Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v

Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...

Sabtu, 10 Juli 2010

CERPEN : BUKAN DUA KAKI (KADO BUAT yg AKAN NIKAH

Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panci. Tiba-tiba ia teringat, ini sudah jam 1 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi, sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al-Quds. Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.
Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini. Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang dibahas pasti aktual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar. Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa ditawar-tawar. Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustad Hanif menjelaskan satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana yang akan dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatik terhadap satu pendapat tertentu.
"Shofa belum pulang?" sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar.
Shofa menoleh, "Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak."
"Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya penting tuh!"
"Sekarang Bu?"
Ya, kalau Shofa sedang tidak repot."
Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Arif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan masalah keagamaan di kompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk shalat berjamaah. "Assalamu'alaikum," ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Arif dari dalam. "Silahkan masuk nak Shofa. Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?"
"Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan." jawab Shofa.
"Bagus! Bagus! Alhamdulillah." kata Pak Arif. "Begini nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain."
Pak Arif terdiam. "Begini nak Shofa.... Apakah nak Shofa sudah siap menikah?"
Shofa tersenyum. "Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi... belum ada odohnya."
Hmmmm....... begitu ya," Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya. "Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping hidup. Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia."
Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?" tanya Shofa tersipu.
Lho... Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa ini gadis yang sholehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia sholeh dan berakhlak baik. Nah... kalau begini, apa bukan cocok namanya? Iya tho Bu?" jelas Pak Arif.
Iya... iya!" Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.
"Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak kesini untuk dipertemukan dengan nak Shofa," Pak Arif melanjutkan. "Bagaimana nak Shofa?"
"Bapak ini kok langsung main tanya. Bapak kan belum cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana," tukas Bu Arif. "Wah... dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al-Azhar Kairo. Dia juga hafidz Al-Qur'an." "Hafidz Quran?" gumam Shofa dalam hati. Salah satu doa yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Al-Qur'an, karena ia sendiri sedang berusaha menjadi hafidzhoh.
"Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al-Quds," papar Pak Arif.
"Radio Al Quds? Saya pendengar setia Radio Al-Quds lho Pak. Namanya siapa Pak, mungkin saja saya pernah mendengar," kata Shofa.
Namanya Hanif Ibrahim."
Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu tempat dirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio. Tausiyah-tausyiah melalui radio itu pula yang membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.
Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. "Ada apa Shofa?"
Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio."
"Nah... jadi sebetulnya sudah kenal tho, walaupun cuma dari radio," Pak Arif terkekeh. "Bagaimana, kapan nak Shofa siapbertemu Hanif?"
Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu tentang masalah ini," jawab Shofa.
"Oohh.... ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah Ibumu bilang kami suruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok," ujar Pak Arif.
Sepulangnya dari rumah kedua orang tua yang sudah dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. "Benarkah Ustadz Hanif jodohku?" tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah dengan bermunajat. Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati, buah dari istikharahnya.
"Assalamu'alaikum," Shofa mengucap salam di depan pintu.
"Wa'alaikum salam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang menjemput Hanif," jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana menjadi istri sholehah dengan mengutip beberapa ayat dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.
Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena membentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda, dan Pak Arif yang mendorong kursi roda sambil tersenyum.

Shofa terhenyak, memandang tak percaya. "Inikah Ustadz Hanif?" Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan perasaannya. Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri. "Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu," kata Pak Arif memecah kesunyian.
"Assalamu'alaikum dik Shofa," kata Hanif.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berbeda dengan di radio. Tetap berkharisma.
"Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif. Cuma.... memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya kecelakaan. Mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi. Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan kruk saja." Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.
Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas ke arah Hanif. "Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari wajahnya." bathin Shofa.
"Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat membutuhkan kehadiran seorang istri."
Shofa diam tak bergeming. Dihadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, sholeh, berakhlak mulia, dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur'an. Bukankah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.
"Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?" Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.
Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan bathinnya. Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. "Saya sudah sholat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan Ustadz Hanif. Saya punya satu pertanyaan untuk Ustadz Hanif."
"Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab," kata Hanif.
"Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?" tanya Shofa.
Hanif tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan untuk mendidik."
Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar.
"Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki."
Alhamdulillah!" berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.
** Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati. Hanif meletakkan tangannya di atas kening istrinya, lalu membaca doa, "Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari godaan syetan dan dekatkanlah dengan apa yang Engkau rizkikan, anak-anak kepada kami."
Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim. "Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?" tanya Shofa.
Boleh. Apa itu?" Hanif tersenyum lebar.
"Shofa cinta Kak Hanif karena Allah," Shofa bicara sambil menunduk malu-malu.
Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah." Hanif menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa mereka berdua. "Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri. Pandang kak Hanif dong!" Hanif menggoda Shofa. Shofa memandang Hanif tersipu.
Ayo kita sholat dulu," kata Hanif.
Shofa bantu kak Hanif wudhu ya," Shofa langsung beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi.
Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua makhluk kecintaan-Nya.
Terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda hingga syahidnya

Cerpen Empat Ibu Mertua

Tak ada yang lebih menarik dari kisah hidupku selain menikah dengan seorang lelaki yang ayahnya punya empat istri. Jujur aku tidak pernah membayangkannya. Saat ta’aruf dengan Mas Bagas, suamiku sekarang, aku bahkan pernah mau mundur saja. Aku enggan terlibat masalah dengan ibu-ibu mertuaku itu. Aku sudah sering mendengar kalau berhadapan dengan satu ibu mertua saja gampang-gampang susah, lha kok ini malah empat ibu mertua.Tapi rupanya Allah punya rencana lain. Dengan makin kuatnya keinginanku untuk mengurungkan pernikahanku dengan Mas Bagas, ternyata shalat istikharahku tetap mengantarkanku bersanding dengannya di pelaminan.

Bapak mertuaku memberikan masing-masing istrinya sebuah rumah yang berdekatan. Parahnya lagi, dalam keluarga besar suamiku ada aturan khusus bagi anak laki-laki harus bertempat tinggal dekat orang tua atau tinggal bersama orang tua jika belum mampu membuat rumah setelah menikah. Jadi, tidak ada kata kontrak rumah atau tinggal berjauhan dengan orang tua bagi anak laki-laki. Tentu saja ini dengan alasan untuk menjaga nama besar keluarga besar suami yang selama ini sudah terkenal kebersamaannya.

Suamiku adalah anak bungsu dari istri ketiga bapaknya. Dia hanya punya seorang saudara perempuan yang sudah menikah dan tinggal di luar kota. Jadi sekuat apapun aku dan suami mengemukakan alasan untuk belajar hidup mandiri dengan kontrak rumah dulu, tetap akhirnya kami harus tunduk tinggal di rumah orang tua suami. Sedang untuk membangun rumah sendiri pun kami belum mampu.

Setelah kurasakan, kebersamaan yang katanya untuk merawat kerukunan ini seringkali menciptakan riak-riak bahkan gelombang besar di dalamnya. Persaingan antar ibu mertua sangat tampak. Dan itu akhirnya berimbas juga pada anak cucu mereka. Ketegasan dan kewibawaan bapak mertuaku di mata masyarakat ternyata tak cukup mempan mengatasi masalah ini. Sebenarnya sudah kusiapkan diri secara lahir batin untuk masuk komunitas keluarga suami. Nasehat ibu, teman-teman, bahkan guru ngajiku menjadi penguat tekadku. Namun kenyataannya aku tidak sekuat yang kukira.

Dimulai setelah selesai resepsi pernikahanku. Celaan dan kritik pedas santer terdengar dari Bu Kus, ibu mertua ke dua, dan Bu Rin, ibu mertua ke empat. Mulai dari susunan acara, hidangan, dekorasi pelaminan, sampai hal-hal kecil tak lepas dari celaan. Mereka menganggap pesta pernikahan anak-anak mereka dulu lebih mewah, hebat, dan sempurna.

Kalau mau jujur sebenarnya orangtuaku cukup mampu untuk membuat pesta mewah untukku. Dari awalnya aku cuma ingin diadakan akad nikah saja tanpa adanya resepsi. Aku tidak ingin prosesi pernikahanku yang seharusnya menjadi pintu keberkahan malah jadi ajang tabaruj’, riya’ dan kemubadziran. Tapi kemudian terdengar nada-nada sumbang. Selama ini aku tidak pernah pacaran bahkan jalan dengan lelaki, maka banyak yang heran ketika aku tiba-tiba menikah. Untuk menghindari praduga yang salah, akhirnya atas permintaan orang tua aku mau juga ada resepsi pernikahan tapi dengan syarat tidak berlebihan.

Campur tangan ibu-ibu mertuaku ternyata tidak cukup sampai di situ. Puncaknya ketika anakku lahir. Aku sering menahan emosi setiap menghadapi ibu-ibu mertuaku dalam mengasuh anakku. Apapun yang kulakukan dalam merawat anakku tak luput dari celaan. Ketika aku protes saat anakku diberi makanan yang tidak cocok untuk bayi oleh Bu Rin, langsung beliau berkata pedas tidak akan memberi makanan anakku lagi. Aku juga sempat jadi bahan gunjingan keluarga suami karena dianggap tidak mau mempercayakan anak dalam asuhan orang lain. Padahal aku suka merasa sungkan kalau-kalau orang yang mengajak anakku nanti kecapekkan.Buntutnya ada boikot tidak ada yang mau menggendong anakku lagi. Aku yang stres karena masih pertama kali punya anak menjadi semakin tersiksa oleh keadaan ini.

Pekerjaan suamiku, aktifitasku sehari-hari, bahkan perkembangan anakku juga tak luput dari komentar miring dan kemudian dibanding-bandingkan dengan anak, menantu, dan cucu mereka yang lain.

Bu Kus, ibu mertua kedua, sebenarnya paling ramah. Awalnya aku percaya saja cerita kepadanya jika punya masalah. Tapi aku kecolongan karena ternyata dia mengumbar curhatku pada orang lain, tak jarang dengan penyampaian yang berbeda.

Bu Rin orangnya dermawan dan berjiwa sosial. Tapi dia mudah sekali berkata kasar. Dia tidak peduli apakah ucapannya menyinggung orang lain atau tidak. Pokoknya tidak ada kata mengalah pada orang lain. Satu lagi dia masih percaya pada tradisi yang tidak ada tuntunannya dalam agama. Tak jarang ritual dan tradisi yang dilakukan itu dikaitkan dengan perintah agama yang wajib dilakukan anak cucunya karena masyarakat sekitar juga banyak yang melakukannya. Toleransinya pada perbedaan cukup rendah. Berhadapan dengannya, aku harus sering memutar otak untuk tetap mempertahankan aqidah tapi tetap bisa diterima olehnya.

Bu Wiji, Ibu mertua pertama, lain lagi. Dia lebih banyak diam dan dari awal seperti menjaga jarak dengan aku. Dari empat ibu mertuaku, hanya dia yang tidak dikaruniai anak. Dia kelihatan dingin dan tertutup. Aku sudah keder sendiri melihat mukanya yang jarang tersenyum. Kalaupun bicara padaku hanya seperlunya. Mungkin baginya aku adalah pendatang baru yang tak perlu diberi keramahtamahan berlebih.

Bu Arum, Ibu Mas Bagas sendiri, sebenarnya baik dan sayang padaku, hanya dia sangat perasa dan sering salah persepsi. Aku harus hati-hati jika berbicara dengannya. Bukan sekali dua kali dia merasa tersinggung atas sikap dan omonganku yang sebenarnya tidak seperti yang dia kira. Karena pada dasarnya aku juga perasa, maka aku sering salah tingkah dan bingung sendiri jika tiba-tiba ibu mertuaku ini menangis atau jadi lebih diam padaku daripada biasanya.

Itulah mengapa aku merasa sangat sulit untuk dekat dengan ibu-ibu mertuaku itu. Aku sendiri berulangkali cerita ke Mas Bagas atas masalah ini, tapi dia tidak bisa menolong aku. Dia takut jika harus berpihak pada salah satu diantara kami. Dia hanya memintaku bersabar. Akhirnya aku hanya bisa menangis sendirian.

Dan saat ini aku sedang sendirian di rumah. Keluarga besar suami sedang melayat kerabat yang meninggal dunia. Aku disarankan tidak ikut karena anakku masih kecil. Awalnya aku cuma memandang Najma, anakku yang sedang tertidur lelap. Tiba-tiba ada ketakutanku akan masa depannya jika tetap di sini. Aku menyangsikan apakah anakku nanti akan nyaman dan gembira dengan perlakuan orang-orang di sekitarnya. Tangisku pun tak terbendung lagi. Peristiwa-peristiwa yang kualami di sini berkelebat dalam otakku. Ya Rabb, aku sudah berusaha tegar, tapi aku tidak bias membohongi kalau aku benar-benar tersiksa berada di sini. Aku ingin keluar dari sini.

Aku berusaha menyeka air mataku ketika kudengar pintu rumah diketuk orang. Ketika kubuka pintu kulihat Bu Wiji dengan muka dinginnya. Dia membawa sepiring ayam goreng dan semangkok sayur lodeh. Aku terkejut melihatnya yang tumben mau datang berkunjung.

“ Lho, Bu Wiji tidak ikut melayat Mbah Ngadiran?” tanyaku berusaha memulai pembicaraan.

“ Aku lagi nggak enak badan, Nduk. Sudah makan belum? Ini aku tadi buat ayam goreng dan sayur lodeh,” kata Bu Wiji tanpa senyum seperti biasanya.

“Kok repot-repot to, Bu. Bu Arum tadi sudah menyiapkan masakan buat saya kok.”

“ Ya udah ini buat lauk tambahan.” Wanita itu berusaha menyerahkan bawaannya padaku,” Lho, kamu nangis to, Nduk?”

Aduh gawat dia tahu aku menangis. Pasti merah dan bengkak mataku tidak bisa mengelabui Bu Wiji. Wanita tua itu langsung masuk dan meletakkan bawaannya di meja. Diajaknya aku duduk untuk cerita masalahku. Aku heran kenapa tiba-tiba dia jadi perhatian seperti itu. Mengingat selama ini betapa seringnya kulihat tampang judesnya bila ketemu aku.Tapi saat dia memegang pundakku dengan penuh keibuan, luluh juga aku. Tiba-tiba aku seperti melihat sosok ibu kandungku sendiri. Tak urung dengan beruraian air mata, mengalirlah segala isi hatiku.

“ Tapi saya mohon Bu Wiji tidak cerita kepada yang lain. Saya takut akan memperburuk keadaan,” kataku selesai bercerita.

“ Percayalah, saya akan bijaksana dalam menyikapi ini semua. Saya prihatin dengan apa yang kaurasakan. Sama dengan
suamimu saya tidak bisa memihak siapapun. Tadi paling tidak kisah hidup saya akan bisa menolongmu mencari penyelesaian.”

Dari bibir ibu mertua pertamaku itu mengalir pengalaman hidupnya yang belum pernah kudengar selama ini.

“ Waktu menikah saya baru lima belas tahun, Nduk. Kata orang, saya adalah kembang desa sini. Tapi saya anak orang tidak punya. Maka ketika anak lurah di sini meminang saya, orang tua saya langsung menerima. Anak lurah itu ya bapak mertuamu sekarang ini. Padahal saya masih ingin sekolah tinggi, saya ingin jadi guru.”

Wanita tua itu menghela nafas pelan. Dengan sabar aku menunggu kelanjutan ceritanya lagi.

“ Kenyataannya setelah menikah, banyak cobaan yang harus saya hadapi. Mulai tidak bisa punya anak, sampai kemudian Bapak meminta ijin untuk menikah lagi. Awalnya dia beralasan karena tidak punya anak dari saya, tapi tidak tahu kenapa ketika istri keduanya bisa memberikan anak, dia masih menikah lagi.”

“ Ibu ikhlas saat itu?” tanyaku.

“ Awalnya ya tidak, Nduk. Menikah dengan Pak Wiryodibyo dari awal bukan kehendak saya, dan kenyataannya suami saya seperti tidak menghargai pengorbanan saya. “

Aku menatap mata Bu Wiji yang berkaca-kaca. Mungkinkah sikap dingin dan diamnya selama ini adalah refleksi dari lukanya itu.

“ Lalu bagaimana dengan mertua Bu Wiji?”

“ Wah, sama saja, Nduk. Saya orang biasa yang harus masuk ke lingkungan terhormat. Banyak prilaku dan tutur bahasa saya yang dianggap tidak sesuai tata krama oleh mertua saya. Apa yang saya lakukan saat itu sering dianggap salah, sedikit-sedikit dikomentari oleh ibu mertua bahkan ipar-ipar saya. Mungkin kamu lebih beruntung karena saudara iparmu tidak tinggal serumah. Dulu saya tinggal serumah dengan beberapa saudara kandung suami di rumah induk yang sekarang saya tempati. Banyak perselisihan mengenai pembagian tugas dan masalah pengeluaran rumah tangga. Yang pengertian ya ada, yang tidak mau tahu juga ada. Bahkan saat mertua saya meninggal pun juga terjadi perselisihan tentang status rumah yang saya tinggali.”

“ Lalu bagaimana Bu Wiji bisa bertahan menjalaninya?”

“ Pengalaman, pembelajaran, dan koreksi dirilah yang memberi saya kekuatan. Akhirnya saya mencoba berbaur tanpa menjadi lebur. Karena ketika saya mencoba melawan arus saya malah akan menjadi sosok yang dibenci dan dikucilkan di sini. Akhirnya saya mencoba jalani semua tanpa banyak mengeluh dan kelihatan tegar bahkan di depan suami saya sendiri. Mungkin itulah yang membentuk pribadi saya menjadi dingin dan diam seperti yang kaulihat sekarang.”

“ Saya di sini sangat sukar beradaptasi dan merasa semua orang tidak suka pada saya. Padahal kesalahan bukan hanya pada saya,Bu”

“ Saya dulu juga begitu. Akhirnya saya sadar, saya dan orang lain tidaklah sempurna. Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk menyenangi diri kita. Paling tidak sebelum bisa membuat rumah sendiri, jadikanlah tempat ini untuk menempa kekuatan dirimu untuk menghadapi berbagai karakter orang nantinya. Saya tidak tahu apakah pembicaraan kita hari ini bisa menjadi awal kedekatan kita. Saya sadar dengan diam dan dinginnya saya selama ini banyak orang yang enggan berdekatan dengan saya, mungkin termasuk kamu. Padahal Nduk, kalau kamu tahu saya sangat merindukan sosok anak. Apalagi anak perempuan. Kamu juga tidak usah terlalu merasa menjadi menantu paling merana karena punya banyak ibu mertua. Bu Arum sebenarnya orangnya baik dan sayang padamu kan?”

Aku mengangguk membenarkan perkataan Bu Wiji.

“ Tapi memang dia orangnya agak perasa dan suka salah paham. Ketika dia tersinggung ada baiknya kamu menjelaskannya kembali dengan baik. Tapi jangan terburu-buru, tunggu ketika hatinya mulai luluh. Mungkin awalnya kamu harus belajar tapi lama-lama akan terbiasa untuk bisa bicara tanpa melukai hatinya. Percayalah Bu Kus, Bu Rin, dan saya sendiri pun pasti juga punya sisi baik yang bisa kautemukan nanti. Kamu harus menghadapi banyak ibu mertua, sedang saya menghadapi banyak madu,” kata Bu Wiji sambil tersenyum.

Serasa ada kesejukan di dadaku mendengar penuturan orang yang selama ini kuanggap asing. Kembali terngiang nasehat Mbak Sartika, guru ngajiku dulu, “ Dik Ani, niatkanlah pernikahanmu untuk beribadah pada Allah. Jadikanlah pernikahan sebagai ladang amal dan jihadmu untuk meraih ridho-Nya.”

Percakapan kami terhenti saat terdengar tangis Najma. Bu Wiji mendahului aku masuk kamar dan menggendong Najma. Diciuminya bocah montok itu. Jelas sekali nampak kerinduannya akan seorang momongan.

“ Aduh, cucu eyang lucu sekali. Maaf, eyang jarang nggendong ya. Sesekali anakmu dibawa ke rumahku saja, biar aku nggak rebutan sama Bu Arum,” katanya.

Tawa kami jadi meledak karena tiba-tiba Najma ngompol. Kembali Bu Wiji mendahuluiku menggantikan celana Najma. Ada kelegaan hatiku karena sudah mulai bisa masuk ke ibu mertuaku yang ini. InsyaAllah dan moga-moga sebentar lagi aku akan berhasil juga dengan ibu-ibu mertua yang lain. Ada harapan dan tekadku untuk jadi menantu yang baik dan berbakti, meski punya empat ibu mertua.

:: http://myquran.com/forum/archive/index.php/t-5338.html :::

[Cerpen] Menikah Lagi

Oleh Zaenal Radar T.

Aku berniat menikahi janda itu. Tapi, apakah istriku bersedia menerimanya? Dulu aku sudah berjanji pada istriku, bahwa kami akan setia sehidup semati. Kalau ia mendengar aku akan menikah lagi, apakah Ia sudi menjalaninya, menjadi istri yang dimadu?

Perempuan janda yang akan kunikahi itu tidak terlalu cantik. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Ia memiliki empat orang anak yang masih sekolah. Kehidupan keluarganya selalu kekurangan karena penghasilan yang tidak memadai. Sehari-harinya perempuan itu menjadi pelayan di sebuah rumah makan, Kupikir, kalau ia kunikahi, aku akan menjadi ayah dari anak-anak mereka, Menjadi penunjang ekonomi keluarganya.

Aku sudah lima kali berkunjung ke rumahnya, Keempat anaknya menerima kedatanganku dengan baik. Yang tertua kelas tiga SMA. Yang dua SMP dan satu lagi masih SMP. Tentu biaya yang ditanggung itu cukup berat bagi seorang perempuan tak bersuami yang tidak memiliki karir bagus dalam pekerjaannya.

Ketika berada di rumahnya, kusampaikan maksud kedatanganku, bahwa aku akan menikahinya, menjadi ayah anak-anaknya.

"Mas harus pikir masak-masak. Saya sendiri sangat bersedia menjadi istri mas. Dan anak-anak kelihatannya senang menerima kehadiran mas. MungKin mereka ingin memiliki ayah, seperti teman-temannya. Tapi, bagaimana dengan keluarga mas sendiri?"

Pertanyaan itu tak bisa kujawab. Aku sendiri belum tahu apa reaksi keluargaku bila mendengar aku akan menikah lagi. Apakah hal itu sebaiknya kurahasiakan?

Aku tidak mau berbohong pada istri dan anak-anakku. Aku tidak mau memberi contoh yang tidak baik pada mereka. Seadainya ditutup-tutupi, pasti suatu saat akan tercium juga. Baiknya aku berterus terang saja, menjelaskan pada mereka bahwa aku akan menikah lagi!

Suatu sore seluruh keluargaku kukumpulkan di ruang tengah. Istri dan anak-anakku tampak bertanya-tanya, mengapa aku mengumpulkan mereka. Seperti ada sesuatu yang sangat penting. Atau mungkin juga mereka berfikir akan mendapatkan kejutan.

"Ada apa sih, yah? Ayah mau membawa kami keliling Bandung lagi? Atau, mungkin kita akan berangkat umroh ke tanah suci sekeluarga untuk yang kedua kali?"

"Bukan, bukan itu, Nada. Kamu dengar dulu cerita ayah. Dan kalian semua, jangan dulu marah pada ayah, Ayah akan menceritakan. .."

Tiba-tiba aku berubah pikiran. Setelah kutimbang-timbang, rasanya tak baik menceritakan hal ini pada seluruh keluargaku. Mengapa tidak lebih baik kuceritakan pada istriku saja? Kalau istriku setuju, anak-anak mungkin lebih bisa diatur.

"Lho?! Kok, ayah jadi ragu begitu?" sosor Arman, anakku yang paling kecil. Hal itu membuat istriku tersenyum. Perempuan yang masih sangat kelihatan cantik itu tampak bangga melihat putra bontotnya kritis begitu.

"Ayo dong, yah! Ceritanya diterusin!"

"lya, ayah ini gimana sih? Katanya mau cerita??"

Kupandangi keempat anakku. Mereka terlihat penasaran pada cerita yang akan kusampaikan. Istriku masih tersenyum-senyum.

"Baik, akan ayah lanjutkan. Begini anak-anak. Besok kalian akan ayah titipkan di rumah nenek. Karena ayah dan ibu punya urusan yang sangat penting!"

"Maksud ayah apa?!" lagi-lagi Arman menyela. Dan ketiga anakku yang lain semakin bingung. Juga istriku, jadi ikut-ikutan bingung. Senyumnya tak lagi terlihat.

"Nanti saja akan ayah ceritakan setelah kalian pulang dari rumah nenek."

"Yaa, ayah...!"

Semua anak-anakku protes. Ibu mereka membujuk agar mereka mau mengerti.

Malam itu, saat anak-anak kutitipkan di rumah nenek mereka, aku akan berterus terang pada istriku. Mengapa hal ini kulakukan tidak di depan anak-anak, yakni agar menjaga kemungkinan yang tidak mengenakkan terjadi. Kalau tiba-tiba istriku mengamuk di depan anak-anak, khawatir akan menyebabkan kekacauan pada diri mereka nantinya. Dan seandainya istriku menahan amarahnya demi menjaga nama baiknya di depan anak-anak, ini juga tidak baik.

Aku ingin tahu tanggapan istriku sejujurnya, setelah mendengar apa yang akan kusampaikan nanti. Apakah ia bersedia bila aku menikah lagi?

Aku mesti mencari kalimat yang paling enak, paling masuk akal, paling beralasan, paling bisa diterima, sehingga istriku tidak terlalu terkejut. Ya, terkejut. Aku yakin istriku akan terkejut mendengar pengakuanku nanti. Dan aku tak mau ia akan terkejut dengan main-main, atau terkejut sekali! Aku ingin ia terkejut biasa-biasa saja. Aha, terkejut biasa-biasa saja...? Apa ada?

"Begini bu, tadi siang sebenarnya ayah ingin bercerita di depan anak-anak. Tapi ayah khawatir anak-anak tidak siap menerimanya. Dan ayah pikir, mereka belum mengerti pada hal-hal yang akan ayah ceritakan."
Istriku menatapku, dengan tak lupa menyunggingkan senyumnya. Aku melihat ia menghela napas perlahan, begitu rileksnya.

"Selama ini ayah telah bekerja keras demi ibu, demi anak-anak, juga demi persiapan kebutuhan kita kelak. Ayah ingin hidup kita bahagia, sampai akhir hayat..."

Istriku mengangguk. Senyumnya masih tersisa.

"Namun ayah merasa masih ada sesuatu yang kurang. Kita memang sudah cukup banyak beramal. Kita tak pernah lupa menyisihkan bagian harta kita untuk yayasan anak-anak yatim dan panti jompo. Setiap tahun kita pun tak pernah berhenti mengundang orang-orang tidak mampu untuk diberikan sedekah. Dan yang dimaksud kurang bagi ayah adalah..."

Kali ini istriku tak lagi tersenyum. Air mukanya seperti orang berharap-harap cemas. Menunggu sebuah keputusan yang tak bisa diterkanya.

"Ibu rasa.... ayah terus terang saja. Selama ini ibu merasa sudah menjadi ibu yang baik bagi ayah, bagi anak-anak, bagi keluarga besar kita, juga bagi lingkungan. Kalau masih ada yang kurang dari ibu, barangkali karena keterbatasan ibu sebagai manusia biasa, yang tak luput dari kekurangan."

"Maaf bu, ayah jadi tak enak mengutarakan ini... Sebab, ayah dan ibu pernah bersumpah sehidup semati..."

Tiba-tiba kulihat airmata istriku berair. Nampaknya perempuan cantik yang sangat kusayangi ini sudah mengetahui maksud pembicaraanku. Ia mulai terisak.

"Kalau ibu merasa bersalah... hiks... maafkan ibu... Tapi... jangan terlantarkan anak-anak kita.... Hiks... yang selama ini telah kita rawat dengan baik. Ibu cuma minta... kejujuran ayah... apa yang menyebabkan hal ini tejadi..."

Isak itu semakin menjadi-jadi. Aku sungguh beruntung telah mengungsikan anak-anak ke rumah nenek. Sebab kalau tidak, aku tak akan mampu menjelaskan pada anak-anak mengapa ibu mereka menangis.

"Bu,.. dengar dulu..."

"Kalau ayah sudah tak sayang padaku, ceraikan saja yah... ceraikan saja..." Istriku menangis.

"Ssst...Bu.. ."

''Ayah...tak usah...memberikan alasan macam-macam. ..! Tak perlu. bicara panjang lebar...! Hanya akan membuat sakit hati ibu! Hiks...Kalau ayah... hendak menceraikan ibu... ibu akan menerimanya dengan lapang dada...! Biarkan anak-anak ibu rawat..,! Dan ayah bisa pergi dengan perempuan lain yang menjadi pilihan ayah...!"

"Bu... dengar dulu..."

Tangis istriku makin menjadi-jadi. Aku bingung bagaimana menjelaskannya, Ia sudah termakan oleh perasannya sendiri.

"Bu, siapa yang mau menceraikan ibu?!"

Istriku diam, tapi isaknya masih sesekali terdengar. Aku merengkuh tubuhnya, tapi ia mengelak. Huh, baru kali ini ia begitu.

"Bu, dengar ya..."

Aku ceritakan tentang seorang janda yang memiliki empat anak yang masih sangat membutuhkan seorang ayah. Kuceritakan dengan jujur bagaimana perempuan yang hendak kunikahi itu.

"Bagaimana Bu? Apakah ibu mau menerimanya? ?!"

Istriku menarik nafas dengan berat. Menghelanya sambil menggelengkan kepala.

"Bu...?!"

Istriku tetap diam, lalu berlari ke kamarnya. Aku mengejarnya. Namun tak berhasil menangkapnya karena ia telah mengunci pintu kamar dari dalam, Semalaman ini istriku mengunci diri di dalam kamar, dan aku tak bisa tidur di ruang tengah.

Pagi-pagi sekali, ketika suara azan subuh terdengar, aku beranjak ke kamar mandi. Aku mengambil wudhu lalu melangkah ke ruang sembahyang. Di sana, aku sudah melihat istriku tengah bersujud, sambil tubuhnya terguncang-guncang karena isak tangis.

Selama seminggu aku dan istriku berdiam-diam. Kami bicara seperlunya saja. Di depan anak-anak, kami berpura-pura mesra. Namun selepas anak-anak keluar rumah, istriku ke kamarnya mengunci diri.

Namun suatu sore, saat aku pulang kantor, pintu kamarnya lupa terkunci, Padahal anak-anak belum pulang karena tes tambahan, atau yang terbesar mungkin sedang mampir di rumah salah satu temannya. Seminggu ini aku memang kehilangan konsentrasi mengurus anak-anak.

Di dalam kamar, aku tidak menemukan istriku. Lalu kuhubungi nomor telepon genggamnya. Ternyata tidak diaktifkan. Setelah itu kuhubungi anak-anakku satu persatu. Aku menyuruh mereka segera pulang.

Sebelum anak-anak pulang, istriku sudah kembali ke rumah. Ketika kutanya, ia tak menyahut. Rupanya, genderang perang sudah berbunyi. Namun aku tidak mau berperang dengan istriku sendiri. Selama ini kami tak pernah serius bertengkar. Kalau pun pernah, tak lebih dari dua jam kami akan akur kembali. Tapi kini, sudah seminggu kami berdiam-diam.

Aku tak mau menyalahkannya. Kesalahan harus kutumpahkan pada diriku sendiri. Aku tak mau mengorbankan keluarga hanya karena kepuasanku semata. Sejujurnya kuakui, keinginanku menikah dengan perempuan janda dengan empat orang anak itu bukan semata-mata rasa kasihan pada mereka. Namun juga karena benih cinta yang secara tak sengaja bersemi di antara aku dan janda penunggu rumah makan itu.

Selain ingin menikahinya, aku juga berharap mendapat kasih sayangnya, sekaligus bisa membantu keluarga perempuan itu. Dan nampaknya semua itu tak mungkin aku lakukan. Sebab aku harus menyelamatkan keluargaku.

Menarik kembali sayap istriku yang mungkin hendak terbang meninggalkanku!

Biar bagaimanapun, aku tak mau kehilangan istriku. Aku dan dia telah berjanji sahidup semati. Kami tak mungkin bisa dipisahkan, kecuali oleh ajal!

Sore menjelang malam, kami semua berkumpul. Istriku seperti biasa, terlihat sangat ceria di depan anak-anak. Padahal aku tahu, barangkali hatinya telah remuk. Ia memang perempuan yang sangat pandai menjaga perasan di depan anak-anak. Aku sangat beruntung menjadikannya sebagai istri.

Menjelang malam, anak-anak berangkat tidur. Istriku sepetri biasanya, masuk terlebih dahulu ke kamar. Tetapi kali ini ia tak menguncinya. Ketika kubuka, ia masih belum tidur. Ia kudapati tengah membaca sebuah majalah, terlihat begitu santai.

Di kamarku sendiri, aku bagai orang asing, Inilah mungkin hukuman bagi orang yang bersalah, yang merasa terpenjara oleh perasaannya sendiri.

"Bu..."

Istriku melipat majalah, memberikan konsentrasi penuh terhadapku. Sungguh perubahan yang sangat menggembirakan. Sebelum ini aku tak pernah mendapat kesempatan bicara padanya. Tapi kali ini, sepertinya ia siap mendengar kata-kataku.

"Bu, maafkan kata-kata ayah tempo hari. Ayah sungguh menyesal mengatakannya pada ibu. Ayah memang lelaki tak tahu di untung. Ayah lelaki yang tak mensyukuri karunia Tuhan..."

Aku berhenti. Tapi istriku tak menunjukkan perubahan sikap. Ia masih saja diam, seolah tak mau memotong kata-kataku.

"Bu... maafkan ayah..."

Baru kali ini, sepanjang sejarah pernikahan kami, aku meneteskan airmata kesedihan di depan istriku.

"Bu... maafkan bila ayah telah khilaf... Ayah tak mau kehilangan ibu. Demi Tuhan, ayah tak mau bercerai. Dan ayah berjanji tak akan menikah lagi..."

Istriku beranjak dari tempatnya, lalu merapatkan tubuhnya ke dekatku. Tak sadar, kepalaku sudah berada di pangkuannya. Dan kurasakan, ia membelai-belai rambutku. Menunjukkan kasih sayangnya, yang selama ini tak pernah hilang sejak kami menikah dulu.

"Ayah... ibu juga minta maaf..."

Sambil berkata begitu, istriku masih tetap membelai-belai rambutku. Aku menjadi seperti anak kecil yang manja pada orang tuanya.

"Ibu minta maaf telah menyusahkan ayah. Selama ini ibu mengurung diri bukan bermaksud membenci ayah. Ibu hanya perlu menenangkan diri agar perasaan sakit yang ibu rasakan tak terlihat oleh orang lain, apalagi oleh anak-anak kita... Tadi siang ibu sudah mendatangi perempuan yang menjanda itu, dan bertemu dengan anak-anak mereka. Nampaknya mereka memang memerlukan seorang lelaki untuk menjadi pelindung mereka..."

"Kalau sekiranya ayah bersungguh-sungguh mau membantu mereka, dan terbersit rasa sayang ayah terhadap perempuan itu, ibu ikhlas melepas ayah... untuk menjadi kepala keluarga bagi mereka... Hanya saja, biarkanlah hal ini menjadi rahasia kita berdua. Anak-anak jangan sampai tahu."

Dengan teramat tegar kata-kata itu diucapkannya. Namun ketika kutatap wajahnya, kulihat bola matanya basah.

"Bu..."

"Sudahlah, yah... jangan lagi bicarakan masalah ini. Semuanya sudah jelas. Mari kita tidur..."

Istriku menggeser tubuhnya, lalu beringsut mematikan lampu kamar. Ia meluruskan tubuhnya di ranjang, aku di sebelahnya. Tak lama kemudian kudengar dengkuran. halusnya. Dan malam itu, aku tak berkutik di sampingnya. Aku tak beranjak ke mana-mana, meski kedua biji mata ini sulit sekali kupejamkan

Mirna Abas
Pascasarjana Ilmu Ekonomi
Gedung PAU Ekonomi UI Lt. 1
Kampus UI


::: http://bundahilmy.multiply.com/journal/item/156/Cerpen_Menikah_Lagi_ :::

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Gairah cinta dan kelesuan ukhuwah mungkin terjadi pada seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang.Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW :

"Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kaubenci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa iaakan menjadi kekasih yang kau cintai." (HSR Tirmidzi, Baihaqi,Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).

Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i yang menggariskan aqidah "La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq".Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma'siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim). Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus' shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).

Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : "Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi" (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila 'hati saling bertaut dalam ikatan aqidah',ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta'lim, rukun Ukhuwah).

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da'wah,yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. "Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).

Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga. Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana."Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da'wah telah mengelupas.

Kala itu jarang da'i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sangabid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilanibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau da'wahku. Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat
pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkanda'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah".

Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah tersebut sudah menikmati berkah da'wah.

Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da'wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da'wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa'). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya : "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da'wah". Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang
sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?".Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dakwah. Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da'wah, baik halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh
berkah.

Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah merekamenemukan sesuatu yang lain, "in lam takun bihim falan takunabighoirihim". Di Titik Lemah Ujian. Datang Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A'raf Ayat 163 :

"Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiadad atang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka".

Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian. Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda'wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian
kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da'wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.

Seorang masyaikh da'wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak rekannya untuk mulai aktif berda'wah. Diajak menolak, dengan alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda'wah, da'wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. "Ternyata kayanya kaya begitu saja", ujar Syaikh tersebut. Ternyata kita temukan kuncinya, "Demikianlah kami uji mereka karena sebab kefasikan mereka". Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum'at jam 11.50 datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da'wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau mereka bisa
melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan menyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu.

Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.

Iman dan Pengendalian Kesadaran Ma'iyatullah

Aqidah kita mengajarkan, tak satupun terjadi di langit dan di bumi tanpa kehendak ALLAH. ALLAH berkuasa menahan keinginan datangnya tamu-tamu yang akan menghalangi kewajiban da'wah. Apa mereka fikir orang-orang itu bergerak sendiri dan ALLAH lemah untuk mencegah mereka dan mengalihkan mereka ke waktu lain yang tidak menghalangi aktifitas utama dalam da'wah? Tanyakan kepada pakarnya, aqidah macam apa yang dianut seseorang yang tidak meyakini ALLAH menguasai segalanya? Mengapa mereka yang melalaikan tugas da'wahnya tidak berfikir perasaan sang isteri yang keberatan ditinggalkan beberapa saat, juga sebenarnya batu ujian yang dikirim ALLAH, apakah ia akan mengutamakan tugas da'wahnya atau keluarganya yang sudah punya alokasi waktu ? Yang ia beri mereka makanan dari kekayaan ALLAH ? Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi
meninggalkan kewajiban liqa', syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan. Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan "Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kitadengan pedang". Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan diperjuangkan.

Berda'wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da'wah bersama ikhwah adalah nikmat,andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus. Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi popularitas, riya' mungkin- dimasa ujian - akan menemukan orang yang terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun. Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat dia hanya 'selamat' dengan
berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.

Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (d/h Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri mereka di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggung jawab danpenyesalan.

Seni Membuat Alasan

Perlu kehati-hatian - sesudah syukur - karena kita hidup di masyarakat Da'wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidakakan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orangkepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu. Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung.

"Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka", demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ?"Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahalengkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu", demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'Llah.

Diantara nikmat ALLAH ialah (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da'wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, "Afwan ya Akhi".Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar Kelengkapan Amal Jama'i tempat kita 'menyumbangkan' karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama'i kita, tanpa harusmengklaim telah berjasa kepada Islam dan da'wah. "Mereka membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu.

Katakan : 'Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam,(sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu karunia besar denganmembimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang jujur" (Qs. 49;17). ALAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da'wah. Ini adalah karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu - karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan sempurna - menunggu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan: "Nah,r asain!" Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?. Saling mendo'akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak
nampak motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata :"Untukmu pun hak seperti itu", seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yangsaling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman
dan cinta fi'llah.

"Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu
dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu"

Posting : Muhammad Arfian di milis Surau.


Catatan: Oleh : KH. Rahmat Abdullah

Barak Allahu Lakuma

Barak Allahu Lakuma
Album : Thank You Allah
Munsyid : Maher Zain
http://liriknasyid.com


We're here on this special day
Our hearts are full of pleasure
A day that brings the two of you
Close together
We're gathered here to celebrate
A moment you'll always treasure
We ask Allah to make your love
Last forever
Let's raise our hands and make Do'a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let's all say, say, say

Baraka allahu lakuma
Wa baraka alaikuma
Wa jama’a bainakuma fi khair(2x)

From now you'll share all your chores
Through heart-ship to support each other
Together worshipping Allah
Seeking His pleasure
We pray that He will fill your life
With happiness and blessings
And grants your kids who make your home
Filled with laughter
Let's raise our hands and make Do'a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let's all say, say, say

Baraka allahu lakuma
Wa baraka alaikuma
Wa jama’a bainakuma fi khair(2x)

Baraka allah(4x)
Baraka allahu lakum walana(2x)
Allah barik lahuma, Allah adim hubbahuma
Allah solli wassalim a’la rasulillah
Allah tuba’laina, Allah irdho anna
Allah ihdi khotona a’al sunnat nabiina

Let's raise our hands and make Do'a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let's all say, say, say

Baraka allahu lakuma
Wa baraka alaikuma
Wa jama’a bainakuma fi khair(4x)

Mengemis Kasih

Mengemis Kasih
Album : Secercah Pewarna
Munsyid : The Zikr
http://liriknasyid.com


Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Lallu terheretlah aku dilorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi parah

Semalam sudah sampai kepenghujungnya
Kisah seribu duka ku harap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa menhiris hati

Tuhdan dosaku menggunung
Taki rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi

Tuhan walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaKu

Selasa, 06 Juli 2010

MEMILIHMU KARENA ENGKAU ADALAH YANG TERINDAH

Waktu terus bergulir
Meniti langkah dalam genggaman kalbu diantara kesunyian
Nyanyian rindu melambaikan cerita
Akankah hidup hanya pandangan
Ataukah kehausan retorika semata

Karena engkau yang terindah
Diantara bulir-bulir padi pilihan
Diantara sayup-sayup dengungan kuasa Illahi
Diantara semerbak wangian kasturi
Dan jeritan kalam Illahi

Lagkah fajar mulai kembali berputar
Dalam degupan jantung
Dan asa yang kian membentang
Engkau ada bersama nafas
Dan diantar puing-puing keindahan itu ada kau
Yang terindah

Kehidupan adalah anugerahNya
Dan kematian adalah takdir Nya
Aku memilihmu
Aku menantimu
Hingga nafas terakhirku

Aku berharap cinta itu semerbak
Aku berharap perjuangan ini manis
Dan aku limpahkan cinta diatas cintaku
Engkau karunia terindahNya
Engkau adalh yang terindah

::: Mom, I Love so much^^ :::

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Reff:
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to reff

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

@ Penantian 06072010

Bukan Permata Biasa

Mei 12
Bukan Permata Biasa
Add Comment

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.

Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa". (Ummu Asyrof dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Diambil dan diketik ulang oleh Redaksi dari: Majalah Elfata edisi 08 volume 07 tahun 2007
disalin dari Jilbab.Online

20 prinsip memahami ISLAM

1.Agama Islam merupakan sebuah nidhom (aturan) universal yang mencakup seluruh segi kehidupan manusia. Sehingga ia tidak bisa dipisahkan darinegara dan tanah air atau pemerintah dan rakyat (ummat). Ia adalah moral(akhlaq) dan kekuatan (power), atau rahmat dan keadilan, ia adalah sebuah peradaban dan undang-undang, atau ilmu pengetahuan dan hukum. Ia adalah sebuah materi dan sumber alam atau usaha dan kekayaan, ia adalah jihad dan dakwah, atau pasukan tentara dan fikrah. Seperti juga ia adalah sebuah aqidah yang mantap dan ibadah yang benar. Semuanya sama, tidak bisa dipilah-pilah.

2.Al Qur’aanul Kariim dan sunnah rasul yang suci adalah rujukan setiap muslim dalam mencari hukum-hukum Islam. Dalam memahami Al Qur’aan harus sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa arab tanpa ada penyelewengan dan paksaan, dan dalam memahami sunnah rasul (hadits) harus merujuk pada tokoh-tokoh dan ahli ilmu hadits yang terperaya.

3.Iman yang mantap dan jujur, ibadah yang benar dan sungguh-sungguh, didalamnya ada cahaya dan kelezatan serta kenikmatan yang Allah curahkan pada hati siapa saja yang ia kehendaki dari hamba-hamba Nya. Namun seperti ilham, mimpi, dan hal-hal yang bersifat mistik lainnya itu bukan dan tidak termasuk dalam kategori sumber hukum syariat Islam, kecuali kalau memang tidak berbenturan dengan hukum agama dan nash-nash-Nya.

4.Jampi-jampi, mantera-mantera, perdukunan dan peramalan serta ilmu ilmu yang bersifat mistis yang mengaku tahu akan hal-hal ghaib, semuanya itu merupakan kemungkaran yang wajib diberantas. Kecuali kalau memakai ayat-ayat Al Qur’aan atau penyembuhan (jampi jampi/do’a-doa) yang bernara sumber dari Rasulullah SAW.

5.Pendapat seorang imam atau wakilnya dalam suatu masalah yang tidak ada ketentuan nash di dalamnya dan masih banyak kemungkinan yang lain, juga dalam hal kepentingan umum, bisa dipakai (bisa dijadikan rujukan) selama tidak bertentangan dengan kaidah agama. Dan bisa jadi pendapat itu berubah dan berganti (tidak dipakai lagi sebagai rujukan) tergantung situasi dan kondisi, kebiasaan dan adat istiadat tertentu. Pada dasarnya, ibadah dan bentuk peribadatan itu sendiri sesungguhnya tidak melihat kepada arti atau makna yang terkandung dalam ibadah tersebut atau kepada adat istiadat tertentu, juga tidak melihat kepada rahasia, hikmah atau maksud dan tujuan dari ibadah tersebut.

6.Setiap orang yang ditolak ucapannya, kecuali Al ma’shum (yang dijaga dari dosa) Muhammad SAW saja, dan setiap sesuatu dari para pendahulu kita (salafush-sholeh) ridha Allah semoga dilimpahkan kepada mereka yang sesuai dengan Al Qur’aan dan sunnah kami terima. Kalau tidak, maka cukuplah Al Qur’aan dan sunnah sebagai panutan. Namun kami tidak mengecam orang-orang dalam masalah yang masih diperselisihkan, dengan menjelek-jelekkan serta mengolok-oloknya, kami hanya menyerahkannya kepada kehendak dan niat mereka, sebab mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan atau kemukakan.

7.Bagi setiap muslim yang belum sampai pada derajat “ahli” dalam masalah masalah fiqhiyah dan cabang cabang agama agar mengikuti seorang imam dari banyak imam dalam agama. Lebih baik lagi dalam masalah taqlid ini kalau bisa dikatakan demikian ia berijtihad sebatas yang ia mampu dalam mencari dalil yang dipakai pijakan oleh imam tadi. Dan mau menerima setiap petunjuk yang disertai dalil kapan saja yang menurutnya benar dengan membenarkan orang yang meberi petunjuk tadi. Lalu menyempurnakan kekurangan dalam keilmuan, jika ia termasuk ahli ilmu, sehingga ia dapat mencapai jenjang seorang ahli.

8.Perbedaan masalah Fiqh dalam cabang-cabangnya tidak boleh memicu perpecahan, permusuhan dan perseteruan dalam agama. Setiap mujtahid akan mendapat ganjarannya masing-masing, tidak dilarang dalam mewujudkan suasana keilmuan yang obyektif dalam masalah-masalah khilafiah (perbedaan) kita rajut benang-benang hubungan (cinta kasih) karena Allah, saling kerjasama dalam mencapai hakikat permasalahan yang sebenarnya, tidak sampai menjurus pada fanatik golongan yang tercela.

9.Setiap masalah yang tidak berorientasi pada kerja dan amal, maka menggelutinya termasuk urusan yang dipaksa-paksakan (takalluf) yang dilarang oleh agama, Seperti memperlebar cabang-cabang hukum agama yang belum pernah terjadi. Juga termasuk dalam takalluf adalah terjun dan menggeluti dalam mencari-cari arti ayat-ayat Al Qur’aan yang belum dijangkau oleh ilmu pengetahuan, serta perdebatan dalam membeda-bedakan keutamaan para sahabat Radhiyallahu Anhum, dan perbedaan yang terjadi di kalangan mereka. Setiap mereka punya keutamaan dalam mengikuti jejak Rasulullah SAW. Dan pahala niatnya, sedangkan dalam meraba-raba dan menerka-nerka itu sendiri ada keleluasaan dan kelapangan berfikir (berpendapat).

10.Ma’rifatullah (mengenal Allah Tabarakta Wata’ala), mengesakan-Nya, mensucikan-Nya, adalah aqidah Islami tertinggi, dan termasuk di dalamnya ayat-ayat sifat dengan hadits-hadits shohihnya dan apa yang serupa dengan hal itu, kami mengimani sepenuhnya apa adanya, tanpa mengubah dan menafsiri yang bukan-bukan, juga tak perlu sampai membahasnya dengan bertele-tele sambil menyebutkan perbedaan ulama di dalamnya dan cukuplah bagi kami untuk berwawasan seperti wawasan Rasulullah SAW beserta para sahabat dalam masalah asma dan sifat, dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami” (Ali Imran.27)

11.Segala bentuk bid’ah dalam agama Islam yang tidak punya landasan berpijak dibuat bagus oleh orang dengan hawa nafsunya sendiri baik dengan menambahi atau dengan menguranginya adalah sesat, yang harus diperangi dan dikikis habis dengan cara-cara terbaik yang tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih buruk dari sebelumnya.

12.Sedangkan bid’ah idhofiyah (tidak bersifat esensial dalam agama) dan berpijak pada ibadah-ibadah umum sifatnya adalah perbedaan dalam masalah fiqih saja, setiap orang mempunyai pendapat masing-masing. Dan boleh dilakukan penelitian lebih lanjut, mana yang paling benar dengan syarat harus berdasarkan dalil dan bukti yang kuat.

13. Cinta, hormat serta memuji orang-orang sholeh karena kebajikan amalannya merupakan cara untuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah SWT. Yang dinamakan para ahli Allah adalah mereka yang didalam Al Qur’aan dikatakan: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (yunus:63). Adapun karomah benar-benar dimiliki (diberikan kepadanya) dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh agama. Dengan suatu keyakinan bahwa mereka mendapat ridho dari Allah SWT. tidak bisa memberikan manfaat dan bahaya bagi dirinya sendiri dalam kehidupan dunia maupun setelah mati, apalagi bisa memberikan sesuatu bagi orang lain.

14.Ziarah kubur, dalam bentuk apapun adalah sunnah, yang disyariatkan oleh agama dengan cara yang sesuai dan bersumber dari Rosulullah SAW. Tapi meminta pertolongan kepada ahli kubur dalam bentuk apapun, memohonnya untuk mengatasi problem dan masalah, baik dari dekat maupun dari jauh, serta apa saja yang bisa digolongkan dalam masalah ini adalah termasuk bid’ah dan dosa besar yang harus diberantas. Kita juga tidak boleh menyalahkan perbuatan-perbuatan itu sebagai jalan pintas untuk membendung perbuatan yang lebih besar dosanya dari yang awal.

15.Berdo’a untuk bertaqorrub kepada Allah swt, dengan tawassul (perantara) kepada salah seorang hamba-Nya adalah masalah khilafiyah (silang pendapat) dari cabang agama dalam bentuk tata cara berdo’a. Bukan termasuk dalam masalah-masalah aqidah.

16. Adat istiadat atau budaya yang salah tidak dapat mengubah hakikat arti lafazh-lafazh yang sudah baku dalam agama. Bahkan seharusnya ditegaskan lagi pada batas-batas arti yang terkandung dalam lafazh tersebut, tidak boleh melampauinya apalagi sampai mengubah arti tersebut pada sisi-sisi dunia dan akhirat maka yang lebih ditekankan disini adalah sebuah ‘ibroh (patokannya) adalah pada arti dan makna yang terkandung didalamnya bukan hanya nama-nama atau sebutan saja.

17.Aqidah adalah sumber atau asas dari suatu amal, sedangkan perbuatan hati itu lebih penting dan lebih banyak pengaruhnya dari pada amalan anggota badan. Namun untuk mencapai kesempurnaan keduanya adalah yang dituntut oleh agama. walaupun keduanya berbeda dalam segi kualitas.

18. Agama Islam membebaskan akal dan menganjurkan untuk tadabbur alam (merenungi keajaiban ciptaan Allah) serta mengangkat derajat ilmu dan orang yang berilmu, juga menerima segala bentuk kemaslahatan yang bermanfaat, sebab hikmah (’ibroh dan pelajaran) itu adalah barang orang mukmin yang hilang, dimana saja ia menemukannya maka ia adalah orang yang paling berhak atas barang tersebut.

19.Pandangan agama dan pandangan akal masing-masing punya daerah pandang sendiri-sendiri, tidak boleh bercampur aduk antara keduanya dan tidak boleh tumpang tindih antara keduanya. Namun demilian, keduanya tidak bisa berbeda pandang dalam hal-hal yang qoth’i (pasti kebenarannya), dan tidak akan berbenturan antara hakikat keilmuan yang benar dengan aqidah agama yang tsabit (jelas kebenarannya). jika diantara keduanya ada yang bersifat zhonni (tidak pasti kebenarannya) dan yang lain bersifat qoth’i maka yang zhonny tadi dita’wil(ditafsiri) dengan makna lain agar sesuai dengan yang qoth’i. Tapi kalau keduanya sama-sama zhonny maka pandangan agama lebih didahulukan sehingga fikiran merasa mantap atau tidak dipakai.

20.Kita tidak boleh mengkafirkan seorang Muslim yang menyatakan dua kalimah syahadat, beramal sesuai dengan aturan agama atau melaksanakan segala kewajiban, kecuali kalau ia memang benar-benar menyatakan kekufuran atau mengingkari ajaran agama yang bersifat darurat (penting dan wajib), atau mendustakan ayat-ayat Al Qur’aan yang sudah jelas artinya dan menafsirinya dengan tafsir yang tidak sesuai dengan uslub (cara) dan kode etik bahasa Arab, atau mengerjakan perbuatan yang tidak bisa ditafsiri selain tafsiran kafir.


http://tiyaimoet.blog.friendster.com/

Minggu, 04 Juli 2010

Perjalanan panjang JAMBORE 1000 anak yatim se- JATENG

Perjalanan panjang JAMBORE 1000 anak yatim se- JATENG

Bismillah . . .
Kutapaki jalan yang panjang, perjalanan panjang menuju kota klten penuh INSPIRASI dahsayt di bulan Juli ini. Setapak demi setapak ku langkahkan kaki, kupacu motor yang senantisa menemaniku “vegaz”. Hari ini kami seharusnya sudah berada di bumper “manisrenggo” Klaten, namun karena ada suatu hal yang Qodarulloh semoga ini adalah pilihan yang terbaik dari Nya. Kupacu motorku dengan kecepatan sedang menuju ke rumah saudariku satu perjuangan di LAZIS SOLO, sekitar 20 menit akhirnya kau sampi di jalan tempat kami janjian. Namun saying nya ternyata saudaraku “masih proses berbenah sehingga aku pun diminta untuk menunggu dulu dipinggir jalan. Selang setengah jam kemudian setelah kulitku cukup menghitam (lebay nya kumat) aku pun diminta saudariku menjemput di depan rumah nya. So, kami pun memulai perjalanan “inspirastif” ini.
Kenapa kami meyebut perjalanan ini perjalanan onspiratif, karena ini adalah kali pertamanya “vegaz” harus melanglangbuana ke kota “Seribu Candi” ini. Selang satu setenagh jam akhirnya kami pun sampai juga di “ Bumper Manisrenggo” langsung breefing sebentar dan dhuha pagi ( dhuha-nya g jadi jama’ah coz dah ditinggal, rencananya kami mau dhuha=dzikir bersama ust.Yusuf Mansyur, tapi karena kontingen Solo memilih untuk di Bumper Manisrenggo yang semula akan diadakan di Bumper Magelang tomatis kan pesertane juga g jadi 1000, tapi just for “Solo”). Salut untuk kontingen Solo yang telah bijak memutuskan keputusan besar ini. Akhirnya Jambore 1000 ank yatim diadakan di dua tempat karena “Solo” telah memilih
Kembali ke cerita. Kami pun mulai jadi tim outbond adik-adik ( ya walaupun kami sebenarnya kalah semangat, tapi salut lagi ahh untuk adik-adik dari “Mardhotillah” yang telah memberikan banyak pembelajaran untuk saya manfaatkan untuk kehidupa, kami saling share deu di sela-sela outbond). Sebelum dhuhur kami pun rehat dan kembali ke agenda outbond ceria sampai sore. Adapun pos-pos yang panitia persiapkan diantaranya adalah: meniti tali 5meter, playing force, lomba bakiak, jarring-jaring listrik, tarik tambang, dan banyak lagi.
Malam pun beranjak, saatnya pentas seni pun dimula. Banyak hal seru yang adik-adik tampilkan di panggung, ada da’I cilik, tilawah, MTQ, drama, nasyid, puisi, serta ada juga modern qosidah.
Semakin malam acara pun semakin seru dilanjutkan dengan “baker jagung bare” juga ditemani munsyid “ALKALINE” binaan ustadz Indrawan ( yang sekalugus nanti sebagai trainer motivation).
Malamnya kami pun bobok di tenda, ya walaupun banyak panitia ikhwan yang berada di luar tenda untuk menjaga adik-adik, salut untuk semua, kalian is the best.
***
Pagi pun beranjak, dimulai dengan sholat subuh berjama’ah di masjid dekat Bumpe (heheh Bumper ini komplit leh, jadoi so bias untuk ikhwah referensi). Kemudian kami senam bareng, heheh senamnya pun syar’I lho, tau g kenapa??? Ada deh ( pasti penasaran). Lanjut adik-adik sarapan, mandi, dan Training Motivation pun dimulai. Kesan yang saya rsakan hanya ada satu kata yakni “Subhanallohhhhhhhhhhhhh), adik-adik ku LUAR BIASA. Semoga Alloh SWT memberikan kemudahan di setiap langkahmu dik, semoga tercapai semua cita-citamu kelak, “salam SUPER DAHSYAT semoga menjadi pribadi yang SUKSES dunia dan AKHERAT. Amiin.
Bumi masih terus berputar, dan siang pun mulai beranjak. Saatnya kami pun pulang kembali ke Solo. Ada 4 bus besar yang emnampung 180-an adik-adik, pendamping, panitia, dan so pasti perkap kami yang semuanya kami bawa dari Solo ( syukron untuk panitia ikhwan , lagi harus memuji kali ini ikhwan thok lhe panitiane, solid, sistematis, dan sukses luar biasa)
Barokalloh untuk yang telah mendapatkan “sedikit” kenang-kenangan yang “LUAR BIASA DAHSYAT” ini, semoga Alloh senantiasa menjaga kita semua. Amiin.
***
Salam SEMANGAT DAHSYAT untuk panitia ikhwan, pak makmur, pak arif, pak sholeh, pak narti, pak indrawan, pak eksa, pak eko, de el el.
Salam SEMANGAT BERMIMPI untuk ustadzah dan pendamping, ibu jannah, ibu “kreatif”, ukh umi, ukh parmi, ukh zaki, de el el.
Untuk adik-adikku yang aku sayangi yakinlah bahwasannya “BERAWAL dari MIMPI kemudian kita rencanakan hal yang PSTi, insya Alloh biidznillah kita pun akan menjadi pribadi yang bermanfaat SUKSES luar biasa. Yakinlah adik-adikku. Salam untuk NTT, Flores, Sulawesi, dan Medan tempat kalian dilahirkan, semoga suatu saat nanti mbak bias silaturrohmi kesana, amiin.
Teruntuk “ 7 srikandi”, tetep SEMANGAT ya ukh, yakin JODOH, RIZKI dari Alloh todak akan tertukar dan keliri, insya Alloh.
Teuntuk all panitia Magelang, SUKSES DAHSYAT LUAR BIASA.
***
Sekali lagi SEMANGAT DAHSYAT, semoga ini adalah langkah-langkah awal menuju KESUKSESAN PASTI, biidznillah.

Ini adalah jarring laba-laba yang tidak akan pernah putus, semoga UKHUWAH ini senantiasa membawakan barokah uintuk kita semua. Amiin.

d^^b
Bumi Perkemahan Kepurun Mansrenggo Klaten
2-4 Juli 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

بسم الله الرحمن الرحيم

Biar Cinta itu Bermuara Dengan Sendirinya

Kenapa tak pernah kau tambatkan
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau menerima
kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil, yang kemudian
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

(Judul Puisi " Pelabuhan " karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang)

Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan - kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama, aktif diorganisasi keislaman, dan masih banyak lagi hal - hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama. dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya "Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi?"

Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab " entahlah.."

Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang... Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya... Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki-laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..

Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati... Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini.... Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam... Dia berjanji untuk tidak mengisi hari-harinya dengan kesia-siaan.

"Lalu bagaimana dengan sosok laki-laki itu ??" Perlahan saya bertanya padanya.

"Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati.... Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati - hati dalam menata hati dan melabuhkan hati," ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar-benar menepati janjinya.

Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi, pijar bintang dimata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya.... Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya...cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan keluarganya... Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka... Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga.... saat seseorang itu pun hilang begitu saja... Masih ada setangkup harapan agar dia kembali....Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati.... akan selalu ada beribu kata maaf untuknya.... Masih ada beribu penantian walau tak pasti... Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??

Masih ada sejuta asa.... Masih ada sejuta makna.....Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama....

"Lalu... bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??" tanya saya suatu hari.

Perempuan itu berujar, " Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya... disaat yang tepat... dengan seseorang yang tepat.... dan pilihan yang tepat......hanya dari Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan pernikahan yang barokah.."

Semoga saja akan demikian adanya...

Untuk seorang sahabat.yang tengah meniti masa transisi
dini@mipp.ntt.net.id



sumber : eramuslim

Agar Surga Hadir Di Rumah Kita

Setelah bekerja seharian, keringat Fulan pun bercucuran. Hanya satu yang dia inginkan: segera tiba di rumah. Lalu bisa beristirahat, melepas penat. Saat pulang, baru sampai di pintu saja, rasa lelahnya sudah jauh berkurang. Istrinya yang setia, menyambutnya di pintu dengan senyum hangat. Anak-anaknya pun berteriak kegirangan, “Abi pulang… Abi pulang….” Begitu masuk rumah, segalanya sudah tertata rapi dan indah. Segelas teh hangat dan pisang goreng pun telah terhidang untuknya. Hem…nikmatnya….

Beruntunglah Fulan, memiliki rumah yang menyenangkan. Pantas saja dia selalu merindukan rumahnya, karena di situlah “surganya”.

Bersyukurlah, bila Anda seberuntung Fulan. Memiliki istri salehah, anak-anak yang lucu, dan rumah yang menyenangkan. Anda layak berkata, “ Baiti jannatii (rumahku surgaku).”

Sungguh, di zaman yang makin canggih seperti saat ini, sangat banyak orang yang tak seberuntung Fulan. Rumah hanya dijadikan tempat “numpang tidur”, karena aktivitas di luar rumah justru lebih banyak. Pergi subuh, pulang jam sembilan malam, sudah biasa. Konon, semua itu demi karir dan tuntutan kebutuhan.

Suami-istri sangat jarang memiliki waktu bersama di rumah. Anak-anak juga jarang bertemu dengan ayahnya. Saat ayahnya berangkat kerja, mereka belum bangun. Ketika ayahnya pulang, mereka sudah tidur. Istri pun mencari “kesenangan” sendiri dari orang lain, karena tidak mendapatkan kesenangan dan ketenangan dari suaminya. Hubungan antara suami dan istri menjadi renggang, dan pertengkaran pun tak terhindarkan. Semua saling menyalahkan. Masing-masing jadi tak betah di rumah. Bagi mereka, rumah ibarat neraka dunia. Na’udzubillaah min dzaalik.

Kalau kita disuruh memilih antara surga dan neraka, tentu semuanya menginginkan surga. Di dunia, juga di akhirat. Sebagaimana kita selalu berdoa, agar diberi kehidupan yang baik dan bahagia, di dunia maupun di akhirat, dan dijauhkan dari api neraka. Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar.

Di akhirat, surga menjadi hadiah bagi manusia yang beriman dan bertakwa semasa hidupnya. Beragam kenikmatan ada di sana. Allah l telah menciptakan dan melengkapi surga itu dengan berbagai hal untuk kesenangan manusia.

Bagaimana dengan surga dunia? Ia pun tidak akan tercipta dan kita rasakan secara otomatis, tanpa usaha. Kalau mau berusaha, kita bisa menghadirkannya di rumah kita. Betapa membahagiakan, bila baitii jannatii, bukan sekadar impian.

APA SAJA KIATNYA?

Berikut ini beberapa kiat yang bisa kita lakukan, untuk menghadirkan surga di rumah kita.

1. Milikilah sebaik-baik perhiasan dunia

Sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita shalihah. Dialah bidadari surga dunia. Dialah permaisuri di rumah kita. Siapa pun yang menginginkan rumahnya seindah surga, harus memilikinya.

Karena itu, kepada para lelaki, jangan pernah salah memilih calon permaisurimu. Kesalahan dalam memilih istri akan berakibat fatal bagi rumah tanggamu. Bisa jadi, bukan kebahagiaan yang akan kau dapat, tetapi neraka dunia. Nikahilah wanita yang salehah, agar bisa engkau jadikan partner setia untuk membangun surga dunia.

Rasulullah n bersabda, “Sebaik-baik wanita adalah jika kamu memandangnya dapat membuatmu senang, jika kamu menyuruhnya maka dia selalu taat, jika kamu memberinya (uang) maka dia akan menggunakannya untuk kebaikanmu, jika kamu pergi maka dia akan menjaga dirinya dan hartamu.” (Riwayat An-Nasa’i)

Wanita seperti itulah, yang akan bisa mendatangkan surga di rumahnya.

2. Perhatikan kebersihan, kerapian, dan keindahan rumah

Surga tak mungkin hadir, di rumah yang mirip kapal pecah. Kotor dan berantakan di sana-sini. Rumah seperti itu, juga tidak akan mendatangkan ketenteraman di hati penghuninya. Hanya akan membuat sumpek dan tak betah.

Untuk menciptakan rumah seindah surga, maka para penghuninya harus kompak dalam menjaga kebersihan, kerapian, dan keindahan rumah.

Bersihkan rumah setiap hari. Hilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sediakan tempat sampah di sudut dapur. Untuk interior dalam rumah, tatalah seapik dan serapi mungkin. Biar pun perabotan rumah kita sangat sederhana, namun bila ditata dengan rapi, tentu akan tampak lebih serasi dan indah.

Jangan pernah menunda membereskan segala sesuatu. Misalnya, sehabis makan, usahakan segera mencuci perabotnya agar tidak menumpuk. Kalau piring dan gelas kotor dibiarkan menumpuk, akan mengganggu pandangan, dan membuat kita semakin malas membereskannya. Selain itu, akan mengundang binatang-binatang seperti semut, tikus, atau kucing untuk mendekat.

3. Hiasi diri dan anak-anak dengan akhlakul karimah

Rumah mewah tidak akan membahagiakan bila para penghuninya tidak menghiasi diri dengan akhlakul karimah. Karena itu, suami-istri harus berusaha untuk memperbagus akhlaknya, serta mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik.

Seorang suami hendaknya membiasakan diri untuk bercakap-cakap dengan lemah lembut, tidak main bentak pada anak maupun istrinya. Demikian pula sebaliknya. Ingatlah sabda Rasulullah n bahwa sebaik-baik suami adalah yang paling baik terhadap keluarganya.

4. Jaga keluarga agar tidak kelaparan

Seorang anak akan mudah rewel dan marah-marah, bila sampai kelaparan. Juga seorang suami atau istri, emosinya akan mudah tersulut bila ia dalam keadaan lelah dan lapar. Karena itu, suami harus bisa memberikan nafkah yang mencukupi, agar keluarganya tidak sampai kelaparan.

Pun seorang istri, harus mampu menghidangkan masakan lezat bagi suami dan anak-anaknya. Masakan lezat, tidak harus diolah dari bahan yang mahal. Ubi rebus pun bisa jadi makanan lezat, bila dihidangkan bersama teh hangat, dan dinikmati bersama-sama. Kebersamaan itu akan menurunkan berkah dari langit, dan membuat makanan sederhana jadi lebih istimewa.

5. Bersikaplah qana`ah

Sikap qana`ah, adalah sikap menerima dan mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Allah l pada kita. Seberapa pun rezeki yang Allah berikan, harus selalu kita syukuri. Barangsiapa yang bersyukur maka Allah l akan menambah nikmat-Nya, dan barangsiapa kufur nikmat maka Allah akan mengazabnya.

Agar kita lebih mudah bersyukur, maka perhatikanlah sabda Rasulullah n, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia –ed), dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian (dalam urusan dunia –ed). Hal ini lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

6. Hindari konflik berkepanjangan

Bila suatu saat terjadi konflik di antara suami dan istri, maka Anda berdua harus berusaha untuk segera meredamnya. Jangan ragu atau malu untuk mengakui kesalahan, atau meminta maaf lebih dulu, demi keharmonisan rumah tangga.

Biasakanlah mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” dalam berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga.

7. Jauhkan setan dari rumah kita

Agar setan menjauh dari rumah kita, maka semarakkanlah rumah dengan zikir dan bacaan al-Quran. Jangan pernah lupa untuk membentengi diri dan keluarga dengan zikir pagi dan petang. Jangan pula menjadikan rumah kita seperti kuburan, yang sepi dari bacaan al-Quran. Rumah yang tak pernah dibacakan zikir dan kalamullah di dalamnya, akan sangat disukai oleh setan.

Selain itu, jauhkanlah rumah kita dari gambar-gambar makhluk bernyawa. Gambar-gambar itu sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan sangat disukai oleh setan.

Bagi yang memiliki televisi, gunakan hanya untuk melihat tayangan yang bermanfaat.

8. Hiaslah rumah atau halamannya dengan sesuatu yang menyejukkan

Tanamlah berbagai pohon perindang, atau bebungaan, yang akan menyegarkan dan menyejukkan. Suasana teduh, asri, dan indah akan tercipta, sehingga membuat kita makin betah tinggal di rumah.

Mudah-mudahan kita bisa menghadirkan surga di rumah kita…. (Ummunaziha)


http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest¬e_id=411645399769#!/?sk=messages&tid=1337608875852

mine

Cintaku Seujung Kuku

Ketika seseorang yang sudah lama menikah ditanya, sebesar apakah cintamu pada pasanganmu? Seringkali dia menjawab, “Tidak tahu.” Kadang-kadang malah ditambah, “Bahkan aku tak tahu apakah masih mencintainya atau tidak….” Padahal dulu, ketika masih pengantin baru, dia merasa sangat mencintai istri atau suaminya.

Memang, banyak orang yang saat awal menikah begitu mencintai pasangannya, namun seiring berjalannya waktu, cintanya kian surut, dan memudar. Rumah tangga jadi terasa hampa. Semuanya dilakukan hanya sebagai rutinitas, tak bermakna, dan hati pun jauh dari bahagia.

Kita tentu tak ingin, yang seperti itu terjadi dalam rumah tangga kita. Akan tetapi…jika rasa cinta kita pada pasangan benar-benar kian memudar, adakah resep mujarab yang bisa menumbuhkannya kembali? Tentu saja ada! Bukankah di antara pasangan yang sudah bercerai saja banyak yang masih bisa rujuk? Apalagi yang belum bercerai!

Resep itu bagaikan air yang disiramkan pada tanaman yang layu. Menjadikan tanaman itu tegak dan segar kembali. Resep itu begitu mudah dan sederhana. Semua orang bisa melakukannya. Hanya saja, tidak semua orang mau melakukannya. Karena, untuk melakukannya diperlukan ketulusan. Rasa ego dan gengsi yang bersemayam dalam hati pun harus dibuang. Apakah Anda siap dengan semua itu? Anda harus siap, bila ingin menyelamatkan istana cinta yang sudah Anda bangun dengan susah payah.

Menyegarkan Cinta yang Kian Pudar

Cinta itu seperti tanaman. Harus selalu disiram, dipupuk dan dirawat, agar tumbuh segar, bersemi, dan berbunga. Inilah beberapa resep yang bisa diandalkan untuk menumbuhkan kembali cinta Anda berdua.

1. Berhiaslah untuknya.

Kita semua tentu senang melihat suami atau istri yang selalu tampil menarik. Berhias, tidak selalu identik dengan make up. Tampillah di hadapan pasangan Anda dengan wajah yang ceria, rambut yang rapi, pakaian yang bersih dan sedikit parfum.

Untuk para suami, hendaknya ketika akan pulang dari bepergian memberi tahu istrinya lebih dulu, agar ia bisa bersiap-siap menyambut suaminya.

Dalam sebuah hadits, Jabir z berkisah, “Kami pernah bersama Nabi n dalam suatu peperangan. Ketika kami kembali ke Madinah, kami segera untuk masuk (ke rumah guna menemui keluarga). Maka beliau bersabda, ‘Bersabarlah sampai engkau memasuki pada waktu malam -yakni waktu isya’- agar wanita-wanita yang kusut dapat bersisir dan wanita-wanita yang ditinggal lama dapat berhias diri.’” (Muttafaq Alaihi). Menurut riwayat Bukhari: “Apabila salah seorang di antara kamu lama menghilang, janganlah ia mengetuk keluarganya pada waktu malam.”

2. Beri dia kejutan/hadiah

Sekali-kali, berikan hadiah atau kejutan pada pasangan Anda. Pilih barang yang sangat disukainya, atau memang dibutuhkannya. Dari pakaian dalam, kaos atau daster, baju koko atau jubah, atau apa saja, tergantung berapa yang Anda anggarkan. Hadiah adalah salah satu wujud perhatian Anda pada pasangan. Itu akan bisa menyenangkan hatinya, dan menyuburkan rasa cintanya pada Anda.

Bisa juga Anda membawakan oleh-oleh yang istimewa sepulang dari bepergian. Misalnya makanan atau barang yang khas dari daerah yang baru saja Anda kunjungi.

3. Ciptakan kemesraan bersamanya.

Belajarlah dari kemesraan Rasul n kepada istri-istrinya.

- Sering-seringlah mencium atau memeluknya.

Dari Aisyah x bahwa Nabi n mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudlu dahulu. (Riwayat Ahmad, dinilai lemah oleh Bukhari)

Dalam hadits lain, Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Salah seorang di antara kami apabila haid dan Nabi Muhammad n ingin memeluknya, beliau menyuruhnya untuk berkain pada saat haidnya, kemudian beliau memeluknya.” Aisyah berkata, “Siapakah di antaramu yang dapat mengendalikan syahwat nya sebagaimana Nabi Muhammad n mengendalikan syahwat beliau?” (Riwayat Bukhari)

Dari hadits di atas tentu kita tahu, sekadar peluk cium tidak mesti diakhiri dengan jima’. Semua itu dilakukan untuk menunjukkan cinta kasih beliau kepada istrinya. Seorang wanita yang diperlakukan seperti itu, akan semakin yakin kalau ia benar-benar dicintai oleh suaminya.

- Mengajak/mengundi istrinya bila bepergian.

Aisyah x berkata, Rasulullah n bila ingin bepergian, beliau mengundi antara istri-istrinya, maka siapa yang undiannya keluar, beliau keluar bersamanya. (Muttafaq Alaihi)

Mengajak istri untuk bepergian adalah sunnah. Karena dengan mengajak istri, suami akan lebih “terjaga” dalam perjalanannya. Bukankah akan ada bermacam fitnah dan godaan yang akan dia lihat selama dalam perjalanan? Dengan membawa istri, ia akan merasa lebih tenang. Istri pun akan senang, karena bepergian bersama suami bisa menjadi ajang refreshing baginya.

- Mandi bersama.

Ini juga bukan hal tabu bagi suami istri, karena bisa menambah kemesraan di antara keduanya. Rasulullah n juga pernah mandi bersama istrinya dengan satu bejana.

- Mengajak lomba.

Dalam sebuah hadits dari Aisyah dikisahkan, bahwa Rasulullah n pernah mengajak Aisyah berlomba lari. Ketika Aisyah masih kurus, istri tercinta Nabi itu memenangkannya. Saat Aisyah badannya gemuk, Nabilah yang menang. Lihatlah, betapa Nabi n bukanlah suami yang “selalu serius” terhadap istrinya. Beliau tidak hanya memberikan perintah dan larangan, tapi juga mengajaknya bersantai dan bermain-main.

- Rebahan di pangkuan istri.

Aisyah x berkata, “Nabi Muhammad n. bersandar di pangkuanku, padahal aku sedang haid, kemudian beliau membaca al-Quran.” (Riwayat Bukhari)

4. Ingat-ingat kebaikannya. Lupakan dan maafkan keburukan dan kesalahannya.

Allah l berfirman, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (istri-istri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)

Demikian juga para istri, hendaknya bersabar bila menemui hal-hal yang kurang disukainya dari suaminya.

5. Berpikirlah positif.

Berpikirlah bahwa dialah yang terbaik bagi Anda. Jangan membandingkan dirinya dengan orang lain. Bukankah Anda sendiri tidak suka dibanding-bandingkan?

Ingatlah firman Allah l, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

6. Ingat saat awal menikah.

Masa-masa bulan madu, saat awal menikah begitu mengesankan. Ingat-ingatlah masa itu, dan jangan biarkan berlalu tanpa bekas. Sekali tempo, ajaklah pasangan Anda napak tilas ke tempat-tempat romantis atau sekedar warteg yang pernah Anda kunjungi saat pengantin baru.

7. Jangan hanya menuntut hak, namun melalaikan kewajiban.

Hak dan kewajiban sebagai pasutri harus dilaksanakan secara seimbang. Tidak boleh masing-masing hanya menuntut haknya, sedangkan kewajibannya dilalaikan. Di antara hak suami atas istri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami dan memperlakukannya dengan benar dan jujur, mentaati perintahnya dan tidak keluar (meninggalkan) rumah kecuali dengan izin suaminya, tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang yang tidak disukai suaminya. Di antara kewajiban suami terhadap istrinya adalah memberinya nafkah, melindunginya dan mempergaulinya dengan baik.

8. Berdoa.

Lengkapilah usaha Anda dengan doa. Mohonlah kepada Allah l, agar menurunkan sakinah, mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga Anda. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Misalnya sepertiga malam terakhir, di waktu safar (bepergian), antara adzan dan iqomat, dan pada hari Jumat setelah asar.

Agar doa Anda segera dikabulkan, mungkin Anda perlu mengamalkan hadits berikut ini:

“Barangsiapa ingin agar doanya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi, hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan.” (Riwayat Ahmad)

Kini, kalau ditanya seberapa besar cinta Anda pada pasangan, Anda bisa menjawab, “Cintaku…seujung kuku.” Kecil sih, tapi terus tumbuh…meski sering dipotong dan dirapikan. Tentu saja, itu cuma bercanda!


http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=1526271202414#!/?sk=messages&tid=1526271202414

JAMBORE 1000 anak yatim @ Manisrenggo

[lirik] nasyid gondes.

Bangun pagi…dini hari
Buru-buru sampai lupa mandi
Ingat janji mau ketemu Murobbi
Dengan semangat tinggi…juga bawa data diri

Dandanan rapi…aromanya serba wangi
Sisiran gaya sepuluh jari
Menata hati…biar tidak tampak grogi
Terima tantangan dengan PeDe tinggi

Terkejutnya…tiada tara…
Saat Murobbi memberi data
Sekumtum bunganya serba mempesona
Hapalan Al-Qur’annya…(yuhu…)..Sungguh luar biasa

Visi jihadnya…mengurai indah Sastra
Visi da’wahnya…setara dengan S3

Sedangkan diri…cuma pemateri…
LDK atau sekolah pagi
Paling banternya hanya jadi MC
Juz ‘Ammanya pun bolong sana-sini…

Susahnya…mengukur…Potensi…di dalam hati…
Jujur mana tahan hidup sendiri…
Mudahkanlah segala pintu rizki…
Dengan Ma’isyah dan A’isyah…Percayalah hidup jadi serba indah…


http://princessdhyta.blogspot.com/2009/10/lirik-nasyid-gondes.html