Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v

Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...

Sabtu, 18 September 2010

DISPEPSIA

Penyakit Dispepsia Jangan Anggap Remeh







0tweetsretweet

Postingan ini terpaksa dibuat ulang mungkin nggak bisa sama persis dikarenakan Blog Muslimah pindah server dan postingan terakhir hilang semoga bermanfaat. Sekaligus terima kasih penulis ucapkan kepada kekasih hati yang telah membuat blog ini hidup kembali yang dengan segenap cinta memberi semangat dalam menularkan ilmu.

Empat tahun lalu selepas shaum Ramadhan tentu saja suatu kemenangan karena selama satu bulan kita berlatih melawan hawa nafsu tentu saja Lontong Sayur dan Opor siap untuk disantap. Namun seletah 2 hari ternyata gejala mual dan muntah itu datang, ternyata ulkus di antrum lambungku dari hasil endoskopi menjawab semua tanya itu. Postingan ini didedikasikan untuk seorang sahabat Nurcahyo H. Purnomo semoga bisa bersahabat dengan dispepsia.

Dispepsia merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Sindroma dispepsia lebih dikenal sebagai penyakit maag (gastritis).

Dispepsia adalah rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman pada perut bagian atas. Keluhan yang timbul adalah rasa nyeri pada ulu hati, mual, kembung, muntah, dan cepat kenyang. Dispepsia dibedakan menjadi dispepsia organik dan dispepsia fungional. Dispepsia organik, jika keluhan yang timbul disebabkan karena kelainan organ tubuh seperti tukak lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan sebagainya. Selain itu, obat-obatan rematik, beberapa antibiotik, penyakit diabetes melitus, dan penyakit jantung juga dapat menimbulkan dispepsia organik. Dispepsia fungsional berupa keluhan dispepsia yang telah berlangsung beberapa minggu tanpa didapat kelainan atau gangguan struktural organ tubuh berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi.

Pada dispepsia organik, keluhan yang dialami, akibat kelainan pada organ tubuh (oleh karena itu dinamakan organik) terutama kelainan pada organ-organ didalam rongga perut. Penyebabnya bermacam-macam yang sering infeksi tipus perut yang berulang (dalam bahasa kedokteran Relaps), infeksi oleh malaria, virus hepatitis, dan infeksi kuman-kuman lain. “Infeksi oleh kuman Helycobacter pylori yang bisa hidup dilambung manusia, dan juga dapat menyebabkan tukuk lambung atau tukuk pada usus dua belas jari.

Dispepsia fungsional tidak didapatkan kelainan organ melainkan terjadi kenaikan produksi asam lambung dan gangguan dari gerakan organ saluran cerna, yang bisanya akibat faktor-faktor psikis misalnya stress, marah, sedih dan lain-lain. Gangguan pisikis atau stress menyebabkan peningkatan produksi hormon-hormon dalam tubuh antara lain adrenalin dan kortikosteroid yang merangsang pengeluaran hormon gastrin yang akan merangsang pengeluaran asam lambung.

Dispepsia merupakan kumpulan gejala-gejala di mana pada suatu keadaan satu gejala lebih dominan dari yang lain, sehingga seringkali dibagi gejala-gejala ini dalam beberapa sub-group:

1. Dispepsia tipe refluks yaitu adanya rasa terbakar pada epigastrium, dada atau regurgitasi dengan gejala perasaan asam di mulut.2. Dispepsia tipe dismotilitas yaitu nyeri epigastrium yang bertambah sakit setelah makan, disertai kembung, cepat kenyang , rasa penuh setelah makan, mual atau muntah, bersendawa dan banyak flatus. 3. Dispepsia tipe ulkus yaitu nyeri epigastrium yang mereda bila makan atau minum antasid dan nyeri biasanya terjadi sebelum makan dan tengah malam. 4. Dispepsia non-spesifik yaitu dispepsia yang tidak bisa digolongkan dalam satu kategori di atas. 5. Dispepsia tipe refluks biasanya terbukti secara endoskopi atau monitor PH ambulatoar sehingga sebaiknya tipe ini langsung kita obati sebagai penyakit refluks gastroesophageal. 6. Beberapa pasien dengan dispepsia tipe dismotilitas ternyata menderita ulkus peptikum sebaliknya penderita dengan dispepsia tipe ulkus menderita DNU (Dispepsia non ulkus).

Endoskopi segera dikerjakan jika memang ada gejala “peringatan” dan pasien yang sangat kuatir tentang adanya penyakit serius yang mendasarinya. Untuk pasien lainnya, para klinisi harus memutuskan antara segera mengetahui diagnosa definitif dengan endoskopi dan mengetahui dulu hasil terapi percobaan medis empiris (therapi exjuvantivus).

Foto seri sinar-X dengan Barium pada GI atas kurang akurat dibanding endoskopi untuk diagnosis ulkus peptikum dan refluks gastroesofageal.

Test non-invasif untuk mendeteksi infeksi HP dengan IgG serologik atau Urea Breath Test (lihat Algoritma I.) Keduanya mempunyai sensitivitas dan spesifiksitas > 90%

“USG dan CT Scan” hanya dilakukan bila secara klinis atau laboratoris ada kecurigaan ke arah penyakit pankreas atau empedu.

Pengukuran PH Intraesophagus (monitor 24 jam) dilakukan terhadap pasien dengan Dispepsia Non Spesifik dan hasil endoskopi yang normal untuk mendiagnosa kemungkinan refluks gastroesofageal. Tapi bagaimanapun hal ini tidak praktis, untuk kasus yang dicurigai penyakit refluks gastroesofageal langsung kita terapi imperik anti refluks.

Pada umumnya penderita sakit maag dapat berpuasa terutama jika sakit maag-nya hanya gangguan fungsional. Obat anti asam lambung seperti penghambat reseptor H2, antara lain ranitidine, famotidine, nizatidine dapat diberikan pada saat sahur dan berbuka untuk mengontrol asam lambung selama berpuasa, sehingga keluhan yang timbul saat berpuasa terutama saat perut sudah kosong (6-8 jam setelah makan terakhir) dapat dikurangi.







Dispepsia







DEFINISI

Dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut.







PENYEBAB

Penyebab Dispepsia adalah :



1. Menelan udara (aerofagi)

2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung

3. Iritasi lambung (gastritis)

4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis

5. Kanker lambung

6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)

7. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)

8. Kelainan gerakan usus

9. Kecemasan atau depresi







GEJALA

Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi).



Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya.



Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).



DIAGNOSA

Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disetai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksaan.



Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja.



Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan.



Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori

.



Kadang dilakukan pemeriksaan lain, seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respon kerongkongan terhadap asam.



PENGOBATAN

Bila tidak ditemukan penyebabnya,dokter akan mengobati gejala-gejalanya.



Antasid atau penghambat H2 seperti cimetidine, ranitidine atau famotidine dapat dicoba untuk jangka waktu singkat.



Bila orang tersebut terinifeksi Helicobacter pylori di lapisan lambungnya, maka biasanya diberikan bismuth subsalisilate dan antibiotik seperti amoxicillin atau metronidazole.

Comment · LikeUnlike · Share

*
*
*
* Write a comment...

Tidak ada komentar: