I. Mukaddimah
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an, dan Dia tidak membuat sesuatu yang tidak lurus di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang pedih dari Allah dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, yang mengerjakan amal soleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka (akan menikmati kehidupan sorga) kekal di dalamnya untuk selamanya”(al-Kahfi:1-3)
Al-Qur’an adalah pedoman begi manusia yang ingin memilih jalan kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing (guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).
Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”, yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).
II. Pembahasan
A. Posisi Kerja dalam Kitabullah
Al-Qur’an menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “amalun”, terdapat tidak kurang dari 260 musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah. Disebut “fi’lun” dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata “shun’un”, tidak kurang dari 17 derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata “taqdimun”, dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.
Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk menjelaskannya, Al Qur’an mempergunakan empat istilah: “Amal Shalih”, tak kurang dari 77 kali; ‘amal yang “Ihsan”, lebih dari 20 kali; ‘amal yang “Itqan”, disebut 1 kali; dan ”al-Birr”, disebut 6 kali. Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, al-Qashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23), pekerjaan yang bercampur dengan keburukan (at-Taubah:102), pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4, Fusshilat: 25).
Al-Qur’an sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan dengan kerja dalam segala manifestasinya (al-Hajj: 77-78, al-Baqarah:177).
Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum.
Syarat pokok agar setiap aktivitas kita bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.
Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).
Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).
Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu, tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.
B. Kualitas Etik Kerja
Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain. Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’ Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.
Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.
1. Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)
Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)
Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, secara material dan moral-spiritual. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama, maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat, dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. Jika hal ini pun tidak dilakukan, minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk, lebih-lebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). Dengan prosedur ini, seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan.
2. Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness)
Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).
3. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi)
Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.
Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan.
Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.
Kedua ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125)
Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah, dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT.
4. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal)
Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, al-Maidah: 35, al-Hajj: 77, al-Furqan: 25, dan al-Ankabut: 69).
Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.
Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).
5. Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong)
Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.
Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun). Dengan demikian, obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda, yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3), sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik, dan karenanya, ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya.
6. Mencermati Nilai Waktu
Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih, sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.
Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.
Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal, 10)
III. Penutup
Jihad Sebagai Etos
Ruhul jihad dalam bekerja mempersyaratkan mobilisasi dan optimalisasi pemberdayaan segenap potensi di jalan Allah untuk kebaikan setiap orang. Ruhul mujahadah menuntut kesabaran dan kontinyuitas kerja, bahkan menuntut tingkat kesabaran ekstra yang mampu mengungguli kesabaran para pesaing. Semua itu didukung dengan ketekunan untuk murabathah, yakni pantang meninggalkan pekerjaan sebelum selesai (Ali Imran: 200). Ruhul jihad menolak setiap bentuk ketidakcermatan dalam memanajemen waktu yang begitu berharga; ketidak rofesionalan dalam mengelola sumber daya yang demikian mahal. Dengan tegas pula, ia menolak setiap perasaan dan sikap lemah, malas dan kurang serius, mengandalkan pada kemampuan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, lebih-lebih mencatut prestasi orang lain sebagai hasil karyanya. Sebab, cara ini analog dengan memakan harta orang lain secara batil (al Baqarah: 188 )
Secara teoritis, Kaum Muslimin mempunyai etos kerja yang demikian kuat dan mendasar, karena ia bermuara pada iman, berhubungan langsung dengan kekuatan Allah, dan merupakan persoalanm hidup dan mati. Akan tetapi, tidak diingkari kalau kenyataannya masih ‘jauh panggang dari pada api’. Sebaliknya, Kaum Muslimin belum tahu kalau mereka itu mempunyai kekuatan etos kerja yang sangat dahsyat, dan ketika mereka melihat prestasi suatu bangsa atau umat lain, sebagian orang Islam salut dan terpana dengan etos kerja mereka, dan kadang sambil bertanya dengan agak sinis: Adakah etos kerja dalam Islam?
Maka, di sinilah Kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara benar dan mengambil semangat atau ‘apinya’. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani)
Dengan ruhul jihad, setiap muslim akan mampu mengukir prestasi dengan penuh kegairahan, kemudian secara pasti akan mengembalikan ‘izzah atau harga dirinya, sehingga disegani oleh umat lain. Sebab, kemuliaan dan gensi itu adalah milik Allah, rasul-Nya, serta orang-orang beriman (al-Munafiqun: 8 ). Tanpa semangat jihad, mereka takkan lebih dari sekedar umat ritual yang nampak soleh, tetapi tanpa gengsi, bahkan boleh jadi inferior terhadap umat atau bangsa lain.
Semangat inilah yang hendak dirusak dan dilumpuhkan oleh pemikiran dan budaya asing, demi lestarinya pengaruh mereka terhadap negeri-negeri muslim. Kaum Muslimin dijadikan target invasi pemikiran dan budaya (al-gazwul fikri). Mereka dicuri waktunya dengan berbagai sarana dan acara hiburan yang menyuguhkan budaya santai, lembek, dan pornografis. Maka, bersemailah di bumi Kaum Muslimin hiburan-hiburan yang berselera rendah, sikap basa-basi, asal bapak senang (ABS) serta budaya minta petunjuk, memudarnya kejantanan kaum pria yang bergaya wanita, dan akhirnya membentuk sikap al wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.
Profil seorang muslim adalah insan yang ramah, tetapi bukan lemah; serius, tetapi familiar dan tidak kaku; perhitungan, tetapi bukan pelit; penyantun, tetapi mengajak bertanggung jawab; disipilin, tetapi pengertian, mendidik, dan mengayomi; kreatif dan enerjik, tetapi hanya untuk kebaikan; selalu memikirkan prestasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Kesenangannya adalah meminta maaf dan memberi bantuan dan kepandaiannya adalah dalam rangka mengakui karunia Allah dan menghargai jasa atau prestasi orang lain.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, serta para mujahidin di segala bidang sepanjang zaman. Berkat prestasi kerja mereka itulah, peta kejayaan ummat dapat diukurkan. Semoga kita mampu bergabung dalam barisan mereka. Aamin.
Posted on Mei 6th, 2009 oleh muslimin
Filed under: angkatan 2001 | No Comments »
Kokoh dan Indahnya Silaturahmi
Oleh : K.H Abdullah Gymnastiar
Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai’iin, Saudaraku yang budiman, ketika bulan penuh rahmat telah tiba, yaitu bulan ramadhan bulan yang penuh berkah dan pengampunan, marilah kita jalani kehidupan kembali ke fitrah kita, sebagai insan Allah SWT. Dengan semangat yang baru, terutama diawali dengan beberapa hal berikut ini :
Pertama, Meningkatkan Silaturahmi
Hikmah dari sikap Nabi Muhammad selalu berbeda jalan ketika berangkat dan pulang dari masjid adalah karena beliau setiap waktu ingin selalu memperbanyak silaturahmi dengan umatnya. Artinya kitapun harus memiliki budaya yang sama yaitu upayakan memiliki jadwal dan cara khusus untuk bersilaturahmi dengan sebanyak mungkin kalangan, baik yang sudah dikenal ataupun yang belum. Baik yang akrab maupun yang tak menyukai kita.
Andai saja kita tahu kedahsyatan manfaat silaturahmi, niscaya sepanjang waktu ini rasanya ingin selalu bersilaturahmi. Setidaknya silaturahmi yang baik akan menambah saudara baru dan mempereratnya, menambah wawasan dan ilmu serta semakin menambah kekuatan bagi ukhuwah kita. Sering sekali terjadi salah paham karena lemahnya komunikasi akibat jarangnya bersilaturahmi. Pendek kata silaturahmi yang teratur dan terprogram dengan baik adalah bagian kunci suksesnya ukhuwah kita ini.
Kedua, Kirimlah Hadiah
Nabi Muhammad Saw, sudah mengisyaratkan bahwa berkiriman itu akan menambah rasa sayang dan memang kenyataannyapun demikian. Bila ada yang berkirim sesuatu yang bermanfaat bagi kita, pada umumnya akan senang hati dan merasa hutang budi, cenderung lebih memaafkan dan mempererat hubungan.
Oleh karena itu, kita harus memiliki program pengadaan dana untuk hadiah kepada orang tua, tetangga, kawan dekat, dan siapapun yang kita harapkan dapat bersinergi dalam ukhuwah ini. Tentu saja semuanya ini harus sangat terjaga, keikhlasannya. Biasakanlah setiap kali memiliki makanan, tetanggapun ikut menikmatinya. Jauh sangat lebih baik kita makan hanya separuh dari makanan sendiri dan sebagian yang lain dinikmati saudara seiman lainnya dari pada kenyang sendiri dan orang lain tak mendapatkan apapun.
Ketiga, Jauhi Perdebatan walaupun Benar
Jujur saja sebetulnya perdebatan yang banyak terjadi tampaknya bukan sedang mencari kebenaran tapi lebih dekat kepada mencari kemenangan pendapatnya sendiri, hal ini tampak dari cara dan bentuk percakapannya yang lebih menjurus pada berbantah-bantahan secara emosi, kata yang saling menyerang dan bau permusuhan saling menyudutkan, jauh dari cara kajian ilmiah yang penuh etika.
Maka sekiranya kita ada dalam situasi yang tak sehat ini menghindar dari berdebat bukanlah suatu tindakan menghindar dari kebenaran, melainkan menghindar dari peluang bangkit dan berkobarnya suasana permusuhan, berpalinglah dan carilah topik bahasan yang lebih mempersatukan.
Tentu saja bukan tidak boleh mengadakan diskusi pemecahan masalah, namun harus didasari kesiapan mental yang baik, kesiapan ilmu yang memadai, dan kesiapan mendengar serta berbicara yang baik pula, Insya Allah akan datang petunjuk Allah dalam mecari kebenaran.
Keempat, Selalu Berusaha Mendahului Menegur, Mengucapkan Salam, Berjabat Tangan Dengan Ramah Dan Tulus.
Dengan kata lain, praktekkan lima (5) S Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Insya Allah interaksi kita kepada siapapun akan jauh lebih bermakna jikalau wajah kita senantiasa diliputi senyuman, sapa penuh kelembutan, dan akhlak yang penuh kerendahan hati akan memikat setiap orang yang kita jumpai. Alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun.
Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemulian.
Posted on Mei 4th, 2009 oleh muslimin
Filed under: guruku | No Comments »
10 manfaat silaturahmi
1. Mendapatkan ridho Allah SWT.
2. Membuat orang yang dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.”
3. Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
4. Disenangi oleh manusia.
5. Membuat iblis dan setan marah.
6. Memanjangkan usia.
7. Menambah banyak dan berkah rejekinya.
8. Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
9. Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.
Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v
Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...
Selasa, 27 April 2010
Etos kerja dalam Islam
60 Pintu Pahala Dan Pelebur Dosa
Milis DT - Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad saw dan utusan yang paling mulia. Risalah ini ditujukan kepada setiap muslim yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya.
Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
1. TAUBAT
"Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya" (HR. Muslim, No. 2703.)
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan".
2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga" HR. Muslim, No. 2699.
3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
"Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: "Tentu", lalu beliau bersabda: Zikir kepada Allah Ta`ala" HR. At Turmidzi, No. 3347.
4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
"Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya" HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.
5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" HR. Muslim, No. 2674.
6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
"Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman" HR. Muslim, No. 804.
7. MEMBACA AL QUR`AN
"Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya" HR. Muslim, No. 49.
8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an & mengajarkannya " HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.
9. MENYEBARKAN SALAM
"Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam" HR. Muslim, No.54.
10. MENCINTAI KARENA ALLAH
"Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: "Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku" HR. Muslim, No. 2566.
11. MEMBESUK ORANG SAKIT
"Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga" HR. Tirmidzi, No. 969.
12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
"Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat" HR. Muslim, No.2699.
13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat" HR. Muslim, No. 2590.
14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
"Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.
15. BERAKHLAK YANG BAIK
"Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: "Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik" HR. Tirmidzi, No. 2003.
16. JUJUR
"Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga" HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.
17. MENAHAN MARAH
"Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai" HR. Tirmidzi, No. 2022.
18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
"Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a: (Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut" HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.
19. SABAR
Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya" HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.
20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
"Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka...!" Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: "Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga" HR. Muslim, No. 2551.
21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
"Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah" dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka" HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.
22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
"Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini," seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah. HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.
23. WUDHU`
"Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya" HR. Muslim, No. 245.
24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`
Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan: (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci)," maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki" HR. Muslim, No. 234.
25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
"Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan: "Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya" maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat." HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.
< MASJID MEMBANGUN>
"Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga" HR. Bukhari, No. 450.
27. BERSIWAK
"Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat" HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.
28. BERANGKAT KE MASJID
"Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore" HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.
29. SHALAT LIMA WAKTU
"Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa" HR. Muslim, No. 228.
30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
"Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga" HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.
31. SHALAT JUM`AT
"Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari" HR. Muslim, 857.
32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
"Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya." HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.
33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
"Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga" HR. Muslim, No. 728.
34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
"Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya" HR. Abu Daud, No.1521.
35. SHALAT MALAM
"Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam" HR. Muslim, No. 1163.
36. SHALAT DHUHA
"Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha" HR. Muslim, No. 720.
37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali" HR. Muslim, No. 384.
38. PUASA
"Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.
39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
"Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa" HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.
40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
"Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa" HR. Muslim, 1164.
41. PUASA `ARAFAH
"Puasa pada hari `Arafah (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang" HR. Muslim, No. 1162.
42. PUASA `ASYURA
"Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya" HR. Muslim,No. 1162.
43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
"Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun" HR. Tirmidzi, No. 807.
44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
"Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu"HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.
45. SEDEKAH
"Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api" HR. Tirmidzi, No. 2616.
46. HAJI DAN UMRAH
"Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga" HR. Muslim, No. 1349.
47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
"Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: "Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: "Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun" HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.
48. JIHAD DI JALAN ALLAH
"Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.
49. INFAQ DI JALAN ALLAH
"Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang" HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.
50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
"Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: "Apakah dua qirat itu?", beliau menjawab: Seperti dua gunung besar" HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.
51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
"Siapa yang menjamin bagiku "sesuatu" antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga" HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.
52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH & SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
"Barangsiapa mengucapkan: sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya". Dan beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan" HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.
53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
"Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang" HR. Muslim.
54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
"Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga" HR. Ahmad dengan sanad yang baik.
55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
"Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga" HR. Bukhari.
57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
"Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya"HR. Abu Daud.
58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga?" Mereka berkata: "Tentu wahai Rasulullah", maka beliau bersabda: "Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga." Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.
59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
"Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki." HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.
60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
"Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga" Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.
Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya.
Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
1. TAUBAT
"Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya" (HR. Muslim, No. 2703.)
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan".
2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga" HR. Muslim, No. 2699.
3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
"Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: "Tentu", lalu beliau bersabda: Zikir kepada Allah Ta`ala" HR. At Turmidzi, No. 3347.
4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
"Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya" HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.
5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" HR. Muslim, No. 2674.
6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
"Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman" HR. Muslim, No. 804.
7. MEMBACA AL QUR`AN
"Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya" HR. Muslim, No. 49.
8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an & mengajarkannya " HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.
9. MENYEBARKAN SALAM
"Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam" HR. Muslim, No.54.
10. MENCINTAI KARENA ALLAH
"Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: "Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku" HR. Muslim, No. 2566.
11. MEMBESUK ORANG SAKIT
"Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga" HR. Tirmidzi, No. 969.
12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
"Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat" HR. Muslim, No.2699.
13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat" HR. Muslim, No. 2590.
14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
"Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.
15. BERAKHLAK YANG BAIK
"Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: "Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik" HR. Tirmidzi, No. 2003.
16. JUJUR
"Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga" HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.
17. MENAHAN MARAH
"Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai" HR. Tirmidzi, No. 2022.
18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
"Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a: (Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut" HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.
19. SABAR
Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya" HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.
20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
"Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka...!" Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: "Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga" HR. Muslim, No. 2551.
21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
"Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah" dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka" HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.
22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
"Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini," seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah. HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.
23. WUDHU`
"Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya" HR. Muslim, No. 245.
24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`
Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan: (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci)," maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki" HR. Muslim, No. 234.
25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
"Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan: "Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya" maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat." HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.
< MASJID MEMBANGUN>
"Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga" HR. Bukhari, No. 450.
27. BERSIWAK
"Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat" HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.
28. BERANGKAT KE MASJID
"Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore" HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.
29. SHALAT LIMA WAKTU
"Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa" HR. Muslim, No. 228.
30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
"Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga" HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.
31. SHALAT JUM`AT
"Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari" HR. Muslim, 857.
32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
"Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya." HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.
33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
"Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga" HR. Muslim, No. 728.
34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
"Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya" HR. Abu Daud, No.1521.
35. SHALAT MALAM
"Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam" HR. Muslim, No. 1163.
36. SHALAT DHUHA
"Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha" HR. Muslim, No. 720.
37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali" HR. Muslim, No. 384.
38. PUASA
"Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.
39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
"Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa" HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.
40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
"Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa" HR. Muslim, 1164.
41. PUASA `ARAFAH
"Puasa pada hari `Arafah (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang" HR. Muslim, No. 1162.
42. PUASA `ASYURA
"Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya" HR. Muslim,No. 1162.
43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
"Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun" HR. Tirmidzi, No. 807.
44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
"Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu"HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.
45. SEDEKAH
"Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api" HR. Tirmidzi, No. 2616.
46. HAJI DAN UMRAH
"Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga" HR. Muslim, No. 1349.
47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
"Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: "Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: "Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun" HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.
48. JIHAD DI JALAN ALLAH
"Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya" HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.
49. INFAQ DI JALAN ALLAH
"Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang" HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.
50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
"Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: "Apakah dua qirat itu?", beliau menjawab: Seperti dua gunung besar" HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.
51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
"Siapa yang menjamin bagiku "sesuatu" antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga" HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.
52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH & SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
"Barangsiapa mengucapkan: sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya". Dan beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan" HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.
53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
"Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang" HR. Muslim.
54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
"Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga" HR. Ahmad dengan sanad yang baik.
55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
"Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga" HR. Bukhari.
57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
"Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya"HR. Abu Daud.
58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga?" Mereka berkata: "Tentu wahai Rasulullah", maka beliau bersabda: "Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga." Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.
59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
"Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki." HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.
60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
"Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga" Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.
jika aku jatuh cinta . . . .
Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Saya Ini Sedang Futur
saya ini sedang futur
terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekan
dengan alasan klasik kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah
saya ini sedang futur
jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
dulu tilawah tidak pernah ketinggalan sekarang satu lembar udeh lumayan
tilawah sudah tidak berkesan, nonton layar emas ketagihan
saya ini sedang futur
mulai malas sholat malam, jarang bertafakkur
ba'da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur
apalagi waktu libur, sampai menjelang dzuhur
saya ini sedang futur
lihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsit
kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit
apalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah
saya ini sedang futur
tak lagi pandai bersyukur
seneng disanjung dikritik murung
saya ini sedang futur
malas ngurusin da'wah, rajin bikin ortu marah
sedikit sekali muhasabah, sering kali meng ghibah
ya..saya memang sedang futur
mengapa saya futur......???
mengapa tidak ada satu ikhwah pun yang menegur dan menghibur??
kenapa batas-batas mulai mengendur??
kepura-puraan, basa basi dan kekakuan subur??
kenapa di antara kita sudah tidak jujur??
kenapa ukhuwah di antara kita sudah mulai luntur??
kenapa di antara kita hanya pandai bertutur??
Ya Allah..berikan hambaMu ini pelipur
agar saya tidak semakin futur
apalagi sampai tersungkur...
ente tau ane lagi futur
sedikit dzikir, banyakan tidur belajar ngawur, IP pun hancur
shohib- shohib kagak ada yang negur
ente tau ane lagi futur
hati beku, otak ngelantur mikirin orang se-dulur,
diri sendiri kagak pernah ngukur
ente taulah ane sekarang
seneng duduk di kursi goyang,
perut kenyang hati melayang
mulut sibuk ngomongin orang,
aib sendiri nggak kebayang
ente tau ane bengal
bangun malem sering ditinggal
otak bebal banyak mengkhayal,
udeh lupa yang namanya ajal
ente tau ane begini
udah sok tau, seneng dipuji ngomong sok suci kayak murrabi,
kagak ngaca diri sendiri
ente tau ane gegabah
petantang petenteng merasa gagah,
diri ngaku-ngaku ikhwah kalo mo muhasabah,
diri ini nggak beda sama sampah
ente tau ane sekarang udah kalah di medan perang
ane pengen pulang kandang,
ke tempat ane dulu datang
nb: buat semua saudaraku....kunjungilah saudaramu tengoklah dia barang sebentar....
mungkin keimanannya sedang berada diujung tanduk
mungkin keimanannaya sedang dipertaruhkan..
raihlah dia..rengkuhlah dia
ajaklah dia bersama melihat terbitnya fajar kebangkitan Islam
ajaklah dia bersama menuju cinta NYA menuju surgaNYa menuju ampunan NYA
janganlah sibuk dengan diri sendiri pedulilah dengan sekelilingmu
pedulilah dengan mereka yang mengharap datangnya secercah cahaya
jadilah orang yang bermanfaat untuk orang-orang disekitarmu
terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekan
dengan alasan klasik kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah
saya ini sedang futur
jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
dulu tilawah tidak pernah ketinggalan sekarang satu lembar udeh lumayan
tilawah sudah tidak berkesan, nonton layar emas ketagihan
saya ini sedang futur
mulai malas sholat malam, jarang bertafakkur
ba'da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur
apalagi waktu libur, sampai menjelang dzuhur
saya ini sedang futur
lihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsit
kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit
apalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah
saya ini sedang futur
tak lagi pandai bersyukur
seneng disanjung dikritik murung
saya ini sedang futur
malas ngurusin da'wah, rajin bikin ortu marah
sedikit sekali muhasabah, sering kali meng ghibah
ya..saya memang sedang futur
mengapa saya futur......???
mengapa tidak ada satu ikhwah pun yang menegur dan menghibur??
kenapa batas-batas mulai mengendur??
kepura-puraan, basa basi dan kekakuan subur??
kenapa di antara kita sudah tidak jujur??
kenapa ukhuwah di antara kita sudah mulai luntur??
kenapa di antara kita hanya pandai bertutur??
Ya Allah..berikan hambaMu ini pelipur
agar saya tidak semakin futur
apalagi sampai tersungkur...
ente tau ane lagi futur
sedikit dzikir, banyakan tidur belajar ngawur, IP pun hancur
shohib- shohib kagak ada yang negur
ente tau ane lagi futur
hati beku, otak ngelantur mikirin orang se-dulur,
diri sendiri kagak pernah ngukur
ente taulah ane sekarang
seneng duduk di kursi goyang,
perut kenyang hati melayang
mulut sibuk ngomongin orang,
aib sendiri nggak kebayang
ente tau ane bengal
bangun malem sering ditinggal
otak bebal banyak mengkhayal,
udeh lupa yang namanya ajal
ente tau ane begini
udah sok tau, seneng dipuji ngomong sok suci kayak murrabi,
kagak ngaca diri sendiri
ente tau ane gegabah
petantang petenteng merasa gagah,
diri ngaku-ngaku ikhwah kalo mo muhasabah,
diri ini nggak beda sama sampah
ente tau ane sekarang udah kalah di medan perang
ane pengen pulang kandang,
ke tempat ane dulu datang
nb: buat semua saudaraku....kunjungilah saudaramu tengoklah dia barang sebentar....
mungkin keimanannya sedang berada diujung tanduk
mungkin keimanannaya sedang dipertaruhkan..
raihlah dia..rengkuhlah dia
ajaklah dia bersama melihat terbitnya fajar kebangkitan Islam
ajaklah dia bersama menuju cinta NYA menuju surgaNYa menuju ampunan NYA
janganlah sibuk dengan diri sendiri pedulilah dengan sekelilingmu
pedulilah dengan mereka yang mengharap datangnya secercah cahaya
jadilah orang yang bermanfaat untuk orang-orang disekitarmu
Label:
cinta pertama,
ukhuwah
TARBIYAH ISLAMIYAH / PENDIDIKAN ISLAM
Oleh M.Ihsan Dcaholfany M.Ed
Mhsw ISID Gontor 1997 / Staf Pengajar KMI Gontor
1.Tujuan Tarbiyah
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai Islam yang benar dan sempurna, menumbuhkan harga diri dan membentuk pribadi muslim dan muslimah, yang berakhlak dengan mengadakan kegiatan positif yang Islami dan mewujudkan kepemimpinan di dalam keluarga, masyarakat dan negara yang berdasarkan syariat dan aturan negara serta mengembangkan skill, pengajaran dan wawasan.
II. Tahapan Tarbiyah
1. Tilawah (membacakan ayat Allah)
2. Tazkiyah (mensucikan jiwa)
3. Ta’lim (mengajarkan kitab dan sunnah)
III. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan
a. Al-Ummah Al-Jaahilah ( Umat yang bodoh )
1. Al-Jahl ( Kebodohan )
2. Adz-Dzillah ( Kehinaan )
3. Adh-Dha’f ( Kelemahan )
4. Al-Furqah ( Perpecahan )
1. Al-Jahl ( Kebodohan )
Mereka bodoh karena tidak menerima hidayah. Abu Jahal ( Bapak Kebodohan ) bukan tidak punya ilmu. Terdapat dalam QS. 39 : 64 Katakanlah : ” Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang – orang yang tidak berpengetahuan.
2. Adz Dzillah ( Kehinaan )
Kehinaan juga muncul akibat dari tingkah laku yang jauh dari Islam. Terdapat dalam QS. 95 : 4-5. : ”Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik - baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ( neraka )
3.Adh- Dha’if (kelemahan)
Kelemahan terjadi karena meraka tidak menghargai dirinya sehingga tidak bisa mengaktualisasikan potensinya, mereka menghabiskan waktu dan energi untuk mengikuti hawa nafsu. Terdapat dalam QS. 4 :28 : ”Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia itu dijadikan bersifat lemah.
4. Al-Furqah ( Perpecahan )
Ciri masyarakat jahiliyah adalah berpecah dan tidak ada persatuan sesamanya. Terdapat dalam QS. 3:103. : ” Dan berpegang kamu semaunya kepada tali Allah ( Agama Islam ), dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Alalh kepadamu ketika kamu dahulu ( sesama jahiliyah ) bermusuh-musuhan.
b. Dhalaalun Mubiin ( Kesesatan yang nyata )
Allah SWT menyebutkan bahwa sebelum kedatangan Nabi, masyrakat jahiliyah berada di dalam kesesatan yang nyata. Terdapat dalam QS. 62 :2 : ” Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat –Nya kepada Mereka, mesucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.
c. Al-Inqaadz ( Penyelamat ) – At- Tarbiyah ( pendidikan )
1. Allaah - Ar-Rasuul ( Allah dan Rasul )
2. At - Tilaawah ( Membaca )
3. At - Tazkiyah ( mensucikan )
4. Ta’liim Al – Minhaaj ( Mengajarkan Pedoman )
1. Allah - Ar-Rasuul ( Allah dan Rasul )
Allah SWT melalui Rasul-Nya memberikan tarbiyah, Islam sebagai agama
Dapat menyelamatkan manusia dari kesesatan, Islam melalui tarbiyah dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah masyarakat jahiliyah.
2. At-Tilaawah (Membaca)
Islam sebagai gerakan menyelamatkan diri manusia dari kerugian memeiliki aktifitas di anataranya membaca al-Qur’an dengan berusaha memahami, menghapal dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh surat Iqro’. (Bacalah Nama Tuhan-Mu yang menciptakan (sekalian makhluk)
3.At-Tazkiyah (mensucikan)
Maksudnya mensucikan diri dari segala kekotoran jiwa, hati, akal dan jasad seperti kemaksiatan dan kejahiliyahan, diharapkan agar mendapatkan keberuntungan.
Sebagai contoh : Q.91: 7 Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnys beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
4. Ta’liim Al-Minhaj (Mengajarkan Pedoman)
Maksudnya mengajarkan al-Qur’an dan Sunah bahkan mempelajarinya
serta mengamalkannya sebab banyak mengandung hikmah / pelajaran.
Dalil : Q.2 : 269, Allah menganugerahkan al-hikmat (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan As-Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki.
4. An- Ni’mah Al-Kubro (Anugrah Yang Besar)
a. Al- Ilm (Pengetahuan)
b. Al-Izzah (Kemulyaan)
c. Al-Quwwah (Kekeuatan)
d. Al-Wihdah (Persatuan)
a.Al-Ilm (Pengetahuan), hasil dari ilmu yang diperoleh ini adalah kenikmatan yang besar yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan, Tarbiayah dengan ilmu yang benar, menjadikan manusia yang berilmu dan sadar dengan tingkah lakunya.
Dalil : Q.96.5 . Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
b. Al-Izzah (Kemulyaan)
Izzah bermakna kemulian dan harga diri bermakna mengembalikan diri manusia kepada Allah bukan kepada benda-benda yang tidak bernilai, Izzah Islam akan mewujudkan kekuatan Islam sebab semangat yang ditumbuhkan melalui tarbiyah dapat membangkitkan kecintaan dan perjuangan, akhirnya kita akan disatukan dengan pemikiran dan amal melalui tarbiyah islamiyah sehingga bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Dalil :Q.63: 8 , mereka berkata sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar oarng yang kuat agar mengusir orang yang lemah daripadanya. Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.
c. Al-Quwwah (Kekuatan)
Kenikmatan yang besar dari hasil tarbiyah adalah membawa manusia kepada kesadaran Islam sehingga Islam menjadi suatu bentuk karakter sehari-hari. Dengan Islam pula manusia menjadi terhormat sebab telah kembali kepada fitrah yang suci sehingga manusia menjadi kuat seperti kuat aqidah, jiwa, persatuan dan Islam.
Dalil : Q.93.8 Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lau Dia memberikan kecukupan.
d. Al-Wihdah (Persatuan)
Seseorang atau masyarakat yang mengikuti tarbiyah mereka akan dibimbing ke arah persatuan umat, Tarbiyah akan membawa kepada kesatuan pemikiran dan ideologi sehingga membawa kepada persatuan dalam sikap dan akhlak yang dapat membawa kesatuan pendapat.
Dalil 3 : 103. Dan berpegang kamu semuanya kepada tali Allah (Agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-cerai dan ingatlah nikmat kepadamu ketika kamu dahulu (semasa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, larlu Allah selamatkan kamu darinya. Agar mendapat petunjuk hidayah-Nya.
Dari semua keterangan tersebut di atas menjadikan umat terbaik
5. Khoirul Ummah ( Umat terbaik)
Umat jahiliyah dirubah menjadi umat Islamiyah, umat yang berdakwah
dan senatiasa peduli dengan keadaan sosial, ummat dan agamanya, maka
ia disebut umat yang terbaik. Yang dapat menjalankan perintah kebaikan
dan meninggalkan kemungkaran. Dengan ilmu, kemuliaan, kekuatan dan
persatuan akan membentuk umat yang baik.
Dalil : Q.3 : 110 Kamu adalah umat yang terbaik, dilahirkan untuk
manusia, menyuruh pada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.
hendaklah menganggap semua cabang ilmu berfaedah.
Beberapa paradigma dasar bagi sistem pendidikan dalam kerangka Islam:
1.Islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan aqliyah Islamiyah (pola berfikir islami) dan nafsiyah islamiyah (pola sikap yang islami).
2.Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Perhatikan bagaimana Al Quran mengungkapkan tentang ahsanu amalan atau amalan shalihan (amal yang terbaik atau amal shaleh).
3.Pendidikan ditujukan dalam kaitan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimalisir aspek yang buruknya.
4.Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw. Dengan demikian Rasulullah saw. merupakan figur sentral keteladanan bagi manusia. Al quran mengungkapkan bahwa “Sungguh pada diri Rasul itu terdapat uswah (teladan) yang terbaik bagi orang-orang yang berharap bertemu dengan Allah dan hari akhirat”.
Guru dalam sistempendidikanislam
Para ulama telah menulis banyak kitab untuk menjelaskan mengenai kewajiban dan hak para guru dan siswa, serta sifat-sifat yang harus dimiliki oleh keduanya dalam proses belajar mengajar. An Nimari Al Qurthubiy misalnya telah menulis dalam kitabnya Jami’ bayaanil ‘ilmi wa fadhlih mengenai perilaku guru dan siswanya, begitu pula Imam Al Ghazali dalam kitab Fatihatul ‘Ulum dan Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang sifat-sifat kesucian, penghormatan, dan menempatkan guru langsung berada setelah kedudukan para nabi.
Rasulullah saw. bersabda: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Begitu pula seorang penyair Arab, Syauqiy bek mengakui pula tentang nilai seorang guru dengan pernyataannya: “Berdiri dan hormati guru dan berilah ia penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.
Guru merupakan spiritual father bagi siswanya. Hal ini disebabkan guru memberikan bimbingan jiwa siswanya dengan ilmu, mendidik dan meluruskan akhlaknya. Menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang. Bahkan Abu Dardaa melukiskan hubungan guru dan murid itu sebagai pertemanan dalam kebaikan dan tanpa keduanya maka tidak ada kebaikan.
Terdapat sebuah perbandingan, pada abad pertengahan seorang guru di sekolah-sekolah Barat telah diperlakukan dengan sifat keras dan kasar. Ia harus bersumpah di hadapan dekan untuk taat pada atasan, menjalani peraturan-peraturan yang dibuat universitas, bersedia dianggap tidak datang serta membayar denda dalam jumlah tertentu jika perkuliahannya tidak dihadiri oleh 5 orang mahasiswa. Selanjutnya mahasiswa pun diwajibkan untuk melaporkan jika guru/dosennya tidak hadir tanpa izin.
Sementara pada masa yang sama para dosen di sekolah/institut Islam mendapat perlakuan yang baik, disucikan, dihargai, dilayani dengan penuh penghormatan. Ia mendapatkan kedudukan mulia dan kebebasan dalam mengajar, dalam memilih subjek dan waktu untuk memberikan kuliah, serta jumlah jam kuliah yang menjadi kewajibannya. Dan sekarang, bagaimana posisi guru-guru kita?
Strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan agar dalam perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’, dan hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan intelektualitas. Dalam sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan iptek dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini:
1.Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.
2.Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa pandang bulu.
3.Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.
4.Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.
5.Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.
Dengan demikian, agama dan aspek pendidikan menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM (Human Resources) yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya.
Di samping itu hal yang harus diperhatikan pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum sangat menentukan.
Perlu dicatat bahwa akar kriminalitas, termasuk KKN, terjadi adalah akhlaq/perilaku manusianya yang teralienasi dengan ajaran agamanya. Revolusi terhadap perilaku manusia merupakan basis dari gerakan pembaharuan yang benar. Oleh sebab itu sangat diperlukan co-responsible for finding solutions. Untuk melakukan revolusi tersebut maka musti diawali dengan revolusi pemikiran (Taghyiir al Afkaar) dan pemahaman manusia terhadap Islam.
Kewajiban siswa dlm penddk islam
Keberhasilan proses belajar mengajar, tidak hanya bergantung pada bagaimana guru mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Karena pendidikan berhadapan dengan manusia yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dan berjalan dua arah, maka keberhasilan proses juga ditentukan oleh kondisi sikap dan perilaku siswanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya ground rule bagi siswa untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
Adapun beberapa kewajiban siswa yang harus diperhatikan saat dia mulai menuntut ilmu disajikan sebagai berikut.
1.Sebelum mulai belajar, siswa harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, sebab belajar dan mengajar merupakan ibadah. Ibadah tidak sah kecuali dengan hati yang bersih, berhias dengan akhlak yang baik, ikhlas, bertaqwa, rendah hati, dan menjauhi sifat-sifat buruk.
2.Belajar dimaksudkan untuk mengisi jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan dengan maksud menyombongkan diri, berbangga, dll.
3.Bersedia untuk mencari ilmu dan meninggalkan keluarga, tempat kelahiran, dan bepergian ke tempat yang jauh sekalipun untuk mendatangi guru.
4.Tidak terlalu sering menukar guru.
5.Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakannya dan berdaya upaya untuk menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.
6.Tidak merepotkan guru dengan terlalu banyak pertanyaan, jangan meletihkan dia untuk menjawab, tidak berjalan di hadapannya, dan tidak mulai bicara kecuali dengan izinnya.
7.Tidak membuka rahasia kepada guru, tidak menipunya, dan sebaliknya tidak pula guru membukakan rahasia, diterima pernyataan maaf guru jika ia bersalah.
8.Bersungguh-sungguh dan tekun belajar untuk memperoleh pengetahuan.
9.Terjalin jiwa saling mencintai dan menyayangi antara guru dan murid.
10.Siswa harus terlebih dahulu memberi salam kepada guru.
11.Siswa mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang subuh. Waktu antara Isya dan makan sahur adalah waktu yang penuh barakah.
12.Bertekad belajar sampai akhir usia, tidak meremehkan satu cabang ilmu, tetapi
Mhsw ISID Gontor 1997 / Staf Pengajar KMI Gontor
1.Tujuan Tarbiyah
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai Islam yang benar dan sempurna, menumbuhkan harga diri dan membentuk pribadi muslim dan muslimah, yang berakhlak dengan mengadakan kegiatan positif yang Islami dan mewujudkan kepemimpinan di dalam keluarga, masyarakat dan negara yang berdasarkan syariat dan aturan negara serta mengembangkan skill, pengajaran dan wawasan.
II. Tahapan Tarbiyah
1. Tilawah (membacakan ayat Allah)
2. Tazkiyah (mensucikan jiwa)
3. Ta’lim (mengajarkan kitab dan sunnah)
III. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan
a. Al-Ummah Al-Jaahilah ( Umat yang bodoh )
1. Al-Jahl ( Kebodohan )
2. Adz-Dzillah ( Kehinaan )
3. Adh-Dha’f ( Kelemahan )
4. Al-Furqah ( Perpecahan )
1. Al-Jahl ( Kebodohan )
Mereka bodoh karena tidak menerima hidayah. Abu Jahal ( Bapak Kebodohan ) bukan tidak punya ilmu. Terdapat dalam QS. 39 : 64 Katakanlah : ” Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang – orang yang tidak berpengetahuan.
2. Adz Dzillah ( Kehinaan )
Kehinaan juga muncul akibat dari tingkah laku yang jauh dari Islam. Terdapat dalam QS. 95 : 4-5. : ”Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik - baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ( neraka )
3.Adh- Dha’if (kelemahan)
Kelemahan terjadi karena meraka tidak menghargai dirinya sehingga tidak bisa mengaktualisasikan potensinya, mereka menghabiskan waktu dan energi untuk mengikuti hawa nafsu. Terdapat dalam QS. 4 :28 : ”Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia itu dijadikan bersifat lemah.
4. Al-Furqah ( Perpecahan )
Ciri masyarakat jahiliyah adalah berpecah dan tidak ada persatuan sesamanya. Terdapat dalam QS. 3:103. : ” Dan berpegang kamu semaunya kepada tali Allah ( Agama Islam ), dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Alalh kepadamu ketika kamu dahulu ( sesama jahiliyah ) bermusuh-musuhan.
b. Dhalaalun Mubiin ( Kesesatan yang nyata )
Allah SWT menyebutkan bahwa sebelum kedatangan Nabi, masyrakat jahiliyah berada di dalam kesesatan yang nyata. Terdapat dalam QS. 62 :2 : ” Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat –Nya kepada Mereka, mesucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.
c. Al-Inqaadz ( Penyelamat ) – At- Tarbiyah ( pendidikan )
1. Allaah - Ar-Rasuul ( Allah dan Rasul )
2. At - Tilaawah ( Membaca )
3. At - Tazkiyah ( mensucikan )
4. Ta’liim Al – Minhaaj ( Mengajarkan Pedoman )
1. Allah - Ar-Rasuul ( Allah dan Rasul )
Allah SWT melalui Rasul-Nya memberikan tarbiyah, Islam sebagai agama
Dapat menyelamatkan manusia dari kesesatan, Islam melalui tarbiyah dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah masyarakat jahiliyah.
2. At-Tilaawah (Membaca)
Islam sebagai gerakan menyelamatkan diri manusia dari kerugian memeiliki aktifitas di anataranya membaca al-Qur’an dengan berusaha memahami, menghapal dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh surat Iqro’. (Bacalah Nama Tuhan-Mu yang menciptakan (sekalian makhluk)
3.At-Tazkiyah (mensucikan)
Maksudnya mensucikan diri dari segala kekotoran jiwa, hati, akal dan jasad seperti kemaksiatan dan kejahiliyahan, diharapkan agar mendapatkan keberuntungan.
Sebagai contoh : Q.91: 7 Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnys beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
4. Ta’liim Al-Minhaj (Mengajarkan Pedoman)
Maksudnya mengajarkan al-Qur’an dan Sunah bahkan mempelajarinya
serta mengamalkannya sebab banyak mengandung hikmah / pelajaran.
Dalil : Q.2 : 269, Allah menganugerahkan al-hikmat (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan As-Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki.
4. An- Ni’mah Al-Kubro (Anugrah Yang Besar)
a. Al- Ilm (Pengetahuan)
b. Al-Izzah (Kemulyaan)
c. Al-Quwwah (Kekeuatan)
d. Al-Wihdah (Persatuan)
a.Al-Ilm (Pengetahuan), hasil dari ilmu yang diperoleh ini adalah kenikmatan yang besar yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan, Tarbiayah dengan ilmu yang benar, menjadikan manusia yang berilmu dan sadar dengan tingkah lakunya.
Dalil : Q.96.5 . Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
b. Al-Izzah (Kemulyaan)
Izzah bermakna kemulian dan harga diri bermakna mengembalikan diri manusia kepada Allah bukan kepada benda-benda yang tidak bernilai, Izzah Islam akan mewujudkan kekuatan Islam sebab semangat yang ditumbuhkan melalui tarbiyah dapat membangkitkan kecintaan dan perjuangan, akhirnya kita akan disatukan dengan pemikiran dan amal melalui tarbiyah islamiyah sehingga bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Dalil :Q.63: 8 , mereka berkata sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar oarng yang kuat agar mengusir orang yang lemah daripadanya. Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.
c. Al-Quwwah (Kekuatan)
Kenikmatan yang besar dari hasil tarbiyah adalah membawa manusia kepada kesadaran Islam sehingga Islam menjadi suatu bentuk karakter sehari-hari. Dengan Islam pula manusia menjadi terhormat sebab telah kembali kepada fitrah yang suci sehingga manusia menjadi kuat seperti kuat aqidah, jiwa, persatuan dan Islam.
Dalil : Q.93.8 Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lau Dia memberikan kecukupan.
d. Al-Wihdah (Persatuan)
Seseorang atau masyarakat yang mengikuti tarbiyah mereka akan dibimbing ke arah persatuan umat, Tarbiyah akan membawa kepada kesatuan pemikiran dan ideologi sehingga membawa kepada persatuan dalam sikap dan akhlak yang dapat membawa kesatuan pendapat.
Dalil 3 : 103. Dan berpegang kamu semuanya kepada tali Allah (Agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-cerai dan ingatlah nikmat kepadamu ketika kamu dahulu (semasa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, larlu Allah selamatkan kamu darinya. Agar mendapat petunjuk hidayah-Nya.
Dari semua keterangan tersebut di atas menjadikan umat terbaik
5. Khoirul Ummah ( Umat terbaik)
Umat jahiliyah dirubah menjadi umat Islamiyah, umat yang berdakwah
dan senatiasa peduli dengan keadaan sosial, ummat dan agamanya, maka
ia disebut umat yang terbaik. Yang dapat menjalankan perintah kebaikan
dan meninggalkan kemungkaran. Dengan ilmu, kemuliaan, kekuatan dan
persatuan akan membentuk umat yang baik.
Dalil : Q.3 : 110 Kamu adalah umat yang terbaik, dilahirkan untuk
manusia, menyuruh pada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.
hendaklah menganggap semua cabang ilmu berfaedah.
Beberapa paradigma dasar bagi sistem pendidikan dalam kerangka Islam:
1.Islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan aqliyah Islamiyah (pola berfikir islami) dan nafsiyah islamiyah (pola sikap yang islami).
2.Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Perhatikan bagaimana Al Quran mengungkapkan tentang ahsanu amalan atau amalan shalihan (amal yang terbaik atau amal shaleh).
3.Pendidikan ditujukan dalam kaitan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimalisir aspek yang buruknya.
4.Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw. Dengan demikian Rasulullah saw. merupakan figur sentral keteladanan bagi manusia. Al quran mengungkapkan bahwa “Sungguh pada diri Rasul itu terdapat uswah (teladan) yang terbaik bagi orang-orang yang berharap bertemu dengan Allah dan hari akhirat”.
Guru dalam sistempendidikanislam
Para ulama telah menulis banyak kitab untuk menjelaskan mengenai kewajiban dan hak para guru dan siswa, serta sifat-sifat yang harus dimiliki oleh keduanya dalam proses belajar mengajar. An Nimari Al Qurthubiy misalnya telah menulis dalam kitabnya Jami’ bayaanil ‘ilmi wa fadhlih mengenai perilaku guru dan siswanya, begitu pula Imam Al Ghazali dalam kitab Fatihatul ‘Ulum dan Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang sifat-sifat kesucian, penghormatan, dan menempatkan guru langsung berada setelah kedudukan para nabi.
Rasulullah saw. bersabda: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Begitu pula seorang penyair Arab, Syauqiy bek mengakui pula tentang nilai seorang guru dengan pernyataannya: “Berdiri dan hormati guru dan berilah ia penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.
Guru merupakan spiritual father bagi siswanya. Hal ini disebabkan guru memberikan bimbingan jiwa siswanya dengan ilmu, mendidik dan meluruskan akhlaknya. Menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang. Bahkan Abu Dardaa melukiskan hubungan guru dan murid itu sebagai pertemanan dalam kebaikan dan tanpa keduanya maka tidak ada kebaikan.
Terdapat sebuah perbandingan, pada abad pertengahan seorang guru di sekolah-sekolah Barat telah diperlakukan dengan sifat keras dan kasar. Ia harus bersumpah di hadapan dekan untuk taat pada atasan, menjalani peraturan-peraturan yang dibuat universitas, bersedia dianggap tidak datang serta membayar denda dalam jumlah tertentu jika perkuliahannya tidak dihadiri oleh 5 orang mahasiswa. Selanjutnya mahasiswa pun diwajibkan untuk melaporkan jika guru/dosennya tidak hadir tanpa izin.
Sementara pada masa yang sama para dosen di sekolah/institut Islam mendapat perlakuan yang baik, disucikan, dihargai, dilayani dengan penuh penghormatan. Ia mendapatkan kedudukan mulia dan kebebasan dalam mengajar, dalam memilih subjek dan waktu untuk memberikan kuliah, serta jumlah jam kuliah yang menjadi kewajibannya. Dan sekarang, bagaimana posisi guru-guru kita?
Strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan agar dalam perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’, dan hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan intelektualitas. Dalam sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan iptek dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini:
1.Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.
2.Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa pandang bulu.
3.Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.
4.Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.
5.Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.
Dengan demikian, agama dan aspek pendidikan menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM (Human Resources) yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya.
Di samping itu hal yang harus diperhatikan pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum sangat menentukan.
Perlu dicatat bahwa akar kriminalitas, termasuk KKN, terjadi adalah akhlaq/perilaku manusianya yang teralienasi dengan ajaran agamanya. Revolusi terhadap perilaku manusia merupakan basis dari gerakan pembaharuan yang benar. Oleh sebab itu sangat diperlukan co-responsible for finding solutions. Untuk melakukan revolusi tersebut maka musti diawali dengan revolusi pemikiran (Taghyiir al Afkaar) dan pemahaman manusia terhadap Islam.
Kewajiban siswa dlm penddk islam
Keberhasilan proses belajar mengajar, tidak hanya bergantung pada bagaimana guru mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Karena pendidikan berhadapan dengan manusia yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dan berjalan dua arah, maka keberhasilan proses juga ditentukan oleh kondisi sikap dan perilaku siswanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya ground rule bagi siswa untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
Adapun beberapa kewajiban siswa yang harus diperhatikan saat dia mulai menuntut ilmu disajikan sebagai berikut.
1.Sebelum mulai belajar, siswa harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, sebab belajar dan mengajar merupakan ibadah. Ibadah tidak sah kecuali dengan hati yang bersih, berhias dengan akhlak yang baik, ikhlas, bertaqwa, rendah hati, dan menjauhi sifat-sifat buruk.
2.Belajar dimaksudkan untuk mengisi jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan dengan maksud menyombongkan diri, berbangga, dll.
3.Bersedia untuk mencari ilmu dan meninggalkan keluarga, tempat kelahiran, dan bepergian ke tempat yang jauh sekalipun untuk mendatangi guru.
4.Tidak terlalu sering menukar guru.
5.Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakannya dan berdaya upaya untuk menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.
6.Tidak merepotkan guru dengan terlalu banyak pertanyaan, jangan meletihkan dia untuk menjawab, tidak berjalan di hadapannya, dan tidak mulai bicara kecuali dengan izinnya.
7.Tidak membuka rahasia kepada guru, tidak menipunya, dan sebaliknya tidak pula guru membukakan rahasia, diterima pernyataan maaf guru jika ia bersalah.
8.Bersungguh-sungguh dan tekun belajar untuk memperoleh pengetahuan.
9.Terjalin jiwa saling mencintai dan menyayangi antara guru dan murid.
10.Siswa harus terlebih dahulu memberi salam kepada guru.
11.Siswa mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang subuh. Waktu antara Isya dan makan sahur adalah waktu yang penuh barakah.
12.Bertekad belajar sampai akhir usia, tidak meremehkan satu cabang ilmu, tetapi
Senin, 26 April 2010
praktikum BU PEDUK
Praktikum akan diadakan jam 11 SELASA 27 APRIL 2010
1. kompor aja tiap kelas 4 buah
2. jajanan pasar dan snack kecil2an
3. peralatan masak misal panci dan serok atau apalah, kita mau masak gethug,,, telo ne mpun ada
4. bahan masakan misal sayuran atau apalah
poin untuk praktikum:
5 zat pengawet makanan
PENDAFTARAN pembawa kompor dilayani hari ini ke 085647390439,,,
sekian
1. kompor aja tiap kelas 4 buah
2. jajanan pasar dan snack kecil2an
3. peralatan masak misal panci dan serok atau apalah, kita mau masak gethug,,, telo ne mpun ada
4. bahan masakan misal sayuran atau apalah
poin untuk praktikum:
5 zat pengawet makanan
PENDAFTARAN pembawa kompor dilayani hari ini ke 085647390439,,,
sekian
Minggu, 25 April 2010
N. Faqih Syarif H--Sales Magic for Dakwah
Urgensitas Dakwah Islam atau Amar ma’ruf nahi munkar
Islam adalah Agama yang sempurna dan menyeluruh tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah,juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya yang diturunkan kepada baginda Rasulullah Muhammad Saw. Untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia karena Islam itu membawa rahmat bagi seluruh alam bila diterapkan di tengah-tengah umat manusia. Oleh karenanya mengemban dakwah Islam adalah misi Agung dan Mulia untuk kesejahteraan umat manusia bahagia dunia dan akherat bagi yang mengikuti dengan penuh kesungguhan dan menyeluruh.
Dakwah pada hakekatnya adalah upaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada apa yang anda serukan , yakni Islam. Oleh karenannya dakwah Islam tidak hanya terbatas pada aktivitas lisan semata, tetapi mencakup seluruh aktivitas – lisan atau perbuatan yang ditujukan dalam rangka menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada Islam. Komitmen seorang muslim dengan dakwah Islam mengharuskan dirinya untuk memberikan contoh yang hidup dari apa yang diserukannya melalui lisannya, sekaligus memberikan gambaran Islam sejati melalui keterikatannya secara benar dengan Islam itu sendiri.
Allah Swt. Berfirman :
“Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan dengan orang-orang menyerukan Islam dan beramal shalih sembari berkata,”Sesungguhnya aku adalah bagian dari umat Islam.” (QS Fushilat (41) : 33 )
“Oleh karena itu , berdakwahlah dan beristiqamahlah sebagaimana Aku perintahkan …” ( QS Asy-Syura (42) : 15 )
Menyeru manusia ke jalan Allah Swt. Merupakan kewajiban sekaligus ibadah yang bisa mengantarkan pelakunya untuk dekat dengan Tuhannya.Dakwah juga mengajarkan pelakunya bahwa kedudukannya di hadapan Allah adalah sangat tinggi;Allah akan mengangkat kedudukannya di dunia maupun di akherat. Dakwah ke jalan Allah juga merupakan aktivitas terpenting dari para nabi. Mereka semuanya senantiasa menjalankan aktivitas dakwah. Melalui jalan dakwah juga mereka berupaya menegakkan agama Allah.
“ Sesungguhnya Kami senantiasa mengutus kepada setiap umat seorang rasul agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut. (QS an-Nahl (16): 36 )
Dakwah Islam merupakan aktivitas yang diwariskan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya. Kita tentu harus menjaga dan memeliharanya demi keberlangsungan Islam di tengah-tengah kita. Seandainya tidak melalui perjuangan dakwah, Islam tidak mungkin memiliki kekuatan;tidak mungkin akan tersebar luas; tidak mungkin dapat dijaga; dan tidak mungkin pula hujjah Allah bisa ditegakkan atas para makhluk-Nya. Dengan perjuangan dakwah Islam, kemuliaan, kekuatan, dan eksistensi Islam bisa dikembalikan sebagaimana terjadi di masa lalu.Betapa kita amat membutuhkan semua itu pada saat ini. Dengan perjuangan dakwah Islam, Islam bisa disebarkan di tengah-tengah manusia seluruhnya, sehingga agama seluruhnya hanya milik Allah. Betapa dunia membutuhkan hal semacam ini pada saat ini.Dengan perjuangan dakwah Islam pula, hujjah umat Islam demikian nyata hingga mampu memporakporandakan hujjah
Orang-orang kafir, sehingga tidak ada alasan atau dalih apa pun yang bisa menjustifikasi kebolehan untuk mencampakkan Islam.
Allah Swt berfirman :
“Allah mengutus para rasul sebagai pembawa gembira serta pemberi peringatan agar manusia tidak memiliki lagi hujjah ( alasan ) di hadapan Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu. Allah Maha Agung lagi Maha bijak.”( QS an-Nisa’ (4) : 165 )
Atas dasar semua ini,urgensinya perjuangan dakwah Islam mesti disosialisasikan di tengah-tengah umat Islam, dan wajib dijadikan sebagai prioritas dalam pikiran mereka, bahkan umat Islam wajib untuk mengorbankan waktu,tenaga,harta, dan bahkan jiwanya, serta mengerahkan segenap kesungguhannya demi keberlangsungan dakwah Islam. Imam An-Nawawi menyatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah perkara besar karena merupakan penjaga dan pilar dakwah. Jika kemaksiyatan telah banyak dilakukan, niscaya azab Allah akan menimpa secara merata, baik kepada orang yang shalih maupun orang yang banyak berbuat dosa. Jika umat Islam tidak berusaha mencegah perbuatan orang-orang yang dzalim, Allah Swt pasti akan meratakan azab kepada mereka semuanya.
Rasulullah Saw telah menjelaskan sejauhmana kebutuhan kita akan dakwah itu di dalam sebuah hadisnya :
“ Perumpamaan orang yang menetapi hukum-hukum Allah dan menjaganya adalah laksana suatu kaum yang menumpang kapal; sebagian orang menempati bagian atas dan sebagiannya lagi menempati bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah, jika hendak mengambil air minum, akan melewati orang-orang di bagian atas. Diantara mereka kemudian ada yang berkata,” Seandainya saja kami melubangi kapal ini di bagian kami, tentu kami tidak akan merepotkan orang-orang di bagian atas” jika orang-orang di bagian atas membiarkan tindakan dan keinginan orang-orang yang ada di bagian bawah, niscaya semua orang yang ada di kapal akan tenggelam. Sebaliknya, jika mereka berusaha mencegahnya, mereka semuanya akan selamat. ( HR. al-Bukhari )
Hadis ini menggambarkan secara jelas betapa amar ma’ruf nahi mungkar sebanding dengan keberlangsungan kehidupan dan keselamatan masyarakat. Seandainya ada sebagian kelompok saja yang mengabaikan aktivitas amar ma’ruf nahi mngkar, niscaya perahu kehidupan akan karam, sekaligus menenggelamkan dan menghancurkan seluruh penumpang.
Sales Magic for Dakwah
Setiap Pengemban Dakwah hendaknya siap sebagai tenaga “marketing”.
Manakala diminta memberi sepatah kata pada acara apapun semisal aqiqah, walimah, sampai prosesi jenazah, setiap syabab wajib siap. Selain materi ideologis yang bisa disampaikan, dia juga siap dengan “benda promosi” lain, semisal buku saku, CD, stiker-souvenir atau sekedar kartu nama.
Lebih baik lagi bila ada alamat maktab/kantor lengkap dengan teleponnya.
Si badrun, suatu hari dia lagi enjoy menikmati liburan dengan memancing di sungai di hutan yang terpencil 25 km dari tempat tinggalnya. Lagi enak-enaknya mancing dia terkejut bercampur heran ada seorang ibu yang melintasi dan menyeberang sungai yang airnya deras dan dalam seperti berjalan di atas air layaknya pendekar Wiro Sableng 212 di sinetron, eh… ehh ternyata ada juga di dunia nyata
Sambil kegirangan karena kailnya disambar oleh ikan gabus yang cukup besar, ia terus-menerus berpikir. Betapa hebatnya ibu tadi yang bisa menguasai ilmu meringankan tubuh sehingga bisa berjalan di atas air sungai yang dalam dan lebar. Tiba-tiba ia kembali dikejutkan kembali oleh seorang bocah belasan tahun yang dengan cara yang sama menyebrang sungai dengan ilmu berjalan di atas permukaan air. Bahkan kali nampak lebih sempurna dan tenang menyebrangi sungai dengan sukses. Dalam keadaan semakin penasaran, datanglah seorang pemuda desa yang sedang berjalan santai di jalanan setapak di tepi sungai.Badrun menghampiri si pemuda itu dan menanyakan tentang bagaimanakah caranya belajar ilmu kesaktian agar bisa berjalan di atas permukaan air. Mendapatkan pertanyaan lugu dari badrun, pemuda itu tertawa ngakak dan begitu saja meninggalkan Badrun sambil memperagakan kemahirannya berjalan di atas permukaan air sebagaimana warga desa yang sebelumnya telah dilihat oleh Badrun.
Dalam keadaan yang makin penasaran, Badrun terus memancing .Nampaknya sangat beruntung hari itu dia mendapatkan ikan begitu banyak. Kemudian datanglah seorang pemuda yang membawa pancing dan memancing tidak jauh dari Badrun memasang kailnya. Sambil ngobrol sana-sini dengan pemuda ini Badrun menanyakan apakah ia juga menguasai ilmu berjalan di atas air. Pemuda ini bertanya sambil keheranan. Ilmu apa yang dimaksud Badrun. “Gini mas, selama berada di sini saya sudah mendapati tiga orang penduduk desa yang mahir berjalan di atas permukaan air ketika menyebrangi sungai ini. Persis seperti Jaka Tingkir atau Wiro Sableng dalam serial sinetron TV.”
“Ooooalah mas, saya juga bisa kok” jawab pemuda itu.
“Anda bisa” sahut Badrun
“Bisa” Oke Kalau begitu masnya mau ngajari saya ilmu seperti itu? Sahut Badrun.
“Mau, Tapi ada syaratnya!” Apa Syaratnya mas? Tanya Badrun penasaran. “Ada tiga. Pertama, Bila Anda menguasai ilmu ini, Anda tidak boleh sombong!”
Oo kalau gitu saya berjanji. Saya tidak akan sombong. Syarat kedua?”
“Anda harus membayar 500 ribu sebagai akad antara guru dan murid”
“Ok. Kebetulan saya lagi bawa uang.Saya bayar sekarang” Jawab Badrun
“Nanti dulu, ada syarat ketiga, Anda harus memiliki komitmen yang tinggi setelah mempelajari ilmu ini terhadap kata-kata yang pernah anda ucapkan dan tidak boleh menelan ludah anda kembali. Artinya, Anda tidak boleh melanggar komitmen yang telah Anda buat dengan orang lain.” Ok. Saya setuju dengan semua syarat itu. Ini uangnya saya serahkan.” “Baik. Sekarang kita mulai pelajarannyaa.” “Ok, Saya Siap”
Sambil melompat ke sungai , Si pemuda tadi memulai pelajarannya, “ Inti ilmunya anda harus jeli dan konsentrasi serta menghafalkan posisi batu-batu besar yang ada di sungai ini.Saya akan tunjukkan lokasinya dan setelah itu anda harus menghafalkannya. Melompatlah tepat di batu besar itu, jangan salah. Karena kesalahan akan menjadikan anda tercebur dalam sungai yang dalam ini.
Sambil bengong Si badrun memperhatikan “kesaktian” pemuda kampung ini. Badrun tidak bisa menarik uang yang telah diberikannya kepada guru “ilmu sakti berjalan di permukaan air sungai” karena sudah menjadi kesepakatan bersama.
Sobat, apa hikmahnya dari kisah ini? Begitulah perbedaan antara orang yang ahli dan tidak ahli. Keahlian seseorang dalam bidang tertentu akan nampak sebagai sebuah kesaktian bagi orang lain yang tidak memahaminya. Badrun telah kehilangan uang 500 ribu untuk belajar ilmu berjalan di permukaan air. Memang begitulah. Ilmu sesederhana apapun harus dipelajari dengan pengorbanan . Jangan harap anda ongkang-ongkang kemudian tiba-tiba mendapatkan sebuah ilmu apalagi sebuah keahlian.
Sobat, saya mengajak anda untuk belajar apapun yang bermanfaat dengan 5 langkah proses pembelajaran yaitu ; Memahami, mengerjakan, mengulang-ulang, membiasakan dan menuai hasil termasuk juga dalam teknik dan uslub-uslub dakwah melalui suatu ilmu strategi marketing ataub “Sales Magic”yang saya kaitkan dengan dakwah Islam karena aktivitas dakwah adalah suatu aktivitas yang amat urgen bagi kelangsungan hidup Islam sebagaimana yang dijelaskan pada bab sebelumnya.
Adapun dalam “Sales Magic” yang dirumuskan oleh Antony Robbins ada empat tahapan dan bisa dipakai juga sebagai uslub dakwah selama tidak bertentangan dengan hukum syara’:
1. Building Trust ( Membangun kepercayaan )
2. Building Need ( Membangun Kebutuhan )
3. Give Solution ( Memberikan solusi )
4. Close the Sales ( Menutup penjualan )
Kita akan bahas satu persatu dalam kaitannya dengan konteks dakwah dengan selalu memperhatikan dan mengikuti thoriqoh dakwah Rasulullah Saw dalam bab selanjutnya.
Membangun kepercayaaan dalam Dakwah (Building Trust )
Trust bisa timbul karena :
•Reputasi/Integritas/referensi, penampilan,gelar/jabatan, terkait dgn merk org terkenal, catatan prestasi, edifikasi
•Akrab/Membangun kesamaan :
•1. Gerakan
•2. Kata-kata dan kualitas suara yg sama
•3. Type Komunikasi ke otak
•4. Strategi Mengambil keputusan
•Semua itu dilakukan dgn 2 Teknik :
•1.Match & Mirroring
•2.Pacing & Leading
Ada tiga type komunikasi ke otak :
Type Visual ( Penglihatan ) : Ciri-ciri orang type visual sbb:
•Cenderung bernapas pendek-pendek lewat dada, berbicara cepat.
•Mereka suka menyela pembicaraan org lain, bergerak cepat, makan cepat,penuh energi, dan berbicara dgn nada tinggi.
•Penampilan rapi dan enak dipandang mata.
•Mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Berkomunikasi dgn type visual, anda harus memvisualisasikan keadaan, buat mereka melihat apa yang anda katakan,
Pilhan kata orang-orang Visual antara lain;
•Melihat
•Memperhatikan
•Menonton
•Menunjukkan
•Memandang
•Membayangkan
•Mewarnai
•Memvisualisasikan
•Penglihatan
•Sudut pandang
•Lihatlah dari sudut pandang saya.
•Ide anda kabur
•Bisa anda bayangkan ?
•Izinkan saya tunjukkan pada anda.
•Perhatikan benar-benar maka anda akan paham maksud saya.
Type Auditori ( Pendengaran )
•Cenderung bernapas lewat diafragma.
•Lebih suka mendengarkan daripada berbicara, ketika berbicara menggunakan variasi warna suara.
•Berkomunikasi dgn type auditori, anda harus berbicara pelan dan teratur, ubah-ubah warna suara anda. Jelaskan situasinya dgn detil dan picu diskusi lebih lanjut dgn pertanyaan.
Pilhan kata orang type auditori :
•Dengar
•Mendengarkan
•Mengatakan
•Kegaduhan
•Bunyi
•Bicara
•Kesunyian
•Nada
•Ritme
•Kedengarannya akrab.
•Kedengarannya itu ide yang bagus
•Dengarkan, saya punya ide bagus
•Ada yang ingin saya katakan.
•Mari kita bicarakan tentang pekerjaan baru anda.
Type Kinestetis ( Perasaan /gerak)
•Cenderung bernapas dalam dan tenang.
•Lebih mengutamakan perasaan
•Keputusan yang diambil banyak didasari oleh perasaan dan emosi.
•Berkomunikasi dengan tipe ini anda harus bisa membuat mereka “merasakan” apa yang anda katakan
Pilihan kata orang Kinestetik :
•Merasa
•Emosi
•Tenang
•Frustasi
•Tertekan
•Malu
•Gugup
•Kesepian
•Santai
•Stress
•Ide anda benar-benar menyentuh perasaan.
•Bisakah anda merasakan yang saya rasakan?
•Saya setuju. Anda sangat emosional.
•Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Saya lebih suka ketenangan.
•Di sini dingin. Apa anda merasakannya?
Petunjuk berdasarkan gerakan mata
•Type Visual
•Memory Visual : jika anda bertanya org type visual pertanyaan-pertanyaan yg jawabannya ada diingatan mereka, anda bisa perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu ke kiri. Coba tanyakan apa warna sepeda motornya atau mobilnya? Seperti apakah rumah Anda?
•Kreatif Visual : Jika anda bertanya kepada mereka dan mereka tidak siap menjawabnya. Atau dia tidak punya gambaran yg belum mereka miliki. Perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu kanan.Coba bayangkan ada kuda yg bertubuh sapi dan mempunyai sayap dan terbang.
•Tanpa Fokus : tidak menggerakkan mata mereka sama sekali. Mereka sepertinya melihat anda,tapi menatap ke arah anda.
•Type Auditori
•Memory auditori ;Jika kepada type auditori anda ajukan pertanyaan yg mereka telah mempunyai jawabannya, perhatikan mata mereka bergerak ke kiri lalu lurus ke depan. Ingatlah lagu kesukaan anda, ingatlah suara ibu anda
•Kreatif auditori ;Untuk pertanyaan-pertanyaan yg mereka tidak dapat jawab langsung, type auditori akan menggerakkan matanya lurus ke depan lalu bergerak ke kanan. Bayangkan bunyi klakson mobil atau bel rumah anda berbunyi seperti meongan kucing.
•Berdialog / self talk ; ketika mereka berdialog dan berbicara dengan diri sendiri maka type auditori akan menggerakkan matanya ke bawah lalu ke kiri. Coba ingat-ingat ucapan anda kepada diri sendiri ketika anda lulus.
Gerakan mata type kinestetik•Jika anda coba tanyakan kepada tipe kinestetik, “Apa yang anda rasakan saat anda jatuh cinta?” Matanya akan begerak ke bawah lalu ke kanan saat berupaya mengingat perasaannya ketika itu terjadi.
Sobat, kita bisa gunakan pengetahuan di atas untuk kepentingan dakwah.Ketika kita berdakwah maka perlu juga Building Trust. Pertama dan utama adalah Keyakinan kita kepada Allah Swt serta memahami bahwa Islam adalah membawa rahmatan lil’Alamin, memuaskan akal, sesuai dengan fitrah manusia dan menentramkan hati. Bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan orang lain kalau diri kita tidak yakin dan memahami apa yang mau kita sampaikan ? Islam merupakan reprensentasi dari berbagai perkara yang makruf yang diperintahkan oleh Allah untuk ditegakkan serta dari berbagai kemungkaran yang dilarang-Nya untuk dilaksanakan dan harus dihilangkan. Puncak kebajikan yang paling tinggi adalah keimanan kepada Allah Swt berikut seluruh rukun akidah Islam. Sebaliknya puncak kemungkaran yang paling buruk adalah kekufuran dalam segala bentuknya. Puncak kebajikan setelah keimanan adalah ketakwaan. Ketakwaan diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Keterikatan dengan syariat Islam jelas terkait dengan keimanan.Jika keimanan seorang muslim semakin kuat, niscaya akan semakin kuat pula keterikatannya untuk melakukan ketaatan. Sebaliknya jika semakin lemah iman maka semakin lemah pula keterikatannya terhadap syariat islam. Keimanan dan ketakwaan seorang muslim, serta sikap menjauhnya dari kekufuran dan kemaksiatan, tidak akan mungkin bisa tetap kekal dan tersebar, kecuali dengan adanya upaya dari dirinya untuk selalu mengemban dan mendakwahkan Islam.Umat Islam wajib melakukan amar makruf nahi munkar. Umat Islam juga sudah seharusnya telah lebih dulu mengerjakan berbagai perkara yang makruf sebelum mereka memerintahkannya kepada orang lain. Mereka pun sudah semestinya telah lebih dulu menjauhi kemungkaran sebelum melarangnya atas orang lain. Inilah sobat yang disebut integritas, setiap muslim adalah da’I dan sebagai pengemban dakwah kita harus memiliki integritas yang tinggi karena ini adalah modal utama building trust dalam berdakwah.
Dalam building trust , trust juga bisa timbul karena reputasi maka dalam berdakwahpun kita harus berusaha menjaga reputasi kita sebagai pengemban dakwah dan Islam itu sendiri maka sikap dan perilaku kita juga adalah materi dakwah disinilah pentingnya kepribadian Islam yang harus dimiliki bagi pengemban dakwah. Sobat, kita bisa mulai berdakwah pada orang-orang yang akrab atau orang yang sudah kita kenal dekat dan baik. Gunakan rumus KLOP ( Keluarga, Lingkungan, Organisasi, kenalan Pribadi )
Keluarga; Siapa keluarga kita yang bisa kita kontak baik di kota maupun di luar kota saat kita bersilaturrahmi baik keluarga dekat atau keluarga jauh. Misalnya ; Ibu, bapak, adik, kakak, kakek, nenek, saudaranya ibu, saudaranya bapak, sepupu,cucu, saudara kakek, saudara nenek , dst.
Lingkungan ; tetangga kanan –kiri , tetangga depan- belakang, tetangga atas-bawah, Teman bermain, teman sekolah, teman hoby, guru anda SD, guru SMP, guru SMU, Dosen PT anda, teman kerja, temannya isteri, temannya bapak, temannya ibu, dst
Organisasi ; Anda mungkin pernah aktif atau partisipan di organisasi pemuda, Kartar,IPNU/IPPNU,IRM,Pemuda Muhammadiyah,organisasi massa, parpol, tentunya banyak juga orang yang kita kenal dan itu juga bisa menjadi obyek dan ladang dakwah bagi kita.
Kenalan Pribadi ; Bisa Klien, konsumen, pegguna jasa anda, kenalan di apotek, kenalan di halte bus, kenalan di seminar, kenalan saat antri bayar listrik atau telphon, kenalan di bis kota, kenalan di warung, dsb. Jangan lupa setiap ketemu dengan siapa saja berikan kartu nama anda dan minta kartu nama dia kalau ada atau dapatkan namanya, alamatnya, nomer kontaknya karena itu juga bisa menjadi obyek dakwah dan menambah jaringan silaturrahmi.
Segmentasi – Melihat "Pasar" kita secara kreatif
Rasulullah memulai dakwahnya
pada orang-orang yang beliau kenal baik
dan merekapun kenal beliau,
mulai dari keluarganya, kerabatnya, qabilahnya, sahabat-sahabatnya, kemudian ke suku Quraisy dan kota-kota terdekat.
Demikian juga Dakwah, meski menganggap dakwah wajib untuk seluruh manusia,
namun dakwah untuk menegakkan kembali Khilafah dilakukan dengan prioritas pada dunia Islam, dan dari dunia Islam itu yang lebih diprioritaskan lagi adalah dunia Arab. Pada tataran mikro kita juga perlu melakukan segmentasi, mana yang akan kita garap dulu:
Para tokoh politik? Tokoh agama?Intelektual?Kalangan Eksekutif?Kelas Menengah?
Kelas Pekerja? Mahasiswa?Pemuda?Pelajar?
Membidik sasaran – Tempatkan sumberdaya kita secara tepat
Rasulullah menyapa pertama-tama para kepala-kepala suku / tokoh kunci dalam masyarakat. Walaupun begitu, Rasul tidak menolak ketika datang orang biasa yang ingin belajar Islam.Beliau juga mengutus sahabat berdakwah sesuai karakter masyarakat yang dituju, semisal Abu Bakar ke kalangan pedagang,
Mush’ab bin Umair ke Yatsrib
atau Muadz bin Jabbal ke Yaman.Maka di daerah ini pada segmen apa kekuatan kita?
Bila kita ada pengemban dakwah dengan keunggulan intelektual, mereka seharusnya juga menyapa kalangan intelektual, mahasiswa, kelas menengah, atau tokoh politik.
Pengemban dakwah yang “ngustadz” lebih baik mengakses para ulama, pesantren atau eksekutif pencari spiritualitas.
Pengemban dakwah yang “gaul” bisa mengakses remaja dan pelajar.
Pengemban dakwah yang pekerja mengakses pekerja lainnya.
Demikian seterusnya.
Intinya adalah, target akan lebih efektif diakses oleh mereka yang potensinya memang di situ.
Untuk bisa berdakwah di kalangan remaja, anda harus tahu bahasa anak muda sekarang, tahu bacaan mereka, film kesayangan mereka, dandanan yang mereka bilang “cool”, dsb.
Sebaliknya untuk bisa berdakwah di kalangan ustadz, anda harus tahu tatakrama pesantren, bisa bahasa Arab atau minimal membaca kitab kuning, dan setidaknya memiliki “nasab kyai” atau “kesaktian kyai”.
Sobat, perlu juga dipahami dalam melakukan kontak dakwah kita bisa gunakan pengetahuan sales magic di atas misalnya, ketika kita mengikuti dan menyamakan gerakan tubuh kita, ketukan napas, mimik sekalipun hanya beberapa menit dengan persis, kita bisa baca pikiran dan perasaan mereka yang sedang kita kontak. Seringkali di pelatihan peserta kami minta berhadapan dua orang dan yang ketiga berdiri, salah satu diantara mereka , A berpikir tentang apa saja kemudian B mengikuti gerakan bahasa tubuhnya, ketukan napasnya, mimiknya dengan dibantu oleh C mengawasi dan membetulkannya maka bila dirasa persis dan tepat setelah itu kami tanyakan kepada B maka dia bisa menebak pikiran dan perasaan A dan lakukan pergantian agar semua merasakan dan paham akan pelajaran ini. Hal ini bisa membantu kita ketika melakukan kontak karena kita bisa mengetahui pikiran dan perasaan mereka sekalipun hanya sepintas cukup membantu untuk masuk dan menyesuaikan diri dengan baik sehingga berjalan lancar. Ingat tadi trust bisa dibangun dari Akrab dan kesamaan ; gerakan, kata-kata dan kualitas suara, serta type komunikasi.
Sobat, ketika kita menggunakan kata-kata dan kualitas suara yang sama dengan kontak dakwah kita ini juga sangat membantu untuk melakukan pendekatan apalagi kita bisa mengetahuan type komunikasinya apakah visual, auditori, ataupun kinestetis sebagaimana ciri-ciri yang telah kami jelaskan di atas maka kita harus menggunakan gaya atau type komunikasi yang sama didalam melakukan pendekatan.
Mendapatkan posisi – Pimpin jama'ah kita secara meyakinkan (Kredibel)
Sebelum menjadi Rasul, Muhammad saw sudah sangat kredibel, terkenal sebagai orang jujur.
Abu Bakar adalah pebisnis sukses yang menjadi tumpuan harapan kaumnya.
Umar adalah jawara pemberani yang tegas membela apapun yang dia yakini.
Dan ketika Islam semakin menancap, kredibilitas itu pun justru semakin tinggi.
Satu kata dengan perbuatan.Mulailah dari diri kita sendiri.
Karena Islam mengajarkan kebersihan, semestinya pakaian atau rumah setiap syabab selalu bersih.
Karena Islam menekankan menjaga amanat, maka syabab yang bertransaksi muamalat harus amanah.
Karena kita konon memiliki konsep pengaturan negara, maka hendaknya gerak organisasi kita juga teratur. Bagaimana mau mengatur negara,
kalau menaruh sandal di masjid saja berantakan.
Mulai dari hal-hal kecil, dari diri sendiri, dan sekarang!Setiap pengemban dakwah hendaknya memiliki suatu kelebihan
yang bisa diandalkan di lingkungannya.
Pengemban dakwah di kampus akan lebih kredibel
kalau dia juga bintang kampus.
Bintang ini bisa dari sisi akademis,
bisa dari sisi ektra akademis
(jago olahraga, juara MTQ, aktivis BEM,
penulis, pengusaha, dsb).
Tentu juga sangat kredibel kalau memang tahu banyak soal syari'ah, termasuk fiqh sehari-hari;
jadi tidak cuma mengerti fiqh khilafah saja …
Membangun Kebutuhan manusia dalam Dakwah ( Building Need )
•Dua kebutuhan manusia yang paling mendasar : Menghindari rasa sakit (80%) dan mendapatkan rasa nikmat (20%)
•Enam kebutuhan manusia yang modern :
•1. Kepastian/nyaman/aman
•2. Ketidakpastian/variasi/hal baru
•3. Hubungan/Relationship
•4. Signifikan/ Berbeda
•5. Pertumbuhan/Jadi lebih baik
•6. Kontribusi/ berarti
Tampil Beda – Integrasikan antara "Isi" dengan “Kemasan“
Diferensiasi Rasulullah:
content dakwahnya tak sekedar seruan moral,
juga bukan ke kekuasaan belaka.
Dakwah beliau adalah tauhid ideologis,
yang bila diterima, otomatis akan mereformasi
baik seorang individu maupun masyarakat,
mulai dari aspek aqidah, ibadah, muamalah, ahlaq, hingga politik. Dari sisi context,
beliau menjadi uswatun hasanah
- contoh hidup paling sempurna –
bagaimana menerapkan Islam dengan tepat, baik sebagai pribadi, pemimpin gerakan,
hingga sebagai kepala negara.
Sampai-sampai, dalam urusan pribadi,
mereka yang secara ideologis memusuhinya tetap bermuamalah dengan beliau.
Ini context dakwah yang paling meyakinkan.Maka gerakan dakwah yang meniru Rasulullah harus jelas-jelas ideologis.Gerakan Dakwah memiliki sejumlah keunikan
yang akan membedakan dari gerakan lain.
Namun dengan keunikan ini bukan berarti Gerakan Dakwah superior dibanding gerakan dakwah lainnya, namun Gerakan Dakwah memiliki tanggungjawab lebih besar pada ummat
Kelompok Dakwah – namun juga Partai Politik;Politik– namun mencerdaskanPartai politik – namun tak harus di parlemen;Revolusioner– dimulai dari berpikir;Merubah masyarakat– tak melupakan individu;Fundamental– namun tidak dogmatis;Syariat Islam– tak sekedar Piagam Jakarta;Negara Islam– namun bukan teokrasi;Kesatuan Umat– bukan kesatuan partai;Khalifah– namun bukan ketua kelompok;Orthodoks– namun dengan ijtihad;Syura’ – namun bukan demokrasi;Radikal – namun tidak eksklusif;Substantif– namun juga dengan simbol;Jihad – namun penuh kedamaian;Tak kenal kompromi– namun tanpa kekerasan;Membebaskan– namun bukan liberal;Toleran – namun bukan pluralis;Internasional – tapi bekerja lokal;Lokal– namun bukan nasionalisme
Dari sisi context, dakwah ideologis tidak lantas sedikit-sedikit bicara ideologi.
Sebagian besar orang tak peduli pada ideologi.
Mereka lebih suka sesuatu yang menunjukkan solusi problem yang dihadapinya.
Maka sangat perlu mengembangkan uslub-uslub yang membuat orang berpikir,
bahwa solusi itu ada, namun baru akan sempurna bila dalam suatu kerangka ideologis.
Dakwah Efektif harus punya “ BASIS “
•Benar (= syar’i)
•Aplikatif (= jelas apa yang harus diamalkan)
•Solutif (= jelas apa yang akan terselesaikan)
•Inovatif (= kreatif penyampaiannya)
•Simple (= sederhana, gampang diingat)
Gabungkan antara Penawaran dan Akses
Rasulullah memberi “offer” kepada bangsa Arab: “Kalau menginginkan kekuasaan atas bangsa Arab dan non Arab, ucapkan kalimat Tauhid”.
Tentu saja orang Quraisy sangat faham apa makna “price” mengucapkan kalimat Tauhid itu
– yang akan berarti waktu, tenaga, harta, jiwa
– dan tentu juga kesombongan mereka.
Di kesempatan lain, ketika akan melepas pasukan jihad, offer beliau lain lagi, yaitu tegas-tegas “Al-Jannah”.
Ini sifatnya spiritual (qimah ruhiyah).
Sedang place & promotion yang ditempuh Rasul saat itu adalah di masjid, di pasar-pasar,
di bukit Shafa, pokoknya dia mudah ditemui di tempat-tempat kerumunan.
Promosinya dari mulut ke mulut.
Terkadang black-campaign justru malah jadi promosi gratis – terutama pada orang-orang yang jiwanya merdeka dan terbuka.
Dan memang itu yang terjadi.Offer kita adalah kebangkitan ummat dari keterpurukan, dan ridha Allah di akherat nanti. Pricenya adalah kerja keras kita.
Place-nya ada di mana-mana: buku-buku, leaflet, opini atau surat pembaca di koran, website, mashiroh, tabligh akbar, diskusi publik, khutbah dan semua even yang bisa dimasuki. Beberapa acara akbar kita belum tepat sasaran karena produk (yang dipersonifikasi oleh tokoh yang akan tampil) belum dikenal,
time-cost yang belum efisien,
tempat acara yang kurang strategis,
dan promosi yang belum optimal.
Menjual – Menjalin Hubungan Jangka Panjang dengan Pelanggan
Rasulullah amat menekankan silaturahmi. Malaikat mendoakan orang yang bersilaturahmi, sekalipun tidak ada muamalah. Silaturahmi melapangkan rezki & memperpanjang umur.Silaturahmi telah membuat orang-orang yang semula memusuhi jadi setidaknya netral, yang netral jadi mendukung, setidaknya dalam opini, dan yang semula cuma mendukung dalam opini, jadi mendukung secara langsung (fisik, sarana).-berapa orang external hadir di acara kita
-Namun berapa yang akan hadir lagi?
-berapa majalah/buletin yang terjual bulan ini
-Namun berapa yang akan terjual bulan depan?
-berapa yang akan terrekrut bulan ini
-Namun berapa yang masih akan bertahan sampai tiga bulan lagi?
Gerakan Dakwah pun harus selalu menjaga
orang-orang yang pernah mengikuti acaranya, apakah itu dauroh, seminar, atau mashiroh,
sebagai pembicara maupun peserta.
Mereka harus rutin di-ittisholi,
dikirimi buletin , majalah ,
atau nashroh, baik langsung,
via email, telepon atau sms.
Dari diskusi-diskusi itu
mereka juga akan lebih kenal,
bahwa syabab yang sering ziarah kepadanya memang OK dan pantas didukung atau dibela.Hubungan ini membuat mereka berpikir
bahwa mereka tidak cuma dicari
ketika dibutuhkan saja.
Mereka merasa
bahwa GD memang mencintai mereka,
ketika mereka mencintai kaum mukminin,
ketika agenda mereka
adalah agenda ummat Islam.
Dan dari silaturahmi itulah
mereka akan terus tahu
bahwa GD masih tetap baik,
atau terus makin baik.Sebuah parpol Islam – besar ataupun kecil –selayaknya terus memiliki aktivitas pencerdasan politik (dalam bentuk penyebaran bulletin, seminar, aksi massa, diskusi publik sampai silaturahmi atau kontak tokoh).
Mereka tidak boleh hanya ‘bunyi’ menjelang pemilu, munas atau HUT partai saja. • Sebelum menjadi Ketua PBNU pada tahun 1984, Gus Dur adalah orang yang sangat rajin silaturahmi. Dalam setahun,
Gus Dur bisa mengunjungi 400 tokoh !!!
Give Solution ( Memberikan solusi )
•Position Pribadi
•Taktik Penyampaian :
•1. Memenuhi Fear dan Greed dan top 2 dari six human need
•2. Ultimate Advantage ( Nilai tambah )
•3. Sensational Offer (Hadiah, diskon,limit waktu).
•4. Powerful Promise ( Garansi )
Brand – Hindari Jebakan Komoditas "Kodian“
Nama Rasulullah sangat harum.
Beliau kokoh memegang prinsip, sehingga tidak memberi kesempatan namanya tercemar. Termasuk apa yang beliau lakukan terhadap keluarga beliau.
Ketika ada permohonan amnesti atas wanita bangsawan yang mencuri, beliau dengan tegas mengatakan, bahkan jika pencurinya itu Fatimah binti Muhammad,
beliau sendiri yang akan memotongnya. Gerakan Dakwah amat peduli
agar tiap syabab kokoh berpegang pada syara’.
Syabab yang secara jelas melanggar hukum syara’ akan diberi sanksi. Sekalipun orang itu memiliki pengaruh atau potensi ekonomi yang besar – namun bila keberadaannya dalam syarikah akan membuat nama syarikah tercemar, maka itu harus dijauhi.
Maka aktivitas GD harus selalu menjaga brand image ini.
Brand image pertama adalah syar’i.
Kemudian baru aktivitas itu harus ada nilai politis-ideologisnya, sekalipun hanya mengajar membaca al-Qur’an.
Ini karena aktivitas itu diletakkan secara tepat secara konseptual – sistemik, serta dikerjakan secara cerdas, penuh empati pada objek dakwah dan percaya diri terhadap kendala yang dihadapi.
Di atas itu semua, GD tidak pernah melakukan kekerasan
Melayani – Jadikan Servis / Melayani sebagai Pandangan Hidup
Rasulullah pun selalu memilih saat yang tepat dalam memberi tausiyah kepada shahabatnya atau pada orang-orang yang akan mendengarkannya.
Beliau berpesan agar dalam dakwah kita memakai bahasa yang dikenal oleh kaum yang akan kita tuju, karena kalau tidak,
yang muncul hanya fitnah.Karena itulah setiap Pengemban Dakwah harus benar-benar memahami aspek sosiologis & psikologis target dakwah.
Kontak dakwah sebaiknya dilakukan setelah memahami kondisi orang yang akan dikontak serta dilakukan dengan penuh empati.
Dakwah tak selalu harus dilakukan secara formal. Dakwah bisa di mana saja, bisa sambil ronda atau minum kopi di warteg.
Tentu saja harus tahu mood yang sedang ada di situ, dan bagaimana memilih entry-point yang tepat untuk memulai pembicaraan yang fokus,
tanpa buru-buru langsung ditolak.
Proses – Tingkatkan Kualitas, Pantaskan Harga dan Kirim Tepat Waktu
Pekerjaan harian Rasulullah
adalah mentatsqif para sahabat.
Kemudian bertambah dengan menjawab permintaan dakwah atau keluhan dari mana-mana, terlebih setelah menjadi kepala negara.
Dan di samping itu beliau terus kreatif memutar otak untuk membuka lahan-lahan dakwah baru.•
Close The sales ( Menutup Penjualan )
• Gunakan nada yang tepat ( nada rendah dan mantap, lebih baik daripada nada tinggi)
• Beri 2 pilihan ( Double Yes )
• Gunakan Ya kecil, ya besar
• Mengatasi keberatan
Sobat, jangan lupa ketika udah beberapa kali kontak dan tahapan-tahapan building trust, building need, bahkan udah mencapai give solution sebagaimana penjelasan di atas maka segera lakukan closing dengan menawarkan untuk ikut andil dan ambil peran dalam dakwah Islam melangsungkan kehidupan Islam ini. Dengan mengunakan prinsip-prinsip dan pendekatan di atas Insya Allah memberi kemudahan dalam menjalankan dakwah ini.
Teguh atau Istiqamah Dalam Mengemban Dakwah
Secara bahasa, istiqâmah bermakna i’tidâl (lurus). Sedangkan menurut syariat dan perbuatan Rasul istiqâmah berarti afdhal ash-shalah (shalat yang paling utama) atau penyerahan dan peleburan diri yang sempuma di dalam Islam, baik pemikiran maupun perasaannya, terikat dengan ajarannya dan mendakwahkannya. Allah Swt. berfirman:
Karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu.(QS asy-Sura [42]: 15).
Allah Swt. juga berfriman:
Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah pada jalan yang lurus. (QS Fushilat [41]: 6).
Istiqamah kepada Allah ditempuh dengan cara: selalu mentauhidkan-Nya, menolak selain-Nya, dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya; senantiasa bertawakal dengan sebenar-benarnya dan berserah diri kepada-Nya dalam semua urusan; selalu memohon ampunan, rahmat, pertolongan, kemuliaan, dan kebaikan bagi seluruh umat-Nya dan para pengemban dakwah; senantiasa tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya untuk menghilangkan seluruh keburukan yang menimpa Islam dan penganutnya; serta secara kontinu berzikir dan bersyukur kepada-Nya di saat malam dan siang—atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada segenap makhluk-Nya, atas Kitab dan Sunnah Rasul-Nya, atas keterikatan dengan hukum Islam, dan sebagainya.
Dzikrullâh (senantiasa mengingat Allah) akan menghasilkan kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. (idrak shillah billâh) dan akan menghasilkan pula keimanan yang kuat. Allah adalah Maha Pemberi dan Penghalang, Maha Menghidupkan dan Mematikan, Maha Memuliakan dan Menghinakan, serta Maha Menjaga dan Menolong. Allah akan senantiasa menjaga dan menolong dakwah beserta orang-orang yang istiqamah di dalamnya. Allah akan selalu menjaga dan menolong mereka yang selalu menyakini dengan pasti Kitab-kitab dan Sunnah Rasul-Nya dengan keyakinan yang tidak disertai unsur keraguan dan prasangka; yang selalu terikat dengan al-Quran dan Sunnah; yang selalu teguh di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya; yang selalu mengikuti kunci-kunci kebaikan dan berusaha memasuki pintu-pintunya; yang tidak akan pemah keluar darinya dan bersikeras untuk mencari berbagai upaya untuk dapat memasukinya; yang berusaha merobohkan seluruh pintu yang ada yang tidak sesuai dengan kebaikan; yang selalu mewaspadai pintu-pintu dosa hingga merasa takut untuk memasukinya; serta yang senantiasa mencari berbagai upaya dan cara untuk mengetahui pintu-pintu dosa dan kunci-kuncinya. Dengan itu, ia bisa memahami berbagai kesalahan, bahaya, dan tipudayanya, sehingga tidak akan terperangkap dan terjatuh di dalamnya.
Sobat Pengemban dakwah, ketika meyakini hanya Allah-lah yang akan meneguhkan umatnya, hendaknya senantiasa melandaskan diri pada Islam, terikat dengan Islam, sekaligus selalu mendakwahkannya. Semua itu harus dibarengi dengan keyakinan yang pasti, bahwa Allah-lah yang memberikan berbagai sebab dan hanya ditangan-Nyalah hasil itu didapat. Ketika mereka berkeinginan untuk mencegah berbagai bahaya yang akan menimpa agama dan umatnya—sebagaimana telah diserukan Allah—maka sudah menjadi suatu kepastian untuk mengambil berbagai cara dan upaya yang dapat mencegah bahaya-bahaya tersebut; dengan keyakinan bahwa Allah Swt. akan selalu menjaga agama dan wali-wali-Nya. Ketika mereka berkehendak untuk istiqamah pada Islam, hendaknya mereka selalu berpegang pada ideolog Islam. Para ulama salaf yang salih dari kalangan para Sahabat Nabi dan mereka yang telah datang sesudahnya— yakni orang-orang Mukmin yang selalu istiqamah dan bersungguh-sungguh—tidak pernah patah semangat, selalu gigih, dan tidak pemah main-main.
Sobat yang berbahagia, pengemban dakwah wajib mengambil berbagai cara dan upaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat istiqamah tadi, serta pada terwujudnya tujuan dan harapan, yakni ketakwaan kepada Allah Swt. Allah Swt. berfirman:
Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia duga. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. (QS ath-Thalaq [65]: 2-3).
Allah Swt juga berfiman:
Jika salah seorang di antara keduanya atau dua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah!”(QS al-Isra [17]: 23).
Sementara itu, Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah telah berwasiat kepada ibu kalian, kemudian kepada ibu kalian, kemudian berwasiat kepada bapak kalian, kemudian kepada kerabat dekat
Ketika pengemban dakwah membaca ayat dan sabda Rasul di atas, mereka tidak akan pemah berlaku kasar kepada kedua orang tuanya, dan selalu berperilaku baik kepada keduanya—walaupun keduanya bertindak zalim—selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan. Ia akan selalu berbicara kepada keduanya dengan lemah-lembut, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksanakan amanat-amanat keduanya, memuliakan kebaikan-kebaikan mereka, bersedekah kepada keduanya, tidak melangkahi keduanya, tidak angkuh kepada keduanya, serta mengupayakan hal-hal yang dapat mendatangkan keridhaan keduanya.
Rasulullah saw. juga bersabda:
Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum yang memutuskan silaturahim. Silaturahim itu merupakan penghubung dan kasih sayang. Barangsiapa yang menjalin silaturahim, maka dia akan dihubungkan. Barangsiapa yang memutuskannya, maka dia akan diputuskan.
Ketika memahami kedua sabda Rasul di atas, pengemban dakwah akan selalu bersikap welas-asih kepada karib-kerabatnya; senantiasa berlaku santun dan berlapang dada; selalu bersabar atas penderitaan yang ditimpakan oleh mereka; dan selalu berusaha menyambungkan silaturahim yang telah diputuskan oleh mereka. Mereka akan senantiasa mengambil berbagai cara yang dapat menyatukan dan menghubungkan kembali silaturahim, disertai berserah diri dan tunduk kepada Allah, supaya ditunjuki pada berbagai sebab yang dapat merealisasi maksud dan tujuan tersebut.
Oleh karena itu, sobat pengemban dakwah—ketika meresapi ayat-ayat Allah dan memahami hadis-hadis Rasul yang memerintahkan untuk merealisir tujuan-tujuan yang yang telah ditetapkan oleh syariat, yakni melalui sebab-sebab dan cara-cara yang juga ditetapkan oleh syariat—hendaknya berjalan dengan sungguh-sungguh untuk menjiwai berbagai tujuan tersebut. Ia harus selalu terikat dan berjalan sesuai dengan jalan Islam atau sebab-sebab yang telah ditetapkan syariat, tanpa pernah berpaling darinya.
Allah Swt. berfirman:
Jika saja mereka tetap lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan memberi kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS al-Jin [72]: 16).
Karena itu, segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS adz-Dzariyat [51]: 50).
Pengemban dakwah hendaknya mengambil berbagai sebab atau kondisi, yakni dengan mulai membuat berbagai perencanaan dan tujuan umum, serta mengikuti metode dinamis dan tidak jumud untuk mencapai sejumlah tujuan yang lebih khusus. Setelah itu, ia memilih wasilah (cara) yang paling baik, yang dapat membantu meraih berbagai tujuannya.
Rasulullah saw., pada saat Perang Badar, sepenuhnya yakin bahwa Allah akan menolongnya, dan bahwa pertolongan itu hanya di tangan Allah semata. Beliau telah mempersiapkan sejumlah prasyarat yang dapat mengantarkan pada tercapainya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap berpegang teguh pada perintah-Nya. Kekalahan yang terjadi pada kaum Muslim tidak akan terjadi seandainya saja pasukan panah tidak melanggar perintah Rasulullah. Tidaklah Rasulullah saw. berperang bagaikan singa merah di hadapan musuh-musuhnya saat Perang Uhud, kecuali untuk mengenyahkan berbagai bahaya yang ditimbulkan oleh orang-orang Yahudi dan kaum musyrik atas Islam dan Daulah Islam.
Ketika Rasulullah saw. berhijrah dari Makkah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau berusaha menghindari kekejaman orang-orang Quraisy. Beliau selalu berbekal keyakinan bahwa Allah-lah yang akan menjaga beliau sekaligus dakwah yang diembannya.
Istiqamah di jalan Allah juga berarti ikhlas semata-mata untuk Allah—baik dalam pemikiran, amal, maupun cita-cita; menjauhkan diri dari motif karena manusia; berserah diri bahwa Islam adalah qiyâdah fikriyyah; berupaya mewujudkan semua hal tersebut semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt.
Dengan demikian, pengemban dakwah wajib memiliki sifat-sifat mulia, kesadaran penuh, dan keikhlasan; sebagaimana hikmah dan doa yang ditamsilkan oleh ‘Umar ibn al-Khaththab r.a. Hikmah itu menyebutkan:
Manusia itu ada tiga macam: yang berakal, yang bodoh, dan yang gila. Orang yang berakal adalah yang tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak kekal atas yang kekal. Orang yang bodoh adalah sebagaimana sebatang pohon yang ditiup angin, kemudian terombang-ambing. Orang yang gila adalah orang yang menjual akhiratnya demi meraih dunia.
Sedangkan doa Umar ibn al-Khaththab adalah sebagai berikut:
Ya Allah, jadikan seluruh amalku ini ikhlas, dan jadikan seluruh amalku hanya karena Engkau, dan jangan engkau jadikan amalku untuk seorang pun.
Metode Islam untuk mendapatkan sifat istiqamah di dalam Islam dan dakwah adalah sebagai berikut:
Pertama: Mengidentifikasi pemikiran yang mendalam dan pemikiran rusak yang diwariskan dari masa kemunduran. Hal ini, akan menjaga akal dengan pemikiran Islam, baik pemikiran yang berhubungan dengan akidah ataupun syariat. Setelah melakukan identifikasi, kemudian berupaya mengubah pemikiran tersebut menjadi mafâhîm (pemahaman) bagi dirinya, dengan jalan meyakininya, memahami fakta-faktanya di dalam otak dengan pemahaman yang cemerlang, jernih, dan jelas berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mafâhîm tersebut harus menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam pembentukan akal. Dengan demikian, akan didapatkan suatu keterikatan dan dorongan kuat untuk menegakkan pemikiran tersebut.
Bertolak dari pemikiran dan mafâhîm ini, lalu ditegakkan metode dakwah dan dakwah Islam itu sendiri. Keduanya sekaligus dijadikan sebagai parameter (timbangan) untuk menghukumi fakta yang ada.
Selanjutnya adalah memahami fakta secara mendalam untuk mendapatkan tujuan-tujuan yang ingin diraih tanpa terpengaruh sedikit pun oleh berbagai pemikiran, hukum, pandangan, dan patokan-patokan yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, semua itu harus dihilangkan. Persoalan-persoalan seperti nasionalisme dan demokrasi mesti dihilangkan. Demikian pula konspirasi antara gerakan-gerakan Islam dengan para penguasa di negeri-negeri Islam, seperti: meminta pertolongan kepada negara-negara kafir dan memberikan loyalitasnya kepada mereka; berhukum dengan asas nasionalisme; membiarkan dan berdiam diri dari penguasa yang berkhianat; masuk dalam sistem parlemen dan berdiam diri atas perundang-undangan kufur; menjadi perpanjangan tangan untuk menghambat berdirinya Daulah Khilafah; atau menafsirkan Islam sesuai dengan peradaban dan pemahaman Barat—seperti mengikuti kemaslahatan akal dan hawa nafsu sebagai pembenaran untuk menempuh jalan-jalan setan dan menentang jalan Islam; menjadikan fakta sebagai rujukan (sumber) hukum; menganggap adat-istiadat sebagai hukum (al-’âdah muhakkamah); meyakini bahwa (hukum) Islam bisa berubah atau berganti karena perubahan waktu, tempat, zaman, dan kejadian; atau rela dengan kenyataan (buruk) yang ada, dan sebagainya.
Para pengemban dakwah, dengan demikian, wajib secara kontinu menjaga akal dengan pemikiran Islam. Mereka harus terus-menerus mengemban dakwah Islam serta memerangi setiap pemikiran, hukum, patokan-patokan, pendapat, dan adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam tanpa kompromi. Dengan itu, Islam mampu merobohkan kaum kafir, dan pemikiran Islam pun mampu menggulung seluruh kekuasaan kafir.
Walhasil, istiqamah dalam akal (istiqâmah al-aql) diperoleh dengan cara meleburkan diri secara sempurna dalam ajaran Islam. Hal itu akan tercapai jika para pengemban dakwah menegakkan kewajiban-kewajiban Islam, kewajiban-kewajiban dakwah, dan selalu bersabar di dalamnya. Allah Swt. berfirman:
Bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan duani ini. Jangan pula kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya melewati batas. (QS al-Kahfi [18]: 28).
Katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Karena itu, barangsiapa yang ingin beriman hendaklah beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir.” (QS al-Kahfi [18]: 29).
Seandainya Kami tidak memperkuat (hatimu), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Seandainya terjadi demikian benar-benarlah Kami akan timpakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dari Kami. (QS al-Isra [17]: 74 – 75).
Dengan demikian, kewajiban berdakwah tidak boleh dipengaruhi oleh penerimaan ataupun penolakan manusia; tidak dipengaruhi pula oleh panjang atau pendeknya waktu ataupun oleh keuntungan dan kerugiannya. Akan tetapi, semua perkara harus selalu dihubungkan dengan surga dan neraka, atau ridha dan murka Allah. Pengemban dakwah harus bersemangat terhadap agama Allah dan berisitqamah di atasnya, walaupun akan tertimpa cobaan dan kerugian. Untuk itu, pengemban dakwah wajib selalu terikat dengan Islam, terikat dengan ide (fikrah) dan metode (thariqah)-nya tanpa ada pemisahan. Musibah yang sebenarnya bagi pengemban dakwah adalah musibah yang menimpa agamanya dan kerugiannya adalah kerugian dalam beragama. Setiap musibah setinggi dan sebesar apapun, walaupun diterpa goncangan yang dahsyat, tidak akan berpengaruh pada dirinya di dalam mengemban dakwah. Ia akan selalu berjalan lurus di atas ideologi Islam dan senantiasa berdakwah atas nama Islam. Setiap kerugian yang menimpanya, walau kerugian itu memuncak, tidak boleh mengguncang keteguhan para pengemban dakwah.
Allah Swt. berfirman:
Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya yang menimpa orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS al-Baqarah [2]: 214).
Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS al-Aniam [6]: 116).
Allah tidak akan mengingkari janji-janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rum [30]: 6).
Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Luqman [31]: 25).
Akan tetapi, sebagian besar tidak beriman. (QS Hud [11]: 17).
Akan tetapi, sebagian manusia tidak mau bersyukur. (QS al-Baqarah [2]: 243).
Sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (QS Yusuf [12: 103).
Kedua: Memecahkan persoalan perasaan instinktif yang bersifat primordial (fitri) dengan melandaskannya pada ideologi Islam, artinya perasaan yang terbentuk melalui jalan ‘aqliyyah Islâmiyyah. Rasulullah saw. bersabda:
Tidak beriman di antara kalian sampai kalian menjadikan hawa nafsu kalian tunduk (mengikuti) apa saja yang aku bawa.
Mengganti perasaan cinta kekuasaan dunia dengan perasaan cinta terhadap Islam; mengganti perasaan takut akan dunia menjadi takut hanya kepada Allah; mengganti perasaan tamak atas dunia menjadi perasaan dekat dengan Allah; beristiqamah dalam agama Allah dan dakwah; dan senantiasa menegakkan sabda Rasulullah saw. artinya, “Mati di dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup di dalam lumpur kemaksiatan.”
Mengganti kecintaan pada harta-benda dan umur panjang, menjadi kecintaan untuk bersedekah semata-mata karena Allah tanpa meminta imbalan dan jasa; mengganti perasaan bertanggung jawab pada kedudukannya, diri sendiri, dan keluarga, menjadi perasaan bertanggung jawab pada seluruh umat manusia.
Oleh karena itu, para pengemban dakwah hendaknya menundukkan perasaanya masing-masing dengan mengikuti agama Allah. Tidak terpaku hanya pada hal itu saja, tetapi meleburkan secara sempurna dengan ikatan Islam dan senantiasa berdakwah untuk Islam, dengan tujuan mengharap keridhaan Allah Swt.
Tidak diragukan lagi, dengan mengikuti perilaku Rasulullah saw. pada periode Makkah dan Madinahg, sekaligus mempelajari kisah-kisah para sahabat, kita akan mendapatkan bagaimana keistiqamahan mereka dalam Islam dan dakwah. Mereka sungguh menjadi “Islam yang hidup” dalam realitas. Mereka adalah suri teladan yang baik di dalam membangun kepribadian Islam dan dalam melakukan dakwah Islam. Mereka adalah contoh yang baik di dalam keterikatannya dengan hukum syariat. Mereka juga adalah contoh yang baik yang menunjukkan bahwa keagungan dan kemuliaan mereka hanyalah untuk Islam, baik dalam pemahaman, keterikatan, dan di dalam mendakwahkan Islam. Begitu pula kebiasaan mereka untuk merealisasikan pemahaman mereka, yaitu berkurban dengan sesuatu yang tinggi semata-mata untuk Islam. Mereka adalah orang-orang yang tiada bandingannya di dalam menegakkan Islam di dalam masyarakat dan di dalam mengemban dakwah ke seluruh dunia.
Rasulullah saw. menolak perjanjian dengan penguasa Quarisy yang didasarkan pada “toleransi” dengan peraturan-peraturan yang rusak. Beliau menolak meninggalkan permusuhan dan peperangan terhadap kebatilan. Beliau tidak pernah terpengaruh oleh berbagai goncangan atau ancaman. Beliau menganggap bahwa pergulatan politik merupakan suatu hal yang sangat penting, yang terkait dengan persoalan hidup dan mati. Beliau bersabda:
Demi Allah, seandainnya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di atas tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara dakwah ini, (tentu tidak aku tinggalkan) sampai Allah menyaksikan perkara mereka atau aku binasa (yang) di dalamnya, (maka) aku tidak akan pernah berpaling. []
Islam adalah Agama yang sempurna dan menyeluruh tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah,juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya yang diturunkan kepada baginda Rasulullah Muhammad Saw. Untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia karena Islam itu membawa rahmat bagi seluruh alam bila diterapkan di tengah-tengah umat manusia. Oleh karenanya mengemban dakwah Islam adalah misi Agung dan Mulia untuk kesejahteraan umat manusia bahagia dunia dan akherat bagi yang mengikuti dengan penuh kesungguhan dan menyeluruh.
Dakwah pada hakekatnya adalah upaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada apa yang anda serukan , yakni Islam. Oleh karenannya dakwah Islam tidak hanya terbatas pada aktivitas lisan semata, tetapi mencakup seluruh aktivitas – lisan atau perbuatan yang ditujukan dalam rangka menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada Islam. Komitmen seorang muslim dengan dakwah Islam mengharuskan dirinya untuk memberikan contoh yang hidup dari apa yang diserukannya melalui lisannya, sekaligus memberikan gambaran Islam sejati melalui keterikatannya secara benar dengan Islam itu sendiri.
Allah Swt. Berfirman :
“Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan dengan orang-orang menyerukan Islam dan beramal shalih sembari berkata,”Sesungguhnya aku adalah bagian dari umat Islam.” (QS Fushilat (41) : 33 )
“Oleh karena itu , berdakwahlah dan beristiqamahlah sebagaimana Aku perintahkan …” ( QS Asy-Syura (42) : 15 )
Menyeru manusia ke jalan Allah Swt. Merupakan kewajiban sekaligus ibadah yang bisa mengantarkan pelakunya untuk dekat dengan Tuhannya.Dakwah juga mengajarkan pelakunya bahwa kedudukannya di hadapan Allah adalah sangat tinggi;Allah akan mengangkat kedudukannya di dunia maupun di akherat. Dakwah ke jalan Allah juga merupakan aktivitas terpenting dari para nabi. Mereka semuanya senantiasa menjalankan aktivitas dakwah. Melalui jalan dakwah juga mereka berupaya menegakkan agama Allah.
“ Sesungguhnya Kami senantiasa mengutus kepada setiap umat seorang rasul agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut. (QS an-Nahl (16): 36 )
Dakwah Islam merupakan aktivitas yang diwariskan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya. Kita tentu harus menjaga dan memeliharanya demi keberlangsungan Islam di tengah-tengah kita. Seandainya tidak melalui perjuangan dakwah, Islam tidak mungkin memiliki kekuatan;tidak mungkin akan tersebar luas; tidak mungkin dapat dijaga; dan tidak mungkin pula hujjah Allah bisa ditegakkan atas para makhluk-Nya. Dengan perjuangan dakwah Islam, kemuliaan, kekuatan, dan eksistensi Islam bisa dikembalikan sebagaimana terjadi di masa lalu.Betapa kita amat membutuhkan semua itu pada saat ini. Dengan perjuangan dakwah Islam, Islam bisa disebarkan di tengah-tengah manusia seluruhnya, sehingga agama seluruhnya hanya milik Allah. Betapa dunia membutuhkan hal semacam ini pada saat ini.Dengan perjuangan dakwah Islam pula, hujjah umat Islam demikian nyata hingga mampu memporakporandakan hujjah
Orang-orang kafir, sehingga tidak ada alasan atau dalih apa pun yang bisa menjustifikasi kebolehan untuk mencampakkan Islam.
Allah Swt berfirman :
“Allah mengutus para rasul sebagai pembawa gembira serta pemberi peringatan agar manusia tidak memiliki lagi hujjah ( alasan ) di hadapan Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu. Allah Maha Agung lagi Maha bijak.”( QS an-Nisa’ (4) : 165 )
Atas dasar semua ini,urgensinya perjuangan dakwah Islam mesti disosialisasikan di tengah-tengah umat Islam, dan wajib dijadikan sebagai prioritas dalam pikiran mereka, bahkan umat Islam wajib untuk mengorbankan waktu,tenaga,harta, dan bahkan jiwanya, serta mengerahkan segenap kesungguhannya demi keberlangsungan dakwah Islam. Imam An-Nawawi menyatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah perkara besar karena merupakan penjaga dan pilar dakwah. Jika kemaksiyatan telah banyak dilakukan, niscaya azab Allah akan menimpa secara merata, baik kepada orang yang shalih maupun orang yang banyak berbuat dosa. Jika umat Islam tidak berusaha mencegah perbuatan orang-orang yang dzalim, Allah Swt pasti akan meratakan azab kepada mereka semuanya.
Rasulullah Saw telah menjelaskan sejauhmana kebutuhan kita akan dakwah itu di dalam sebuah hadisnya :
“ Perumpamaan orang yang menetapi hukum-hukum Allah dan menjaganya adalah laksana suatu kaum yang menumpang kapal; sebagian orang menempati bagian atas dan sebagiannya lagi menempati bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah, jika hendak mengambil air minum, akan melewati orang-orang di bagian atas. Diantara mereka kemudian ada yang berkata,” Seandainya saja kami melubangi kapal ini di bagian kami, tentu kami tidak akan merepotkan orang-orang di bagian atas” jika orang-orang di bagian atas membiarkan tindakan dan keinginan orang-orang yang ada di bagian bawah, niscaya semua orang yang ada di kapal akan tenggelam. Sebaliknya, jika mereka berusaha mencegahnya, mereka semuanya akan selamat. ( HR. al-Bukhari )
Hadis ini menggambarkan secara jelas betapa amar ma’ruf nahi mungkar sebanding dengan keberlangsungan kehidupan dan keselamatan masyarakat. Seandainya ada sebagian kelompok saja yang mengabaikan aktivitas amar ma’ruf nahi mngkar, niscaya perahu kehidupan akan karam, sekaligus menenggelamkan dan menghancurkan seluruh penumpang.
Sales Magic for Dakwah
Setiap Pengemban Dakwah hendaknya siap sebagai tenaga “marketing”.
Manakala diminta memberi sepatah kata pada acara apapun semisal aqiqah, walimah, sampai prosesi jenazah, setiap syabab wajib siap. Selain materi ideologis yang bisa disampaikan, dia juga siap dengan “benda promosi” lain, semisal buku saku, CD, stiker-souvenir atau sekedar kartu nama.
Lebih baik lagi bila ada alamat maktab/kantor lengkap dengan teleponnya.
Si badrun, suatu hari dia lagi enjoy menikmati liburan dengan memancing di sungai di hutan yang terpencil 25 km dari tempat tinggalnya. Lagi enak-enaknya mancing dia terkejut bercampur heran ada seorang ibu yang melintasi dan menyeberang sungai yang airnya deras dan dalam seperti berjalan di atas air layaknya pendekar Wiro Sableng 212 di sinetron, eh… ehh ternyata ada juga di dunia nyata
Sambil kegirangan karena kailnya disambar oleh ikan gabus yang cukup besar, ia terus-menerus berpikir. Betapa hebatnya ibu tadi yang bisa menguasai ilmu meringankan tubuh sehingga bisa berjalan di atas air sungai yang dalam dan lebar. Tiba-tiba ia kembali dikejutkan kembali oleh seorang bocah belasan tahun yang dengan cara yang sama menyebrang sungai dengan ilmu berjalan di atas permukaan air. Bahkan kali nampak lebih sempurna dan tenang menyebrangi sungai dengan sukses. Dalam keadaan semakin penasaran, datanglah seorang pemuda desa yang sedang berjalan santai di jalanan setapak di tepi sungai.Badrun menghampiri si pemuda itu dan menanyakan tentang bagaimanakah caranya belajar ilmu kesaktian agar bisa berjalan di atas permukaan air. Mendapatkan pertanyaan lugu dari badrun, pemuda itu tertawa ngakak dan begitu saja meninggalkan Badrun sambil memperagakan kemahirannya berjalan di atas permukaan air sebagaimana warga desa yang sebelumnya telah dilihat oleh Badrun.
Dalam keadaan yang makin penasaran, Badrun terus memancing .Nampaknya sangat beruntung hari itu dia mendapatkan ikan begitu banyak. Kemudian datanglah seorang pemuda yang membawa pancing dan memancing tidak jauh dari Badrun memasang kailnya. Sambil ngobrol sana-sini dengan pemuda ini Badrun menanyakan apakah ia juga menguasai ilmu berjalan di atas air. Pemuda ini bertanya sambil keheranan. Ilmu apa yang dimaksud Badrun. “Gini mas, selama berada di sini saya sudah mendapati tiga orang penduduk desa yang mahir berjalan di atas permukaan air ketika menyebrangi sungai ini. Persis seperti Jaka Tingkir atau Wiro Sableng dalam serial sinetron TV.”
“Ooooalah mas, saya juga bisa kok” jawab pemuda itu.
“Anda bisa” sahut Badrun
“Bisa” Oke Kalau begitu masnya mau ngajari saya ilmu seperti itu? Sahut Badrun.
“Mau, Tapi ada syaratnya!” Apa Syaratnya mas? Tanya Badrun penasaran. “Ada tiga. Pertama, Bila Anda menguasai ilmu ini, Anda tidak boleh sombong!”
Oo kalau gitu saya berjanji. Saya tidak akan sombong. Syarat kedua?”
“Anda harus membayar 500 ribu sebagai akad antara guru dan murid”
“Ok. Kebetulan saya lagi bawa uang.Saya bayar sekarang” Jawab Badrun
“Nanti dulu, ada syarat ketiga, Anda harus memiliki komitmen yang tinggi setelah mempelajari ilmu ini terhadap kata-kata yang pernah anda ucapkan dan tidak boleh menelan ludah anda kembali. Artinya, Anda tidak boleh melanggar komitmen yang telah Anda buat dengan orang lain.” Ok. Saya setuju dengan semua syarat itu. Ini uangnya saya serahkan.” “Baik. Sekarang kita mulai pelajarannyaa.” “Ok, Saya Siap”
Sambil melompat ke sungai , Si pemuda tadi memulai pelajarannya, “ Inti ilmunya anda harus jeli dan konsentrasi serta menghafalkan posisi batu-batu besar yang ada di sungai ini.Saya akan tunjukkan lokasinya dan setelah itu anda harus menghafalkannya. Melompatlah tepat di batu besar itu, jangan salah. Karena kesalahan akan menjadikan anda tercebur dalam sungai yang dalam ini.
Sambil bengong Si badrun memperhatikan “kesaktian” pemuda kampung ini. Badrun tidak bisa menarik uang yang telah diberikannya kepada guru “ilmu sakti berjalan di permukaan air sungai” karena sudah menjadi kesepakatan bersama.
Sobat, apa hikmahnya dari kisah ini? Begitulah perbedaan antara orang yang ahli dan tidak ahli. Keahlian seseorang dalam bidang tertentu akan nampak sebagai sebuah kesaktian bagi orang lain yang tidak memahaminya. Badrun telah kehilangan uang 500 ribu untuk belajar ilmu berjalan di permukaan air. Memang begitulah. Ilmu sesederhana apapun harus dipelajari dengan pengorbanan . Jangan harap anda ongkang-ongkang kemudian tiba-tiba mendapatkan sebuah ilmu apalagi sebuah keahlian.
Sobat, saya mengajak anda untuk belajar apapun yang bermanfaat dengan 5 langkah proses pembelajaran yaitu ; Memahami, mengerjakan, mengulang-ulang, membiasakan dan menuai hasil termasuk juga dalam teknik dan uslub-uslub dakwah melalui suatu ilmu strategi marketing ataub “Sales Magic”yang saya kaitkan dengan dakwah Islam karena aktivitas dakwah adalah suatu aktivitas yang amat urgen bagi kelangsungan hidup Islam sebagaimana yang dijelaskan pada bab sebelumnya.
Adapun dalam “Sales Magic” yang dirumuskan oleh Antony Robbins ada empat tahapan dan bisa dipakai juga sebagai uslub dakwah selama tidak bertentangan dengan hukum syara’:
1. Building Trust ( Membangun kepercayaan )
2. Building Need ( Membangun Kebutuhan )
3. Give Solution ( Memberikan solusi )
4. Close the Sales ( Menutup penjualan )
Kita akan bahas satu persatu dalam kaitannya dengan konteks dakwah dengan selalu memperhatikan dan mengikuti thoriqoh dakwah Rasulullah Saw dalam bab selanjutnya.
Membangun kepercayaaan dalam Dakwah (Building Trust )
Trust bisa timbul karena :
•Reputasi/Integritas/referensi, penampilan,gelar/jabatan, terkait dgn merk org terkenal, catatan prestasi, edifikasi
•Akrab/Membangun kesamaan :
•1. Gerakan
•2. Kata-kata dan kualitas suara yg sama
•3. Type Komunikasi ke otak
•4. Strategi Mengambil keputusan
•Semua itu dilakukan dgn 2 Teknik :
•1.Match & Mirroring
•2.Pacing & Leading
Ada tiga type komunikasi ke otak :
Type Visual ( Penglihatan ) : Ciri-ciri orang type visual sbb:
•Cenderung bernapas pendek-pendek lewat dada, berbicara cepat.
•Mereka suka menyela pembicaraan org lain, bergerak cepat, makan cepat,penuh energi, dan berbicara dgn nada tinggi.
•Penampilan rapi dan enak dipandang mata.
•Mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Berkomunikasi dgn type visual, anda harus memvisualisasikan keadaan, buat mereka melihat apa yang anda katakan,
Pilhan kata orang-orang Visual antara lain;
•Melihat
•Memperhatikan
•Menonton
•Menunjukkan
•Memandang
•Membayangkan
•Mewarnai
•Memvisualisasikan
•Penglihatan
•Sudut pandang
•Lihatlah dari sudut pandang saya.
•Ide anda kabur
•Bisa anda bayangkan ?
•Izinkan saya tunjukkan pada anda.
•Perhatikan benar-benar maka anda akan paham maksud saya.
Type Auditori ( Pendengaran )
•Cenderung bernapas lewat diafragma.
•Lebih suka mendengarkan daripada berbicara, ketika berbicara menggunakan variasi warna suara.
•Berkomunikasi dgn type auditori, anda harus berbicara pelan dan teratur, ubah-ubah warna suara anda. Jelaskan situasinya dgn detil dan picu diskusi lebih lanjut dgn pertanyaan.
Pilhan kata orang type auditori :
•Dengar
•Mendengarkan
•Mengatakan
•Kegaduhan
•Bunyi
•Bicara
•Kesunyian
•Nada
•Ritme
•Kedengarannya akrab.
•Kedengarannya itu ide yang bagus
•Dengarkan, saya punya ide bagus
•Ada yang ingin saya katakan.
•Mari kita bicarakan tentang pekerjaan baru anda.
Type Kinestetis ( Perasaan /gerak)
•Cenderung bernapas dalam dan tenang.
•Lebih mengutamakan perasaan
•Keputusan yang diambil banyak didasari oleh perasaan dan emosi.
•Berkomunikasi dengan tipe ini anda harus bisa membuat mereka “merasakan” apa yang anda katakan
Pilihan kata orang Kinestetik :
•Merasa
•Emosi
•Tenang
•Frustasi
•Tertekan
•Malu
•Gugup
•Kesepian
•Santai
•Stress
•Ide anda benar-benar menyentuh perasaan.
•Bisakah anda merasakan yang saya rasakan?
•Saya setuju. Anda sangat emosional.
•Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Saya lebih suka ketenangan.
•Di sini dingin. Apa anda merasakannya?
Petunjuk berdasarkan gerakan mata
•Type Visual
•Memory Visual : jika anda bertanya org type visual pertanyaan-pertanyaan yg jawabannya ada diingatan mereka, anda bisa perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu ke kiri. Coba tanyakan apa warna sepeda motornya atau mobilnya? Seperti apakah rumah Anda?
•Kreatif Visual : Jika anda bertanya kepada mereka dan mereka tidak siap menjawabnya. Atau dia tidak punya gambaran yg belum mereka miliki. Perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu kanan.Coba bayangkan ada kuda yg bertubuh sapi dan mempunyai sayap dan terbang.
•Tanpa Fokus : tidak menggerakkan mata mereka sama sekali. Mereka sepertinya melihat anda,tapi menatap ke arah anda.
•Type Auditori
•Memory auditori ;Jika kepada type auditori anda ajukan pertanyaan yg mereka telah mempunyai jawabannya, perhatikan mata mereka bergerak ke kiri lalu lurus ke depan. Ingatlah lagu kesukaan anda, ingatlah suara ibu anda
•Kreatif auditori ;Untuk pertanyaan-pertanyaan yg mereka tidak dapat jawab langsung, type auditori akan menggerakkan matanya lurus ke depan lalu bergerak ke kanan. Bayangkan bunyi klakson mobil atau bel rumah anda berbunyi seperti meongan kucing.
•Berdialog / self talk ; ketika mereka berdialog dan berbicara dengan diri sendiri maka type auditori akan menggerakkan matanya ke bawah lalu ke kiri. Coba ingat-ingat ucapan anda kepada diri sendiri ketika anda lulus.
Gerakan mata type kinestetik•Jika anda coba tanyakan kepada tipe kinestetik, “Apa yang anda rasakan saat anda jatuh cinta?” Matanya akan begerak ke bawah lalu ke kanan saat berupaya mengingat perasaannya ketika itu terjadi.
Sobat, kita bisa gunakan pengetahuan di atas untuk kepentingan dakwah.Ketika kita berdakwah maka perlu juga Building Trust. Pertama dan utama adalah Keyakinan kita kepada Allah Swt serta memahami bahwa Islam adalah membawa rahmatan lil’Alamin, memuaskan akal, sesuai dengan fitrah manusia dan menentramkan hati. Bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan orang lain kalau diri kita tidak yakin dan memahami apa yang mau kita sampaikan ? Islam merupakan reprensentasi dari berbagai perkara yang makruf yang diperintahkan oleh Allah untuk ditegakkan serta dari berbagai kemungkaran yang dilarang-Nya untuk dilaksanakan dan harus dihilangkan. Puncak kebajikan yang paling tinggi adalah keimanan kepada Allah Swt berikut seluruh rukun akidah Islam. Sebaliknya puncak kemungkaran yang paling buruk adalah kekufuran dalam segala bentuknya. Puncak kebajikan setelah keimanan adalah ketakwaan. Ketakwaan diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Keterikatan dengan syariat Islam jelas terkait dengan keimanan.Jika keimanan seorang muslim semakin kuat, niscaya akan semakin kuat pula keterikatannya untuk melakukan ketaatan. Sebaliknya jika semakin lemah iman maka semakin lemah pula keterikatannya terhadap syariat islam. Keimanan dan ketakwaan seorang muslim, serta sikap menjauhnya dari kekufuran dan kemaksiatan, tidak akan mungkin bisa tetap kekal dan tersebar, kecuali dengan adanya upaya dari dirinya untuk selalu mengemban dan mendakwahkan Islam.Umat Islam wajib melakukan amar makruf nahi munkar. Umat Islam juga sudah seharusnya telah lebih dulu mengerjakan berbagai perkara yang makruf sebelum mereka memerintahkannya kepada orang lain. Mereka pun sudah semestinya telah lebih dulu menjauhi kemungkaran sebelum melarangnya atas orang lain. Inilah sobat yang disebut integritas, setiap muslim adalah da’I dan sebagai pengemban dakwah kita harus memiliki integritas yang tinggi karena ini adalah modal utama building trust dalam berdakwah.
Dalam building trust , trust juga bisa timbul karena reputasi maka dalam berdakwahpun kita harus berusaha menjaga reputasi kita sebagai pengemban dakwah dan Islam itu sendiri maka sikap dan perilaku kita juga adalah materi dakwah disinilah pentingnya kepribadian Islam yang harus dimiliki bagi pengemban dakwah. Sobat, kita bisa mulai berdakwah pada orang-orang yang akrab atau orang yang sudah kita kenal dekat dan baik. Gunakan rumus KLOP ( Keluarga, Lingkungan, Organisasi, kenalan Pribadi )
Keluarga; Siapa keluarga kita yang bisa kita kontak baik di kota maupun di luar kota saat kita bersilaturrahmi baik keluarga dekat atau keluarga jauh. Misalnya ; Ibu, bapak, adik, kakak, kakek, nenek, saudaranya ibu, saudaranya bapak, sepupu,cucu, saudara kakek, saudara nenek , dst.
Lingkungan ; tetangga kanan –kiri , tetangga depan- belakang, tetangga atas-bawah, Teman bermain, teman sekolah, teman hoby, guru anda SD, guru SMP, guru SMU, Dosen PT anda, teman kerja, temannya isteri, temannya bapak, temannya ibu, dst
Organisasi ; Anda mungkin pernah aktif atau partisipan di organisasi pemuda, Kartar,IPNU/IPPNU,IRM,Pemuda Muhammadiyah,organisasi massa, parpol, tentunya banyak juga orang yang kita kenal dan itu juga bisa menjadi obyek dan ladang dakwah bagi kita.
Kenalan Pribadi ; Bisa Klien, konsumen, pegguna jasa anda, kenalan di apotek, kenalan di halte bus, kenalan di seminar, kenalan saat antri bayar listrik atau telphon, kenalan di bis kota, kenalan di warung, dsb. Jangan lupa setiap ketemu dengan siapa saja berikan kartu nama anda dan minta kartu nama dia kalau ada atau dapatkan namanya, alamatnya, nomer kontaknya karena itu juga bisa menjadi obyek dakwah dan menambah jaringan silaturrahmi.
Segmentasi – Melihat "Pasar" kita secara kreatif
Rasulullah memulai dakwahnya
pada orang-orang yang beliau kenal baik
dan merekapun kenal beliau,
mulai dari keluarganya, kerabatnya, qabilahnya, sahabat-sahabatnya, kemudian ke suku Quraisy dan kota-kota terdekat.
Demikian juga Dakwah, meski menganggap dakwah wajib untuk seluruh manusia,
namun dakwah untuk menegakkan kembali Khilafah dilakukan dengan prioritas pada dunia Islam, dan dari dunia Islam itu yang lebih diprioritaskan lagi adalah dunia Arab. Pada tataran mikro kita juga perlu melakukan segmentasi, mana yang akan kita garap dulu:
Para tokoh politik? Tokoh agama?Intelektual?Kalangan Eksekutif?Kelas Menengah?
Kelas Pekerja? Mahasiswa?Pemuda?Pelajar?
Membidik sasaran – Tempatkan sumberdaya kita secara tepat
Rasulullah menyapa pertama-tama para kepala-kepala suku / tokoh kunci dalam masyarakat. Walaupun begitu, Rasul tidak menolak ketika datang orang biasa yang ingin belajar Islam.Beliau juga mengutus sahabat berdakwah sesuai karakter masyarakat yang dituju, semisal Abu Bakar ke kalangan pedagang,
Mush’ab bin Umair ke Yatsrib
atau Muadz bin Jabbal ke Yaman.Maka di daerah ini pada segmen apa kekuatan kita?
Bila kita ada pengemban dakwah dengan keunggulan intelektual, mereka seharusnya juga menyapa kalangan intelektual, mahasiswa, kelas menengah, atau tokoh politik.
Pengemban dakwah yang “ngustadz” lebih baik mengakses para ulama, pesantren atau eksekutif pencari spiritualitas.
Pengemban dakwah yang “gaul” bisa mengakses remaja dan pelajar.
Pengemban dakwah yang pekerja mengakses pekerja lainnya.
Demikian seterusnya.
Intinya adalah, target akan lebih efektif diakses oleh mereka yang potensinya memang di situ.
Untuk bisa berdakwah di kalangan remaja, anda harus tahu bahasa anak muda sekarang, tahu bacaan mereka, film kesayangan mereka, dandanan yang mereka bilang “cool”, dsb.
Sebaliknya untuk bisa berdakwah di kalangan ustadz, anda harus tahu tatakrama pesantren, bisa bahasa Arab atau minimal membaca kitab kuning, dan setidaknya memiliki “nasab kyai” atau “kesaktian kyai”.
Sobat, perlu juga dipahami dalam melakukan kontak dakwah kita bisa gunakan pengetahuan sales magic di atas misalnya, ketika kita mengikuti dan menyamakan gerakan tubuh kita, ketukan napas, mimik sekalipun hanya beberapa menit dengan persis, kita bisa baca pikiran dan perasaan mereka yang sedang kita kontak. Seringkali di pelatihan peserta kami minta berhadapan dua orang dan yang ketiga berdiri, salah satu diantara mereka , A berpikir tentang apa saja kemudian B mengikuti gerakan bahasa tubuhnya, ketukan napasnya, mimiknya dengan dibantu oleh C mengawasi dan membetulkannya maka bila dirasa persis dan tepat setelah itu kami tanyakan kepada B maka dia bisa menebak pikiran dan perasaan A dan lakukan pergantian agar semua merasakan dan paham akan pelajaran ini. Hal ini bisa membantu kita ketika melakukan kontak karena kita bisa mengetahui pikiran dan perasaan mereka sekalipun hanya sepintas cukup membantu untuk masuk dan menyesuaikan diri dengan baik sehingga berjalan lancar. Ingat tadi trust bisa dibangun dari Akrab dan kesamaan ; gerakan, kata-kata dan kualitas suara, serta type komunikasi.
Sobat, ketika kita menggunakan kata-kata dan kualitas suara yang sama dengan kontak dakwah kita ini juga sangat membantu untuk melakukan pendekatan apalagi kita bisa mengetahuan type komunikasinya apakah visual, auditori, ataupun kinestetis sebagaimana ciri-ciri yang telah kami jelaskan di atas maka kita harus menggunakan gaya atau type komunikasi yang sama didalam melakukan pendekatan.
Mendapatkan posisi – Pimpin jama'ah kita secara meyakinkan (Kredibel)
Sebelum menjadi Rasul, Muhammad saw sudah sangat kredibel, terkenal sebagai orang jujur.
Abu Bakar adalah pebisnis sukses yang menjadi tumpuan harapan kaumnya.
Umar adalah jawara pemberani yang tegas membela apapun yang dia yakini.
Dan ketika Islam semakin menancap, kredibilitas itu pun justru semakin tinggi.
Satu kata dengan perbuatan.Mulailah dari diri kita sendiri.
Karena Islam mengajarkan kebersihan, semestinya pakaian atau rumah setiap syabab selalu bersih.
Karena Islam menekankan menjaga amanat, maka syabab yang bertransaksi muamalat harus amanah.
Karena kita konon memiliki konsep pengaturan negara, maka hendaknya gerak organisasi kita juga teratur. Bagaimana mau mengatur negara,
kalau menaruh sandal di masjid saja berantakan.
Mulai dari hal-hal kecil, dari diri sendiri, dan sekarang!Setiap pengemban dakwah hendaknya memiliki suatu kelebihan
yang bisa diandalkan di lingkungannya.
Pengemban dakwah di kampus akan lebih kredibel
kalau dia juga bintang kampus.
Bintang ini bisa dari sisi akademis,
bisa dari sisi ektra akademis
(jago olahraga, juara MTQ, aktivis BEM,
penulis, pengusaha, dsb).
Tentu juga sangat kredibel kalau memang tahu banyak soal syari'ah, termasuk fiqh sehari-hari;
jadi tidak cuma mengerti fiqh khilafah saja …
Membangun Kebutuhan manusia dalam Dakwah ( Building Need )
•Dua kebutuhan manusia yang paling mendasar : Menghindari rasa sakit (80%) dan mendapatkan rasa nikmat (20%)
•Enam kebutuhan manusia yang modern :
•1. Kepastian/nyaman/aman
•2. Ketidakpastian/variasi/hal baru
•3. Hubungan/Relationship
•4. Signifikan/ Berbeda
•5. Pertumbuhan/Jadi lebih baik
•6. Kontribusi/ berarti
Tampil Beda – Integrasikan antara "Isi" dengan “Kemasan“
Diferensiasi Rasulullah:
content dakwahnya tak sekedar seruan moral,
juga bukan ke kekuasaan belaka.
Dakwah beliau adalah tauhid ideologis,
yang bila diterima, otomatis akan mereformasi
baik seorang individu maupun masyarakat,
mulai dari aspek aqidah, ibadah, muamalah, ahlaq, hingga politik. Dari sisi context,
beliau menjadi uswatun hasanah
- contoh hidup paling sempurna –
bagaimana menerapkan Islam dengan tepat, baik sebagai pribadi, pemimpin gerakan,
hingga sebagai kepala negara.
Sampai-sampai, dalam urusan pribadi,
mereka yang secara ideologis memusuhinya tetap bermuamalah dengan beliau.
Ini context dakwah yang paling meyakinkan.Maka gerakan dakwah yang meniru Rasulullah harus jelas-jelas ideologis.Gerakan Dakwah memiliki sejumlah keunikan
yang akan membedakan dari gerakan lain.
Namun dengan keunikan ini bukan berarti Gerakan Dakwah superior dibanding gerakan dakwah lainnya, namun Gerakan Dakwah memiliki tanggungjawab lebih besar pada ummat
Kelompok Dakwah – namun juga Partai Politik;Politik– namun mencerdaskanPartai politik – namun tak harus di parlemen;Revolusioner– dimulai dari berpikir;Merubah masyarakat– tak melupakan individu;Fundamental– namun tidak dogmatis;Syariat Islam– tak sekedar Piagam Jakarta;Negara Islam– namun bukan teokrasi;Kesatuan Umat– bukan kesatuan partai;Khalifah– namun bukan ketua kelompok;Orthodoks– namun dengan ijtihad;Syura’ – namun bukan demokrasi;Radikal – namun tidak eksklusif;Substantif– namun juga dengan simbol;Jihad – namun penuh kedamaian;Tak kenal kompromi– namun tanpa kekerasan;Membebaskan– namun bukan liberal;Toleran – namun bukan pluralis;Internasional – tapi bekerja lokal;Lokal– namun bukan nasionalisme
Dari sisi context, dakwah ideologis tidak lantas sedikit-sedikit bicara ideologi.
Sebagian besar orang tak peduli pada ideologi.
Mereka lebih suka sesuatu yang menunjukkan solusi problem yang dihadapinya.
Maka sangat perlu mengembangkan uslub-uslub yang membuat orang berpikir,
bahwa solusi itu ada, namun baru akan sempurna bila dalam suatu kerangka ideologis.
Dakwah Efektif harus punya “ BASIS “
•Benar (= syar’i)
•Aplikatif (= jelas apa yang harus diamalkan)
•Solutif (= jelas apa yang akan terselesaikan)
•Inovatif (= kreatif penyampaiannya)
•Simple (= sederhana, gampang diingat)
Gabungkan antara Penawaran dan Akses
Rasulullah memberi “offer” kepada bangsa Arab: “Kalau menginginkan kekuasaan atas bangsa Arab dan non Arab, ucapkan kalimat Tauhid”.
Tentu saja orang Quraisy sangat faham apa makna “price” mengucapkan kalimat Tauhid itu
– yang akan berarti waktu, tenaga, harta, jiwa
– dan tentu juga kesombongan mereka.
Di kesempatan lain, ketika akan melepas pasukan jihad, offer beliau lain lagi, yaitu tegas-tegas “Al-Jannah”.
Ini sifatnya spiritual (qimah ruhiyah).
Sedang place & promotion yang ditempuh Rasul saat itu adalah di masjid, di pasar-pasar,
di bukit Shafa, pokoknya dia mudah ditemui di tempat-tempat kerumunan.
Promosinya dari mulut ke mulut.
Terkadang black-campaign justru malah jadi promosi gratis – terutama pada orang-orang yang jiwanya merdeka dan terbuka.
Dan memang itu yang terjadi.Offer kita adalah kebangkitan ummat dari keterpurukan, dan ridha Allah di akherat nanti. Pricenya adalah kerja keras kita.
Place-nya ada di mana-mana: buku-buku, leaflet, opini atau surat pembaca di koran, website, mashiroh, tabligh akbar, diskusi publik, khutbah dan semua even yang bisa dimasuki. Beberapa acara akbar kita belum tepat sasaran karena produk (yang dipersonifikasi oleh tokoh yang akan tampil) belum dikenal,
time-cost yang belum efisien,
tempat acara yang kurang strategis,
dan promosi yang belum optimal.
Menjual – Menjalin Hubungan Jangka Panjang dengan Pelanggan
Rasulullah amat menekankan silaturahmi. Malaikat mendoakan orang yang bersilaturahmi, sekalipun tidak ada muamalah. Silaturahmi melapangkan rezki & memperpanjang umur.Silaturahmi telah membuat orang-orang yang semula memusuhi jadi setidaknya netral, yang netral jadi mendukung, setidaknya dalam opini, dan yang semula cuma mendukung dalam opini, jadi mendukung secara langsung (fisik, sarana).-berapa orang external hadir di acara kita
-Namun berapa yang akan hadir lagi?
-berapa majalah/buletin yang terjual bulan ini
-Namun berapa yang akan terjual bulan depan?
-berapa yang akan terrekrut bulan ini
-Namun berapa yang masih akan bertahan sampai tiga bulan lagi?
Gerakan Dakwah pun harus selalu menjaga
orang-orang yang pernah mengikuti acaranya, apakah itu dauroh, seminar, atau mashiroh,
sebagai pembicara maupun peserta.
Mereka harus rutin di-ittisholi,
dikirimi buletin , majalah ,
atau nashroh, baik langsung,
via email, telepon atau sms.
Dari diskusi-diskusi itu
mereka juga akan lebih kenal,
bahwa syabab yang sering ziarah kepadanya memang OK dan pantas didukung atau dibela.Hubungan ini membuat mereka berpikir
bahwa mereka tidak cuma dicari
ketika dibutuhkan saja.
Mereka merasa
bahwa GD memang mencintai mereka,
ketika mereka mencintai kaum mukminin,
ketika agenda mereka
adalah agenda ummat Islam.
Dan dari silaturahmi itulah
mereka akan terus tahu
bahwa GD masih tetap baik,
atau terus makin baik.Sebuah parpol Islam – besar ataupun kecil –selayaknya terus memiliki aktivitas pencerdasan politik (dalam bentuk penyebaran bulletin, seminar, aksi massa, diskusi publik sampai silaturahmi atau kontak tokoh).
Mereka tidak boleh hanya ‘bunyi’ menjelang pemilu, munas atau HUT partai saja. • Sebelum menjadi Ketua PBNU pada tahun 1984, Gus Dur adalah orang yang sangat rajin silaturahmi. Dalam setahun,
Gus Dur bisa mengunjungi 400 tokoh !!!
Give Solution ( Memberikan solusi )
•Position Pribadi
•Taktik Penyampaian :
•1. Memenuhi Fear dan Greed dan top 2 dari six human need
•2. Ultimate Advantage ( Nilai tambah )
•3. Sensational Offer (Hadiah, diskon,limit waktu).
•4. Powerful Promise ( Garansi )
Brand – Hindari Jebakan Komoditas "Kodian“
Nama Rasulullah sangat harum.
Beliau kokoh memegang prinsip, sehingga tidak memberi kesempatan namanya tercemar. Termasuk apa yang beliau lakukan terhadap keluarga beliau.
Ketika ada permohonan amnesti atas wanita bangsawan yang mencuri, beliau dengan tegas mengatakan, bahkan jika pencurinya itu Fatimah binti Muhammad,
beliau sendiri yang akan memotongnya. Gerakan Dakwah amat peduli
agar tiap syabab kokoh berpegang pada syara’.
Syabab yang secara jelas melanggar hukum syara’ akan diberi sanksi. Sekalipun orang itu memiliki pengaruh atau potensi ekonomi yang besar – namun bila keberadaannya dalam syarikah akan membuat nama syarikah tercemar, maka itu harus dijauhi.
Maka aktivitas GD harus selalu menjaga brand image ini.
Brand image pertama adalah syar’i.
Kemudian baru aktivitas itu harus ada nilai politis-ideologisnya, sekalipun hanya mengajar membaca al-Qur’an.
Ini karena aktivitas itu diletakkan secara tepat secara konseptual – sistemik, serta dikerjakan secara cerdas, penuh empati pada objek dakwah dan percaya diri terhadap kendala yang dihadapi.
Di atas itu semua, GD tidak pernah melakukan kekerasan
Melayani – Jadikan Servis / Melayani sebagai Pandangan Hidup
Rasulullah pun selalu memilih saat yang tepat dalam memberi tausiyah kepada shahabatnya atau pada orang-orang yang akan mendengarkannya.
Beliau berpesan agar dalam dakwah kita memakai bahasa yang dikenal oleh kaum yang akan kita tuju, karena kalau tidak,
yang muncul hanya fitnah.Karena itulah setiap Pengemban Dakwah harus benar-benar memahami aspek sosiologis & psikologis target dakwah.
Kontak dakwah sebaiknya dilakukan setelah memahami kondisi orang yang akan dikontak serta dilakukan dengan penuh empati.
Dakwah tak selalu harus dilakukan secara formal. Dakwah bisa di mana saja, bisa sambil ronda atau minum kopi di warteg.
Tentu saja harus tahu mood yang sedang ada di situ, dan bagaimana memilih entry-point yang tepat untuk memulai pembicaraan yang fokus,
tanpa buru-buru langsung ditolak.
Proses – Tingkatkan Kualitas, Pantaskan Harga dan Kirim Tepat Waktu
Pekerjaan harian Rasulullah
adalah mentatsqif para sahabat.
Kemudian bertambah dengan menjawab permintaan dakwah atau keluhan dari mana-mana, terlebih setelah menjadi kepala negara.
Dan di samping itu beliau terus kreatif memutar otak untuk membuka lahan-lahan dakwah baru.•
Close The sales ( Menutup Penjualan )
• Gunakan nada yang tepat ( nada rendah dan mantap, lebih baik daripada nada tinggi)
• Beri 2 pilihan ( Double Yes )
• Gunakan Ya kecil, ya besar
• Mengatasi keberatan
Sobat, jangan lupa ketika udah beberapa kali kontak dan tahapan-tahapan building trust, building need, bahkan udah mencapai give solution sebagaimana penjelasan di atas maka segera lakukan closing dengan menawarkan untuk ikut andil dan ambil peran dalam dakwah Islam melangsungkan kehidupan Islam ini. Dengan mengunakan prinsip-prinsip dan pendekatan di atas Insya Allah memberi kemudahan dalam menjalankan dakwah ini.
Teguh atau Istiqamah Dalam Mengemban Dakwah
Secara bahasa, istiqâmah bermakna i’tidâl (lurus). Sedangkan menurut syariat dan perbuatan Rasul istiqâmah berarti afdhal ash-shalah (shalat yang paling utama) atau penyerahan dan peleburan diri yang sempuma di dalam Islam, baik pemikiran maupun perasaannya, terikat dengan ajarannya dan mendakwahkannya. Allah Swt. berfirman:
Karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu.(QS asy-Sura [42]: 15).
Allah Swt. juga berfriman:
Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah pada jalan yang lurus. (QS Fushilat [41]: 6).
Istiqamah kepada Allah ditempuh dengan cara: selalu mentauhidkan-Nya, menolak selain-Nya, dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya; senantiasa bertawakal dengan sebenar-benarnya dan berserah diri kepada-Nya dalam semua urusan; selalu memohon ampunan, rahmat, pertolongan, kemuliaan, dan kebaikan bagi seluruh umat-Nya dan para pengemban dakwah; senantiasa tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya untuk menghilangkan seluruh keburukan yang menimpa Islam dan penganutnya; serta secara kontinu berzikir dan bersyukur kepada-Nya di saat malam dan siang—atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada segenap makhluk-Nya, atas Kitab dan Sunnah Rasul-Nya, atas keterikatan dengan hukum Islam, dan sebagainya.
Dzikrullâh (senantiasa mengingat Allah) akan menghasilkan kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. (idrak shillah billâh) dan akan menghasilkan pula keimanan yang kuat. Allah adalah Maha Pemberi dan Penghalang, Maha Menghidupkan dan Mematikan, Maha Memuliakan dan Menghinakan, serta Maha Menjaga dan Menolong. Allah akan senantiasa menjaga dan menolong dakwah beserta orang-orang yang istiqamah di dalamnya. Allah akan selalu menjaga dan menolong mereka yang selalu menyakini dengan pasti Kitab-kitab dan Sunnah Rasul-Nya dengan keyakinan yang tidak disertai unsur keraguan dan prasangka; yang selalu terikat dengan al-Quran dan Sunnah; yang selalu teguh di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya; yang selalu mengikuti kunci-kunci kebaikan dan berusaha memasuki pintu-pintunya; yang tidak akan pemah keluar darinya dan bersikeras untuk mencari berbagai upaya untuk dapat memasukinya; yang berusaha merobohkan seluruh pintu yang ada yang tidak sesuai dengan kebaikan; yang selalu mewaspadai pintu-pintu dosa hingga merasa takut untuk memasukinya; serta yang senantiasa mencari berbagai upaya dan cara untuk mengetahui pintu-pintu dosa dan kunci-kuncinya. Dengan itu, ia bisa memahami berbagai kesalahan, bahaya, dan tipudayanya, sehingga tidak akan terperangkap dan terjatuh di dalamnya.
Sobat Pengemban dakwah, ketika meyakini hanya Allah-lah yang akan meneguhkan umatnya, hendaknya senantiasa melandaskan diri pada Islam, terikat dengan Islam, sekaligus selalu mendakwahkannya. Semua itu harus dibarengi dengan keyakinan yang pasti, bahwa Allah-lah yang memberikan berbagai sebab dan hanya ditangan-Nyalah hasil itu didapat. Ketika mereka berkeinginan untuk mencegah berbagai bahaya yang akan menimpa agama dan umatnya—sebagaimana telah diserukan Allah—maka sudah menjadi suatu kepastian untuk mengambil berbagai cara dan upaya yang dapat mencegah bahaya-bahaya tersebut; dengan keyakinan bahwa Allah Swt. akan selalu menjaga agama dan wali-wali-Nya. Ketika mereka berkehendak untuk istiqamah pada Islam, hendaknya mereka selalu berpegang pada ideolog Islam. Para ulama salaf yang salih dari kalangan para Sahabat Nabi dan mereka yang telah datang sesudahnya— yakni orang-orang Mukmin yang selalu istiqamah dan bersungguh-sungguh—tidak pernah patah semangat, selalu gigih, dan tidak pemah main-main.
Sobat yang berbahagia, pengemban dakwah wajib mengambil berbagai cara dan upaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat istiqamah tadi, serta pada terwujudnya tujuan dan harapan, yakni ketakwaan kepada Allah Swt. Allah Swt. berfirman:
Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia duga. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. (QS ath-Thalaq [65]: 2-3).
Allah Swt juga berfiman:
Jika salah seorang di antara keduanya atau dua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah!”(QS al-Isra [17]: 23).
Sementara itu, Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah telah berwasiat kepada ibu kalian, kemudian kepada ibu kalian, kemudian berwasiat kepada bapak kalian, kemudian kepada kerabat dekat
Ketika pengemban dakwah membaca ayat dan sabda Rasul di atas, mereka tidak akan pemah berlaku kasar kepada kedua orang tuanya, dan selalu berperilaku baik kepada keduanya—walaupun keduanya bertindak zalim—selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan. Ia akan selalu berbicara kepada keduanya dengan lemah-lembut, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksanakan amanat-amanat keduanya, memuliakan kebaikan-kebaikan mereka, bersedekah kepada keduanya, tidak melangkahi keduanya, tidak angkuh kepada keduanya, serta mengupayakan hal-hal yang dapat mendatangkan keridhaan keduanya.
Rasulullah saw. juga bersabda:
Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum yang memutuskan silaturahim. Silaturahim itu merupakan penghubung dan kasih sayang. Barangsiapa yang menjalin silaturahim, maka dia akan dihubungkan. Barangsiapa yang memutuskannya, maka dia akan diputuskan.
Ketika memahami kedua sabda Rasul di atas, pengemban dakwah akan selalu bersikap welas-asih kepada karib-kerabatnya; senantiasa berlaku santun dan berlapang dada; selalu bersabar atas penderitaan yang ditimpakan oleh mereka; dan selalu berusaha menyambungkan silaturahim yang telah diputuskan oleh mereka. Mereka akan senantiasa mengambil berbagai cara yang dapat menyatukan dan menghubungkan kembali silaturahim, disertai berserah diri dan tunduk kepada Allah, supaya ditunjuki pada berbagai sebab yang dapat merealisasi maksud dan tujuan tersebut.
Oleh karena itu, sobat pengemban dakwah—ketika meresapi ayat-ayat Allah dan memahami hadis-hadis Rasul yang memerintahkan untuk merealisir tujuan-tujuan yang yang telah ditetapkan oleh syariat, yakni melalui sebab-sebab dan cara-cara yang juga ditetapkan oleh syariat—hendaknya berjalan dengan sungguh-sungguh untuk menjiwai berbagai tujuan tersebut. Ia harus selalu terikat dan berjalan sesuai dengan jalan Islam atau sebab-sebab yang telah ditetapkan syariat, tanpa pernah berpaling darinya.
Allah Swt. berfirman:
Jika saja mereka tetap lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan memberi kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS al-Jin [72]: 16).
Karena itu, segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS adz-Dzariyat [51]: 50).
Pengemban dakwah hendaknya mengambil berbagai sebab atau kondisi, yakni dengan mulai membuat berbagai perencanaan dan tujuan umum, serta mengikuti metode dinamis dan tidak jumud untuk mencapai sejumlah tujuan yang lebih khusus. Setelah itu, ia memilih wasilah (cara) yang paling baik, yang dapat membantu meraih berbagai tujuannya.
Rasulullah saw., pada saat Perang Badar, sepenuhnya yakin bahwa Allah akan menolongnya, dan bahwa pertolongan itu hanya di tangan Allah semata. Beliau telah mempersiapkan sejumlah prasyarat yang dapat mengantarkan pada tercapainya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap berpegang teguh pada perintah-Nya. Kekalahan yang terjadi pada kaum Muslim tidak akan terjadi seandainya saja pasukan panah tidak melanggar perintah Rasulullah. Tidaklah Rasulullah saw. berperang bagaikan singa merah di hadapan musuh-musuhnya saat Perang Uhud, kecuali untuk mengenyahkan berbagai bahaya yang ditimbulkan oleh orang-orang Yahudi dan kaum musyrik atas Islam dan Daulah Islam.
Ketika Rasulullah saw. berhijrah dari Makkah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau berusaha menghindari kekejaman orang-orang Quraisy. Beliau selalu berbekal keyakinan bahwa Allah-lah yang akan menjaga beliau sekaligus dakwah yang diembannya.
Istiqamah di jalan Allah juga berarti ikhlas semata-mata untuk Allah—baik dalam pemikiran, amal, maupun cita-cita; menjauhkan diri dari motif karena manusia; berserah diri bahwa Islam adalah qiyâdah fikriyyah; berupaya mewujudkan semua hal tersebut semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt.
Dengan demikian, pengemban dakwah wajib memiliki sifat-sifat mulia, kesadaran penuh, dan keikhlasan; sebagaimana hikmah dan doa yang ditamsilkan oleh ‘Umar ibn al-Khaththab r.a. Hikmah itu menyebutkan:
Manusia itu ada tiga macam: yang berakal, yang bodoh, dan yang gila. Orang yang berakal adalah yang tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak kekal atas yang kekal. Orang yang bodoh adalah sebagaimana sebatang pohon yang ditiup angin, kemudian terombang-ambing. Orang yang gila adalah orang yang menjual akhiratnya demi meraih dunia.
Sedangkan doa Umar ibn al-Khaththab adalah sebagai berikut:
Ya Allah, jadikan seluruh amalku ini ikhlas, dan jadikan seluruh amalku hanya karena Engkau, dan jangan engkau jadikan amalku untuk seorang pun.
Metode Islam untuk mendapatkan sifat istiqamah di dalam Islam dan dakwah adalah sebagai berikut:
Pertama: Mengidentifikasi pemikiran yang mendalam dan pemikiran rusak yang diwariskan dari masa kemunduran. Hal ini, akan menjaga akal dengan pemikiran Islam, baik pemikiran yang berhubungan dengan akidah ataupun syariat. Setelah melakukan identifikasi, kemudian berupaya mengubah pemikiran tersebut menjadi mafâhîm (pemahaman) bagi dirinya, dengan jalan meyakininya, memahami fakta-faktanya di dalam otak dengan pemahaman yang cemerlang, jernih, dan jelas berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mafâhîm tersebut harus menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam pembentukan akal. Dengan demikian, akan didapatkan suatu keterikatan dan dorongan kuat untuk menegakkan pemikiran tersebut.
Bertolak dari pemikiran dan mafâhîm ini, lalu ditegakkan metode dakwah dan dakwah Islam itu sendiri. Keduanya sekaligus dijadikan sebagai parameter (timbangan) untuk menghukumi fakta yang ada.
Selanjutnya adalah memahami fakta secara mendalam untuk mendapatkan tujuan-tujuan yang ingin diraih tanpa terpengaruh sedikit pun oleh berbagai pemikiran, hukum, pandangan, dan patokan-patokan yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, semua itu harus dihilangkan. Persoalan-persoalan seperti nasionalisme dan demokrasi mesti dihilangkan. Demikian pula konspirasi antara gerakan-gerakan Islam dengan para penguasa di negeri-negeri Islam, seperti: meminta pertolongan kepada negara-negara kafir dan memberikan loyalitasnya kepada mereka; berhukum dengan asas nasionalisme; membiarkan dan berdiam diri dari penguasa yang berkhianat; masuk dalam sistem parlemen dan berdiam diri atas perundang-undangan kufur; menjadi perpanjangan tangan untuk menghambat berdirinya Daulah Khilafah; atau menafsirkan Islam sesuai dengan peradaban dan pemahaman Barat—seperti mengikuti kemaslahatan akal dan hawa nafsu sebagai pembenaran untuk menempuh jalan-jalan setan dan menentang jalan Islam; menjadikan fakta sebagai rujukan (sumber) hukum; menganggap adat-istiadat sebagai hukum (al-’âdah muhakkamah); meyakini bahwa (hukum) Islam bisa berubah atau berganti karena perubahan waktu, tempat, zaman, dan kejadian; atau rela dengan kenyataan (buruk) yang ada, dan sebagainya.
Para pengemban dakwah, dengan demikian, wajib secara kontinu menjaga akal dengan pemikiran Islam. Mereka harus terus-menerus mengemban dakwah Islam serta memerangi setiap pemikiran, hukum, patokan-patokan, pendapat, dan adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam tanpa kompromi. Dengan itu, Islam mampu merobohkan kaum kafir, dan pemikiran Islam pun mampu menggulung seluruh kekuasaan kafir.
Walhasil, istiqamah dalam akal (istiqâmah al-aql) diperoleh dengan cara meleburkan diri secara sempurna dalam ajaran Islam. Hal itu akan tercapai jika para pengemban dakwah menegakkan kewajiban-kewajiban Islam, kewajiban-kewajiban dakwah, dan selalu bersabar di dalamnya. Allah Swt. berfirman:
Bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan duani ini. Jangan pula kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya melewati batas. (QS al-Kahfi [18]: 28).
Katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Karena itu, barangsiapa yang ingin beriman hendaklah beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir.” (QS al-Kahfi [18]: 29).
Seandainya Kami tidak memperkuat (hatimu), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Seandainya terjadi demikian benar-benarlah Kami akan timpakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dari Kami. (QS al-Isra [17]: 74 – 75).
Dengan demikian, kewajiban berdakwah tidak boleh dipengaruhi oleh penerimaan ataupun penolakan manusia; tidak dipengaruhi pula oleh panjang atau pendeknya waktu ataupun oleh keuntungan dan kerugiannya. Akan tetapi, semua perkara harus selalu dihubungkan dengan surga dan neraka, atau ridha dan murka Allah. Pengemban dakwah harus bersemangat terhadap agama Allah dan berisitqamah di atasnya, walaupun akan tertimpa cobaan dan kerugian. Untuk itu, pengemban dakwah wajib selalu terikat dengan Islam, terikat dengan ide (fikrah) dan metode (thariqah)-nya tanpa ada pemisahan. Musibah yang sebenarnya bagi pengemban dakwah adalah musibah yang menimpa agamanya dan kerugiannya adalah kerugian dalam beragama. Setiap musibah setinggi dan sebesar apapun, walaupun diterpa goncangan yang dahsyat, tidak akan berpengaruh pada dirinya di dalam mengemban dakwah. Ia akan selalu berjalan lurus di atas ideologi Islam dan senantiasa berdakwah atas nama Islam. Setiap kerugian yang menimpanya, walau kerugian itu memuncak, tidak boleh mengguncang keteguhan para pengemban dakwah.
Allah Swt. berfirman:
Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya yang menimpa orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS al-Baqarah [2]: 214).
Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS al-Aniam [6]: 116).
Allah tidak akan mengingkari janji-janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rum [30]: 6).
Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Luqman [31]: 25).
Akan tetapi, sebagian besar tidak beriman. (QS Hud [11]: 17).
Akan tetapi, sebagian manusia tidak mau bersyukur. (QS al-Baqarah [2]: 243).
Sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (QS Yusuf [12: 103).
Kedua: Memecahkan persoalan perasaan instinktif yang bersifat primordial (fitri) dengan melandaskannya pada ideologi Islam, artinya perasaan yang terbentuk melalui jalan ‘aqliyyah Islâmiyyah. Rasulullah saw. bersabda:
Tidak beriman di antara kalian sampai kalian menjadikan hawa nafsu kalian tunduk (mengikuti) apa saja yang aku bawa.
Mengganti perasaan cinta kekuasaan dunia dengan perasaan cinta terhadap Islam; mengganti perasaan takut akan dunia menjadi takut hanya kepada Allah; mengganti perasaan tamak atas dunia menjadi perasaan dekat dengan Allah; beristiqamah dalam agama Allah dan dakwah; dan senantiasa menegakkan sabda Rasulullah saw. artinya, “Mati di dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup di dalam lumpur kemaksiatan.”
Mengganti kecintaan pada harta-benda dan umur panjang, menjadi kecintaan untuk bersedekah semata-mata karena Allah tanpa meminta imbalan dan jasa; mengganti perasaan bertanggung jawab pada kedudukannya, diri sendiri, dan keluarga, menjadi perasaan bertanggung jawab pada seluruh umat manusia.
Oleh karena itu, para pengemban dakwah hendaknya menundukkan perasaanya masing-masing dengan mengikuti agama Allah. Tidak terpaku hanya pada hal itu saja, tetapi meleburkan secara sempurna dengan ikatan Islam dan senantiasa berdakwah untuk Islam, dengan tujuan mengharap keridhaan Allah Swt.
Tidak diragukan lagi, dengan mengikuti perilaku Rasulullah saw. pada periode Makkah dan Madinahg, sekaligus mempelajari kisah-kisah para sahabat, kita akan mendapatkan bagaimana keistiqamahan mereka dalam Islam dan dakwah. Mereka sungguh menjadi “Islam yang hidup” dalam realitas. Mereka adalah suri teladan yang baik di dalam membangun kepribadian Islam dan dalam melakukan dakwah Islam. Mereka adalah contoh yang baik di dalam keterikatannya dengan hukum syariat. Mereka juga adalah contoh yang baik yang menunjukkan bahwa keagungan dan kemuliaan mereka hanyalah untuk Islam, baik dalam pemahaman, keterikatan, dan di dalam mendakwahkan Islam. Begitu pula kebiasaan mereka untuk merealisasikan pemahaman mereka, yaitu berkurban dengan sesuatu yang tinggi semata-mata untuk Islam. Mereka adalah orang-orang yang tiada bandingannya di dalam menegakkan Islam di dalam masyarakat dan di dalam mengemban dakwah ke seluruh dunia.
Rasulullah saw. menolak perjanjian dengan penguasa Quarisy yang didasarkan pada “toleransi” dengan peraturan-peraturan yang rusak. Beliau menolak meninggalkan permusuhan dan peperangan terhadap kebatilan. Beliau tidak pernah terpengaruh oleh berbagai goncangan atau ancaman. Beliau menganggap bahwa pergulatan politik merupakan suatu hal yang sangat penting, yang terkait dengan persoalan hidup dan mati. Beliau bersabda:
Demi Allah, seandainnya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di atas tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara dakwah ini, (tentu tidak aku tinggalkan) sampai Allah menyaksikan perkara mereka atau aku binasa (yang) di dalamnya, (maka) aku tidak akan pernah berpaling. []
Label:
N. Faqih Syarif H
Langganan:
Postingan (Atom)