah maka mesin tidak akan memberikan reaksi namun sebaliknya jika jawaban siswa benar mesin akan memberikan reaksi dalam bentuk menghadirkan pertanyaan baru. Reaksi pemberian pertanyaan baru ini lah yang kemudian disebut dengan proses reinforcement. Dalam kaitannya dengan penguatan ini, Skiner mengemukakan tiga variabel penting yaitu: (1) peristiwa dimana perilaku berlangsung; (2) perilaku itu sendiri; (3) akibat dari perilaku itu. Kalau semula mengajar hanya memperhatikan bagaimana mengatur stimulus atau pesan yang disampaikan kepada siswa, maka dengan pendapat ini yang lebih diperhatikan adalah respons dari siswa serta tanggapan kepada siswa atas responsnya itu. Kemudian beberapa prinsip yang dijabarkan dari teori penguatan ini, diantaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung untuk lebih bertahan; penguatan positif lebih berarti dari yang negatif; penguatan langsung lebih efektif dari penguatan tertunda; penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari pada yang jarang. Berangkat dari paradigma Skiner inilah kemudian menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Teori selanjutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori kurikulum dan pembelajaran. Teori ini mulai muncul pada sekitar akhir tahun 1950-an bersamaan dengan gerakan pembaharuan kurikulum. Pada saat itu dirasakan perlunya landasan yang lebih ilmiah dan sistematik untuk penyusunan kurikulum. Brunner (1966) mengemukakan teori penyusunan dan pelaksanaan kurikulum dengan suatu paradigma di mana suatu tim besar yang terdiri dari ahli bidang studi, guru, dan ahli psikologi mulai menyusun kurikulum yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat buku, media atau bahan lain dan saran kegiatan di kelas. Keseluruhan bahan ini lebih lanjut oleh tim lokal (wilayah) untuk penyempurnaan dan penentuan cara penyajian, yaitu melalui pembelajaran di kelas atau pembelajaran bermedia, yang keduanya saling berkaitan. Bruner, mendasarkan pandangannya ini pada dua premis dasar yaitu; (1) guru kelas tidak mungkin dapat mengikuti perkembangan bidang studi sambil mengajar dengan penuh; dan (2) guru kelas tidak mempunyai keterampilan metodologi yang cukup untuk melaksanakan pendekatan pemecahan masalah. Keterampilan ini akan diperoleh dengan melaksanakan suatu model yang disajikan melalui pembelajaran bermedia.
Landasan Teori dari Ilmu Komunikasi
Sebagaimana telah dipahami bahwa teknologi pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Edgar Dale yang terkenal dengan “kerucut pengalamannya” (cone of exsperience) menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual. Pemikiran Edgar Dale ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dan komunikasi audiovisual. Kerucut pengalaman Edgar Dale dengan rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, dari yang bersifat kongkrit ke yang abstrak telah menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi. Selanjutnya, teori komunikasi lainnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai bidang studi adalah teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver. Teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver bersifat linear dengan arah tertentu dan tetap yaitu dari sumber (komunikator) kepada penerima (komunikan). Satu unsur yang perlu diperhatikan menurut teori ini bahwa dalam proses komunikasi pasti terdapat gangguan (noise), yang senantiasa ada dalam setiap situasi komunikasi. Teori Shannon dan Weaver ini kemudian disempurnakan oleh Schramm dengan menambahkan dua unsur baru yaitu adanya lingkup pengalaman (field of experience) dan umpan balik. Dengan adanya dua unsur baru ini Schramm menekankan pada adanya kesaaan interpretasi akan arti lambang yang dipakai. Kemudian, teori komunikasi berikutnya yang melandasi perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo dan teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid. Teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo membawa implikasi dalam perkembangan teknologi pembelajaran, dimana dimasukkannya orang dan bahan sebagai sumber yang merupakan bagian integral dari teknologi pembelajaran. Isi pesan beserta struktur dan penggarapannya juga merupakan bagian dari teknologi pembelajaran. Segala bentuk pesan (lambang, verbal, taktil, serta ujud nyata) merupakan bagian dari keseluruhan proses komunikasi, dan dengan demikian juga menjadi bagian dari teknologi pembelajaran. Sedangkan dalam teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid mendasarkan pada sebuah prinsip bahwa komunikasi itu berlangsung tanpa awal dan akhir, sepanjang manusia sadar akan diri dan lingkungannya. Proses komunikasi tidak berlangsung antar individu saja melainkan dalam suatu realitas sosial. Pengaruh teori ini dalam pendidikan adalah: (1) pendidikan seumur hidup yang berlangsung sepanjang orang sadar akan diri dan lingkungannya; (2) pendidikan gerak cepat dan tepat yang lebih mengacu pada kemampuan untuk hidup di masyarakat; (3) pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi; (4) pendidikan yang menarik perhatian dengan cara penyajian yang bervariasi dan merangsang sebanyak mungkin indera; (5) pendidikan yang menyebar, baik pelayanannya maupun peranannya; dan (6) pendidikan yang mustari (tepat saat) menyusup tanpa niat sebelumnya, yaitu pada saat ada kekosongan pikiran. Kesemunya itu, merupakan landasan strategis dalam perkembangan teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang kajian. Pada bagian lain, teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang profesi sekaligus sebagai sebuah bidang kajian, tentunya mengalami proses pengkajian jati diri kearah yang lebih baik. Proses ini, tentunya melalui tahapan-tahapan pengkajian yang sistematis dan terencana dengan hasil yang terukur. Proses dimaksud dilakukan melalui kegiatan penelitian untuk menopang perkembangan ke lima kawasan teknologi pembelajaran.
2. Kedudukan penelitian pada domain teknologi pembelajaran.
Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2) yaitu Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pembelajaran baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pembelajaran. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut . Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pembelajaran, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pembelajaran, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya. Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pembelajaran. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
3. Implementasi teori preskriptif dalam pembelajaran
pembelajaran harus dikelola secara kompetitif dan inovatif. Sebab, lewat pembelajaran yang kompetitif, diyakini akan dapat melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan kompetisi pula. Pribadi yang kompetitif disini bukan berarti pribadi yang egoistik (Tilaar, 2000: 15). Pribadi yang kompetitif disini adalah pribadi yang inovatif melalui pembudayaan sikap kerja sama. Dengan kerja sama, dapat dikembangkan kompetisi yang sehat sehingga produk IPTEK yang dihasilkan berkualitas. Pembelajaran harus menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Artinya, pembelajaran memiliki relevansi dengan kehidupan keseharian. Oleh karena itu, materi yang diberikan harus terintegrasi satu sama lain. Contoh, misalnya ketika seorang anak belajar tentang hukum dan demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harusnya disamping dia belajar tentang teori “namun” dia seharusnya mengalami proses hukum dan demokratisasi dalam bentuk miniatur kehidupan yang dilandaskan oleh hukum dan demokrasi di kelas. Hal ini dapat diwujudkan melalui praktek “Role Playing” dan atau “demonstrasi” yang berkaitan dengan isu-isu hukum dan demokrasi. Di sisi lain, anak didik dapat dihadapkan dengan situasi nyata, melalui metode penugasan kepada anak didik untuk mereview proses hukum yang terjadi dilembaga-lembaga hukum yang ada seperti lembaga peradilan dan kepolisian. Dengan proses pembelajaran seperti tersebut, anak didik akan memiliki kekayaan teori dan praktek yang terkait dengan hukum dan demokrasi yang selanjutnya menjadi informasi penting bagi pembentukan pribadi yang sadar hukum dan demokratis. Implikasinya adalah dalam praktek pendidikan lewat praksis pembelajaran dikelas harus dikelola dan diselenggarakan dengan pendekatan pendidikan “andragogy”. Knowlis sebagaimana dikutip oleh Wiliam F. O’neil (2002: xviii) menjelaskan bahwa andragogy atau pendekatan pendidikan orang dewasa merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa. Di balik pengertian ini, Knowles ingin menempatkan murid sebagai subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyipulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai fasilitator dan bukan menggurui. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid bersifat “multicomunication” (Knowles, 1970). Dengan pendekatan ini, maka anak didik deberikan ruang untuk mengkontruk pengetahuan berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Peran guru dalam pembelajaran hanya sebatas menyiapkan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat membelajarkan dirinya dari sumber-sumber belajar yang ada dan media belajar yang disediakan guru.
4. Desain Pembelajaran berdasarkan aspek perkembangan teknologi informasi.
Sebagaimana diketahui bahwa kawasan desain adalah suatu proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Terkait dengan hal ini, maka guru sebagai pengelola pembelajaran pada era teknologi informasi saat sekarang dalam mendesain pembelajaran harus mampu menghadirkan materi dari berbagai sumber informasi yang bervariasi. Langkah ini tentunya dilandasi pada sebuah prisnsip bahwa semakin banyak informasi yang diperoleh siswa tentang sebuah masalah, maka semakin mudah lah bagi siswa untuk memecahkan masalah tersebut Prinsip ini mensyaratkan bahwa belajar adalah suatu proses pengolahan, pemanfaatan dan penggunaan informasi. Dalam konteks ini, maka semakin beragamnya informasi yang diterima oleh siswa dari berbagai sumber belajar tentunya akan semakin memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa itu sendiri tentang suatu objek yang sedang dibahas. Untuk kepentingan itu, maka guru harus mampu memanfaatkan dan mengembangakan berbagai teknologi informasi baik dalam bentuk CD Pemebelajaran maupun lewat WEB pembelajaran yang sedang trend saat ini. Dengan meningkatnya daya muat untuk mengumpulan, menyimpan, memanipulasikan dan meyajikan informasi pada era saat ini maka seyogyanya guru harus mampu mendayagunakan kelebihan tersebut dalam penyampaian materi pembelajaran kepada siswa. Misalnya desain pembelajaran berbasis internet. Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah, internet mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Poin penting lainnya, desain pembelajaran dengan pendekatan teknologi informasi adalah bahwa guru harus mampu mendesain materi sebaik mungkin, materi yang mudah dicerna oleh siswa, materi yang dapat ditangkap oleh berbagai indera yang dimiliki oleh siswa mulai indera pendengaran sampai indera penglihatan, materi yang dianggap penting dan relevan dengan kebutuhan belajar siswa. Dengan cara itu, maka informasi yang diperoleh siswa dalam bentuk materi tersebut akan tersimpan lama dalam long term memory, yang pada gilirannya nanti akan dapat dimanfaatkan oleh siswa secara tekstual.
5. Cara menjembatani perkembangan teknologi informasi yang bergitu cepat yang tidak didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah.
Satu hal yang harus menjadi catatan penting bahwa esensi dari pembelajaran adalah bagaimana terjadinya interaksi komunikatif antara beragai unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran, baik interaksi antara siswa dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru. Lewat interaksi yang terbangun itu kemudian, siswa akan memperoleh berbagai pengalaman belajar yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahamannya terhadap sebuah persoalan atau materi tertentu. Meski trend saat ini, pembelajaran lebih bersifat online namun tidak serta merta trend ini menjadi sesuatu yang harus diterapkan pada seluruh situasi pembelajaran. Sebab, bagaimanapun juga sarana dan prasara menjadi faktor kunci bagi kelancaran kegiatan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang bergitu canggih saat ini. Untuk itu, dalam menjembatani hal ini tiada jalan lain, selain dengan memaksimalkan dan mendayagunakan berbagai sumber belajar yang tersedia disekitar lingkungan peserta didik. Proses memaksimalkan ini dapat dilakukan baik dengan cara memanipulasi atau merekayasa media dan sumber belajar yang tersedia ke arah yang lebih baik dan representatif sehingga kaya akan berbagai informasi yang berimplikasi positif bagi kegiatan pembelajaran. Di samping itu, harus dipahami pula bahwa teknologi informasi baik berupa internet, email dan lain sebagainya hanya merupakan alat dan sarana pendukung kelancaran kegiatan pembelajaran, yang terpenting adalah bagaimana dalam proses pembelajaran terbangun proses yang kompleks dan terpadu. Kompleks dan terpadu disini tentunya terkait dengan pelibatan orang, prosedur, gagasan, peralatan meski seadanya namun telah dimanipulasi sehingga kaya akan informasi-informasi yang relevan dengan kegiatan pembelajaran, dan organisasi dalam menganalisis masalah, mencari jalan pemecahannya, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar siswa. Inilah inti dari teknologi pembelajaran, bukan hanya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk peralatan namun yang lebih penting bagaimana proses tersebut di atas dapat diwujudkan sehingga keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi kendala yang berarti dalam membelajarkan peserta didik.
6. Implementasi aspek budaya dalam pembelajaran di era global yang sarat dengan perkembangan TIK
Dalam era global seperti saat ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, maka proses ini tentunya akan berimplikasi pada pembentukan budaya baru dalam pembelajaran. Kalau selama ini, siswa tidak melek pada perkembangan TIK maka seiring dengan semakin menguatnya arus TIK, anak didik harus dibiasakan untuk bersentuhan dengan berbagai produk teknologi khususnya yang memiliki relevansi dengan kegiatan pembelajaran. Pembudayaan nilai kerjasama menjadi catatan penting dalam penerapan pembelajaran berbasis TIK. Hal ini dapat dilakukan dengan menugaskan kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang terkait dengan materi tertentu dalam pembelajaran, selanjutnya meminta masing-masing siswa untuk memverifikasi dan saling bertukar informasi satu sama lain. Dengan proses tersebut, maka kerjasama antar siswa dapat terbangun dan dikembangkan secara sistematis. Pada bagian lain, pembudayaa budaya saling ketergantungan dan membutuhkan dapat dilakukan dalam pembelajaran berbasis TIK. Siswa akan terhubung dengan berbagai orang di dunia maya misalnya, saling bertukar informasi, berbagi materi dan lain sebagainya. Proses ini kemudian lambat laun akan memunculkan budaya ketergantungan dikalangan siswa dengan berbagai orang yang tergabung dalam dunia maya, pada akhirnya proses ini pula akan memunculkan budaya menghargai dan menghormati sesama bangsa.
A. Landasan Filsafat
Berdasarkan tinjauan filsafat ilmu, setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang didukungnya, termasuk Teknologi Pembelajaran sebagai disiplin ilmu. Ketiga tiang penyangga dimaksud yaitu landasan ontologi (apa), landasan epitimologi (bagaimana) dan landasan aksiologi (siapa). Ontologi merupakan azas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut. Epistemologi merupakan azas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan azas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka yang menjadi ruang lingkup objek penelaahan (azas ontologi) teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu adalah masalah “BELAJAR” pada manusia, karena : belajar merupakan hak semua orang dan berlangsung sepanjang hayat, mengenai apa, dari siapa, bagaimana saja belajar tersebut. Akan tetapi kesempatan belajar yang ada masih terbatas, sumber tradisional juga semakin terbatas, serta sumber yang ada dan potensial belum didayagunakan. Oleh karena itu, perlu adanya usaha khusus untuk mewujudkan kesempatan belajar dengan mengoptimalkan sumber dan potensial yang ada, perlu adanya pengelolaan yang inovatif, dan reformatif tentang belajar pada manusia. Alasan lain, kenapa masalah belajar menjadi objek formal kajian (azas ontologi) teknologi pembelajaran adalah tidak lepas dari pemikiran tentang pendidikan itu sendiri. Dimana, agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapi pada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro. Sedangkan Dasar epistemologis dari teknologi pembelajaran adalah berangkat dari sebuah konsesi dasar filsafati bahwa dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Demikianpun dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian (bidang ilmu). Dalam kaitan dengan ini, pendekatan dalam menyusun dan membangun pengetahuan (azas pistemologis) yang dikembangkan dalam teknologi pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut: (1) keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah; (2) unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinali dan dikelola sebagai suatu kesatuan dan ditujukan untuk memecahkan masalah; (3) penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. Kemudian, azas aksiologi teknologi pembelajaran di sini berkenaan dengan kegunaan dan pemanfaatan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang meliputi 5 kawasan teknologi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, berikut kegunaan potensial teknologi pembelajaran: (1) meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan memperlaju penahapan belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belaar anak; (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya; (3) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistemik, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi dengan penelitian tentang perilaku; (4) lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih kongkrit; (5) memungkinkan belajar secara lebih akrab karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah, memberikan pengetahuan tangan pertama; (6) memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas, penyajian informasi menembus batas geografi. Disamping itu, manfaat lain yang dapat diambil dengan adanya bidang teknologi pembelajaran ialah antara lain: Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan), penyempurnaan system pendidikan, meluas dan meratanya kesempatan serta akses pendidikan, penyesuaian dengan kondisi pembelajaran, penyelarasan dengan perkembangan lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.
B. Landasan Teoritis
Landasan Teori dari Ilmu Perilaku
Lumsdaine menyatakan bahwa teori belajar behavioristik memiliki andil besar dalam perkembangan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknolgi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistemik guna keperluan pembelajaran. Selanjutnya, Saetler melalui stdi penelusurannya terhadap sejarah perkembangan teknologi pembelajaran kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa pemikiran Thorndike dengan teori psikologi perkembangannya yang beraliran behavioristik merupakan landasan pertama kearah teknologi pembelajaran. Tiga hukum utama yang diajukan oleh thorndike yaitu: (1). Law of exercise (hukum latihan). Prinsip yang melekat pada hukum ini yaitu bahwa makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan. Terkait dengan hukum ini, Thorndike memperkenalkan dua prinsip yaitu prinsip law of use dan prinsip law of disuse. Law of use atau hukum penggunaan ialah koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai. Dengan kata lain, melatih koneksi (hubungan) antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons akan memperkuat koneksi diantara keduanya. Sementara Law of disuse atau hukum ketidakgunaan ialah koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan, atau jika ikatan neural tidak dipakai; (2) Law of Effect (hukum efek). Prinsip mendasar dari hukum effek ini adalah bahwa suatu respon akan semakin diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang; (3) Law of Readiness (hukum kesiapan). Hukum kesiapan ini dikemukakan oleh Thorndike dalam bukunya yang berjudul The Original Nature of Man, (Thorndike 1913a,p.125), dapat dijelaskan disini antara lain adalah; (1) apabila suatu konduksi siap menyalurkan (to conduct), maka penyaluran dengannya akan memuaskan, (2) apabila suatu konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan, (3) apabila suatu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan. Selanjutnya, pemikiran inilah yang menjadi landasan awal perkembangan teknologi pembelajaran. Disamping itu, rumusannya tentang prinsip-prinsip aktivitas diri, minat/motivasi, kesiapan mental, individualisasi dan sosialisasi pada fase berikutnya “menurut Saettler” menjadi entri point dalam perkembangan teknologi pembelajaran selanjutnya. Untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun tetap dengan memperhatikan minat dan respons anak terhadap stimulus yang diberikan. Stimulus yang diberikan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak serta perbedaan karakteristik masing-masing individu. Oleh karena itu situasi dan lingkungan belajar perlu dirancang sedemikian rupa serta dalam praksis pembelajarannya sedapat mungkin menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru. Kemudian, teori berikutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori penguatan (reinforcement) yang dikemukakan oleh Skiner. Skiner menyaatakan bahwa belajar dengan memperoleh jawaban yang tepat menjadi suatu hal yang tidak penting dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa fokus nyata pada pendidikan haruslah pada pemberian penguatan yang konsisten, segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkannya. Lebih lanjut dia menyimpulkan bahwa dari hasil-hasil percobaannya menunjukkan bahwa siswa akan lebih mudah menjawabnya apabila dilengkapi dengan suatu pengalaman belajar. Pelajaran diawali dengan tugas-tugas yang relatif mudah dan sudah dikenal kemudian meningkat secara perlahan-lahan melalui tugas-tugas dan bahan baru. Berangkat dari pandangannya inilah kemudian Skiner mengembangkan Mesin Pengajaran yang disebut dengan Theaching Machine sebagai media untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Prinsip kerja mesin ini, yaitu jika jawaban siswa salah maka mesin tidak akan memberikan reaksi namun sebaliknya jika jawaban siswa benar mesin akan memberikan reaksi dalam bentuk menghadirkan pertanyaan baru. Reaksi pemberian pertanyaan baru ini lah yang kemudian disebut dengan proses reinforcement. Dalam kaitannya dengan penguatan ini, Skiner mengemukakan tiga variabel penting yaitu: (1) peristiwa dimana perilaku berlangsung; (2) perilaku itu sendiri; (3) akibat dari perilaku itu. Kalau semula mengajar hanya memperhatikan bagaimana mengatur stimulus atau pesan yang disampaikan kepada siswa, maka dengan pendapat ini yang lebih diperhatikan adalah respons dari siswa serta tanggapan kepada siswa atas responsnya itu. Kemudian beberapa prinsip yang dijabarkan dari teori penguatan ini, diantaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung untuk lebih bertahan; penguatan positif lebih berarti dari yang negatif; penguatan langsung lebih efektif dari penguatan tertunda; penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari pada yang jarang. Berangkat dari paradigma Skiner inilah kemudian menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Teori selanjutnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori kurikulum dan pembelajaran. Teori ini mulai muncul pada sekitar akhir tahun 1950-an bersamaan dengan gerakan pembaharuan kurikulum. Pada saat itu dirasakan perlunya landasan yang lebih ilmiah dan sistematik untuk penyusunan kurikulum. Brunner (1966) mengemukakan teori penyusunan dan pelaksanaan kurikulum dengan suatu paradigma di mana suatu tim besar yang terdiri dari ahli bidang studi, guru, dan ahli psikologi mulai menyusun kurikulum yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat buku, media atau bahan lain dan saran kegiatan di kelas. Keseluruhan bahan ini lebih lanjut oleh tim lokal (wilayah) untuk penyempurnaan dan penentuan cara penyajian, yaitu melalui pembelajaran di kelas atau pembelajaran bermedia, yang keduanya saling berkaitan. Bruner, mendasarkan pandangannya ini pada dua premis dasar yaitu; (1) guru kelas tidak mungkin dapat mengikuti perkembangan bidang studi sambil mengajar dengan penuh; dan (2) guru kelas tidak mempunyai keterampilan metodologi yang cukup untuk melaksanakan pendekatan pemecahan masalah. Keterampilan ini akan diperoleh dengan melaksanakan suatu model yang disajikan melalui pembelajaran bermedia.
Landasan Teori dari Ilmu Komunikasi
Sebagaimana telah dipahami bahwa teknologi pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Edgar Dale yang terkenal dengan “kerucut pengalamannya” (cone of exsperience) menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual. Pemikiran Edgar Dale ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dan komunikasi audiovisual. Kerucut pengalaman Edgar Dale dengan rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, dari yang bersifat kongkrit ke yang abstrak telah menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi. Selanjutnya, teori komunikasi lainnya yang menjadi landasan perkembangan teknologi pembelajaran sebagai bidang studi adalah teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver. Teori komunikasi yang dikemukakan oleh Shanon dan Weaver bersifat linear dengan arah tertentu dan tetap yaitu dari sumber (komunikator) kepada penerima (komunikan). Satu unsur yang perlu diperhatikan menurut teori ini bahwa dalam proses komunikasi pasti terdapat gangguan (noise), yang senantiasa ada dalam setiap situasi komunikasi. Teori Shannon dan Weaver ini kemudian disempurnakan oleh Schramm dengan menambahkan dua unsur baru yaitu adanya lingkup pengalaman (field of experience) dan umpan balik. Dengan adanya dua unsur baru ini Schramm menekankan pada adanya kesaaan interpretasi akan arti lambang yang dipakai. Kemudian, teori komunikasi berikutnya yang melandasi perkembangan teknologi pembelajaran adalah teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo dan teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid. Teori komunikasi yang dikembangkan oleh Berlo membawa implikasi dalam perkembangan teknologi pembelajaran, dimana dimasukkannya orang dan bahan sebagai sumber yang merupakan bagian integral dari teknologi pembelajaran. Isi pesan beserta struktur dan penggarapannya juga merupakan bagian dari teknologi pembelajaran. Segala bentuk pesan (lambang, verbal, taktil, serta ujud nyata) merupakan bagian dari keseluruhan proses komunikasi, dan dengan demikian juga menjadi bagian dari teknologi pembelajaran. Sedangkan dalam teori komunikasi konvergensi yang dikembangkan oleh Rogers dan Kincaid mendasarkan pada sebuah prinsip bahwa komunikasi itu berlangsung tanpa awal dan akhir, sepanjang manusia sadar akan diri dan lingkungannya. Proses komunikasi tidak berlangsung antar individu saja melainkan dalam suatu realitas sosial. Pengaruh teori ini dalam pendidikan adalah: (1) pendidikan seumur hidup yang berlangsung sepanjang orang sadar akan diri dan lingkungannya; (2) pendidikan gerak cepat dan tepat yang lebih mengacu pada kemampuan untuk hidup di masyarakat; (3) pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi; (4) pendidikan yang menarik perhatian dengan cara penyajian yang bervariasi dan merangsang sebanyak mungkin indera; (5) pendidikan yang menyebar, baik pelayanannya maupun peranannya; dan (6) pendidikan yang mustari (tepat saat) menyusup tanpa niat sebelumnya, yaitu pada saat ada kekosongan pikiran. Kesemunya itu, merupakan landasan strategis dalam perkembangan teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang kajian. Pada bagian lain, teknologi pembelajaran sebagai sebuah bidang profesi sekaligus sebagai sebuah bidang kajian, tentunya mengalami proses pengkajian jati diri kearah yang lebih baik. Proses ini, tentunya melalui tahapan-tahapan pengkajian yang sistematis dan terencana dengan hasil yang terukur. Proses dimaksud dilakukan melalui kegiatan penelitian untuk menopang perkembangan ke lima kawasan teknologi pembelajaran.
2. Kedudukan penelitian pada domain teknologi pembelajaran.
Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2) yaitu Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pembelajaran baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pembelajaran. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut . Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pembelajaran sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pembelajaran, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pembelajaran, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya. Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pembelajaran. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pembelajaran. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
3. Implementasi teori preskriptif dalam pembelajaran
pembelajaran harus dikelola secara kompetitif dan inovatif. Sebab, lewat pembelajaran yang kompetitif, diyakini akan dapat melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan kompetisi pula. Pribadi yang kompetitif disini bukan berarti pribadi yang egoistik (Tilaar, 2000: 15). Pribadi yang kompetitif disini adalah pribadi yang inovatif melalui pembudayaan sikap kerja sama. Dengan kerja sama, dapat dikembangkan kompetisi yang sehat sehingga produk IPTEK yang dihasilkan berkualitas. Pembelajaran harus menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Artinya, pembelajaran memiliki relevansi dengan kehidupan keseharian. Oleh karena itu, materi yang diberikan harus terintegrasi satu sama lain. Contoh, misalnya ketika seorang anak belajar tentang hukum dan demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harusnya disamping dia belajar tentang teori “namun” dia seharusnya mengalami proses hukum dan demokratisasi dalam bentuk miniatur kehidupan yang dilandaskan oleh hukum dan demokrasi di kelas. Hal ini dapat diwujudkan melalui praktek “Role Playing” dan atau “demonstrasi” yang berkaitan dengan isu-isu hukum dan demokrasi. Di sisi lain, anak didik dapat dihadapkan dengan situasi nyata, melalui metode penugasan kepada anak didik untuk mereview proses hukum yang terjadi dilembaga-lembaga hukum yang ada seperti lembaga peradilan dan kepolisian. Dengan proses pembelajaran seperti tersebut, anak didik akan memiliki kekayaan teori dan praktek yang terkait dengan hukum dan demokrasi yang selanjutnya menjadi informasi penting bagi pembentukan pribadi yang sadar hukum dan demokratis. Implikasinya adalah dalam praktek pendidikan lewat praksis pembelajaran dikelas harus dikelola dan diselenggarakan dengan pendekatan pendidikan “andragogy”. Knowlis sebagaimana dikutip oleh Wiliam F. O’neil (2002: xviii) menjelaskan bahwa andragogy atau pendekatan pendidikan orang dewasa merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa. Di balik pengertian ini, Knowles ingin menempatkan murid sebagai subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyipulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai fasilitator dan bukan menggurui. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid bersifat “multicomunication” (Knowles, 1970). Dengan pendekatan ini, maka anak didik deberikan ruang untuk mengkontruk pengetahuan berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Peran guru dalam pembelajaran hanya sebatas menyiapkan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat membelajarkan dirinya dari sumber-sumber belajar yang ada dan media belajar yang disediakan guru.
4. Desain Pembelajaran berdasarkan aspek perkembangan teknologi informasi.
Sebagaimana diketahui bahwa kawasan desain adalah suatu proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Terkait dengan hal ini, maka guru sebagai pengelola pembelajaran pada era teknologi informasi saat sekarang dalam mendesain pembelajaran harus mampu menghadirkan materi dari berbagai sumber informasi yang bervariasi. Langkah ini tentunya dilandasi pada sebuah prisnsip bahwa semakin banyak informasi yang diperoleh siswa tentang sebuah masalah, maka semakin mudah lah bagi siswa untuk memecahkan masalah tersebut Prinsip ini mensyaratkan bahwa belajar adalah suatu proses pengolahan, pemanfaatan dan penggunaan informasi. Dalam konteks ini, maka semakin beragamnya informasi yang diterima oleh siswa dari berbagai sumber belajar tentunya akan semakin memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa itu sendiri tentang suatu objek yang sedang dibahas. Untuk kepentingan itu, maka guru harus mampu memanfaatkan dan mengembangakan berbagai teknologi informasi baik dalam bentuk CD Pemebelajaran maupun lewat WEB pembelajaran yang sedang trend saat ini. Dengan meningkatnya daya muat untuk mengumpulan, menyimpan, memanipulasikan dan meyajikan informasi pada era saat ini maka seyogyanya guru harus mampu mendayagunakan kelebihan tersebut dalam penyampaian materi pembelajaran kepada siswa. Misalnya desain pembelajaran berbasis internet. Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah, internet mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Poin penting lainnya, desain pembelajaran dengan pendekatan teknologi informasi adalah bahwa guru harus mampu mendesain materi sebaik mungkin, materi yang mudah dicerna oleh siswa, materi yang dapat ditangkap oleh berbagai indera yang dimiliki oleh siswa mulai indera pendengaran sampai indera penglihatan, materi yang dianggap penting dan relevan dengan kebutuhan belajar siswa. Dengan cara itu, maka informasi yang diperoleh siswa dalam bentuk materi tersebut akan tersimpan lama dalam long term memory, yang pada gilirannya nanti akan dapat dimanfaatkan oleh siswa secara tekstual.
5. Cara menjembatani perkembangan teknologi informasi yang bergitu cepat yang tidak didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah.
Satu hal yang harus menjadi catatan penting bahwa esensi dari pembelajaran adalah bagaimana terjadinya interaksi komunikatif antara beragai unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran, baik interaksi antara siswa dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru. Lewat interaksi yang terbangun itu kemudian, siswa akan memperoleh berbagai pengalaman belajar yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahamannya terhadap sebuah persoalan atau materi tertentu. Meski trend saat ini, pembelajaran lebih bersifat online namun tidak serta merta trend ini menjadi sesuatu yang harus diterapkan pada seluruh situasi pembelajaran. Sebab, bagaimanapun juga sarana dan prasara menjadi faktor kunci bagi kelancaran kegiatan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang bergitu canggih saat ini. Untuk itu, dalam menjembatani hal ini tiada jalan lain, selain dengan memaksimalkan dan mendayagunakan berbagai sumber belajar yang tersedia disekitar lingkungan peserta didik. Proses memaksimalkan ini dapat dilakukan baik dengan cara memanipulasi atau merekayasa media dan sumber belajar yang tersedia ke arah yang lebih baik dan representatif sehingga kaya akan berbagai informasi yang berimplikasi positif bagi kegiatan pembelajaran. Di samping itu, harus dipahami pula bahwa teknologi informasi baik berupa internet, email dan lain sebagainya hanya merupakan alat dan sarana pendukung kelancaran kegiatan pembelajaran, yang terpenting adalah bagaimana dalam proses pembelajaran terbangun proses yang kompleks dan terpadu. Kompleks dan terpadu disini tentunya terkait dengan pelibatan orang, prosedur, gagasan, peralatan meski seadanya namun telah dimanipulasi sehingga kaya akan informasi-informasi yang relevan dengan kegiatan pembelajaran, dan organisasi dalam menganalisis masalah, mencari jalan pemecahannya, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar siswa. Inilah inti dari teknologi pembelajaran, bukan hanya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk peralatan namun yang lebih penting bagaimana proses tersebut di atas dapat diwujudkan sehingga keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi kendala yang berarti dalam membelajarkan peserta didik.
6. Implementasi aspek budaya dalam pembelajaran di era global yang sarat dengan perkembangan TIK
Dalam era global seperti saat ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, maka proses ini tentunya akan berimplikasi pada pembentukan budaya baru dalam pembelajaran. Kalau selama ini, siswa tidak melek pada perkembangan TIK maka seiring dengan semakin menguatnya arus TIK, anak didik harus dibiasakan untuk bersentuhan dengan berbagai produk teknologi khususnya yang memiliki relevansi dengan kegiatan pembelajaran. Pembudayaan nilai kerjasama menjadi catatan penting dalam penerapan pembelajaran berbasis TIK. Hal ini dapat dilakukan dengan menugaskan kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang terkait dengan materi tertentu dalam pembelajaran, selanjutnya meminta masing-masing siswa untuk memverifikasi dan saling bertukar informasi satu sama lain. Dengan proses tersebut, maka kerjasama antar siswa dapat terbangun dan dikembangkan secara sistematis. Pada bagian lain, pembudayaa budaya saling ketergantungan dan membutuhkan dapat dilakukan dalam pembelajaran berbasis TIK. Siswa akan terhubung dengan berbagai orang di dunia maya misalnya, saling bertukar informasi, berbagi materi dan lain sebagainya. Proses ini kemudian lambat laun akan memunculkan budaya ketergantungan dikalangan siswa dengan berbagai orang yang tergabung dalam dunia maya, pada akhirnya proses ini pula akan memunculkan budaya menghargai dan menghormati sesama bangsa.
Langganan:
Postingan (Atom)