Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v

Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...

Minggu, 25 April 2010

Dakwah Itu Jangan Memberatkan?!!

Dakwah itu jangan memberatkan?!! Kata itu terlontar begitu saja dari seorang pemateri yang kami undang untuk mengajarkan tahsin, entah beliau sadar atau tidak yang jelas kata-kata itu biasa tapi jadi luar biasa karena saya yang merasakan dahsyatnya dakwah dengan aplikasi nyata.

Dakwah adalah sebuah mega proyek besar yang Allah Swt amanahkan kepada kita selaku khalifah di muka bumi, akan tetapi tidak semua orang tahu dan sadar akan amanah yang diembannya itu. Dan dakwah yang paling efektif adalah bukan dia hebat dalam beretorika maupun bukan dilihat dari sejauh mana pemahaman dia. Akan tetapi dakwah dapat menembus hati yaitu dakwah yang walk the talk yaitu melaksanakan apa yang kita katakan. Jadi sebenarnya dakwah dengan aplikasi nyata lah yang paling efektif.

Jadi ceritanya begini…..

Waktu itu kami dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) akan mengadakan sebuah proker yang bertujuan untuk mengajarkan tahsin kepada mahasiswa baru di jurusan kami. Dan sebelum itu kita berencana untuk memberikan pelatihan kepada para mentor/pengajar tahsin agar tujuan yang kita targetkan bisa tercapai. Sebenernya latar belakang kita mengadakan proker tersebut, melihat dari statistik tahun kemarin yang banyak tidak lulus dalam tahsin adalah jurusan kami di antara jurusan se fakultas karena saat semester 2 teman-teman mahasiswa baru wajib mengikuti mata kuliah pendidikan Agama Islam yang persyaratan kelulusan salah satunya bisa membaca ayat suci Al Quran.

Sebenernya untuk pemateri bina tutor tahsin merupakan teman dari salah satu staf di kerohanian sendiri dan dia juga yang merekomendasikan temannya tersebut untuk mengajar mentornya.

Jadi ceritanya jam 10 pagi rencana awal bintor itu di laksanakan, saat datang di tempat/masjid tersebut saya baru melihat beberapa teman yang udah datang. Ya udahlah sambil nunggu pematerinya saya duduk di sekitar tempat tersebut. Sambil nunggu saya pun sms teman yang lain terutama teman pemateri tersebut, setelah di sms ternyata teman sayanya masih di rumah…ho ho ho (like this^^) dan katanya sms pematerinya sama saya aja. Ya sudahlah saya coba sms pemateinya walaupun saya sms juga ke teman saya biar dia aja yang menghubunginya karena sudah kenal.

Setelah beberapa lama menunggu di temani salah seorang teman yang sedang asyik membuat cerpen, lalu saya lihat ada seseorang yang sedang memakirkan motornya di halaman masjid dan selanjutnya saya ngomong ke teman yang di samping.

Eh kayaknya ini pematerinya “kata saya” (sebenarnya dalam hati bercanda)

Dan respon teman saya hanya tersenyum, kemudian dia bilang ke saya untuk naik ke lantai 3 karena memang acaranya di sana. Ya sudahlah saya pun naik ke lantai 3 berharap di atas sudah banyak teman yang datang.

Dan ternyata benar sekali dugaan saya???? Meleset, baru dua akhwat yang datang. Tapi ga apa2 karena saya tahu dalam hati sebagian masih dalam perjalanan (bo’ong, menghibur diri sendiri^^).

Setelah di lantai 3 masjid tersebut dan teman2 pun mulai berdatangan langsung aja saya sms pematerinya yang nomornya di kasih tau oleh teman. Setelah pesan itu terkirim, saya pun melihat orang yang berada di parkiran ada di lantai 3 dan firasaat saya mulai berkata “kayaknya ini pematerinya” langsung saja saya menatapnya dengan penuh kecurigaan begitupun beliau menatap saya.

Sejurus kemudian…

Kang temannya kang “tiiiiiit (sensor)” ya “Kata saya”

Iya, dari BEM “tiiiiiit (sensor)” “beliau bilang”.

Iya kang “kata saya lagi”

Lansung saja saya mempersilahkan beliau ke tempat yang sudah kita persiapkan. Dan belaiau pun bertanya kembali

Akh ada papan tulis ga?

Saya pun langsung bengong, seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan (lebay ah, jangan di percaya terlalu mendramatisir!!!) biarin aja biar ceritanya menarik, orang itu suka kalau yang mendramatisir. Kok jadi begini sich ceritanya, yang nulis juga bingung????? Di sini gunung di sana gunung di tengah2nya pulau jawa….. (yah kenar virus OVJ dech).

Oh butuh kang yah, kemarin saya uda nanya ke teman akang butuh apa aja buat pematerinya, terus katanya ga usah bawa apa2 yang penting Al Quran “jawab saya”

Oh gitu “kata beliau”

Kalau akang butuh biar saya cariin sekarang aja, insya Allah ada “jawab saya lagi”

Saya pun langsung turun dan bicara ke teman yang tadi nulis cerpen dan kata dia di kosannya ada. Lansung saja saya ke kosannya dengan memimjam motor ke salah satu teman yang lain. Sambil dia ngambil papan tulis saya pun ke kosan untuk mengambil spidol dan air untuk konsumsi.

Setelah saya datang ke mesjid lagi ternyata alhamdulillah acaranya uda di mulai dan teman saya pun lumayan yang datang walaupun masih bisa di hitung dengan jari tangan di tambah beberapa bantuan dari jari kaki tapi ya memang targetnya ga banyak. Saya pun langsung menyerahkan papan tulis dan spidol.

Sebenarnya saya sendiri gak ada maksud untuk menjadi mentor tahsin karena di lihat dari hukum2nya yang uda sebagian kabur dari ingatan dan sebagian lagi emang belum tau. Tapi ga ada salahnya kan ikut nimbrung biar kebagaian ilmu. Ternyata pematerinya bodor juga di tambah teman di samping saya yang suka ngejek tapi udah kebal kalau saya di ejek dia selama tidak menyentuh sesuatu yang fundamental dalam diri.

Waktu shalat dzuhur pun tiba dan kita rehat dulu acaranya untuk kemudian di lanjutkan kembali, setelah shalat saya pun dengan teman saya dan pemateri berencara mau makan dulu. Setelah luntang-lantung cari makan akhirnya di putuskanlah kita makan deket DT (Daarut Tauhid).

Sebenarnya di sini nih cerita utamanya kalau yang tadi cuma intermezo biar tulisannya aga panjang…he he he

Jadi setelah selesai makan, saya berencana untuk membayar makanan tersebut. Akan tetapi setelah saya mau bayar ternyata pematerinya bilang.

Ga usah biar saya yang bayar!!!!

Kok gitu kang, seharusnya kita yang bayar lagian akang ga di bayar buat ngajar tahsi ”kata saya”

Ga apa-apa DAKWAH ITU JANGAN MEMBERATKAN “kata beliau”

Saya pun mengekspresikan wajah aga sedikit malu bercampur bahagia karena makan gratis…ho ho ho

Nah sekarang mulai serius!!!!

Kata-kata dakwah itu jangan memberatkan hanyalah sebuah kata sederhana tapi mempunyai makna yang luar biasa apabila keluar dengan ketulusan hati dan aplikasi yang nyata.

Sebuah rangkaian kata yang kalau kita telusuri menghilangkan tembok penghalang yang bernama materi dalam berdakwah. Karena saya pun pernah mendengar dari seseorang bahwa sebaiknya kalau kita mengundang pemateri jangan hanya di kasih ucapan terima kasih saja, katanya bukan berarti ikhlas jadi kita tidak memberikan apa-apa kepada pemateri tersebut tetapi yang mahal adalah ilmunya. Coba bayangkan dia menimba ilmu bertahun-tahun dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sebenarnya kata-kata sesorang tersebut ada benarnya akan tetapi kita juga harus bisa melihat kondisi yang ada. Karena saya pun sadar yang menjadi masalah klasik mahasiswa dalam mengadakan sebuah acara adalah terbatasnya dana, mungkin karena itu juga banyak pemateri yang mengerti akan kondisi mahasiswa dan kami pun pernah mengundang seorang ustad untuk memberikan ilmunya pada salah satu proker BEM dan ternyata beliau tidak mau di beri uang.

Dan saya sangat salut kepada pemateri yang kita undang sekarang atas prinsipnya dalam berdakwah. Kalau kita bandingkan dakwah kita dengan dakwah para sahabat maupun Rasulullah Saw tidak ada apa-apa nya. Coba bayangkan para sahabat rela mengorbankan harta bahkan jiwanya demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi, bahkan bilal di siksa di padang pasir dengan ditindih batu besar di dadanya hanya untuk mempetahankan kalimat tauhid.

Ya, semoga pengalaman ini bisa memberikan ibrah bagi kita semua dan semoga kita bisa berkontribusi dalam membangun peradaban Islam kembali

Wallahualam bishawab…..

Tidak ada komentar: