Mencerna apa yang dimakan, menyaring menjadikannya nutrisi, nutrisi kehidupan^^v

Bismillah...proses belajar yang terus-menerus, seharusnya menjadikan diri semakin produktif, insya Alloh...

Minggu, 02 Mei 2010

Akhwat Mubazir

Akhwat Mubazir
Penulis : Syamsa Hawa


KotaSantri.com : "Kok disisain banyak gini, Lin?" Aku melotot melihat onggokan nasi dan capcay yang memenuhi piring.

"Udah kenyang! Nggak kuat lagi, Ra!" Meilin memegangi perutnya.

"Kenapa tadi dibeli? Porsi capcay sini kan emang banyak banget, harganya aja sebelas ribu," aku menatap Meilin gemas. Akhwat sipit itu cuek aja mengambil tisu dan mengelap mulutnya.

"Yaa.. Tadi kan aku laper, Ra"

"Kamu nggak sayang, Lin? Sebelas ribu cuma kamu habiskan seperempatnya doang?" tanyaku lagi.

"Aku mah lebih sayang sama badanku, Ra! Daripada makan berlebihan, badanku rusak, hayoo!"

Aku geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang. Pusing melihat kelakuan Meilin yang berulangkali seperti itu.

"Yah, terserahlah! " seruku akhirnya. Meilin tersenyum lebar sampai kelihatan kayak lagi merem, matanya yang kecil tambah nggak kelihatan.

"Mas, jus mangganya satu," Meilin memanggil seorang pelayan yang melintas.

"Sebenarnya kamu kenapa sih, Ra? Aku perhatiin, kayaknya kamu nggak pernah seneng nganterin aku makan di sini."

Aku menggeleng cepat.

"Bukan! Bukan kayak gitu, Lin! Aku Cuma ngerasa kamu boros aja kalau makan di sini."

"Boros?" Meilin mengernyitkan kening, "Boros gimana maksud kamu?" Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, minta penjelasan.

"Yah, kalo di tempat makan deket stasiun sana harga capcay kan cuma enam ribu, jus cuma tiga ribu, kamu malah makan di sini. Capcay sebelas ribu, jus enam ribu. Padahal, kalo menurutku, rasa di sini sama aja, cuma menang tempat doang."

Gantian Meilin yang geleng kepala, tersenyum sambil menyandarkan punggung ke belakang kursi.

"Kalau soal makan, aku nggak mau di sembarang tempat, Ra! Kamu tahu sendiri kan banyak makanan yang nggak sehat pengolahannya, pake pengawet lah, formalin, dan kawan-kawan. Nah, kalau di tempat ini, aku udah yakin halal dan bersih. Bukankah itu yang seharusnya lebih penting untuk diperhatikan? "

Aku terdiam. "Benar juga sih, tapi kalau gitu, lebih baik lain kali kita makan bareng aja, satu piring berdua, pt-pt, gimana? Daripada mubazir, temennya setan."

"Iih..., kamu gak risih apa makan satu piring berdua?" Meilin mengernyit.

"Memangnya kenapa?" aku ikutan mengernyit.

"Nanti dikira orang-orang kita gak mampu beli lho!"

Deg. Ada jarum beracun tertancap di hatiku.

"Lagi pula tenang aja, nggak bakal mubazir kali. Kan sisa-sisa makananku ini bisa dimakan kucing, tikus, bisa juga dijadikan pupuk alami. Mana ada yang nggak berguna?"

Pelayan menaruh segelas jus mangga ke atas meja. Meilin langsung mengambil uang dari dompetnya dan membayar lunas pesanannya. Kemudian ia menyedot jus mangganya, mengambil tisu lagi, mengelap mulutnya lagi, lalu mengajakku pulang.

"Yuk, cabut!"

Aku melotot melihat jus mangga yang masih tersisa lebih dari setengah gelas besar itu.

"Meiliiiiin! Habisin dulu! Ini enam ribu, tauuuk!" omelku. Meilin Cuma mengangkat bahu.

"Agak asem, aku nggak suka, buat pupuk aja, yuk ah!"

Seperti ada orang yang lagi menggoreng jantungku, panas banget.

***

Mungkin memang bukan Meilin yang boros atau mubazir.

Yah, mungkin bukan Meilin yang berlebihan, tapi akulah yang kekurangan! Sehingga melihat kelakuan seperti Meilin itu, aku tak bisa menerimanya.

Bagaimana bisa terima? Uang delapan belas ribu untuk sekali makan, itu pun terbuang percuma. Masih lumayan kalau habis, berguna buat tubuh dia. Lha ini, semuanya dikasih ke kucing, tikus, atau pohon. Keren amat! Aku aja nggak pernah makan begituan. Jangan-jangan tikus di sekitar tempat makan itu lebih makmur daripada aku. Huh!

"Bu, nasinya dibungkus, yang banyak ya! 1 porsi kuli!" seruku pada ibu tukang jual nasi langgananku.

"Lauknya apa, Nak?"

"Dipisah kayak biasa ya, Bu! Perkedel kentang 2, perkedel jagung 2, telur 1, sama sambalnya banyakin." Si ibu tersenyum melihatku sambil membungkus pesananku.

"Udah? Berapa semuanya, Bu?"

"Buat Neng mah empat ribu aja!"

"Hah? Cuma empat ribu? Serius, Bu? Nggak rugi nih? Ya udah!" langsung kuberi empat lembar uang seribuan, khawatir si Ibu berubah pikiran. Si Ibu hanya tertawa melihat kelakuanku yang ketahuan nggak punya duit gitu.

"Eh lupa, Bu! Minta air minum sama sendok bebeknya sekalian!" seruku cuek. Si Ibu senyumnya tambah makin lebar. Mungkin lucu ngeliat akhwat jilbab lebar kayak aku kok tumben ada yang kere kali ye!

Biarin aja, yang penting hidup mulia atau masuk syurga. Hehe..

Yap! Inilah makananku sehari-hari. Aku sengaja beli nasi yang banyak, terus dipisah sama lauknya supaya nggak cepat basi dan bisa kumakan sampai malam. Bukan apa-apa, tapi uang bulananku sedikit, sudah habis untuk bayar kost, beli pulsa, dan foto kopi makalah plus ngetik ini-itu. Syukur-syukur bisa makan tiga kali sehari dengan cara cerdas kayak gini. Makanya aku suka jantungan melihat pola makan Meilin. Yang paling menyakitkan adalah, dia seperti mengira semua orang tuh kayak dia, mampu beli makanan apa aja, minuman apa aja, trus dengan senyum lebar membuang itu semua untuk dijadikan pupuk.

"Alhamdulillah. .." aku membungkus kembali lauk dan nasi yang belum dimakan, untuk nanti sore dan malam di kost, kutaruh kembali ke dalam kresek hitam kecil. Kemudian kutinggalkan sebentar untuk mencuci tangan di tempat wudhu.

Saat balik, dengan shock kudapati Meilin sedang memandang geli kresek 'makan malamku' dan laksana pahlawan dia mengambil kresek hitam itu dengan sebelah tangan sambil bertanya, "Siapa nih yang udah nyampah di Mushala?"

Plukk!

Serta merta Meilin melempar 'makan malamku' semuanya, perkedel jagung, nasi, perkedel kentang, dan sambel ke dalam tong sampah di samping Mushala. Aku yang nggak ada penyakit dalam langsung jantungan.

"Meiliiiiiiiin. ..!"

Meilin memandangku dengan mata sipitnya kebingungan.

"Kenapa, Ra?"

"Plastik tadi bukan sampah, itu makan malamkuuuuu. ..!"

"Hah? Makan malam?" Meilin bertanya tak percaya. Aku mengangguk kencang.

"Ya udah, aku ganti deh! Yuk, sekalian antar aku lagi ke tempat makan biasa! Kamu pesan aja untuk dibungkus, nanti tinggal kubayarin. Oke?"

Aku masih melongo. Mungkinkah inilah yang dinamakan sengsara membawa nikmat?

***

Aku mencoba menjaga jarak dengan Meilin. Gaya hidupnya yang serba 'wah' membuatku tak tahan untuk memberi kritik. Dia jadi sering marah karena sering kukritik. Lebih baik aku mencari akhwat yang sederhana dan bersahaja untuk jadi teman jalan bareng, biar lebih enak. Dan sudah kutemukan orangnya, Sisi!

"Ra, mau antar aku ngisi pulsa lagi nggak? Habis itu kita jalan-jalan lihat baju."

"Nah lho? Ngisi pulsanya kan baru kemarin? Emang udah habis?" aku bingung, kayaknya kemarin Sisi ngisi pulsa seratus ribu deh.

"Idiiih, kan kemarin cuma ngisi seratus ribu, udah habis buat sekali nelpon lah!"

Aku ngorek kupingku di balik jilbab. Salah denger kali ya, seratus ribu satu kali nelpon? Sepuluh ribu kali ye?

"Aku biasa habis dua juta untuk pulsa sebulan, lumayan kan, irit juga. Bunda sih ngasih aku dua juta setengah, tapi yang setengah jutanya kutabung, kan harus hidup irit."

Mulutku menganga tanpa perlu kubuka, mataku tak berkedip memandang Sisi. Mencoba menerka, apakah dia tahu kalau sebulannya aku cuma beli pulsa dua puluh ribu perak.

***

Sisi mencomot beberapa baju dan meminta tolong aku untuk memeganginya.

"Ini mau dibeli semua, Si?" aku mengernyit. Lima potong baju yang harganya rata-rata di atas lima puluh ribu. Pantesan, walaupun kelihatan sederhana, tapi baju-baju yang dipakai Sisi memang kelihatan bersih dan kayak baru semua, ternyata emang baru beneran.

"Ya iyalah mau dibeli! Masak mau aku ambil, itu mencuri namanya, dosa!"

"Lho, ini ada baju yang menurutku agak kecil untuk ukuran kamu, coba dulu gih! Jangan-jangan nggak muat."

Sisi berhenti mencomot, dan memandangku dengan tatapan tak nyaman. Aku jadi salah tingkah.

"Maksud kamu badanku gembrot, jadi nggak muat pake baju itu, gitu?"

"Nah lho!" aku tertawa. Dasar Sisi! Paling sensitif kalau masalah badan. Padahal badannya nggak gendut-gendut amat.

"Tuh kan, kamu ketawain aku."

"Lho, habisnya kamu aneh banget, bajunya yang kecil kok malah ngerasa badan kamu yang gede!"

Aku terdiam, kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada Sisi.

"Si," panggilku pelan. Sisi menoleh dan menatapku.

"Hah, kenapa, Ra?"

Aku bingung deh, kok sekarang ini banyak banget akhwat tajir. Kamu deh contohnya, si Meilin juga. Aku jadi bingung, kalian sebenarnya tahu nggak sih kalau ada juga akhwat yang kurang mampu kayak aku. Jangankan beli baju lima potong dalam satu bulan, beli satu potong baju dalam satu semester saja baru hari ini.

"Kenapa, Ra?"

"Eh, nggak! Nggak pa-pa, cuma pengen manggil aja."

"Iih, Ira mah sering gitu."

Aku cuma senyum tipis. Nggak nyaman. Yang Sisi lakukan sebenarnya pemborosan bukan sih? Kok bagiku berlebihan ya? Sisi ternyata bukan cuma beli lima baju, tapi terus bertambah menjadi tujuh baju, tiga rok (ketiga tiganya berwarna hitam) dan tujuh jilbab.

Aku ngegubrak, Sisi ini akhwat apa artis sih? Belanja pulsa dua juta sebulan, beli jilbab koleksi satu warna sampai ada tujuh. Toloooong!

***

Lama-lama aku bisa jantungan beneran kalau terus-terusan berteman dekat dengan Meilin dan Sisi. Rasanya tak kuat melihat gaya hidup mereka yang selangit. Minggu lalu, aku menangkap basah Sisi menjadikan baju yang dibelinya bareng aku waktu itu dan sudah kuperingatkan kalau kekecilan, menjadi kain pel di rumahnya, padahal baju baru! Baju baru gitu loh! Terus sambil malu-malu, dia bilang ke aku, "Iya, Ra! Kamu bener, bajunya kekecilan."

"Sisiiii..., kok dijadiin kain pel? Kan bisa dikasih ke anak yatim atau orang-orang nggak mampu yang butuh baju layak pakai," jeritku.

Tidak disangka Sisi malah gantian jerit, "Jangannnnnn! Masak ngasih orang miskin baju yang nggak kita suka! Kan kita harus memberikan apa yang kita cintai. Kalau mau ngasih sumbangan baju, aku selalu beli yang lebih mahal dan lebih layak pakai."

Aku cuma melotot, menahan pusing yang tiba-tiba melanda saat itu. Gilaaaa!

***

Kali ini, aku pasti tidak salah pilih temen dekat. Aku sudah cek sendiri, rumahnya bahkan lebih kecil dari rumahku, kost-annya sama murah dengan kost-anku, makannya di kantin sastra yang terkenal murah dan banyak, sama kayak aku. Ini dia akhwat yang bisa kujadikan teman kepercayaan, dan aku tak perlu lagi pusing dengan gaya hidup konsumtif yang berlebihan dari dua temanku sebelumnya, meskipun aku tetap membina hubungan yang sangat baik dengan mereka. Namanya Mirna, akhwat sederhana, polos, dan suka tersenyum.

"Mirna, udah ngerjain tugas makalah belum?"

"Ooh, tugas buat besok kan? Sudah sih, tapi belum aku print."

"Sama dong. Kita print di deket stasiun yuk!"

"Kapan?" tanya Mirna.

"Kapan lagi? Ya sekarang!"

Seperti biasa, Mirna tersenyum ramah. "Oke!" serunya ceria.

Kami pun berjalan bareng ke rental komputer.

Sampai di salah satu rental komputer termurah di stasiun, Mirna memasukkan disketnya ke salah satu komputer yang ada di rental itu.

"Berapa lembar, Na?"

"Mmm, sepuluh."

"Itu udah kamu edit semua? Udah pasti bener?" tanyaku begitu melihat Mirna langsung meng-klik perintah 'print'.

"Belum," jawabnya polos.

Nah lho!

"Na, bapak dosennya kan teliti banget, salah atau kurang satu huruf aja poinnya akan dikurangi, satu huruf minus satu point."

Muka Mirna menunjukan ekspresi datar.

"Ya udah, gampang. Hasil print-nya langsung kubaca dan kuedit, terus kubenerin di komputer."

Lho?

"Kenapa nggak dari awal kamu perikasa dulu tadi?"

"Gampang kok. Aku emang malas edit langsung di komputer, enaknya edit hasil print, cuma Rp. 3000,- ini."

Tiga ribu? Cuma? Itu kan uang makanku sehari semalam kalau ditambah seribu lagi. Kalau nggak salah, uang makan Mirna juga segitu. Kan mubazir kalau terbuang percuma untuk nge-print yang tidak terpakai. Sayang kertasnya juga lagi!

Hasil print makalah Mirna sudah selesai. Sekarang Mirna sedang sibuk mencoret-coret huruf dan kata yang salah di lembaran hasil print itu. Sementara aku mengedit makalahku di komputer sebelum kuputuskan untuk di-print.

"Lho, Mirna, kamu sudah selesai editnya?"

"Baru benerin semua yang salah di lembar pertama."

"Kok udah nge-klik'print' lagi?"

"Kan mau lihat hasilnya lagi."

"Lha, tapi jangan klik gambar print itu! Jadinya ke-print sepuluh lembarnya semua! Klik aja ctrl P, atau klik file, terus klik print! Print yang halaman pertamanya aja! Sayang kan..." seruku gemas. Mirna cuma ber-ooh panjang.

"Ooo gitu, ngerti aku sekarang! Pantesan dari dulu kalau aku klik gambar printer ini, padahal cuma butuh cetak halaman satu, tapi malah kecetak semuanya terus."

"Dan kamu nggak pernah nanya untuk hal ini?"

Mirna menggelengkan kepalanya, polos banget tampangnya, senyumnya itu lho, lebar banget! Jadi pengen kujitak. Astaghfirullah. ..

"Na, kamu nggak nyesel udah habisin kertas dan uang untuk nyetak yang nggak terpakai begini?"

Mirna mengernyitkan kening, "Nggak pa-pa kok! Ini kan untuk kuliah, ada anggaran dananya untuk ngetik dan nge-print kayak gini. Lagian aku puas nge-print banyak-banyak, tapi tetep murah. Kalau di rumahku, satu lembarnya seribu perak. Di sini cuma tiga ratus. Kertas hasil print yang nggak kepakenya bisa aku jadiin note book."

Aku menepuk jidatku sendiri.

Ampun deh, Mirna ini akhwat apa tukang jualan note book sih? Kok nggak ada tampang menyesal sedikit pun, padahal sudah salah nge-print 20 lembar.

Apa dia nggak mikir, berapa banyak pohon yang sudah ditebang untuk membuat kertas-kertas ini? Berapa banyak tinta yang dihabiskan untuk mencetak lembaran-lembaran makalah yang masih banyak salah cetak ini? Kok terbersit perasaan menyesal pun tak ada.

Aku tak habis pikir dan mulai meragukan kehematanku. Sebenarnya, aku ini hemat atau pelit sih? Seharusnya akhwat itu harus kayak gimana dalam mengelola uang?

Belum lagi aku bernapas dengan lega karena kebanyakan mikir, tiba-tiba terdengar jeritan tertahan Mirna.

"Ya Allah, kayaknya aku salah pencet deh."

"Kenapa, Na?"

"Aku kan mau nge-print halaman dua."

"He-eh, terus?"

"Terus aku klik ctrl dan P berbarengan. "

"Bener kok. Terus apa yang salah?"

"Aku ketik angka duanya di number of copies ini, tapi kok ke-print dari nomor satu lagi?"

"Astaghfirullah! " aku langsung menepuk jidat.

"Number of copies ini maksudnya nge-print berapa rangkap. Kalau kamu klik dua di sini, ya dia akan nge-print halaman satu sampai halaman terakhir sebanyak dua kali," aku dengan panik menjelaskan.

"Afwan, Na! Aku lupa jelasin. Kamu jadi bayar dua belas ribu ya? Aduh, afwan banget! Lagian kamunya nggak juga nanya."

Aku kira Mirna bakalan nekuk muka dengan betenya dan marah padaku, ternyata, "Lho, kenapa, Ra?"

Mirna malah tertawa terpingkal-pingkal. "Lucu banget! Kamu sampai panik begitu karena cuma bayar dua belas ribu doang. Hihihi, geli aku!"

Mirna tertawa lebar seperti biasa. Tinggal aku yang bengong dan melongo karena kelakuannya yang aneh itu.

"Kamu serius nggak marah?"

"Nggak lah! Ngapain juga marah, ngabisin energi! Kita kan belajar justru dari kesalahan," Mirna tetap nyantai. Aku shock, ternyata dia begitu bijak!

Sekali lagi aku jadi penasaran. Sebenarnya, aku nih akhwat yang terlalu hemat alias pelit, atau mereka yang boros dan mubazir?!

Aku cuma bisa menghela napas karena tidak ada yang menjawab. Hanya suara printer yang berdecit dan tawa tertahan Mirna yang makin mengusikku.

Tidak ada komentar: